3.1. PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI PATIN Sejak dicanangkan gerakan
industrialisasi ikan pati di Indonesia, baik dari pemerintah maupun sektor swasta mulai menggeliat untuk bersama-sama bahu membahu mengembangkan patin dari sektor hulu ke hilir. Pada tahun 2008 – 2012 dari pembangunan miniprosessing plant, sampai pabrik pengolahan patin.
Kegiatan yang dimulai dari Jambi, Riau, Surabaya, karawang, Medan, dan lainnya.
Beberapa perusahaan pengolahan terlibat seperti PT. Indomaguro, PT. Adib Global Food, PT. Charoen Pokphand, PT.
NASUBA, PT. KMM dan beberapa yang lain. Beberapa permasalahan juga dihadapi sepanjang perjalanan membuat sistem industrialisasi patin dari hulu sampai kehilir. Permasalahan yang telah dihadapi diantaranya :
a) Penyediaan induk berkualitas
b) Penyediaan benih yang memiliki yang kurang aplikatif diterapkan di Indonesia
e) Kenaikan harga pakan dan over produksi
f) Tidak sepakat mengenai penentuan harga antara unit pengolahan dan pembudidaya
g) Rantai pemasaran yang panjang h) Belum efisiennya sistem pengolahan
dengan pemanfaatan “by product-nya” sehingga masih kalah bersaing dengan harga fillet patin impor i) Beberapa permasalahan lainnya
Beberapa permasalahan tersebut menyebabkan naik turunnya gairah untuk mengusahakan ikan patin di Indonesia.
Banyak pengusaha dan pembudidaya yang gulung tikar, namun masih ada juga yang bertahan.
3.2. PERCONTOHAN PEMBESARAN PATIN KOLAM DALAM Pada tahun 2010-2015 BLUPPB
Karawang melakukan uji coba percontohan pembesaran ikan patin di kolam dalam BLUPPB Karawang (ex- tambak pembesaran ikan windu). Dalam kegiatan ini benih yang digunakan adalah benih ikan patin siam ukuran tiga inci dengan berat rata – rata enam gram
sebanyak 100.000 ekor dengan padat tebar 33 ekor/m2 setiap tambak/kolam.
Wadah percobaan yang digunakan adalah tambak perairan payau dengan ukuran 3.000 m2 sebanyak dua unit tambak/kolam. Pakan uji yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pakan komersial dengan ukuran 3 mm, 4 mm dan 5 mm.
PATIN
Kolam pembesaran patin siam berbentuk persegi panjang dengan panjang 90 x 34 memiliki beberapa bagian antara lain pematang/tanggul utama, saluran pemasukan dan pengeluaran. Pematang utama dibangun dengan lebar permukaan pematang 4 m, panjang dasar pematang 12 m dan ketinggian pematang 4 m. Pada konstruksi kolam dibuat juga pelataran kolam berupa tanah dasar yang dibuat miring menuju saluran pembuangan air dengan kemiringan tanah 1–3 derajat ke arah pembuangan artinya bahwa setiap 100 cm mengalami perubahan ketinggian 3 cm.
Kolam pembesaran ikan patin juga memiliki saluran pemasukan atau inlet menggunakan pipa paralon berukuran 6 inci dan saluran pembuangan atau outlet menggunakan pipa paralon berukuran 8 inci. Pengeringan lahan dilakukan selama 2 – 3 minggu. Pengolahan tanah dasar ini dilakukan setelah proses pengeringan lahan menggunakan bantuan alat berat (excavator) dengan cara mengangkat tanah dasar (tanah lumpur hitam) sedalam
± 50 – 80 cm atau sampai menyentuh tanah dasar kolam yang berwarna merah.
Pengapuran dilakukan dengan cara ditebar menggunakan gayung pada ember plastik. Jenis kapur yang digunakan yaitu CaCO3 dengan dosis 150 gram/m2. Sedangkan pengapuran susulan dilakukan jika diperlukan pada saat proses budidaya dengan dosis 50 gram/m2.
Gambar 55. Kegiatan persiapan kolam dalam untuk pembesaran patin di BLUPPB Karawang Pengisian air dilakukan pada pagi hari
dimulai dengan pemompaan air menggunakan pompa submersible ukuran 8 inci dari kolam tandon air tawar menuju ke setiap kolam pembesaran. Pengisian air dilakukan secara bertahap, pada pengisian awal setinggi 50 - 100 cm dan didiamkan selama 3 – 4 hari bertujuan untuk menumbuhkan plankton pada kolam
pembesaran dengan penambahan probiotik. Selanjutnya dilakukan pengisian air tahap kedua setinggi 2 m dan kolam pembesaran siap dilakukan penebaran benih.
Sumber benih yang di gunakan untuk pembesaran patin adalah benih hasil kegiatan pembenihan patin siam di BLUPPB tahun 2015. Benih yang
PATIN digunakan adalah benih grade pertama
dan kedua. Ukuran benih yang ditebar adalah 3 – 4 inci sebanyak 200.000 ekor untuk dua kolam pembesaran. Syarat benih yang digunakan adalah tidak cacat, organ lengkap morfologi, bergerak aktif dan lincah dengan standart benih tepat waktu, jumlah dan ukuran.
Penebaran dilakukan pada waktu pagi hari untuk menjaga benih tidak stres yang disebabkan fluktuasi suhu lingkungan. Benih dihitung sebanyak 100.000 ekor/kolam dengan cara sistem sampling berat biomassa. Selanjutnya benih dimasukkan dalam drum plastik dan diangkut menggunakan mobil pick up menuju kolam pembesaran.
Cara penebaran benih adalah dengan menurunkan drum berisi benih patin siam dari mobil ke kolam pembesaran, selanjutnya dilakukan aklimatisasi dengan cara memasukkan air kolam ke dalam drum plastik dan membiarkan benih ikan patin siam keluar dengan sendirinya ke kolam pembesaran. Proses penebaran ini dilakukan secara bertahap selama 3 hari dikarenakan untuk menjaga kualitas benih agar tidak stres.
Padat tebar yang digunakan pada pembesaran patin siam adalah 100.000 ekor/kolam dibagi luas kolam pembesaran 3.000 m2 yaitu 33 ekor/m2. Hal ini dilakukan karena pertimbangan target panen yang ingin di capai sebesar 50 ton/kolam.
Gambar 56. Proses penimbangan dan penebaran benih ikan patin untuk pembesaran di kolam dalam
Pada pemeliharaan patin siam pakan
buatan yang digunakan adalah jenis pakan tenggelam maupun terapung. Pakan yang pernah digunakan mulai dari protein 26-30%. Pakan diberikan sebanyak 4% berat biomass/hari pada bulan pertama, 3%
berat biomass/hari pada bulan kedua, 2%
berat biomass/hari pada bulan ketiga dan 1% berat biomass/hari sampai panen.
Pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi dua kali sehari pada pukul 08.00 dan 15.00 WIB.
Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi hari pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB.
Pemberian pakan dilakukan dengan beberapa cara yaitu secara manual menggunakan rakit atau sampan kayu, menggunakan pemberi pakan otomatis (automatic feeder) dan secara manual dari sisi kolam. Monitoring pakan dilakukan 2 minggu sekali dengan mempertimbangkan hasil sampling biomas ikan. Monitoring
PATIN
pakan berguna untuk mengetahui pertambahan jumlah pakan yang diberikan.
Gambar 57. Pemberian Pakan ikan patin menggunakan Rakit di BLUPPB Karawang, Jawa Barat
Gambar 58. Pemberian Pakan ikan patin menggunakan automatic feeder di BLUPPB Karawang, Jawa Barat
Pergantian air dilakukan pada waktu pagi hari. Air pada kolam pemeliharaan dibuang melalui pipa paralon outlet dengan cara mencabut bagian atas pipa sambungan outlet setinggi 1 m dengan air yang dibuang sebanyak 25%. Kegiatan ini
dilakukan selama tujuh bulan pemeliharaan atau hingga ikan telah masuk ukuran fillet dan konsumsi 600 – 800gram. Sampling dilakukan untuk mengetahui bobot tubuh ikan. Sampling pertama dilakukan pada awal percobaan
PATIN dan selanjutnya setiap 20 hari sampai ikan
mencapai ukuran fillet dan konsumsi 600–
800 gram.
Gambar 59. Kegiatan panen ikan patin di kolam dalam BLUPPB Karawang, Jawa Barat.
Kegiatan pembesaran patin siam didapatkan pertumbuhan patin siam yang ideal pada kepadatan 10-15 ekor/ m2. Pada kepadatan 30-35 ekor per m2 yang dilakukan di BLUPPB Karawang didapatkan pertumbuhan bobot sebagai berikut :
0 200 400 600 800
1 2 3 4 5 6 7 8