• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

BAB IV Situasi Upaya Kesehatan Kabupaten Yahukimo

C. Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

1. Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Tertentu a. P2 Malaria

Malaria masih merupakan masalah bagi masyarakat Kabupaten Yahukimo, Angka malaria di Kabupaten Yahukimo masih cukup tinggi sampai sekarang di tahun 2014 terdapat 14.708 kasus, dimana paling tinggi terjadi pada jenis kelamin perempuan sebesar 7.406 orang dan jenis kelamin laki-laki sebesar 7.302 orang. Dari total kasus tersebut dilaporkan kasus kematian akibat Malaria ada 254 orang dengan tingkatan CFR 1,52 untuk laki-laki dan 1,93 untuk perempuan. Melihat kecenderungan tingginya kasus malaria mengisyaratkan bahwa Kabupaten Yahukimo wajib menyusun program pengendalian dan eliminasi Malaria yang tepat sasaran.

b. P2 Diare

Kegiatan P2 Diare dilaksanakan oleh puskesmas dengan menemukan, mengobati dan memberi penyuluhan tentang Diare. Pada tahun 2014 dari seluruh Puskesmas diperoleh kasus Diare sebanyak 783 orang (IR = 32%). Insiden Rate tertinggi terjadi di Puskesmas Suru-Suru sebesar 58 % dan terendah terjadi di Puskesmas Samenage sebesar 9%. c. P2 ISPA

Kegiatan P2 ISPA dilaksanakan oleh Puskesmas dengan menemukan, mengobati dan memberikan penyuluhan tentang ISPA terutama jika terjadi Pneumonia. Jumlah kasus baru Penyakit Pneumonia di Kabupaten Yahukimo pada tahun 2014 sebanyak 113 kasus, ( IR 61,7 %).

d. P2 TBC

Pada tahun 2014 Jumlah penderita baru terdaftar sebanyak 29 orang yang dikategorikan pasien berobat lengkap ada 27 orang, untuk data

kesembuhan akan di evalusi pada tahun 2015. Data penderita TB terdaftar keseluruhan kasus baru plus kasus lama pada tahun 2014 sebanyak 37 penderita semua diobati 72,9% dengan 27 penderita BTA positif, setelah dievaluasi pada tahun 2015 yang dinyatakan sembuh sebanyak 27 penderita (72,9%) pengobatan lengkap sebanyak 27 (72,9%) default (DO) 5 (13,5%) gagal 2 orang (5,4%) pindah 2 orang (5,4 %) dan meninggal 1 orang (2,7%).

Data kesembuhan penderita TB pada tahun 2014 menunjukkan bahwa angka tersebut masih jauh dari target kesembuhan ( 85%). Hal tersebut dimungkinkan karena :

1) Terjadinya pergantian wasor profesional kepada wasor baru yang belum terlatih sebagi wasor kabupaten sehingga membuat lemahnya sistem pengawasan waktu penderita konversi.

2) Pekerjaan ganda juru TB puskesmas yang membuat lemahnya pengawasan dalam pengobatan maupun waktu konversi penderita TB. 3) Turunnya partisipasi masyarakan untuk memeriksakan dahaknya pada

waktu konversi.

4) Kecemasan penderita TB terhadap kolaborasi TB-HIV yang mengakibatkan penderita default karena takut diperiksa HIV Kwalitas penyuluhuna yang masih rendah.

e. P2 Kusta

Untuk data Kusta pada tahun 2014 hanya 1 Puskesmas yang melaporkan yaitu Puskesmas Perawatan Ninia bahwa terdapat 2 penderita kusta tipe Multi Basiler, dimana keduanya berjenis kelamin laki-laki sesuai dengan daftar laporan dari Puskesmas Perawatan Ninia (Lampiran Tabel 15). Dari 2 penderita tersebut yang dikategorikan RFT MB hanya 1 orang (50%) dan 1 penderita lainnya telah pindah ke kampung lain.

f. P2 Frambusia

Dalam upaya pemberantasan Frambusia , Kabupaten Yahukimo pada tahun 2014 telah melaksanakan beberapa kegiatan yaitu : Penemuan rutin melalui kunjungan penderita ke puskesmas, Kegiatan mobile klinik terpadu dan penemuan yang dilakukan melaui survei di lapangan. Puskesmas yang berhasil dilaksanakan survei Frambusia adalah Puskesmas Dekai dan hasilnya Frambusia M sebanyak 8 orang . Penemuan secara rutin ditemukan di Puskesmas Dekai sebanyak 6 orang sedangkan melalui mobile klinik sebanyak 2 orang total 8 penderta dengan kontak 278 orang semua diobati 100%.

g. P2 Filaria

Kegiatan penemuan penderita Filariasis baru dilakukan di Distrik Dekai wilayah kerja Puskesmas Non Perawatan Dekai. Sasaran survei dilakukan di kampung-kampung pinggiran sungai antaralain di kampung Moruko, Kokamu, dan Keike. Dari kegiatan ini ditemukan 5 penderita filariasis.

h. P2 IMS dan HIV-AIDS

Kasus HIV AIDS Kabupaten Yahukimo secara kumulatif sampai dengan Desember 2014 berjumlah 30 Kasus yang terdiri dari HIV 4 orang dan AIDS 26 orang. Dari 30 penderita dilaporkan meninggal 2 orang terjadi pada jenis kelamin laki-laki dengan usia interval 50-59 tahun.

Kasus HIV-AIDS beberapa tahun ini cenderung terus meningkat seiring dengan meningkatnya pelayanan VCT di RSUD Dekai. Hal ini dimungkinkan karena adanya masyarakat yang memilih layanan VCT di RSUD Dekai. Angka kasus tersebut dapat dipastikan belum angka puncak bila di kaitkan dengan angka survei terpadu HIV perilaku pada tahun 2006

yang menyatakan prevalensi di Papua diperoleh angka 2,4 % untuk usia 15 s/d 49 tahun terinfeksi HIV. Dengan demikian masih banyak yang belum terdeteksi, sehingga masih perlu upaya yang gigih untuk menemukan dan menangani secara komprehensif dengan harapan dapat menghambat penularan dan memberdayakan serta meningkatkan kwalitas hidup orang yang terinfeksi HIV.

i. Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan Wabah

Kegiatan Surveilans Epidemiologi dan penanggulangan wabah tahun 2014 terdiri dari :

1) SKD KLB- Wabah

SKD (Sistem Kewaspadaan Dini ) suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah secara dini terjadinya KLB-Wabah. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat pemantauan terhadap beberapa penyakit menular yang potensial terjadi KLB-Wabah setiap minggu dengan memperhatikan variabel epidemiologi yaitu Tempat, Waktu dan Orang dalam bentuk Laporan W2 puskesmas.

Laporan W2 Puskesmas diharapkan kelengkapan 100% dan ketepatan mencapai 95%, hasil yang diperoleh secara kabupaten kelengkapan dan ketepatan laporan W2 puskesmas sampai dengan 10 Januari 2015 adalah Kelengkapan 16,1% (5 Puskesmas yang melapor dari total 31 puskesmas) dan ketepatan 9,7% (3 Puskesmas yang benar laporan W2 dari 5 Puskesmas yang melapor).

2) Penanggulangan Wabah

Pada tahun 2014 di Distrik Seradala di Kampung Burkmakot terjadi KLB-Wabah diare yang diakibatkan oleh sumber mata air yang tercemar Bakteri E.colie yang di gunakan oleh masyarakat untuk MCK.

Penderita diare berjumlah 185 orang dan meninggal 12 orang (CFR = 11,7%). Kronologis singkat menjelaskan terjadi KLB Diare adalah sehubungan dengan cara makan yang tidak higiene yang mana makanan yang dimakan tidak melalui proses memasak secara benar atau di cuci bahan makanan di tempat mata air yang sudah banyak tercemar bakteri E-Colie sehingga menyebabkan diare.

KLB ini di tangani segera setelah ada laporan dari Puskesmas Seredala, Kegiatanya meliputi; Penyelidikan KLB, Pengobatan Massal, Koordinasi dengan Pemda Kabupaten Yahukimo dan penegakan diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium. Angka kesakitan dan kematian tidak bertambah setelah dilakukan kegiatan penanggulangan. 3) Penemuan Kasus AFP

Kegiatan penemuan kasus AFP adalah upaya pembuktian bahwa di suatu daerah bebas dengan kasus polio liar. Kegiatannya adalah penemuan kasus lumpuh layu mendadak = Acute Flasyd Paralisis pada usia kurang dari 15 tahun. Target penemuan kasus adalah 2 / 100.000 pddk usia kurang dari 15 tahun. Sampai dengan saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo belum melaksanakan kegiatan penemuan kasus AFP.

2. Seksi Imunisasi

Program Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang paling efektif dan telah di selenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan program ini Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun1974. Selain itu dengan telah di perluasnya program immunisasi menjadi program pengembangan immunisasi sejak tahun 1977, Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I ) dapat di tekan.

Pada tahun 2014 kegiatan immunisasi di Kabupaten Yahukimo hanya dilaksanakan di 2 puskesmas yaitu Puskesmas Dekai dan Puskesmas Kurima namun tidak secara mobile klinik dengan kegiatan kunjungan per posyandu secara aktif melainkan secara pasif dimana petugas menunggu di Puskesmas sesuai dengan jadwal posyandu sedangkan di 29 Puskesmas dan Pustu lainnya tidak dilaksanakan karena tidak difasilitasi dengan perlengkapan rantai vaksin meliputi cold chain, penyimpan vaksin carier, listrik dan sarana penunjang lainnya sehingga aktifitas pelayanan imunisasi di 29 Puskesmas dan Pustu tidak dilaksanakan secara rutin hanya pada saat kesempatan kunjungan dokter atau tim medis langsung dilakukan imunisasi masal dan tidak menjangkau seluruh kampung hanya bertempat di lokasi kegiatan pengobatan di distrik atau di Puskesmas.

Seharusnya kegiatan yang dilaksanakan adalah Peningkatan immusisasi (sweeping akselerasi cakupan), Pelaksanaan Vaksinasi bagi Anak Sekolah dan imunisasi Wanita Usia Subur (TT WUS).

a. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Kasus PD3I sampai saat ini belum diketahui karena pelaksanaan imunisasi dasar di 31 Puskesmas dan 65 Pustu belum semuanya terlaksana disebabkan kendala distribusi logistik Vaksin, Cold Chain, tidak adanya Perangkat Listrik Non PLN yang memadai, jarak kampung wilayah kerja yang jauh, kendala geografis dan lain sebagainya.

b. Upaya Peningkatan Imunisasi

Dalam upaya peningkatan immunisasi bertujuan agar seluruh bayi yang ada di Kabupaten Yahukimo memperoleh imunisasi dasar secara lengkap dan terlindung dari ancaman penularan penyakit yang dapat di cegah dengan Imunisasi ( PD3I ).

Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah: 1) Imunisasi Rutin

Imunisasi rutin adalah imunisasi yang dilakukan di puskesmas secara rutin sehingga cakupan tergantung dari kunjungan bayi yang datang dan diberikan imunisasi.

2) Imunisasi Anak Sekolah

BIAS merupakan Bulan Immunisasi Bagi Anak Sekolah yang mana sasarannya adalah anak Sekolah Dasar kelas I s/d kelas III laki-laki maupun perempuan. Pelaksanaan BIAS di lakukan pada bulan Oktober dengan jadwal pemberian : kelas I : imunisasi DT dan Campak, sedangkan kelas II dan III imunisasi TT.

Sebelum pelaksanaan BIAS, petugas Kabupaten melakukan Koodinasi ke 31 Puskesmas untuk mengetahui persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan BIAS, seperti jumlah sekolah, jumlah sasaran dan logistik (vaksin, ADS, safetybox, formulir pelaporan, buku BIAS, format (KIPI ). Namun pada tahun 2014 BIAS tidak dilakukan karena tidak disertakan jadwal BIAS dalam POA bulanan Puskesmas. 3. Seksi Penyehatan Lingkungan

Kegiatan pada tahun 2014 masih terfokus pada penyehatan lingkungan, meliputi:

a. Pemantauan Kwalitas Air Bersih

Dalam rangka meningkatkan kwalitas air di masyarakat baik air bersih maupun air minum agar layak dan aman dikonsumsi maka setiap tahun dilakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel air. Untuk pemantauan Kwalitas air tahun ini selain melakukan pemeriksaan lab juga dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.

b. Pendataan Sarana Kesehatan Lingkungan

Dari hasil pendataan petugas sanitarian puskesmas dalam IV Triwulan dengan hasil berikut, dari 51 distrik dan 31 puskesmas dengan jumlah penduduk 175.429 jiwa dan rumah yang di data sebanyak 138 rumah yang diperiksa hanya berlokasi di Distrik Dekai wilayah kerja Puskesmas Non Perawatan Dekai sedangkan di 30 Puskesmas lainnya tidak dilaksanakan pendataan sarana kesehatan lingkungan. Dari data rumah di Distrik Dekai yang diperiksa diperoleh data sebagai berikut :

1) Rumah sehat sebanyak 70 dan tidak sehat sebanyak 68 2) Pekarangan sehat sebanyak 70 dan tidak sehat sebanyak 68

3) Kepadatan Jentik sebanyak 100% dan bebas tikus sebanyak 15 rumah 4) Kandang ternak 120 kandang yang terpisah sebanyak 91 kandang dan

yang tidak terpisah sebanyak 29 kandang.

5) Data jumlah keluarga yang ada sebanyak 1.771 KK dengan jumlah anggota keluarga sebesar 7.321 orang diperiksa sebanyak 102 KK dengan jumlah anggota keluarga 237 orang yang hanya dilakukan di Distrik Dekai dengan hasil sebagai berikut :

 Keluarga yang memiliki Jamban sebanyak 102 KK sebanyak 138 jamban berjenis leher angsa.

 Keluarga yang memiliki SAB sebanyak 102 KK

 Keluarga yang memiliki tempat sampah sebanyak 70 KK  Keluarga yang memiliki SPAL sebanyak 70 KK

 Dari pendataan TTU ( Tempat-Tempat Umum) jumlah yang terdaftar sebanyak 11 TTU diperiksa sebanyak 11 TTU yang memenuhi syarat sebanyak 11 TTU.

 Untuk tempat pengolahan makanan (TPM) dari 33 TPM yang ada yang diperiksa 33 TPM dan yang memenuhi syarat sebanyak 17 TPM. c. Kegiatan Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)

Kegiatan ini belum dilaksanakan di kampung-kampung karena keterbatasan anggaran, seharusnya Kegiatan ini wajib dilaksanakan karena terdiri dari beberapa kegiatan yaitu :

1) Pelatihan Kader Kesehatan Lingkungan. 2) Assesment (Penilaian Kesehatan Lingkungan). 3) Higiene Promosi dan Pemicuan CLTS.

4) Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat. 5) Evaluasi Program.

Muatan dari kegiatan ini sesuai dengan 5 Pilar dalam STBM yaitu : 1) Stop BABs

2) CTPS ( Cuci Tangan Pakai Sabun).

3) PAM-RT ( Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga ). 4) Pengelolaan Samapah Rumah tangga.

5) Pengelolaan Limbah cair rumah tangga.

Tujuan dari kegiatan ini adalah supaya masyarakat dapat ber PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sehingga tercipta kampung bersih dan masyarakat yang sehat, juga ada peran serta masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dan dapat pula membangun sarana sanitasi secara swadaya atau gotong royong. Dengan ini diharapkan masyarakat dapat melaksanakan atau mempraktekkan 5 pilar STBM tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat akan semakin sehat dan kampung akan semakin bersih.

Dokumen terkait