Perkara ini berawal dari laporan yang diterima oleh Komisi tanggal 18 Februari 2005 tentang adanya dugaan pelanggaran terhadap Pasal 22 UU No. 5/1999 berkaitan dengan Tender PJOTIB BTN Syariah yang dilakukan oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) dan PT. Sigma Cipta Caraka.
Berdasarkan fakta serta kesimpulan yang diperoleh dalam proses pemeriksaan, serta dengan mengingat ketentuan Pasal 43 ayat (3) UU No. 5/1999, pada tanggal 24 Oktober 2005 Majelis Komisi memutuskan bahwa Terlapor I PT. Bank Tabungan Negara (Persero) dan Terlapor II PT. Sigma Cipta Caraka secara sah dan
meyakinkan tidak melanggar ketentuan Pasal 22 Undang-Undang No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
2.31
PUTUSAN PERKARA NO. 08/KPPU-I/2005 PENYEDIAAN jASA SURVEY GULA
IMPOR OLEH PT. SUCOFINDO DAN PT. SURVEYOR INDONESIA
Kegiatan monitoring yang dilakukan KPPU terhadap kegiatan penyediaan jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang pelaksanaannya dilakukan oleh PT. Superintending Company of Indonesia (Persero) dan PT. Surveyor Indonesia (Persero) menjadi awal diperiksanya perkara ini.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, pada tanggal 30 Desember 2005 melalui Putusan KPPU No. 08/KPPU-I/2005, Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan bahwa Sucofindo dan SI terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 19 huruf a Undang-Undang No. 5/1999. 2. Memerintahkan kepada Sucofindo dan SI untuk membatalkan Kesepakatan Kerjasama antara
kedua pihak mengenai Pelaksanaan Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Gula dengan nomor:
tanggal 24 September 2004 dan menghentikan seluruh kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula melalui KSO selambat-lambatnya 30 hari terhitung sejak menerima pemberitahuan putusan ini.
3. Memerintahkan kepada Sucofindo dan SI untuk membayar denda masing-masing sebesar Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah) dan disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan negara bukan pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Jakarta I beralamat di Jalan Ir. J. Juanda Nomor 19 melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212 dan harus dibayar lunas paling lambat dalam waktu 30 hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini. 4. Memerintahkan kepada Sucofindo dan SI untuk tidak menunjuk SGS Jenewa maupun
perwakilan atau anak perusahaan SGS Jenewa di negara lain sebagai pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula di negara asal barang dalam kaitannya dengan proses verifikasi impor gula selama 1 tahun terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini. 5. Memerintahkan kepada Sucofindo dan SI untuk menerapkan praktek persaingan usaha sehat dalam penentuan afiliasi di luar negeri dalam pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis gula impor.
6. Memerintahkan kepada Sucofindo dan SI untuk tidak memungut biaya jasa verifikasi impor gula dari importir gula sebelum pungutan tersebut mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sesuai dengan ketentuan perundang- undangan yang berlaku.
MOU-01/SP-DRU/IX/2004 No.
32
TAHUN 2006
2.32
PUTUSAN PERKARA NO. 10/KPPU-L/2005 KARTEL PERDAGANGAN GARAM KE
SUMATERA UTARA
Perkara ini dipicu dari informasi berupa laporan tentang adanya kesulitan melakukan pengiriman garam bahan baku ke Sumatera Utara selain juga ada kesulitan melakukan pembelian garam bahan baku di Sumatera Utara. Terlapor adalah PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatra Palm, UD Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudera.
Akhirnya, berdasarkan bukti–bukti yang telah dihasilkan dari pemeriksaan dan penyelidikan atas perkara ini, dalam sidang majelis tanggal 13 Maret 2006, Majelis Komisi memutuskan sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 4 Undang-Undang No. 5/1999.
2. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 Undang-Undang No. 5/1999.
3. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 6 Undang-Undang No. 5/1999
4. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 11 Undang-Undang No. 5/1999.
5. Menyatakan bahwa PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera secara sah dan meyakinkan tidak melanggar ketentuan Pasal 13 Undang-Undang No. 5/1999
6. Menyatakan bahwa PT Garam secara sah dan meyakinkan tidak melanggar ketentuan Pasal 19 huruf a dan huruf d Undang-Undang No. 5/1999.
7. Memerintahkan kepada PT Garam, PT Budiono, PT Garindo untuk memberikan ketentuan dan kesempatan yang sama kepada pelaku usaha selain PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera untuk memasarkan garam bahan baku di Sumatera Utara.
8. Melarang PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera melakukan tindakan yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk memperoleh pasokan garam bahan baku dari PT Garam, PT Budiono, PT Garindo.
9. Menghukum PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera masing-masing untuk membayar denda sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah) kepada kas negara yang harus dibayarkan dalam pos Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I Jl. Ir. H. Juanda No. 19 Jakarta Pusat dengan Nomor Rekening 1212 apabila tidak melaksanakan perintah dan larangan yang disebut dalam diktum butir 7 dan butir 8 putusan ini.
2.33
PUTUSAN KPPU PERKARA NO. 11/KPPU-I/2005 DISTRIBUSI SEMEN GRESIK
Perkara ini adalah Perkara yang didasarkan pada inisiatif KPPU terkait dengan Distribusi Semen Gresik di Area 4 Jawa Timur yang meliputi wilayah Blitar, Jombang, Kediri, Kertosono, Nganjuk, Pare, Trenggalek, dan Tulungagung. Pelanggaran tersebut diduga dilakukan oleh:1. PT Bina Bangun Putra (Terlapor I) 2. PT Varia Usaha (Terlapor II) 3. PT Waru Abadi (Terlapor III)
4. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) (Terlapor IV) 5. UD Mujiarto (Terlapor V)
6. TB Lima Mas (Terlapor VI) 7. CV Obor Baru (Terlapor VII) 8. CV Tiga Bhakti (Terlapor VIII) 9. CV Sura Raya Trading Coy (Terlapor X) 10. PT Semen Gresik (Persero) Tbk. (Terlapor XI)
Berdasarkan fakta-fakta yang ada, pada tanggal 22 Maret 2006 Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X, dan Terlapor XI terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 8 Undang-Undang No. 5/1999.
2. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX dan Terlapor X terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 11 Undang-Undang No. 5/1999.
3. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 5/1999.
4. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 15 ayat (3) huruf b Undang-Undang No. 5/1999.
5. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI tidak terbukti melanggar pasal 19 huruf d Undang-Undang No. 5/1999.
6. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI tidak terbukti melanggar Pasal 25 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 5/1999.
7. Memerintahkan Terlapor XI untuk menghapus klausul yang menetapkan harga jual kembali yang lebih rendah dan menghentikan upaya untuk mengatur harga jual.
8. Memerintahkan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX dan Terlapor X membubarkan Konsorsium.
34
9. Memerintahkan Terlapor XI untuk menghapus klausul yang melarang distributor untuk memasok LT yang bukan jaringannya dalam setiap perjanjiannya.
10. Memerintahkan Terlapor XI untuk menghapus klausul yang melarang para distributornya untuk menjual semen merek lain selain Semen Gresik dalam setiap perjanjiannya.
11. Menghukum Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX dan Terlapor X untuk membayar denda secara tanggung renteng sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan bukan pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I yang beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No.19 Jakarat Pusat melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212. 12. Menghukum Terlapor XI untuk membayar denda sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu
milyar rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan bukan pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I yang beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No.19 Jakarat Pusat melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212.