• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Budaya Maritim di Indonesia

Menurut Boeke (1983), Desa tradisional merupakan sebuah rumah tangga

yang secara ekonomi ”berdaulat”, ”mandiri”. Desa tradisional juga merupakan

sebuah ”unit produksi” bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konsumtif kalangan

kelas menengah dan atas (penguasa, bangsawan, pemilik tanah/modal, dll), sementara

bagi kalangan bawah, hal itu tidak lain merupakan ”kewajiban sosial dan ekonomis”

mereka atas perlindungan dan pimpinan yang diberikan oleh kalangan menengah dan

atas dan ini berarti pula sebagai bentuk pengabdian kepada penguasa alam yang Maha

kuasa. Desa tradisional merupakan manifestasi sederhana dari ’perkampungan

nelayan’ yang sebagian besar menunjukkan bahwa taraf hidup masyarakat memang

belum banyak beranjak dari ciri serta karakteristik dari desa tradisional. Sebuah

perkampungan nelayan merupakan bentuk desa sederhana dimana masyarakat yang

Norma tersebut terbentuk baik secara alamiah maupun diperkuat dengan aturan dan

bentuk perundangan sederhana yang membuat masyarakat tetap tunduk dibawahnya.

Pendek kata, setiap aktivitas mereka senantiasa ditundukkan pada dan dicampur

dengan berbagai macam motif yaitu, motif sosial, keagamaan, etis dan tradisional.

Dari sisi konsumsi, kehidupan ekonomi desa tradisional dibangun atas dasar ”prinsip

swasembada”, dimana hampir seluruh kebutuhan hidup kesehariannya

diproduksi/dipenuhi oleh desa tradisional sendiri.

Kemampuan desa tradisional membangun struktur ekonomi demikian, karena

didukung penuh oleh adanya ikatan-ikatan sosial yang asli dan organis, sistem

kesukuan tradisional, kebutuhan-kebutuhan yang tak terbatas dan bersahaja, prinsip

produksi pertanian semata-mata untuk keperluan keluarga, pengekangan pertukaran

sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan, serta tidak terlalu berorientasi kepada laba

(non profit oriented). Landasan struktur ekonomi desa tradisional diletakkan pada

prinsip ”hemat, ingat, dan istirahat (Boeke, 1983:22).

Seperti diungkapkan Bappenas RI (2005:1.3-10), Hampir di setiap wilayah

pesisir di Indonesia dijumpai adanya tengkulak yang mengambil beberapa fungsi

pengembangan di sektor perikanan dan kelautan secara informal. Fungsi-fungsi

pengembangan sektor perikanan dan kelautan yang dimasuki oleh tengkulak tidak

saja hanya pada fungsi finansial, tetapi banyak fungsi lainnya yang telah diambilnya,

yakni:

Pada fungsi produksi ini tengkulak mengambil peran sebagai penyedia faktor/sarana produksi penangkapan ikan, seperti ; menyediakan biaya-biaya bekal operasi penangkapan ikan, penyedia alat tangkap ikan dan bahkan penyedia mesin motor tempel serta kapal penangkap ikan.

2. Fungsi Pemasaran.

Ikan hasil tangkapan nelayan, pada lokasi-lokasi dimana tidak terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) umumnya dibeli oleh tengkulak yang kemudian oleh tengkulak disalurkan ke perusahaan-perusahaan exportir atau disalurkan ke pasar-pasar lokal.

3. Fungsi Finansial.

Segala kebutuhan berupa finansial untuk terlaksananya kegiatan usaha penangkapan ikan senantiasa disediakan oleh tengkulak. Nelayan hampir dapat dikatakan bergantung pada tengkulak. Para tengkulak memberikan bantuan finansial tanpa syarat-syarat tertentu tidak seperti pada lembaga-lembaga keuangan (bank).

4. Fungsi Sosial.

Dikala terjadi musim paceklik, nelayan tidak melakukan operasi penangkapan ikan sama sekali. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka banyak mengandalkan pada bantuan tengkulak. Bahkan untuk kepentingan biaya sekolah putera-puteri nelayan, kadang-kadang mereka juga memohon bantuan pada tengkulak.

Hal menarik yang perlu dikemukakan disini adalah mengapa nelayan tidak mau

memanfaatkan lembaga keuangan formal (bank) dan lembaga-lembaga keuangan

lainnya seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi justru mengikatkan diri pada

sistem yang dilakukan oleh tengkulak?. Seolah-olah telah terjadi adanya ikatan

lahiriah dan batiniah diantara kedua belah pihak. Apabila diperhatikan dengan

sungguh-sungguh, maka peran yang dimainkan oleh lembaga keuangan formal (bank)

dan lembaga-lembaga keuangan lainnya seperti telah disebutkan di atas hanyalah

terbatas pada peran finansialnya saja; itupun menurut nelayan tradisional memerlukan

persyaratan yang memberatkan mereka. Di sisi lain, peran yang dimainkan oleh para

sosial) yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat nelayan tradisional yang

membuat mereka ’rela’ mengikatkan diri pada ikatan yang menimbulkan adanya

kebergantungan. Senada dengan itu Badaruddin (2005), mengatakan bahwa

polarisasi sosial ekonomi yang semakin tajam dalam komunitas nelayan, secara

teoritis akan memperkuat kelembagaan tradisional patron-klien, karena

ketergantungan nelayan miskin (nelayan buruh) terhadap nelayan kaya (nelayan

pemilik modal) semakin tinggi. Dalam prakteknya, kelembagaan patron-klien

cenderung eksploitatif terhadap nelayan miskin (klien). Dari hasil penelitiannya

terdahulu, menunjukkan bahwa secara sadar atau terpaksa, kelembagaan patron-klien

ini tetap diminati dan dipertahankan oleh komunitas nelayan, dan dijadikan sebagai

“katub pengaman” krisis subsistensi yang mereka hadapi. Upaya reduksi kemiskinan

(khususnya di kalangan nelayan) dapat dilakukan dengan pemanfaatan potensi modal

sosial yang ada di dalam masyarakat, namun yang menjadi persoalan adalah

bagaimana metode menumbuhkan dan mengembangkan potensi modal sosial yang

ada dalam komunitas yang saat ini sedang mengalami pelemahan bahkan

penghancuran.

2.4.1. Kelembagaan dan Kedudukan Panglima Laot Dalam Hukum Positif di Indonesia : Kasus di Propinsi NAD

(Bappenas, 2005: 3.2-15 – 3.2-18), Panglima Laot merupakan lembaga adat

dan berfungsi sebagai ketuaadat bagi kehidupan nelayan di pantai, serta merupakan

unsur penghubung antara Pemerintah dengan rakyat (nelayan) di tepi pantai guna

Lembaga Panglima Laot telah berakar dalam masyarakat, khususnya

masyarakat nelayan di Aceh. Akan tetapi sejak Indonesia merdeka, lembaga

Panglima Laot tersebut seperti telah terlepas darin sistem hukum dalam negara.

Bahkan di dalam perda No.2 tahun 1990 sendiri masih menimbulkan permasalahan

tentang kedudukan Lembaga Panglima Laot dalam sistem hukum yang berlaku serta

kewenangannya dalam menjalankan fungsi sebagai Panglima Laot (Bappenas, 2005:

3.2-15 – 3.2-18).

2.4.1.1. Keberadaan Panglima Laot Dahulu dan Sekarang 2.4.1.1.1. Panglima Laot Sebelum Perda No.2 Tahun 1990

Lembaga Panglima Laot telah ada pada zaman kesultanan Iskandar Muda.

1). Ini menunjukkan betapa tuanya keberadaan lembaga tersebut dalam sistem hukum

di Indonesia, khususnya di Aceh. Namun tulisan yang ada tidak menjelaskan siapa

yang dimaksud dengan Panglima Laot pada waktu itu. Begitu juga tidak ada tulisan

yang menjelaskan fungsi dan tugasnya.

Namun menurut C. Van Vollen Hoven 2). Panglima Laot sejak zaman dahulu

sudah menjadi salah satu lembaga resmi yang diatur oleh negara. Dikatakannya sejak

zaman dahulu di Aceh sudah ada peraturan sampai seberapa jauh nelayan dapat

beroperasi untuk menangkap ikan di lautan. Pengaturan itu atas dasar surat yang

diberikan oleh Sultan kepada pembesar wilayahnya. Dari kutipan diatas, tampak

bahwa kedudukan Hukum Adat Laot yang kuat pada masa itu dan jelas dasar

Identifikasi Panglima Laot mulai tampak pada masa kolonial, Hoesein

Djajadiningrat yang mengatakan Panglima Laot disebut Panglima Lhok. Yang

dimaksud dengan Panglima Lhok adalah panglima laot kepala sebuah Lhok atau

kuala atau teluk yang mengepalai sejumlah pukat dengan persetujuan kepala

kenegerian.

Dari tulisan Hoesein Djadjadiningrat tersebut dapat dipertegas bahwa

Panglima Laot itu adalah penguasa sebuah kuala dan karena itu juga pemimpin pukat

ikan. Kepemimpinan itu diperoleh karena dipilih dan diangkat oleh pawang poekat

pemilihnya serta diakui oleh kepala kenegrian. Kepala kenegrian dimaksud bila

ditempatkan dalam sistem pemerintahan sekarang ini, ditinjau dari luas wilayah dan

kekuasaannya dapat disamakan dengan camat sebagai kepala wilayah.

Persetujuan pengangkatan dari kepala kenegrian menunjukkan Panglima Laot

dan lembaganya, keberadaannya diakui secara resmi oleh penguasa dan karena itu

berada dalam sistem hukum yang berlaku. Ini berarti pula pada waktu itu keberadaan

Panglima Laot diakui dan dilindungi oleh hukum dalam negara.

Dalam perkembangan selanjutnya setelah Indonesia merdeka, perhatian

pemerintah terhadap lembaga Panglima Laot, tampak terabaikan sama sekali,

meskipun keberadaan lembaga itu tetap terpelihara didalam masyarakat Indonesia

yang baru merdeka termasuk pemerintahnya ingin meninggalkan tradisi lama untuk

cepat-cepat meraih kemajuan disegala bidang. Pandangan seperti ini setelah teruji

Untuk mencapai kemajuan tetap diperlukan kerangka sosial dalam masyarakat

yang telah ada. Kerangka sosial tersebut antara lain terbentuk lembaga-lembaga adat.

Lembaga adat tetap dibutuhkan masyarakat, sebab tanpa lembaga adat masyarakat

akan kacau balau dan bergerak maju dengan ada tempat berpijak. Disadari atau tidak,

masyarakat terus berkembang hingga menyababkan perubahan nilai budayanya.

Perubahan nilai menyebabkan ditinggalkan (tidak cocok lagi) ketentuan adat yang

ada dalam lembaga. Untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang telah berubah

ini diperlukan ketentuan-ketentuan adat yang baru. Hal tersebut di atas perlu

ditekankan sebab untuk mempertahankan (melestarikan) adat yang ditinggalkan

masyarakat sama halnya dengan memasukkan adat itu dalam mesium, dimana adat

istiadat itu hanya untuk dibaca dan dikagumi, bukan sebagai alat untuk mengatur

masyarakat.

Perhatian terhadap lembaga Panglima Laot secara samar-samar mulai

dilakukan kembali pada sekitar tahun 1972, oleh Dinas Perikanan Propinsi NAD.

Perhatian itu tampak dengan dikeluarkan monografi Perikanan Propinsi NAD yang di

dalamnya tersebut dibicarakan tentang kelembagaan Panglima Laot. Atas dasar

perkembangan di atas Dinas Perikanan memberi batasan. Panglima Laot ialah orang

yang mengkoordinasikan satu atau lebih daerah perikanan, minimal satu

perkampungan nelayan. Batasan makna Panglima Laot seperti itu meskipun ditinjau

dengan batasan tersebut telah menghilangkan fungsi Panglima Laot yang lainnya,

khususnya sebagai penguasa wilayah kelautan.

Atas dasar makna Panglima Laot seperti itu dalam praktek Panglima Laot

tersebut setelah dipilih oleh para pawang dikukuhkan oleh Dinas Perikanan Propinsi

NAD. Pengukuhan tersebut mengandung arti adanya pengakuan bahwa Panglima

Laot tersebut adalah koordinator dibidang penangkapan ikan dilaut dalam wilayah

laut tersebut.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan pengukuhan oleh Dinas Perikanan,

secara yuridis telah melahirkan kewenangan perintah dan larangan terhadap para

nelayan dalam wilayahnya. Secara yuridis jelas tidak, sebab perintah dan larangan

terhadap orang banyak/masyarakat hanya dapat dikeluarkan oleh orang/badan yang

diberi wewenang oleh hukum. Menurut sistem hukum dinegara kita hanya

pemerintahlah yang dapat memberikan kekuasaan dan melimpahkan wewenang

kenegaraan kepada seseorang/badan.

2.4.1.1.2. Panglima Laot Setelah Perda No. 2 Tahun 1990

Perda No.2 Tahun 1990, telah mengangkat kembali keberadaan lembaga

Panglima Laot yang telah sekian lama (semenjak kemerdekaan) hilang dari kerangka

sistem hukum dalam negara. Dengan dikeluarkan Perda No.2 Tahun 1990, maka

lembaga Panglima Laot menjadi lembaga resmi dalam negara c/q Propinsi NAD.

Didalam pasal 1 dikatakan Panglima Laot adalah orang yang memimpin adat

termasuk dalam hal ini mengatur tempat/areal penangkapan, penambatan perahu dan

menyelesaikan sengketa bagi hasil. Penjabaran pasal diatas mengandung makna,

pertama-tama menegaskan Panglima Laot adalah orang yang memimpin adat istiadat

dan kebiasaan yang berlaku dibidang penangkapan ikan di lautan. Perkataan

memimpin disini dalam arti hukum adalah memelihara, menjaga atas dasar

wewenang yang diberikan oleh hukum artinya bila ada yang bertindak melawan

hukum maka orang tersebut harus diberi ganjaran/sangsi hukum yang telah

ditetapkan.

Karena telah diberikan hak memimpin hukum adat dan kebiasaan-kebiasaan

di laut serta dalam hukum adat laut, Panglima Laot dipandang sebagai penguasa

tunggal di lautan (lhok). Selanjutnya karena adat laot dan kebiasaan lainnya telah

diakui keberadaannya, maka kedudukan Panglima Laot menurut hukum adat laot,

juga tetap dipertahankan oleh pasal 1 Perda No. 2 Tahun 1990 tersebut. Sebagai

wewenang dan tugas Panglima Laot tetap seperti sebelumnya (pasal 13) yaitu:

a. Memimpin wilayah kelautan

b. Memimpin persoalaan sosial orang nelayan

c. Memimpin penyelesaian perselisihan di laut

d. Memimpin pelestarian lingkungan.

2.4.2. Wewenang dan Fungsi Panglima Laot 2.4.2.1.Wewenang Panglima Laot

Dalam hal ini, maksud dari wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk

melakukan sesuatu, jadi kalau dikatakan Panglima Laot mempunyai wewenang untuk

mempertahankan adat laot, jadi kalau dikatakan Panglima Laot mempunyai

wewenang untuk mempertahankan adat laot, jadi kalau dikatakan Panglima Laot

mempunyai wewenang untuk mempertahankan adat laot, mengandung arti Panglima

Laot mempunyai hak dan kekuasaan untuk mempertahankan adat laot menurut

hukum negara. Dalam Perda No. 2 Tahun 1990, persoalan kewenangan Panglima laot

tidak diatur secara tegas, tidak ada satu pasal pun dari Perda No. 2 Tahun 1990

tersebut yang membicarakan kewenangan Panglima Laot. Satu-satunya pasal yang

dapat dijadikan acuan dalam membahas kewenangan Panglima Laot adalah pasal 1

(m). Dalam pasal tersebut Panglima Laot ditetapkan sebagai pemimpin:

a. Adat istiadat

b. Kebiasaan-kebiasaan dalam penangkapan ikan dilaut

c. Pengaturan daerah penangkapan ikan.

d. Pengaturan tempat penambatan perahu

e. Menyelesaikan sengketa bagi hasil.

Dengan diakuinya oleh Panglima laot mendapat legalitas (keabsahan) dari

segi hukum, dengan pengakuan itu pula Panglima Laot mempunyai kekuasaan.

Pengesahan Panglima Laot dalam mempertahankan hukum adat laot, adat dan

Pengertian Adat Istiadat yang dimaksudkan itu tidak lain dari adat istiadat

yang telah dilakukan. Sebagai contoh Adat Laot yang sudah baku, pada garis

besarnya meliputi :

1. Adat perjanjian bagi hasil ikan.

2. Adat dalam penangkapan ikan.

3. Adat penyelesaian sengketa antar nelayan.

4. Adat dalam musibah di laut.

5. Adat kenduri Laot.

6. Adat dalam membantu pemerintahan.

7. Adat lingkungan

Adat 1 s/d 7 sudah jelas, karena sudah biasa dilaksanakan pada semua daerah.

Hanya saja disana-sini ada perbedaan yang tidak prinsipil, perbedaan seperti itu

sebaiknya dibiarkan saja supaya adat tidak kaku. Akan tetapi mengenai pantangan

perlu dipikirkan lagi kegunaannya dari segi ekonomis, bila telah tidak cocok

sebaiknya ditiadakan saja. Misalnya di Bakongan (Aceh Selatan), atas dasar

keputusan camat para nelayan pantang turun ke laut pada hari hari raya haji (Idul

Adha) selama 7 hari.

2.4.2.2. Fungsi Panglima Laot

Fungsi atau peran Panglima laot dalam hal ini merupakan tugas yang harus

dikerjakan, dalam Perda No. 2 Tahun 1990 pasal 6 telah dirincikan dan diatur tentang

1. Membantu Pemerintah dalam memperlancar pelaksanaan pembangunan.

2. Melestarikan hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat.

3. Memberi kedudukan hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut

keperdataan adat.

4. Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat.

Dalam hal ini, fungsi Panglima Laot akan memberi kedudukan hukum

menurut hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut keperdataan adat. Fungsi ini

secara yuridis memberi kekuasaan kepada lembaga Panglima Laot (sebagai hasil

kesepakatan bersama), untuk mengangkat hal-hal yang telah ada dalam kebiasaan

menjadi hukum adat. Dari ketentuan pasal 6 Perda No.2 Tahun 1990 tersebut dapat

diketahui pula bahwa ketentuan-ketentuan adat itu tidak bersifat tertutup. Artinya

yang dikatakan adat itu bukan hanya adat yang telah ada sejak dahulu kala akan tetapi

pada adat yang telah ada itu selalu dapat ditambah dengan adat-adat baru, apabila

dalam pelaksanaan adat laot itu dibutuhkan. Karena pada dasarnya adat laot itu tidak

bersifat tertutup, maka dapat diartikan pula menurut pasal 6 perda No. 2 tahun 1990,

menghendaki agar adat laot itu selalu diperbaharui sesuai dengan perkembangan

kebutuhan masyarakat nelayan serta pembangunan nasional secara keseluruhan.

2.4.3.Lembaga Panglima Laot dalam Struktur Pemerintahan Daerah

Pembicaraan tentang tempat keberadaan lembaga Panglima Laot setelah

diundangkan Perda No. 2 Tahun 1990 perlu dilakukan, sebab dengan dimasukkannya

maka lembaga Panglima Laot bukan lagi lembaga swasta yang bersifat liar. Dengan

telah ditetapkannya pasal 2 Perda No. 2 tahun 1990, maka kedudukan Lembaga

Hukum Adat Laot/Panglima Laot menjadi lembaga resmi yang keberadaannya diakui

negara. Namun demikian lembaga Panglima Laot bukanlah lembaga negara, lembaga

Panglima Laot begitu juga lembaga-lembaga adat lainnya tidak termasuk kedalam

struktur pemerintahan seperti Desa, Kecamatan, kabupaten, propinsi dan seterusnya.

Dalam pasal 6(a) Perda No. 2 tahun 1990 tersebut dikatakan ”Lembaga Adat

mempunyai fungsi membantu pemerintah”, hal ini menunjukkan bahwa lembaga

hukum adat c/q lembaga Panglima laot, bukanlah bagian dari struktur pemerintahan

melainkan lembaga diluarnya sebagai mitra yang membantu tugas-tugas

pemerintahan dibidang pembangunan kelautan dan perikanan.

Walaupun lembaga Panglima laot tersebut berada diluar struktur

pemerintahan akan tetapi lembaga itu dari ketentuan pasal 9(1) Perda No.2 tahun

1990 tersebut dapat disimpulkan bahwa Panglima laot dalam melaksanakan tugasnya

harus bertanggung jawab kepada pemerintah, yaitu kepada Gubernur,

Bupati/Walikota dan Camat, karena merekalah yang membinanya.

Hal lain yang penting dibahas disini adalah tempat berkedudukannya

Panglima Laot. Dewasa ini menurut Hukum Adat laot, panglima laot berkedudukan

ditingkat kecamatan dan disetiap lhok/kuala/desa nelayan yang ada pelabuhan pukat.

Untuk menjalankan fungsinya. Panglima Laot mengangkat seorang pembantu/wakil

kepada Panglima Laot sebagai pemimpin dilaut dalam wilayah panglima laot

bersangkutan. Adat seperti itu terdapat pada semua daerah tingkat II di Provinsi

NAD.

Dokumen terkait