• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Penelitian

Dalam dokumen Oleh : RIZKY AYUNI (Halaman 18-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.3. Bidang Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai stroke dan selanjutnya dapat menurunkan insiden stroke.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stroke

2.1.1. Definisi

Stroke merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan otak yang disebabkan oleh kelainan suplai darah ke bagian otak tertentu.10

Menurut World Health Organization (WHO), stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.11

Stroke adalah sindrom yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (GPDO) dengan awitan akut,disertai manifestasi klinis berupa defisit neurologis dan bukan sebagai akibat tumor, trauma ataupun infeksi susunan saraf pusat.12

2.1.2. Epidemiologi

WHO memperkirakan sekitar 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama urutan kedua pada kelompok usia diatas 60 tahun dan urutan kelima kematian pada usia 15-59 tahun. Stroke merupakan penyebab kecacatan utama di kalangan usia dewasa di Amerika Serikat dan Eropa.

Di Inggris, stroke menjadi penyebab kematian terbanyak setelah serangan jantung, yang diikuti kanker di urutan ketiga. Begitu juga di dunia, stroke menjadi penyebab utama kematian nomor dua. Di masa depan, stroke diperkirakan menjadi penyebab kematian nomor satu.9

Meskipun stroke lebih sering menyerang orang dengan usia di atas 65 tahun dan banyak orang menganggap bahwa stroke hanya terjadi pada orang tua, stroke juga dapat terjadi pada semua kelompok umur, termasuk bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa muda.10

Peningkatan risiko terjadinya stroke pada masyarakat kelompok ekonomi menengah ke bawah antara lain dipicu oleh pola hidup tidak sehat, seperti merokok, konsumsi obat antihipertensi yang tidak teratur, dan berbagai penyakit kronis lainnya. Dapat juga disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kadar garam, seperti ikan asin dan mi instan.

Sementara itu, pada kelompok ekonomi menengah ke atas, meningkatnya risiko stroke terutama disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi kadar lemak, kalori dan kadar garamnya, seperti makanan cepat saji yang terkategori junk food. Selain itu, penyakit hipertensi dan kencing manis (DM tipe 2), penyakit dan kelainan irama jantung (aritmia) yang tidak diobati secara teratur juga meningkatkan risiko terjadinya stroke pada kelompok ekonomi menengah ke atas. Insidensi stroke lebih tinggi pada laki-laki. Meskipun demikian, tingkat kematian akibat penyakit stroke lebih banyak dijumpai pada wanita. Ini disebabkan umumnya wanita terserang stroke pada usia yang lebih tua dibandingkan laki-laki.13

2.1.3. Faktor risiko

Faktor risiko stroke dikelompokkan menjadi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (non modifiable risk factor) dan faktor risiko yang dapat (modifiable risk factor).

1. Non modifiable risk factor a) Usia

Semakin tua usia seseorang akan semakin mudah terkena stroke.

Stroke dapat terjadi pada semua usia, namun lebih dari 70% kasus stroke terjadi pada usia di atas 65 tahun.

b) Jenis kelamin

Laki-laki lebih mudah terkena stroke. Hal ini dikarenakan lebih tingginya angka kejadian faktor risiko stroke (misalnya hipertensi) pada laki-laki. Menurut studi kasus yang sering ditemukan, laki-laki lebih berisiko terkena stroke tiga kali lipat dibanding dengan wanita.

c) Riwayat keluarga

Risiko stroke meningkat pada seseorang dengan riwayat keluarga stroke. Seseorang dengan riwayat keluarga stroke lebih cenderung menderita diabetes dan hipertensi (Hertzberg, dkk, 2006). Hal ini mendukung hipotesis bahwa peningkatan kejadian stroke pada keluarga penyandang stroke adalah akibat diturunkannya faktor resiko stroke.

d) Ras

Kejadian stroke pada ras kulit berwarna lebih tinggi dari kaukasoid.14

2. Modifiable risk factor, terdiri dari behaviour dan physiologycal risk factor.

Faktor risiko behaviour atau perilaku meliputi: merokok, diet yang tidak sehat sepperti lemak, garam berlebihan, asam urat, kolesterol, low fruit diet, alkoholik, obat-obatan seperti narkoba (kokain), antikoagulansia, antiplatelet, amfetamin, dan pil kontrasepsi. Physiologycal risk factor meliputi: hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, infeksi, arteritis, traumatik, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), lupus, gangguan ginjal, kegemukan (obesitas), polisitemia, kelainan anomali darah, dan lain-lain.11

Mayor risk factor:11 1. Hipertensi

Hipertensi merupakan salah satu penyakit utama di dunia, mengenai hampir 50 juta orang di Amerika Serikat dan hampir 1 miliar orang di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi meningkat sesuai peningkatan usia.14 Joint National Comitte (JNC) VII megklasifikasikan hipertensi sebagai berikut:15

Tabel 2.1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VII

2. Merokok

Merokok memacu peningkatan kekentalan darah, pengerasan dinding pembuluh darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Merokok meningkatkan risiko stroke sampai dua kali lipat.

Terdapat hubungan linier antara jumlah batang rokok yang dihisap per hari dengan penigkatan risiko stroke. Risiko stroke akan meningkat 1,5 kali setiap penambahan 10 batang rokok per hari.

3. Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus (DM) dijumpai pada 15-20% populasi dewasa.

Diabetes merupakan salah satu faktor risiko stroke iskemik yang utama.

Diabetes akan meningkatkan risiko stroke dua kali lipat. Semakin tinggi kadar gula darah, semakin mudah terkena stroke.

Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)

Normal <120 Dan <80

Pre hipertensi 120-129 Atau 80-89 Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99 Hipertensi tahap 2 ≥160 Atau ≥100

Tabel 2.2. Diagnosis DM dalam Pemeriksaan Laboratorium

GTT: Gangguan Toleransi Glukosa

4. Kolesterol

Jumlah kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi akan menyebabkan penimbunan koleserol di dalam sel. Hal ini akan memacu munculnya proses atherosclerosis (pengerasan dinding pembuluh darah arteri). Proses atherosclerosis akan menimbulkan komplikasi pada organ target (jantung, otak, dan ginjal). Proses tersebut, pada otak akan meningkatkan risiko terkena stroke.14

Kadar kolesterol menurut National Cholesterol Education Program (NCEP) dalam Adult Treatment Panel (ATP) III adalah sebagai berikut:16

Tabel 2.3. Klasifikasi Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL), dan Total Kolesterol Menurut ATP III

LDL Cholesterol 2 jam setelah beban glukosa <140 140-200 ≥200

5. Kelainan jantung

Risiko terkena stroke serangan pertama meningkat pada orang dengan penyakit vascular aterosklerotik non serebrovaskular (penyakit jantung koroner, gagal jantung, atau klaudikasio intermiten).5

2.1.4. Klasifikasi Stroke

Stroke dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu stroke hemoragik dan iskemik.

1. Stroke Hemoragik

Terdapat beberapa subtipe dari stroke hemoragik, yang dibedakan berdasarkan lokasi perdarahan di dalam tengkorak.

a. Perdarahan intraserebral (PIS): perdarahan primer yang berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak.

b. Perdarahan subaraknoid (PSA): keadaan terdapatnya atau masuknya darah ke dalam ruangan subaraknoid karena pecahnya aneurisma, AVM (arteriovenosus malformation), atau sekunder dari PIS.12 Perdarahan subaraknoid terjadi diantara piameter dan araknoid.10

2. Stroke Iskemik

Stroke iskemik disebabkan oleh obstruksi pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak.17 Penurunan aliran darah ke otak pada awalnya akan menyebabkan iskemik, kehilangan fungsi yang reversible, dan kemudian jika iskemik berlanjut dan semakin memberat, akan terjadi infark dengan kematian sel yang irreversible. Jika pemulihan dari keadaan iskemik tersebut terjadi dalam hitungan menit atau jam, disebut sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). Jika pemulihan berlangsung lebih dari 24 jam, maka didiagnosis sebagai stroke.18

Kondisi yang mendasari obstruksi adalah perkembangan deposit lemak yang melapisi dinding pembuluh, disebut aterosklerosis.

Deposit lemak ini dapat menyebabkan obstruksi melalui dua cara, yaitu:

1. Trombosis otak, mengacu pada thrombus (bekuan darah) yang berkembang dari bagian pembuluh darah yang tersumbat.

2. Emboli otak, ditujukan secara umum untuk bekuan darah yang terbentuk di lokasi lain dalam sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar dada dan leher. Sebagian bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan menuju pembuluh darah otak sampai mencapai pembuluh darah yang terlalu kecil untuk ia lewati sehingga akhirnya menyebabkan sumbatan.

Penyebab kedua dari emboli otak adalah denyut jantung yang tidak teratur, yang disebut dengan fibrilasi atrium.

Ini menyebabkan kondisi terbentuknya bekuan darah (trombus) di jantung, yang kemudian terlepas dan berjalan ke otak.19

Arteri yang mensuplai darah ke otak, dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.1. Circle of Willis

Gambar 2.2. Suplai darah arteri ke otak18

2.1.5. Pengenalan Dini Gejala Stroke

Gejala umum yang terjadi pada stroke adalah kelemahan secara tiba-tiba pada muka, lengan atau tungkai, dan sering terjadi pada salah satu sisi bagian tubuh. Tanda dari stroke bergantung pada bagian otak mana yang terkena dan seberapa parah bagian otak tersebut mengalami kerusakan, tetapi setiap orang dapat memiliki tanda yang berbeda-beda.

Stroke dapat berhubungan dengan sakit kepala atau tidak ada sakit kepala sama sekali.

Agar mudah diingat, gejala stroke dapat disingkat dengan FAST, yang terdiri atas:

- F = face (wajah)

Wajah tampak mencong atau tidak simetris. Sebelah sudut mulut jatuh ke bawah saat tersenyum.

- A = arms (lengan)

Lengan mengalami kelemahan atau kesemutan. Angkat lengan lurus ke depan, jika terjadi kelumpuhan, maka lengan yang lumpuh akan turun (menjadi tidak sejajar).

- S = speech (bicara)

Kesulitan bebicara. Bicara menjadi pelo (artikulasi terganggu), tidak bisa bicara, atau sulit mengerti pembicaraan orang lain sehingga komunikasi terganggu.

- T = time (waktu)

Segera panggil bantuan atau ke rumah sakit jika menemukan gejala-gejala tersebut. Lakukan sesegera mungkin setelah gejala-gejala terdeteksi.20

Gejala-gejala lain dari stroke dapat berupa kesemutan (rasa baal) yang tiba-tiba pada wajah, lengan, atau tungkai khususnya pada satu sisi tubuh, penurunan kesadaran yang tiba-tiba, masalah dalam berbicara atau memahami pembicaraan, masalah dalam penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba, pada satu atau kedua mata, masalah dalam berjalan, pusing, atau kehilangan keseimbangan, sakit kepala hebat yang tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas.21

2.1.6. Manajemen Pra Rumah Sakit

Stroke merupakan keadaan gawat darurat dan membutuhkan penanganan prehospital yang cepat dan tepat. Filosofi yang harus dipegang adalah “time is brain” dan “the golden hour”.5

Golden periode atau jendela emas adalah waktu yang amat berharga bagi seseorag ketika terkena stroke awal untuk segera mendapat pertolongan oleh Rumah Sakit terdekat dan mempunyai fasilitas penanganan stroke. Waktu yang dimiliki oleh seseorang ketika terjadi stroke adalah 3-6 jam untuk segera mendapat pertolongan yang tepat di Rumah Sakit. Lebih dari jam yang tersebut di atas pasien yang terkena stroke dapat mengalami kecacatan yang berat, kaena berat ringannya kecacatan yang ditimbulkan akibat stroke ditentukan dengan penanganan awal yang tepat dengan memanfaatkan golden period tersebut, disamping itu juga tergantung kepada jenis stroke yang ada pada seseorang.22

Penanganan prehospital yang kita curigai sebagai stroke meliputi:

- Deteksi

Identifikasi onset dan terjadinya gejala-gejala stroke.

- - Pengiriman pasien

Bila seseorang dicurigai terkena serangan stroke, maka segera panggil ambulans gawat darurat. Ambulans gawat darurat sangat berperan penting dalam pengiriman pasien ke fasilitas yang tepat untuk penanganan stroke.

- Transportasi/ambulans

Utamakan transportasi (termasuk transportasi udara) untuk pengiriman pasien ke rumah sakit yang dituju.

Petugas ambulans gawat darurat harus mempunyai kompetensi dalam penilaian pasien stroke pra rumah sakit.

Fasilitas ideal yang harus ada dalam ambulans meliputi: personil yang terlatih, mesin Elektrokardiogram (EKG), peralatan dan obat-obatan resusitasi dan gawat darurat, obat-obat neuroprotektan, telemedisin, ambulans yang dilengkapi dengan peralatan gawat darurat antara lain; pemeriksaan glukosa (glucometer), alat memantau kadar saturasi O2 (pulse oximeter).

Personil pada ambulans gawat darurat yang terlatih mampu mengerjakan hal-hal sebagai berikut: memeriksa dan menilai tanda-tanda vital, tindakan stabilisasi dan resusitasi (Airway Breathing Circulation/ABC). Intubasi perlu dipertimbangkan pada pasien dengan koma yang dalam, hipoventilasi, dan aspirasi. Bila kardiopulmuner stabil, pasien diposisikan setengah duduk. Memeriksa dan menilai gejala dan tanda stroke, pemasangan kateter intravena, memantau tanda-tanda vital dan keadaan jantung, memberikan oksigen untuk menjamin saturasi > 95%, memeriksa kadar gula darah, menghubungi unit gawat darurat secepatnya (stroke is emergency), dan melakukan transportasi secepatnya (time is brain).

2.1.7. Komplikasi Stroke

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita stroke diantaranya Infeksi Saluran Kemih (ISK), bronkopneumonia, perdarahan lambung, ulkus dekubitus, hiponatremia, Deep Vein Thrombosis (DVT), spastisitas, disfagia (kesulitan menelan), disfungsi kandung kemih dan pencernaan, dan dapat menyebabkan depresi.5

2.1.8. Pencegahan Stroke

Stroke dapat dicegah dengan merubah gaya hidup dan mengendalikan/

mengontrol/ mengobati faktor-faktor risiko. Pencegahan stroke dibagi dua yaitu:

1) Pencegahan primer

Pencegahan primer adalah upaya pencegahan sebelum terkena stroke.

a. Hentikan kebiasaan merokok

b. Berat badan diturunkan atau dipertahankan sesuia berat badan ideal - Body Mass Index (BMI) <25 kg/m2

- Garis lingkar pinggang <80 cm untuk wanita - Garis lingkar pinggang <90 cm untuk laki-laki c. Makan makanan sehat:

- Rendah lemak jenuh dan kolesterol

- Menambah asupan kalium dan mengurangi natrium - Buah-buahan dan sayuran

d. Olahraga yang cukup dan teratur dengan melakukan aktivitas fisik yang punya nilai aerobik (jalan cepat, bersepeda, berenang, dan lain-lain) secara teratur minimal 30 menit dan minimal tiga kali per minggu e. Kadar lemak (kolesterol) darah <200 mg%

f. Kadar gula darah puasa <100 mg/dl

g. Tekanan darah dipertahankan 120/80 mmHg h. Pencegahan sekunder

i.

2) Pencegahan sekunder adalah upaya agar tidak terkena stroke berulang, dengan cara:

j. Mengendalikan faktor risiko yang telah ada seperti mengontrol tekanan darah tinggi, kadar kolesterol, gula darah, asam urat.

k. Merubah gaya hidup.

l. Minum obat sesuai anjuran dokter Anda secara teratur.

m. kontrol ke dokter secara teratur.23

2.2 Pengetahuan

2.2.1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah penginderaan manusia terhadap suatu objek. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Ada enam tingkatan pengetahuan yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) suatu materi yang telah dipelajari atau diterima sebelumnya. Oleh sebab itu, tahu merupakan tahap paling rendah dari pengetahuan.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan secara benar

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4. Analisis (analysis)

Analisis merupakan kemampuan untuk menjabarkan, memisahkan kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang diketahui dari suatu objek. Indikasi bahwa orang telah sampai pada

tingkat analisis, ketika dia mampu membedakan, mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan kemampuan seseorang untuk merangkum dan meletakkan satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.24

2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Faktor Internal a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses yang dapat membawa seseorang untuk memiliki ataupun meraih wawasan dan pengetahuan yang seluas-luasnya. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir dan daya cerna seseorang terhadap informasi yang diterima.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula informasi yang dapat diserap dan tingginya informasi yang diserap mempengaruhi tingkat pengetahuannya, begitu juga sebaliknya.

b. Pengalaman

Pengalaman adalah hal yang pernah dialami oleh seseorang ataupun orang lain sehingga dikatakan bahwa pengalaman dapat bersumber dari diri sendiri ataupun orang lain.

c. Inteligensi

Inteligensi merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.

Tingkat inteligensi mempengaruhi seseorang dalam menerima suatu informasi. Orang yang memiliki inteligensi tinggi akan mudah menerima suatu pesan maupun informasi.

d. Usia

Usia adalah umur individu mulai saat dilahirkan. Pada umumnya seiring bertambahnya usia, seseorang akan lebih matang dalam berpikir, bekerja dan menerima informasi. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya dibandingkan orang yang belum tinggi tingkat kedewasaannya.

Namun perlu ditekankan, seseorang yang berumur lebih tua tidak mutlak memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang lebih muda.

e. Pekerjaan

Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menunjang kehidupan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, individu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan akan memiliki pengetahuan yang lebih mengenai sesuatu yang berhubungan dengan bidang yang dikerjakannya dibandingkan dengan orang yang bekerja diluar bidang kesehatan.

2. Faktor Eksternal a. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada disekitar individu dan mempengaruhi perkembangan dan perilaku seseorang.

Dapat berkaitan dengan keadaan di sekitar daerah tempat tinggalnya.

Lingkungan berpengauh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut.

b. Tingkat ekonomi

Tingkat ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Individu yang berasal dari keluarga yang berstatus ekonomi baik umumnya memiliki sikap positif dalam memandang kesehatan dan masa depannya bila dibandingkan dengan mereka yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah. Faktor ekonomi berhubungan pula dengan kesempatan mendapatkan informasi.

c. Media massa

Media massa dapat memberikan informasi yang dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact), sehingga menghasilkan pengetahuan. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, termasuk penyuluhan kesehatan mempunyai pengaruh terhadap pembentukan pengetahuan seseorang. Semakin banyak seseorang menerima informasi maka pengetahuannya pun akan meningkat.8

STROKE

Gambar 3.1. Skema kerangka teori

3.1. Kerangka Konsep

Sumber informasi Gejala stroke Faktor risiko

Komplikasi

Pencegahan

Gambar 3.2. Skema Kerangka Konsep Penelitian Tingkat

Pengetahuan mengenai Stroke

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kec. Medan Selayang berdasarkan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang cukup padat penduduk dengan suku yang cukup bervariasi, pekerjaan yang beragam dan tingkat pendidikan yang beragam pula. Daerah tesebut tidak tergolong perkotaan sehingga responden lebih mudah ditemui dibanding di daerah perkotaan yang memiliki rutinitas padat sehingga mereka sulit meluangkan waktu untuk dimintai pendapatnya dalam penelitian ini. Daerah tersebut juga tidak tergolong pinggiran sehingga masyarakatnya tidak terlalu awam dalam menyikapi penelitian ini. Untuk membatasi jumlah populasi, peneliti telah melakukan randomisasi dan terpilih Kelurahan Tanjung Sari, Lingkungan XIV. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu Maret-November 2016.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang tinggal di Kec. Medan Selayang, Kel.

Tanjung Sari, Lk XIV, Medan, Sumatera Utara. Jumlah masyarakat Lk XIV adalah 2173 jiwa.

4.3.2. Sampel

Sampel penlitian merupakan sebagian atau wakil dari keseluruhan populasi yang diteliti dan dianggap mewakili populasi. Sampel penelitian ini adalah masyarakat di Kec. Medan Selyang, Kel. Tanjung Sari, Lk XIV yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

4.3.2.1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

- Masyarakat yang bertempat tinggal di Kec. Medan Selayang, Kel.

Tanjung Sari, Lk XIV, Medan, Sumatera Utara.

- Usia dewasa (>18 tahun)

- Mengisi lembar pernyataan persetujuan ikut dalam penelitian (informed consent)

b. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

- Tidak mengisi data diri dengan lengkap - Tidak mengisi kuesioner dengan lengkap - Memiliki keterbatasan fisik atau mental

4.3.2.2. Cara Pengambilan Sampel

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan jenis non-probability sampling dengan metode consecutive sampling dimana semua subjek yang memenuhi kriteria yang pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi.25

4.3.2.3. Besar Sampel

Perhitungan besar sampel dalam penelitian ini menurut Slovin (1960) dapat dihitung berdasarkan rumus berikut:26,27

n =

N 1 + N (d)2 n = jumlah sampel N = jumlah populasi

d = tingkat ketepatan/ketelitian ( dalam penelitin ini ditetapkan 10%)

Maka, angka perhitungannya adalah sebagai berikut:

2173 1 + 2173 (0,1)2

= 99, 96 = dibulatkan menjadi 100 orang

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang berisi 13 pertanyaan tentang pengetahuan stroke, yang sudah digunakan dalam penelitian sebelumnya dan sudah divalidasi.9

4.4.1. Uji Validitas dan Realibilitas

Pada bulan Agustus sebelum penelitian dimulai, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan realibitas untuk setiap item pertanyaan kepada 40 orang responden di Kecamatan Medan Selayang yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Dari 13 pertanyaan, 10 pertanyaan valid, dan 3 pertanyaan tidak valid sehingga dikeluarkan dari daftar pertanyaan. Hasil uji validitas dan realibilitas seperti tercantum pada Tabel 3.2. di bawah ini:

n =

Tabel 3.2. Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Pertanyaan

Total Pearson Correlation

Status Alpha

Cronbach Status

1 0,339 Valid 0,810 Realibel

2 0,863 Valid

3 0,497 Valid

4 0,572 Valid

Pengetahuan 5 0,452 Valid

6 0,665 Valid

7 0,734 Valid

8 0,585 Valid

9 0,451 Valid

10 0,828 Valid

4.5. Variabel Penelitian

Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah usia, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan tingkat pengetahuan masyarakat tentang stroke.

4.5.1. Definisi Operasional

Tabel 3.3. Definisi Operasional NO Variabel Definisi

Operasional

Alat

Ukur Hasil Ukur

Skala Ukur

1.

4.6. Jadwal Penelitian

Persiapan Maret 2016

m

Survey awal penelitian April-Mei 2016

Pengumpulan data Juli-Agustus 2016

Pengolahan dan analisa data Agustus-September 2016

Penyusunan laporan September-Oktober 2016

Penyajian laporan Oktober 2016

Melalui proses bimbingan dengan Dosen Pembimbing I

dan Dosen Pembimbing II

Dilakukan di RSUP HAM dan Kantor Kelurahan

Tanjung Sari

Membagikan kuesioner di Kel.Tanjung Sari Lk. XIV

4.7. Pengolahan dan Analisis Data

4.7.1. Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh, kemudian dilakukan pengolahan data dengan menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 21,0.

4.7.2. Analisis Data

Analisa data yang dilakukan adalah analisa univariat dan ditampilkan dalam bentuk persentase dan table distribusi frekuensi. Analisa data dalam penelitian ini bersifat deskriptif, meliputi :

Analisa data yang dilakukan adalah analisa univariat dan ditampilkan dalam bentuk persentase dan table distribusi frekuensi. Analisa data dalam penelitian ini bersifat deskriptif, meliputi :

Dalam dokumen Oleh : RIZKY AYUNI (Halaman 18-0)

Dokumen terkait