BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Gender dalam Norma Sosial, Adat dan Pertumbuhan Ekonomi
Narayan dan kawan-kawan (dalam Pembangunan Berspektif Gender, Laporan
Penelitian Kebijakan Bank Dunia,2005:109) menuliskan norma sosial dan adat
menentukan peran perempuan dan laki-laki di dalam keluarga dan masyarakat,
membentuk acuan individu dan hubungan kewenangan di antara jenis kelamin, dan
juga menetapkan jenis pekerjaan yang sesuai untuk perempuan dan laki-laki. Laki-
laki akan tampak janggal jika melakukan pekerjaan yang di-pantas-kan sebagai
pekerjaan perempuan, sementara perempuan dianggap tidak feminim atau
mengundang interaksi seksual bila bekerja di tempat terdominasi laki-laki. Dengan
cara demikian norma sosial menciptakan insentif kuat yang menuntun sikap
seseorang--sebagai suami/istri, orang tua, warga Negara dan pekerja—dan perilaku
di luar batas yang dianggap ‘layak’ akan memunculkan sanksi sosial dari sistem
formal maupun informal.
Senada dengan itu Bevan, Collier, dan Gunning 1989; Juster dan
Pembangunan Berspektif Gender, Laporan Penelitian Kebijakan Bank Dunia
,2005:66) melaporkan bahwa di seluruh dunia, perempuan melakukan sebagian besar
tugas mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Pada umumnya perempuan
mengombinasi pekerjaan domestik dengan pekerjaan pasar dan non pasar untuk
menambah penghasilan atau menambah konsumsi rumah tangga, namun biasanya
tidak tercatat di statistik ketenagakerjaan tradisional. Perempuan juga cenderung
bekerja dengan jumlah jam kerja lebih tinggi daripada laki-laki bila pekerjaan di
pasar dan rumah tangga sama-sama dihitung.
Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana dampak pembebanan urusan
rumah tangga serta pekerjaan lainnya pada perempuan terhadap tingkat kesejahteraan
relatif perempuan terhadap laki-laki. Bila pembagian kerja berdasarkan gender di
keluarga berarti bahwa perempuan memikul tugas rumah tangga dengan
mengorbankan kegiatan menambah penghasilan (income generating activities), hal
ini akan melemahkan posisi tawar mereka dan kemampuan mengambil keputusan di
dalam keluarga. Hal ini juga membawa implikasi terhadap kesejahteraan mereka.
Selain itu, disparitas gender dalam jumlah jam kerja menunjukkan bahwa meskipun
tidak terjadi bias gender dalam konsumsi di sebuah rumah tangga, perempuan akan
menghabiskan lebih banyak jam kerja daripada laki-laki untuk mencapai tingkat
konsumsi yang sama seperti dipaparkan oleh Lipton dan Ravallion (dalam
Pembangunan Berspektif Gender, Laporan Penelitian Kebijakan Bank Dunia,
Selain itu, hasil penelitian Sitorus (1999: 69) juga memperlihatkan kesimpulan yang lebih kuat bahwa masyarakat masih kurang adil memperlakukan perempuan, dimana dampak perluasan bidang kerja yang dapat dimasuki perempuan nelayan secara positif memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat pantai, tetapi kontribusi ekonomi hasil kerja perempuan nelayan tidak cukup mampu untuk dirujuk oleh masyarakat pantai untuk mereposisi kedudukannya dalam konteks kesimbangan gender. Dalam hal ini, penghargaan yang diterima pekerja perempuan tetap berada dibawah rata-rata penerimaan pekerja laki-laki walaupun nilai kerjanya relatif berimbang.
Dalam Pembangunan Berspektif Gender, Laporan Penelitian Kebijakan Bank
Dunia (2005:183-184) dipaparkan teknologi, ketersedian pasar-kerja yang berfungsi,
serta norma pemilahan gender dalam pekerjaan; adalah tiga hal yang sangat berperan
dalam alokasi sumberdaya untuk kerja dan hiburan di sebuah masyarakat. Di
kebanyakan masyarakat, perempuan dibebani tanggung jawab domestik—memasak,
mengambil air, mencari bahan bakar, serta merawat anak atau anggota keluarga yang
sakit maupun lansia. Rata-rata waktu kerja perempuan lebih panjang daripada laki-
laki, apalagi bila juga harus bekerja mencari penghasilan . di lain pihak laki-laki
diharapkan menjadi pencari nafkah utama dan pelindung keluarga, dan martabat serta
statusnya dalam masyarakat terbentuk dari kemampuannya memenuhi harapan
tersebut. Semakin tegas ketentuan dan hirarki peran gender dalam masyarakat,
semakin kaku pula pemilahan peran gender dalam masyarakat. Pembangunan
ekonomi menciptakan insentif dan peluang yang dapat menghapus berakarnya
pemilahan gender dalam peran ekonomi—memungkinkan perempuan berpartisipasi
setara dengan laki-laki dalam pasar ekonomi (tidak hanya dikala resesi ekonomi saja)
dan laki-laki bisa ikut berbagi peran dalam urusan rumahtangga. Pertumbuhan
ekonomi bisa meringankan beban rumah tangga perempuan, memberi mereka waktu
juga memungkinkan laki-laki mengurangi beban pasar-kerja mereka dan
memungkinkan mereka lebih terlibat dalam kegiatan non-pasar.
2.3. Nelayan
Nelayan dapat didefinisikan sebagai orang atau komunitas orang yang secara
keseluruhan atau sebagian dari hidupnya tergantung dari kegiatan menangkap ikan.
Beberapa kelompok nelayan memiliki beberapa perbedaan dalam karakteristik sosial
dan kependudukan. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada kelompok umur,
pendidikan, status sosial, dan kepercayaan. Dalam satu kelompok nelayan juga sering
ditemukan perbedaan kohesi internal, dalam pengertian hubungan di antara sesama
nelayan maupun di dalam hubungan bermasyarakat seperti dipaparkan Townsley
(Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian,1988) mendefinisikan, yang disebut
nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi
penangkapan binatang atau tanaman air dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya
untuk dijual. Orang yang melakukan pekerjaan, seperti membuat perahu/kapal, dan
juga mengangkut ikan, tidak termasuk sebagai nelayan. Demikian juga istri, anak dan
anggota keluarga yang lain tidak termasuk sebagai nelayan.
Charles (2001), membagi kelompok nelayan dalam empat kelompok yaitu :
(1). Nelayan subsisten (subsistence fisfers), yaitu nelayan yang menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
(2). Nelayan asli (native/indigenous/aboriginal fishers), yaitu nelayan yang sedikit banyak memiliki karakter yang sama dengan kelompok pertama, namun
memiliki juga hak untuk melakukan aktivitas secara komersial walaupun dalam skala yang sangat kecil.
(3). Nelayan rekreasi (recreational/sport fishers), yaitu orang-orang yang secara prinsip melakukan kegiatan penangkapan hanya sekedar untuk kesenangan atau berolah raga, dan
(4). Nelayan komersial (commercial fishers), yaitu mereka yang menangkap ikan untuk tujuan komersial atau dipasarkan baik untuk pasar domestic maupun pasar ekspor. Kelompok nelayan ini dibagi dua, yaitu nelayan skala kecil dan skala besar.
Dari empat pengelompokan tersebut sudah sangat sulit menemukan dua
kelompok yang pertama. Sementara, kelompok ketiga walaupun di beberapa Negara
maju berbagai kegiatannya telah terdokumentasi dengan baik namun di beberapa
Negara berkembang seperti Indonesia misalnya, sangat sulit ditemukan. Disamping
pengelompokan tersebut, terdapat terminology yang sering digunakan untuk
menggambarkan kelompok nelayan, seperti nelayan penuh untuk mereka yang
menggantungkan keseluruhan hidupnya dari menangkap ikan; nelayan sambilan
untuk mereka yang hanya sebagian dari hidupnya tergantung dari menangkap ikan
(lainnya dari aktivitas seperti pertanian, buruh, dan tukang); juragan untuk mereka
yang memiliki sumberdaya ekonomi untuk usaha perikanan seperti kapal dan alat
tangkap; dan anak buah kapal (ABK/pandega) untuk mereka yang mengalokasikan
waktunya dan memperoleh pendapatan dari hasil mengoperasikan alat tangkap ikan,
seperti kapal milik juragan.
Sementara itu Kusnadi (2002), membagi masyarakat nelayan berdasarkan
penggolongan sosial dari tiga sudut pandang:
(1). Dari segi penguasaan alat-alat produksi atau peralatan tangkap (perahu, jaring, dan perlengkapan yang lain), struktur masyarakat nelayan terbagi ke
dalam kategori nelayan pemilik (alat-alat produksi) dan nelayan buruh. Nelayan buruh tidak memiliki alat-alat produksi. Dalam kegiatan produksi sebuah unit perahu, nelayan buruh hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memperoleh hak-hak yang sangat terbatas. Dalam masyarakat pertanian, nelayan buuh identik dengan buruh tani. Secara kuantitatif, jumlah nelayan buruh di suatu desa nelayan lebih besar dibandingkan dengan nelayan pemilik.
(2). Ditinjau dari skala investasi modal usahanya, struktur masyarakat nelayan terbagi ke dalam kategori nelayan besar dan nelayan kecil. Disebut nelayan besar karena jumlah modal yang diinvestasikan dalam usaha perikanan relative baak, sedangkan pada nelayan kecil justru sebaliknya.
(3). Dipandang dari tingkat teknologi peralatan tangkap yang digunakan,
masyarakat nelayan terbagi ke dalam kategori nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan modern menggunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan dengan nelayan tradisional. Jumlah nelayan modern relative lebih kecil dibandingkan dengan nelayan tradisional. Perbedaan- perbedaan tersebut membawa implikasi pada tingkat pendapatan dan kemampuan atau kesejahteraan sosial-ekonomi yang relative sama, dengan orientasi usaha dan perilaku yang berbeda-beda.
Disamping pembagian di atas, kita juga menemukan beberapa pembagian
lainnya seperti berdasarkan daya jangkau armada perikanan dan juga lokasi
penangkapan ikan. Dapat kita sebutkan misalnya nelayan pantai atau biasa disebut 1)
perikanan pantai untuk usaha perikanan skala kecil dengan armada yang didominasi
oleh perahu tanpa motor atau kapal motor tempel, 2) perikanan lepas pantai untuk
perikanan dengan kapasitas perahu rata-rata 30 GT, dan 3) perikanan samudera untuk
kapal-kapal ukuran besar misalnya 100 GT dengan target perikanan tunggal seperti
tuna.
2.3.1. Wanita Nelayan
Wanita nelayan sebagai salah satu komponen masyarakat pesisir selama ini
pembangunan dan pemberdayaan di wilayah pesisir. Isu-isu peran merekapun tidak
banyak terdokumentasi dalam berbagai media. Wanita nelayan seolah-olah hanya
menjadi bayangan dari nelayan yang dalam pikiran kita hanya kaum pria yang
sebagian atau seluruh hidupnya berjuang menghadapi gelombang besar atau angin
kencang untuk memperoleh hasil tangkapan ikan. Kondisi demikian telah lama kita
anggap sebagai hal yang lumrah, karena dalam budaya kita wanita dikonstruksikan
secara sosial maupun budaya untuk menjadi “kanca wingking” yang hanya berkutat
pada berbagai urusan rumah tangga bahkan seperti dikatakan Djohan (Widodo,
2006), geraknya pun dibatasi dalam lingkup rumah tangga.
Keterbatasan ekonomi keluarga menuntut wanita nelayan termasuk anak-anak
perempuan mereka bekerja di daerah pesisir. Wanita-wanita tersebut, jika dilihat dari
aspek ekonomi perikanan sebenarnya menempati posisi yang sangat strategis. Mereka
adalah pedagang pengecer, pengumpul ikan, pedagang besar, maupun pengolah hasil
perikanan, yang sangat menentukan berjalan atau tidaknya arus hasil perikanan dan
kelautan dari produsen ke konsumen.
Rumah tangga nelayan pada umumnya memiliki persoalan yang lebih
kompleks dibandingkan dengan rumah tangga pertanian. Rumah tangga nelayan
memiliki ciri-ciri khusus seperti penggunaan wilayah pesisir dan lautan (common
property) sebagai faktor produksi, jam kerja yang harus mengikuti siklus bulan yaitu
dalam 30 hari satu bulan yang dapat dimanfaatkan untuk melaut hanya 20 hari
adalah pekerjaan yang penuh resiko dan umumnya karena itu hanya dapat dikerjakan
oleh lelaki, hal ini mengandung arti keluarga yang lain tidak dapat membantu secara
penuh. Dengan persoalan yang demikian tentunya kita harus memahami bahwa
rumah tangga nelayan memerlukan perhatian yang multi dimensi. Tantangan yang
terbesar adalah bagaimana membangun sektor ini agar dapat mengangkat harkat dan
martabat kehidupan masyarakat nelayan maupun masyarakat lainnya yang terkait
dengan sumber daya kelautan dan pesisir (Bappenas RI, 2005).