BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Kemiskinan Struktural Nelayan
Kemiskinan dan tekanan-tekanan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh rumah
tangga nelayan buruh berakar pada faktor-faktor kompleks yang saling terkait.
Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam faktor alamiah dan non
alamiah. Faktor alamiah berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan dan
struktur alamiah sumber daya ekonomi desa. Faktor nonalamiah berhubungan dengan
keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam system bagi
hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti, lemahnya penguasaan
jaringan pemasaran dan belum berfungsinya koperasi nelayan yang ada, serta dampak
negative kebijakan modernisasi perikanan yang telah berlangsung sejak seperempat
abad terakhir ini (Kusnadi, 2002).
Gambaran umum yang pertama kali bisa dilihat dari kondisi kemiskinan dan
kesenjangan sosial-ekonomi dalam kehidupan masyarakat nelayan adalah fakta-fakta
yang bersifat fisik, berupa kualitas pemukiman. Kampung-kampung nelayan miskin
akan mudah diidentifikasi dari kondisi rumah hunian mereka . Selain gambaran fisik
di atas, untuk mengidentifikasi kehidupan nelayan miskin dapat dilihat dari tingkat
Kemiskinan yang melanda rumah tangga nelayan buruh telah mempersulit
mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari
keadaan mereka saat ini. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk
mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. Karena ketidakmampuan ekonomi
orang tuanya, banyak anak tidak bersekolah atau drop out dari sekolah dasar sebelum
mencapai kelulusan. Anak-anak dituntut untuk ikut mencari nafkah menanggung
beban kehidpan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuanya.
Dalam situasi keterbatasan memperoleh pendidikan yang layak, kiranya sangat sulit
menciptakan generasi atau sumber daya manusia yang lebih berkualitas dalam
masyarakat nelayan. Karena kondisi generasi yang demikan, mereka akan tetap
mewarisi pekerjaan dan tingkat kesejahteraan hidup, seperti yang telah dialami oleh
orang tuanya. Akibatnya, kualitas sumber daya manusia tetap rendah dan kemiskinan
di kalangan nelayan akan diwariskan serta dilanggengkan dari generasi ke generasi.
Desa-desa pantai akan menjadi kantong-kantong kemisknan, kebodohan, dan
keterbelakangan sepanjang masa (Kusnadi, 2002:27).
Dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar kehidupan, isu substansial yang
selalu dihadapi oleh keluarga atau rumah tangga adalah bagaimana individu-individu
yang ada di dalamnya dapat berusaha maksimal dan bekerja sama untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga sehingga kelangsungan hidupnya terpelihara. Setiap anggota
rumah tangga harus memiliki kemauan mencari nafkah, bagaimanapun kecilnya
terhadap kelangsungan hidup rumah tangga di atas kepentingan-kepentingan pribadi.
Setiap anggota rumah tangga bisa memperoleh penghasilan yang berfungsi untuk
menjaga kelangsungan hidup bersama. Dalam situasi demikian, sistem pembagian
kerja yang berlangsung bersifat fleksibel dan adaptif terhadap upaya pemenuhan
kebutuhan hidup rumah tangga. (Benyamin White, 1976).
Seabrook (2006: 63-64) menyitir, bukan orang miskin yang menentukan
kebutuhan mereka, penaksiran atas kemiskinan justru tetap berada di tangan
profesional dan pakar. Merekalah yang ingin menguranginya, mengukurnya,
menghukum orang karenanya, bahkan membuatnya semakin parah.... Hanya untuk
orang miskinlah, program-program dibuat yang katanya untuk menjawab kebutuhan
dasar mereka. Tidak ada seorang pun bermimpi untuk meminta orang kaya agar
mengurangi apa yang mungkin mereka butuhkan. Ini merupakan sumber banyak
masalah menyangkut pembicaraan tentang kebutuhan dasar...Menawarkan jawaban
pada orang miskin atas kebutuhan mereka merupakan tindakan yang sangat
merendahkan. Tindakan semacam itu hanya dapat dibenarkan apabila dalam kondisi
darurat, ketika terjadi bencana, gempa bumi, banjir, konflik perang atau sipil, ketika
orang diusir dari rumah mereka dan bertahan hidup di luar harapan-harapan dan
norma-norma budaya.
Kemiskinan yang membelit kehidupan rumah tangga nelayan tradisional disebabkan oleh faktor-faktor kompleks yang belum teruraikan secara rinci dan sitematis. Berbagai strategi dalam pegimplementasian program bantuan yang diberikan oleh pemerintah ternyata belum mampu untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, serta mengentaskan kemiskinan nelayan dan memecahkan beragam masalah sosial ekonomi masyarakat pantai. Disertasi Betke (Dalam Sitorus, 2007) menyimpulkan bahwa dominasi birokrasi dalam kebijakan pembanguan pedesaan melalui
berbagai proyek bantuan merupakan bandul pendulum bagi kesenjangan pendapatan di kalangan nelayan akibat pengadopsian teknologi yang tidak disertai peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam kehidupan harian nelayan, sesungguhnya hubungannya dengan alam
dan lingkungannya sangat erat. Nelayan sangat bergantung pada musim, pada daur
lahir dan punahnya sumber daya kelautan dan kelestarian ekosistemnya, karena
pengalaman itu menentukan pendapatan dan hasil tangkapan mereka. Hubungan ini
bersifat timbal balik, lingkungan alam dapat mempengaruhi nelayan, begitu pula
sebaliknya nelayan dapat mempengaruhi lingkungan alam karena prilakunya seperti
dituliskan Sukadana (Dalam Sitorus, 2007). Tidak dapat dipungkiri pekerajaan
sebagai nelayan sangat bergantung pada alam tentunya menghadapi banyak kendala
diantaranya musim, angin, ombak, hujan, dan badai, Selain itu, semakin dininya
dicapai batas ambang lestari (MSY Maximum Sustainable Yield) akibat kerapatan alat
tangkap dan praktek penangkapan ikan yang eksploitatif dan destruktuktif,
mengakibatkan nelayan harus adaptif dan strategic untuk menyiasatinya, diantaranya
dengan melibatkan perempuan dalam struktur produksi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusnadi (dalam Sitorus, 2007)
menemukan bahwa diversifikasi pekerjaan di kalangan nelayan untuk meningkatkan
akses pendapatan yang semakin luas ternyata tidak selalu andal sebagai pilihan
kebijakan. Hal ini terjadi karena perangkap kemiskinan telah berkorelasi dengan
pola-pola pekerjaan sebagai nelayan yang dibatasi oleh aktivitas pekerjaan lainnya.
Hasil penelitian Ginting (1999) mengungkapkan bahwa motorisasi alat
tidak menjangkau kepentingan rumah tangga nelayan tradisional. Kemiskinan
nelayan di Deli Serdang semakin kompleks karena adanya faktor internal dari
masyarakat yang tidak kondusif (memungkinkan) dalam melakukan perubahan.
Misalnya, dengan pendapatan utama dari melaut dengan rata-rata anak lima orang,
membuat beban tanggungan menjadi tinggi. Sementara peran istri belum optimal
dalam menopang ekonomi keluarga. Faktor lain yang kemudian muncul adalah pola
hidup konsumtif pada musim ikan sehingga tidak ada simpanan pada waktu
menghadapi musim paceklik.
Apa yang bisa kita lihat dari proses yang cukup lama berlangsung dalam
kemiskinan nelayan tersebut?. Upaya keluar dari kemiskinan sebenarnya sudah
pernah dicoba dilakukan. Sayangnya, model penyelesaiannya hanya berupa tambal
sulam. Bentuk-bentuk pemberian modal, sampan, JPS, dan pendirian koperasi tidak
menjawab kemiskinan nelayan. Upaya pemerintah selama ini sepertinya tidak melihat
sebuah realitas yang utuh, yakni bagaimana proses yang berlangsung dan bagaimana
struktur-struktur yang mengakibatkan kemiskinan tersebut terjadi (Kophalindo 2002:
360-361).
Untuk meretasnya, barangkali kita tetap harus melihat bagaimana struktur
sosial yang menjadikan nelayan tetap miskin. Struktur tersebut antara lain: pertama,
struktur kemasyarakatan yakni hubungan patron-klien. Hubungan ini harus dilihat
sebagai salah satu bagian yang langsung ataupun tidak langsung menjadi penyebab
lebih adil, tetapi lebih kepada kondisi dimana hubungan tersebut telah mengalami
pergeseran. Hubungan patron-klien yang sudah terinternalisasi memang sulit diputus.
Namun persoalaan itu sebenarnya bisa diatasi bila nelayan diberdayakan melalui
pengembangan ekonomi alternatif. Dengan demikian nelayan tidak hanya tergantung
pada aktifitas menangkap ikan, sehingga terbentengi dirinya dari jeratan utang.
Kedua, Struktur yang dibangun oleh negara. Kebijakan ekonomi yang masih
berorientasi pada pertumbuhan khususnya sektor pesisir dan laut harus diubah dengan
memperhatikan aspek kemanusiaan. Artinya nelayan harus menjadi subyek
pembangunan melalui keterlibatannya dalam proses pembuatan kebijakan. Ketiga,
Struktur pemasaran, dimana harga ikan yang didominasi oleh toke-toke harus
dikembalikan melalui sistem pelelangan sehingga hak nelayan tradisional dalam
penentuan harga bisa diakomodasikan. Upaya ini dapat dilakukan dengan
memfungsikan kembali TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang selama ini dikuasai para
tengkulak. Keempat, dengan adanya peluang Otonomi Daerah melalui UU No. 22
Tahun 1999, daerah bisa mengambil peran yang lebih strategis, tentunya dengan
Perda yang bisa memberikan akses lebih besar kepada nelayan untuk memanfaatkan,
mengawasi, dan melindungi sumberdaya laut di daerahnya.