• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PAPARAN DAN HASIL PENELITIAN

B. Studi Kasus Individu Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang 1.Gambaran Umum1.Gambaran Umum

4) Wara’ dan Bijaksana

Sifat wara’ atau kewira’ian seseorang dapat dinilai dari kadar keyakinan yang kuat dalam keimanan, kuat dalam menjalankan syariat agama, ’tamak’ tapi dalam mencari ilmu, khusyu dalam ibadah, sabar dalam penderitaan yang berarti mampu meredam kemarahan, serta mampu mengatasi nafsu dirinya sendiri.

Kiai H. Abdurrahman Yahya (pengasuh pondok pesantren) selalu mengembangkan dan mengimplementasikan nilai wara’ atau kewira’ian dan bijaksana. Berkaitan dengan ini sepeti yang dijelaskan Kiai H. Abdurrahman Yahya (pengasuh pondok pesantren), ia menjelaskan:

“Semua santri baik itu sebagai pengurus ataupun ustadz hendaknya selalu berusaha menjalankan apa yang diperintah oleh Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Bukan hanya itu, mereka hendaknya berusaha menghindari hal-hal kecil yang bisa berakibat jelek kepada diri, keluarga, pesantren maupun masa depannya. Inilah hakekat dari nilai wara’ itu.87

Nilai wara’ ini senantiasa selalu dicontohkan dalam kehidupan pengasuh dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disampaikan oleh Ustad Farid (pengurus senior), ia menjelaskan:

“Romo Kiai Abdurrahman Yahya tidak pernah sekalipun mengenakan kaos bila keluar dari ndalem. Beliau sadar, sebagai pemimpin umat, pemimpin pesantren, maka segala tingkah laku dan aktivitas merupakan panutan dan akan ditiru oleh santri dan masyarakat”.88

Begitu pentingnya nilai wara’ ini, sehingga Kiai Abdurrahman Yahya dalam setiap tausiyahnya yang disampaikan dihadapan semua santri sering

87

Kiai H. Abdurrahman Yahya, wawancara, PP Miftahul Huda Malang, jumaat 29Mei 2015

88

menyinggung masalah wara’ ini, berikut penjelasan dari salah ustad Amin (ustad senior):

“Hampir setiap kesempatan tatkala beliau menyampaikan ceramah atau tausiyahnya dihadapan santri.Beliau sering mengatakan bahwakehormatan (muru’ah) seseorang akan ditentukan oleh sikap dan tingkah laku orang itu sendiri. Sebaliknya seseorang akan menjadi hina di tengah masyarakat, bila kehormatan dirinya dirusak dengan kebejatan moral dan buruknya budi pekerti.“89

Disamping nilai wara’ yang senantiasa dikembangkan dan di dicontohkan dalam kepribadian kiai setiap saat, nilaiyang juga dikembangkan oleh pesanteren ini adalah bijaksana. Nilai bijaksana ini sudah tercermin dalam sosok kiai dalam memberikan kebijakan dalam hubungan keluarga. Berikut penjelasan dari salah satu putra beliau (Gus Ulul):

“Segala keputusan dan tindakan yang diambil oleh Kiai Abdurrahman Yahya sama persis dengan apa yang telah dilakukan oleh kiai yahya sebagai abahnya. Beliau sangatmempertimbangkan masak-masak atas kemauan sendiri. Sebagai contoh, Kiai H. Abdurrahman Yahya tidak begitu saja menuruti permintaan putra-putrinya, terutama tentang pilihan pendidikan. Sebelum menyekolahkan atau memondokkan, Kiai H. Abdurrahman Yahya mempertimbangkan dulu manfaat dan mudlaratnya, dan memilih pendidikan mana yang terbaik dengan bakat, potensi dan masa depan putra-putri dan pesantren. Sebab beliau selalu berprinsip untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya.90

Hal yang serupa juga dijelaskan oleh Ustad Farid (pengurus senior pondok pesantren), berikut penjelasannya:

“Dengan usaha yang maksimal kami pengurus berusaha menterjemahkan budaya waro’ kiai dalam kehidupan seluruh santri ataupun pengurus. Ini bisa dilihat bagaimana santri apabila keluar pondok sudah mempunyai kesadaran sendiri untuk tidak berpakaian seperti kaos oblong, apabila berhadapan dengan tamu senantiasa memakai songkok dan berpakaian rapi. Demikian juga dengan budaya bijaksana, alhamdulillah kami sebagai pengurus dalam menindak santri sangat berhati-hati dan pertimbangan yang matang. Misalkan kebijakan

89

Ustad Amin, wancara, PP Miftahul Huda Malang, jumaat 29Mei 2015 90

yang kami ambil untuk menindak santri yang melanggar pesantren, kami mempertimbangkan terlebih dahulu hukuman apa yang layak dan pantas hingga akibat dari hukuman itu bisa membuat jera santri yang melanggar dan tidak mengulangi lagi.91

Dari hasil wawancara dengan lima responden ini, dapat diketahui bahwa budaya waro’ dan bijaksana sudah teraplikasi dalam kehidupan santri. Ini disebabkan karena usaha kiai sebagai pimpinan pondok pesantren dan pengurus pesantren dengan sungguh-sungguh menanamkan budaya waro’ dan bijaksana ini.

5) Istiqomah

Istiqamah juga dikenal dengan istilah konsistensi. Terbukti dengan budaya istiqamah ini telah banyak membantu kepada kesuksesan seseorang dalam meniti kehidupan dan profesi apapun. Banyak motofasi-motifasi dari ulama yang senantiasa mengajarkan penting isiqamah ini, seperti ungkapan

“istiqamah itu lebih baik dari seribu karomah”.Banyak sekali pimpinan

sukses dan tokoh-tokoh besar mejadikan istiqomah sebagai rahasia kunci suksesnya termasuk kiai H. Abdurrahman Yahya ini. Berikut penjelasn dari kiai H. Abdurrahman Yahya (pengasuh pesantren):

“Istiqamah itu adalah kunci siapapun saja untuk mencapai kesuksesan. Istiqamah itu mudah diucapkan tapi berat pelaksanannya. Oleh karena itu saya selalu menganjurkan santri untuk selalu istiqamah akan apa yang dia kerjakan. Saya menanamkan istiqamah kepada santri dimulai dari hal-hal yang esensial seprti istiqamah dalam menjalankan shalat jamaah lima waktu.sedikit demi sedikit saya kembangkan keistiqamahan dalam dalam sholat rawatib, terus kami kembangkan istiqamah ini dalam sholat dhuha dan tahajud.”92

91

Ustad Farid, wancara, PP Miftahul Huda Malang, jumaat 29Mei 2015 92

Kiai H. Abdurrahman Yahya, wawancara, PP Miftahul Huda Malang, Sabtu 30 Mei 2015

Mengenai budaya istiqamah yang sudah diterapkan dan dikembangkan oleh kiai di pesanteren ini dijelaskan oleh Ustad Farid (pengurus senior pesantren). Berikut penjelasannya:

“Mulai dari abahnya kiai H. Abdurrahman Yahya yaitu kiai yahya sampai kiai H. Abdurrahman Yahyabeliau selalu beristiqomah untuk menjalankan shalat maktubah secara berjamaah. Namun kiai Abdurrahman Yahya mengembangkan keistiqamahan ini untuk santri secara rutin menjalankan shalat sunnah tepat waktu dalam setiap hari seperti, shalat dhuha, shalat malam, dan sebagainya. Beliau juga selalu istiqomah membaca dzikir dan aurad lainnya, terutama shalawat. Wirid shalawat merupakan amalliyah yang selalu beliau utamakan. Bahkan shalawat inilah yang selalu beliau tekankan kepada keluarga dan santrinya untuk selalu diamalkan setiap hari dengan bilangan tertentu.Keistiqamahan yang diterapkan beliau tidak hanya yang bersifat pribadi, namun juga beliau istiqamah dalam menjalankan pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda. Setiap ba’da jama’ah shalat subuh misalnya, Kiai Yahya melaksanakan pengajian kitab. Setiap mengaji kitab,beliau bisa dipstikan selalu khatam baik kitab yang kecil ataupun kitab yang besar.”93

Budaya istiqamah ini sampai sekarang sudah mulai ada kesadaran dalam memulai dikembangkan dalam setiap amaliyah ibadah dan aktifitas lain, berikut penjelasan dari Ustad Amin (ustad senior):

“Santri di sini sudah mulai istiqamah melakukan jamaah sholat maktubah, selain itu santri sudah mulai istiqamah melakukan sholat rawatib, sholat dhuha dan sholat tahajjud sekalipun masih ada sedikit diantra santri yang masih belum melakukan sholat malam. Keiatiqamahan ini kemudian berkembang kepada istiqamah dalam belajar, sehabis jamaah isya’, semua santri belajar sampai jam sembilan malam. ”94

Dalam pengamatan peneliti di lapangan, peneliti sempat melakukan jamaah sholat magrib di masjid miftahul huda malang ini, hampir semua santri

93

Ustad Amin, wancara, PP Miftahul Huda Malang,Sabtu 30 Mei 2015 94

mengikuti jamaah itu, bahkan setiap kali peneliti datang selalu santri istiqamah melakukan jamaah sholat.95

Penjelasan dari ketiga responden ini menjelaskan bahwa budaya istiqamah yang diimplemantasikan di pesantren ini yaitu dari istiqamah melakukan sholat maktubah, lalu dikembangkan lagi istiqamah dalam shalat rawatib, shalat sunnah dhuha dan sholat sunnah tahajud.

Karena sifat istiqomah ini pula, kiai H. Abdurrahman Yahya tidak tergiur untuk merubah total sistem pendidikan salafiyah yang sudah menjadi ciri khas Pesantren Gading menjadi pesantren modern, meskipun sumber daya, peluang, dan kesempatan itu terbuka lebar. Beliau tetap konsisten dengan konsep para muassis pesantren ini.