pengembangan ikan patin menuju ekspor di Indonesia dapat diambil pengalaman dari Provinsi Jambi, yaitu :
1. Masih mahalnya harga pellet ikan karena bahan baku produksi pakan ikan masih tergantung kepada produk impor (misalnya tepung ikan).
2. Masih rendahnya efisiensi budidaya sehingga biaya menjadi tinggi.
3. Belum adanya perusahaan penghela yang mempunyai komitmen
4. Harga patin di pasar lokal yang lebih tinggi daripada patin impor Vietnam.
5. Harga jual patin ke pedagang lebih tinggi daripada harga jual ke perusahaan
6. Beralihnya budidaya patin ke nila karena harga jual nila lebih tinggi dan masa panen yang lebih cepat dibanding patin
7. Size ikan patin yang beragam (perusahaan menentukan standar size 800 gr/ekor untuk fillet)
8. Biaya produksi patin meningkat 9. Kurang berhasilnya kemitraan antara
pembudidaya patin dengan industri/perusahaan
Untuk itu sebaiknya strategi yang harus diterapkan adalah :
1. Pengembangan pakan alternatif yang lebih murah
2. Meningkatkan produk olahan berbahan baku patin/diversifikasi produk
3. Perluasan dan penguatan pasar dalam negeri melalui promosi dan kemitraan.
4. Penjajakan kerjasama dengan perusahaan lain untuk ekspor.
Setelah mempelajari kondisi pengembangan ikan patin di Negara Vietnam yang telah berhasil dalam ekspor.
Kemudian membandingkan dengan kondisi di Negara Indonesia. Serta melihat potret pengusaha patin di Indonesia, maka penulis menganalisa dan memberikan beberapa rekomendasi untuk arah pengembangan ikan patin kedepan, yaitu rekomendasi dalam :
7.1. PENENTUAN JENIS PATIN YANG TEPAT Sejak ditetapkannya pengembangan patin ekspor menjadi program nasional (GERTAK), maka orientasi jenis patin yang dikembangkan masih menjadi perdebatan.
Perdebatan tersebut masih berkisar pada patin mana yang menghasilkan ”daging putih”. Patin daging putih memang penting untuk ekspor, karena lebih digemari. Akan
tetapi akan lebih baik jika kita melihat dari segenap aspek baik karakteristik biologis maupun ekonomis misalnya dari jumlah telur (fekunditas), kemudahan panen dan transportasi, daya tahan terhadap penyakit dan lingkungan, konversi pakan, kepadatan maksimal dalam wadah dan laju pertumbuhan.
PATIN Menurut penulis, dan telah
didiskusikan dengan beberapa orang yang pernah berkunjung ke Vietnam, jika kita belajar dari Vietnam yang telah berhasil dalam Ekspor ikan patin, maka jenis patin yang dikembangkan adalah patin siam atau sering disebut pra (Pangasianodon hypophthalmus) sebanyak lebih dari 95%
sedangkan prosentase ikan patin daging putih yang sering disebut basa (P.
bocourti) hanya kurang dari 5%. Maka seyogyanya Indonesia kedepan lebih berkonsentrasi dalam mengembangkan ikan patin siam tersebut dalam skala besar, dengan alasan biologi dan pemasaran yang telah ada. Jadi tidak
perlu bersikeras untuk
mengembangkan ikan patin jambal dan patin PASUPATI (hybrid) dalam skala besar karena belum terbukti keunggulanya
di masyarakat sehingga seolah-olah terlalu dipaksakan. Hal tersebut terbukti dengan adanya kegagalan dalam pengembangan ikan patin jambal dan patin PASUPATI di masyarakat, yang disebabkan karena biaya produksi yang lebih tinggi dan pemasaran yang sulit karena kebanyakan konsumen menginginkan patin dijual dala kondisi hidup, sedangkan patin jambal dan PASUPATI sulit untuk dilakukan pengangkutan hidup. Sampai sekarang patin siam lebih berkembang dan bertahan karena memiliki beberapa kelebihan yang telah disebutkan diatas, serta penguasaan teknologi yang lebih mantap dibandingkan patin jambal dan PASUPATI. Meskipun demikian untuk kegiatan pelestarian plasma nutfah patin jambal masih perlu dikembangkan dalam skala kecil.
7.2. PEMBENIHAN PATIN KEDEPAN Seiring dengan semakin banyaknya pembudidaya ikan patin, tuntutan akan ketersediaan benih baik dalam kuantitas dan kualitas perlu terus dikembangkan.
Dalam melakukan pembesaran ikan patin, kualitas benih sangat mempengaruhi keberhasilan usaha. Penurunan kualitas benih sudah mulai dirasakan para pembudidaya ikan patin di Indonesia.
Penurunan tersebut dapat dilihat dari : masa pemeliharaan yang semakin panjang, keseragaman ukuran yang sangat jauh ketika ikan dipanen, dan kelangsungan hidup yang semakin rendah. Oleh sebab itu, untuk menjamin ketersediaan benih yanh tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat kualitas/mutu, maka dengan melihat permasalahan yang berkembang di masyarakat perlu diusahakan beberapa hal sebagai berikut :
- Asal-usul induk harus dapat dipertanggungjawabkan (melalui prosedur produksi induk yang standar.
Produsen induk patin di Indonesia masih terbatas pada Instansi-instansi milik pemerintah seperti : BPBAT Sungai Gelam - Jambi, BBPBAT Sukabumi, dan BPBAT Mandiangin, (belum ada pihak swasta yang mengusahakan)
- Pemuliaan induk juga perlu dilakukan.
Di Vietnam program pemuliaan sudah dilakukan dan untuk turunan pertama didapatkan perbaikan genetik ”genetik gain” (meningkat 10 -13 % ) dari sisi pertumbuhan dan proporsi fillet. Di Indonesia sudah dimulai oleh BPBAT Sungai Gelam - Jambi sebagai PUSTINA (Pusat Patin Nasional) sudah mulai uji karakterisasi induk dari berbagai daerah pada tahun 2009.
Kegiatan ini masih berlanjut sampai sekarang.
PATIN
- Managemen pemeliharaan induk juga harus yang standar (pemberian pakan, hormon, kualitas air, penanganan induk (handling) dan lain-lain). Dengan managemen yang baik, diharapkan induk bisa matang gonad sepanjang tahun.
- Proses produksi benih yang perlu diperbaiki. Untuk keperluan ekspor, proses produksi benih di Vietnam hampir semua kegiatan dilakukan di kolam pemeliharaan. Hatchery melakukan pemeliharaan ikan hanya sampai umur 1 – 2 hari setelah ikan menetas, sehingga ikan terhindar dari ” pengkebirian ” seperti yang dlakukan oleh pembenih di Indonesia yang memelihara ikan sampai berukuran 2 inchi di dalam akuarium/bak terbatas.
Proses produksi di Vietnam tersebut harus didukung dengan kemampuan untuk memproduksi/menumbuhkan
pakan alami (rotifera, moina, dan daphnia air tawar) secara massal di kolam. Perkembangan terbaru, BPBAT Sungai Gelam - Jambi sudah memulainya dan berhasil melakukan penebaran larva yang berumur 4 -5 hari setelah menetas secara langsung kekolam sehingga ikan tumbuh lebih cepat dengan rerata kelangsungan hidup (SR) sama dengan dipelihara dalam hatchery (40 %).
- Perlu dibangun model hatchery yang berskala besar dengan menerapkan prinsip-prinsip biosecurity dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) yang sudah mulai disosialisasikan oleh untuk lebih menjamin ketersediaan benih dalam kualitas ataupun kuantitas untuk memenuhi kebutuhan kolam patin berskala besar untuk pemenuhan kebutuhan ekspor.
7.3. PEMBESARAN PATIN KEDEPAN Untuk pembesaran ikan patin kedepan harus lebih memperhatikan prinsip-prinsip pembesaran dengan penataan yang rapi dan teratur. Pembesaran ikan patin juga harus ramah lingkungan dan disesuaikan dengan karakteristik biologi ikan patin.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
- Tidak dapat mengandalkan kawasan-kawasan pembesaran patin yang telah ada untuk kepentingan ekspor, karena kebanyakan diantaranya tidak mengindahkan prinsip-prinsip budidaya seperti inlet, autlet, dan bentuk dan penentuan letak kolam yang tidak beraturan. Kebanyakan kawasan ikan patin juga berada di lahan marginal, sehingga menghasilkan daging yang berwarna
kuning, bukan pink seperti patin yang dipelihara pada kolam dengan pergantian air yang baik.
- Perlu penetapan kawasan pembesaran yang baru dengan karakteristik lahan dan sungai yang memiliki kemiripan dengan Delta Mekong, Vietnam. Di Vietnam, pembesaran patin dilakukan di daerah hilir, sehingga level air di kolam lebih mudah mengaturnya. Kolam-kolam yang dibangun juga lebih luas dan lebih dalam (4-5 meter) untuk memanfaatkan volume.sehingga kepadatan ikan bisa ditingkatkan 2 kali lipat per-satuan luas.
- Pembesaran juga dapat memanfaatkan karamba-karamba di sungai, dengan ukuran yang lebih besar seperti di Vietnam.
PATIN 7.4. PENGOLAHAN (PROCESSING PLANT) PATIN KEDEPAN
Segmen pengolahan merupakan segmen yang masih belum digarap di Indonesia. Ada beberapa yang sudah mencoba dan sudah sempat jalan untuk kurun waktu beberapa tahun adalah kerjasama antara IPB dan Kemfood (pengusaha Bob Sadino) dengan produk fillet yang diolah menjadi bakso ikan, nugget ikan dan burger ikan, namun dalam beberapa bulan sudah berhenti.
Setelah itu beberapa perusahaan mencoba mendirikan pabrik fillet patin, seperti PT. Manggalindo dan PT. SLU (Sumber Laut Utama) di Sumatera.
Permasalahan yang dialami adalah : - Harga jual Patin ke pedagang lokal
lebih tinggi daripada harga jual ke perusahaan
- Beralihnya budidaya Patin ke Nila karena harga jual Nila lebih tinggi dan masa panen yang lebih cepat dibanding Patin
- Size ikan patin yang beragam (standar size 800 gr/ekor untuk fillet)
- Biaya produksi Patin meningkat - Kurang berhasilnya kemitraan antara
pembudidaya patin dengan PT.
Manggalindo dan PT. SLU
Selain studi kasus di Jambi, di Provinsi Riau juga mulai merintis pabrik pengolahan pada tahun 2013 yang akan memproduksi fillet patin dengan target awal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (menangkal produk dari fillet dari
Vietnam yang masuk ke Indonesia). Pabrik pengolahan tersebut hasil kerjasama antara Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Riau dan PT. Bonecom, sehingga dinamakan PT. KAMPARICOM. Namun kegiatan dari pabrik sampai sekarang tidak berkelanjutan terkendala masalah bahan baku dan pemasaran. Pengembangan pabrik yang masih eksis di Pulau Sumatera sampai sekarang adalah PT. NASUBA di Sumatera Utara yang bekerjasama dengan pebrik pakan Manggalindo.
Sedangkan di Pulau Jawa semakin banyak pabrik pengolahan patin yang berkembang, seperti PT. Adib Global Food Karawang, PT KMM Cikampek, PT KML Jawa Timur, PT CP Prima Jawa Timur.
Langkah-langkah dalam pengolahan fillet sebenarnya ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu :
a. Penerimaan bahan baku ikan b. Filleting h. Stuffing untuk export
Semua tahap-tahap tersebut harus dilengkapi sarana dan prasarana penunjang sehingga proses pengolahan bisa berjalan dengan baik. Keberhasilan tersebut harus didukung oleh segenap stageholder yaitu dari UPR, Pembudidaya, Pemerintah, dan Pengusaha.
7.5. BUDIDAYA TERINTEGRASI (INTEGRATED FARMING)
Dalam menjamin kelangsungan usaha ikan patin harus dilakukan budidaya yang terintegrasi, Maksud dari budidaya
terintegrasi adalah bahwa kegiatan usaha dari hulu ke hilir dikelola dalam satu perusahaan supaya lebih mudah dalam :
PATIN
- Menjamin ketersediaan baku.
- Penelusuran produk lebih mudah.
- Menjamin mutu produk dari mata rantai yang satu ke mata rantai yang lainnya.
- Menopang satu jenis mata rantai usaha dengan mata rantai yang lain, sehingga tercipta keuntungan yang maksimal.
Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departeman Kelautan dan Perikanan menawarkan program Klaster dalam menerapkan industri per-patinan terpadu, yang dapat dilihat sebagai berikut:
RENCANA PENGEMBANGAN INDUSTRI
Gambar 111. Flow chart rencana pengembangan industri per-patinan terpadu yang dipresentasikan oleh Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Dari Flow chart diatas maka dikembangkanlah suatu sistem usaha dimana aktivitas hulu sampai dengan hilir di dalam suatu manajemen terpadu yang disebut ”KLASTER”. Klaster merupakan suatu kumpulan dari berbagai unit usaha yang satu sama lainnya berhubungan secara fungsional dalam suatu kawasan tertentu dan satu pengelolaan yang terpadu. Sistem terpadu ini dikembangkan
karena patin memiliki kelebihan : Mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mempunyai nilai tambah,dapat digunakan sebagai sumber kemakmuran masyarakat (menyerap tenaga kerja). Sedangkan alasan mengapa yang dikembangkan adalah sistem klaster, karena perlu :
- Membangun tata niaga patin dari hulu sampai hilir, untuk menuju Produk