Dugaan pelanggaran pada perkara ini terjadi dalam tender pekerjaan pengadaan alat kesehatan dan kesejahteraan sosial Kabupaten Natura Kepulauan Riau tahun anggaran 2007. Pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran dan ditetapkan sebagai Terlapor adalah sebagai berikut:
1. Panitia Pengadaan Barang/Jasa Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Natuna Tahun Anggaran 2007 (Terlapor I)
2. PT Lintas Benua Farma (Terlapor II) 3. PT Bunda Global Pertama (Terlapor III) 4. PT Graha Raya Utama (Terlapor IV) 5. PT Tripatria Andalan Medika (Terlapor V) 6. PT Pring Gading Kuning (Terlapor VI)
10 2
7. PT Sang Naga Berlian (Terlapor VII) 8. CV Kurnia Baru (Terlapor VIII) 9. PT Syifa Batam Mandiri (Terlapor IX) 10. CV Syifa Farma (Terlapor X) 11. CV Astina Raga (Terlapor XI)
12. PT Mega Techno Medical (Terlapor XII)
Berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan oleh Panitia Tender dalam Tender Pekerjaan Pengadaan Alat Kesehatan di Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Natuna Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2007, Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi untuk meminta kepada atasan langsung dan atau pejabat yang berwenang agar menjatuhkan sanksi administratif kepada Panitia Tender sesuai dengan peraturan yang berlaku dan memberikan saran pertimbangan kepada BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan) dan Kejaksaan Tinggi Propinsi Kepulauan Riau untuk melakukan audit dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan Tender Pekerjaan Pengadaan Alat Kesehatan di Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Natuna Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2007. Berdasarkan alat bukti yang diperoleh selama proses pemeriksaan, maka Majelis Komisi memutuskan pada tanggal 22 Desember 2008:
1. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX dan Terlapor X terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; 2. Menyatakan Terlapor XI dan Terlapor XII tidak terbukti melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
3. Menghukum Terlapor II membayar denda sebesar Rp 380.460.285,- (tiga ratus delapan puluh juta empat ratus enam puluh ribu dua ratus delapan puluh lima rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha.
4. Menghukum Terlapor III membayar denda sebesar Rp 273.536.700,- (dua ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus tiga puluh enam ribu tujuh ratus rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
5. Menghukum Terlapor IV membayar denda sebesar Rp 1.169.531.700,- (satu milyar seratus enam puluh sembilan juta lima ratus tiga puluh satu ribu tujuh ratus rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
puluh satu juta empat ratus dua belas ribu tiga ratus delapan puluh lima rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
7. Menghukum Terlapor VII membayar denda sebesar Rp 286.539.000,- (dua ratus delapan puluh enam juta lima ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
8. Menghukum Terlapor VIII membayar denda sebesar Rp 47.998.200,- (empat puluh tujuh juta sembilan ratus sembilan puluh delapan ribu dua ratus rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
9. Melarang Terlapor V, Terlapor IX dan Terlapor X untuk mengikuti tender yang dilaksanakan di lingkungan Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap.
2.105
PUTUSAN PERKARA NO. 31/KPPU-L/2008 KETENAGALISTRIKAN SALATIGA
Perkara No. 31/KPPU-L/2008 ini berkaitan dengan dugaan pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh:
1. Panitia Pengadaan Barang/Jasa Kegiatan Koordinasi dan Pengembangan Ketenagalistrikan (Meterisasi dan Penataan LPJU) Kota Salatiga Tahun Anggaran 2007 (Terlapor I)
2. PT Dwipa Konektra (Terlapor II) 3. PT Julaga Sakti Utama (Terlapor III) 4. PT Guna Swastika Dinamika (Terlapor IV)
Akhirnya, berdasarkan alat bukti, fakta serta kesimpulan dan mengingat Pasal 43 ayat (3) dan Pasal 47 UU No. 5/1999, maka Majelis Komisi memutuskan:
Menyatakan Terlapor I, Terlapor II dan Terlapor III tidak terbukti melanggar Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
2.106
PUTUSAN PERKARA NO. 32/KPPU-L/2008 EMKL SORONG
Dugaan pelanggaran pada perkara ini terjadi dalam bentuk pembuatan kesepakatan tarif all-in di Pelabuhan Sorong oleh para pelaku usaha EMKL yang merupakan anggota DPC Gafeksi Sorong. Pelanggaran terhadap UU No. 5/1999 tersebut dilakukan oleh:
10 4
1. PT Sabar Jaya Perkasa (Terlapor I) 2. PT Pelangi Intim Antar Nusa (Terlapor II) 3. PT Citra Irian Karya (Terlapor III) 4. PT Rabani Tambalo (Terlapor IV) 5. PT Bhima Tirta (Terlapor V)
6. PT Samudra Irian Permai (Terlapor VI) 7. PT Pelni (Terlapor VII)
8. PT Samudera Tirta Mega (Terlapor VIII) 9. PT Waihury Makmur (Terlapor IX) 10. PT Marisonta Iriana (Terlapor X)
11. PT Samudera Makmur Sentosa (Terlapor XI) 12. PT Sumber Tirta Samudera (Terlapor XII) 13. PT Sarana Puspa Persada (Terlapor XIII)
Berdasarkan hasil rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Tim Pemeriksa dan pembelaan dari para Terlapor, Majelis Komisi menilai dan menyimpulkan telah terjadi penetapan tarif di Pelabuhan Sorong dalam bentuk kesepakatan tarif all-in EMKL diantara para pelaku usaha EMKL yang menjalankan usahanya di Pelabuhan Sorong. Akhirnya, pada 11 November 2008 Majelis Komisi memutuskan :
1. Menyatakan Terlapor I PT Sabar Jaya Perkasa, Terlapor II PT Pelangi Intim Antar Nusa, Terlapor III PT Citra Irian Karya, Terlapor IV PT Rabani Tambalo, Terlapor V PT Bhima Tirta, Terlapor VI PT Samudra Irian Permai, Terlapor VII PT Pelni, Terlapor VIII PT Samudera Tirta Mega, Terlapor IX PT Waihury Makmur, Terlapor X PT Marisonta Iriana, Terlapor XI PT Samudera Makmur Sentosa, Terlapor XII PT Sumber Tirta Samudera dan Terlapor XIII PT Sarana Nusa Persada terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat karena membuat kesepakatan tarif all-in EMKL di Pelabuhan Sorong.
2. Memerintahkan kepada Terlapor I PT Sabar Jaya Perkasa, Terlapor II PT Pelangi Intim Antar Nusa, Terlapor III PT Citra Irian Karya, Terlapor IV PT Rabani Tambalo, Terlapor V PT Bhima Tirta, Terlapor VI PT Samudra Irian Permai, Terlapor VII PT Pelni, Terlapor VIII PT Samudera Tirta Mega, Terlapor IX PT Waihury Makmur, Terlapor X PT Marisonta Iriana, Terlapor XI PT Samudera Makmur Sentosa, Terlapor XII PT Sumber Tirta Samudera dan Terlapor XIII PT Sarana Nusa Persada untuk membatalkan kesepakatan tarif all-in EMKL di Pelabuhan Sorong paling lambat 30 hari kerja sejak Putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap.
3. Memerintahkan kepada Terlapor I PT Sabar Jaya Perkasa, Terlapor II PT Pelangi Intim Antar Nusa, Terlapor III PT Citra Irian Karya, Terlapor IV PT Rabani Tambalo, Terlapor V PT Bhima Tirta, Terlapor VI PT Samudra Irian Permai, Terlapor VII PT Pelni, Terlapor VIII PT Samudera Tirta Mega, Terlapor IX PT Waihury Makmur, Terlapor X PT Marisonta Iriana, Terlapor XI PT Samudera Makmur Sentosa, Terlapor XII PT Sumber Tirta Samudera dan Terlapor XIII PT Sarana Nusa Persada untuk mengumumkan pembatalan kesepakatan tarif all-in EMKL di Pelabuhan Sorong melalui media cetak lokal dan nasional.