• Tidak ada hasil yang ditemukan

PATIN Komoditas Industri Budidaya Air Tawar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PATIN Komoditas Industri Budidaya Air Tawar"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PATIN

Komoditas Industri Budidaya Air Tawar

Oleh :

Boyun Handoyo, Irwan, Evi Rahayuni, Dafzel Day, Solaiman, Catur Setiowibowo, Janu Dwi K, Reni Agustina L, Nofri Hendra, Tatang Purnama, Solihin, Syofan, Wisnu Adianto

Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Kementerian Kelautan dan Perikanan

(3)

PATIN

PATIN

Komoditas Industri Budidaya Air Tawar

Penulis :

Boyun Handoyo, Irwan, Evi Rahayuni, Dafzel Day, Solaiman, Catur Setiowibowo, Janu Dwi K, Reni Agustina L, Nofri Hendra, Tatang Purnama, Solihin, Syofan, Wisnu Adianto

ISBN : 978-602-73373-1-2

Editor :

Miftahul Jannah, Wahyu Budi Wibowo, Ma’in

Penyunting :

Syu’ib, Defi Angraini Komalasari

Desain Sampul dan Tata Letak

Yudho Adhitomo, M. Dwiki Setiawan

Penerbit :

Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi

Redaksi :

Jl. Bumi Perkemahan Sungai Gelam – Muaro Jambi Tel +62813 15951579

Email : [email protected]

Distributor Tunggal :

Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi Jl. Bumi Perkemahan Sungai Gelam – Muaro Jambi Tel +62813 15951579

Email : [email protected] Cetakan pertama, November 2020 Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun

tanpa ijin tertulis dari penerbit.

(4)

PATIN

KATA SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia berupa sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar. Semoga kita mampu bersyukur dengan cara memanfaatkan sumber daya alam secara bijak untuk kesejahteraan masyarakat serta senantiasa menjaga kelestariannya.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 telah mengamanatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, khususnya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, untuk melaksanakan pembangunan perikanan budidaya melalui kebijakan peningkatan produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan. Perikanan budidaya diyakini memiliki kemampuan untuk peningkatan ketahanan pangan dan penciptaan peluang usaha guna mengurangi kemiskinan, menyerap tenaga kerja serta sekaligus mampu sebagai tumpuan pijakan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Di samping itu, pemanfaatan sumber daya perikanan budidaya dapat dilaksanakan secara optimal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan berkelanjutan.

Salah satu komoditas perikanan budidaya unggulan adalah ikan patin. Komoditas andalan air tawar tersebut memiliki beberapa kelebihan di antaranya dagingnya yang putih, rasanya enak, dan relatif mudah dalam proses budidayanya. Tidak heran komoditas ikan patin diminati untuk konsumsi dan bahan baku ekspor. Bahkan akhir-akhir ini ikan patin Indonesia diminati oleh masyarakat di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah mengimplementasikan strategi pemenuhan suplai produk patin salah satunya dengan mendorong industrialisasi budidaya patin berkelanjutan di sentra-sentra produksi. Hal tersebut menyusul semakin terbukanya peluang pasar ekspor patin nasional. Semakin terbukanya pasar ekspor patin, akan secara langsung berdampak positif terhadap geliat usaha budidaya di berbagai daerah.

Tantangan yang dihadapi budidaya patin salah satunya adalah daya saing mutu produk patin Indonesia harus ditingkatkan. Pelaku usaha budidaya dituntut untuk memproduksi ikan patin dengan standar internasional dengan biaya produksi yang efisien agar bisa lebih bersaing dengan produk negara lain. Untuk itu perlu diperkuat integrasi industri patin dari hulu hingga hilir mulai dari proses penyiapan kawasan, proses pembenihan, pembesaran, pengolahan dan pemasaran.

Buku “Patin Komoditas Industri Budidaya Air Tawar” yang diterbitkan oleh Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi ini merupakan jawaban atas tantangan untuk meningkatkan mutu dan daya saing produk patin Indonesia agar bisa bersaing di pasar Internasional.

(5)

PATIN Buku ini tidak hanya memperkaya informasi bagi kalangan pelajar/akademisi, tetapi juga sangat bermanfaat bagi pelaku usaha dengan memberikan contoh praktis yang sudah teruji di lapangan. Selain itu buku ini juga sangat direkomendasikan untuk Pemerintah Daerah (Pemda) dan stakeholder terkait dalam rangka pengembangan potensi kawasan komoditas ikan patin di daerah agar berhasil.

Saya sangat mengapresiasi yang sebesar-besarnya atas penerbitan buku yang luar biasa ini.

Tentu ini merupakan hasil kerja keras dari segenap pegawai BPBAT Sungai Gelam Jambi yang tidak hanya cakap bekerja di lapangan, namun juga menghasilkan karya tulis yang sangat bermanfaat.

Semoga buku ini memberi kontribusi besar menuju kejayaan akuakultur Indonesia serta menjadi bagian amal ibadah bagi segenap tim BPBAT Sungai Gelam Jambi. Aamiin.

Jakarta, November 2020

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya,

Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si

(6)

PATIN

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami bersyukur atas tersusun buku ini setelah dimulai menulis sejak tahun 2016. Shalawat kepada Nabi Besar Muhammad S.A.W. dan keluarganya.

Buku ini diterbitkan sebagai panduan dan memberi gambaran yang mendalam mengenai pengelolaan induk, teknik seleksi induk, metoda penyuntikan, striping (pengurutan) telur, penetasan telur, pemeliharaan larva, pendederan, dan pembesaran ikan patin yang kami lakukan di BPBAT Sungai Gelam - Jambi dan beberapa informasi teknologi budidaya terkini yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Selain menjelaskan tentang present status usaha patin di Indonesia, kami juga menampilkan perkembangan patin di negara lain yaitu Vietnam. Pemilihan Vietnam sebagai pembanding bagi Indonesia, karenan negara sudah berhasil mengekspor patin ke kurang lebih 130 negara di dunia. Usaha patin juga menjadi salah satu penggerak perekonomian negara Vietnam, karena mampu menyerap banyak tenaga kerja (PERINGKAT PERTAMA) dan menghasilkan devisa negara yang besar (PERINGKAT KEDUA). Buku ini menjelaskan perkembangan teknologi budidaya, pasca panen, sampai pemasaran.

Buku ini dapat dijadikan pedoman bagi UPR, pembudidaya, staf teknis, PPL, Mahasiswa, Peneliti, Perekayasa, Pengusaha, Produsen Pakan, Pegawai Pemerintah (Kementerian dan Dinas Perikanan), serta seluruh stakeholder perikanan Indonesia. Dalam menjalankan kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan patin atau untuk disebarkan dalam kegiatan pelatihan atau diseminasi. Buku budidaya ikan patin, secara garis besar yaitu manajemen dan seleksi induk yang baik, teknik pemijahan buatan, pemeliharaan larva, pendederan benih, pembesaran, dan melihat berbagai hasil olahan ikan patin maupun analisis ekonomi usaha ikan patin. Penggunaan kata-kata yang sederhana dalam buku ini diharapkan dapat dengan mudah dipahami dan dipraktekkan di lapangan oleh praktisi perikanan maupun masyarakat yang bergerak dalam kegiatan budidaya usaha ikan patin.

(7)

PATIN Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam membantu pekerjaan kami dalam bidang ikan Patin di BPBAT Sungai Gelam - Jambi, Bp. Maskur, Bp. Supriyadi, Bp. Dwi, Bp. Mimid, Bp. Jauhari REKAN-REKAN di BPBAT Sungai Gelam Jambi dan BLUPPB Karawang terimakasih atas ilmu, tenaga, dan nasehat selama ini.

Kepada pengusaha patin di berbagai tempat baik pengusaha kecil, menengah, ataupun besar semoga tetap setia di patin sampai impian Indonesia bisa menjadi pengekspor patin bisa terwujud. Kepada seluruh JICA expert khususnya Furusawa SAN dengan foto-foto patin dan videonya, IRD Expert khususnya MR. Jack Slembrouch atas ilmu patin jambalnya, para peneliti dan perekayasa atas literaturnya. Ucapan terima kasih juga kami ucapkan untuk semua pihak yang sudah membantu penyusunan dan penerbitan buku ini sehingga kami bisa melaksanakan salah satu sabda Rasulullah Muhammad S.A.W yaitu “ IKATLAH ILMU DENGAN PENA” .

Semoga buku ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam rangka menunjang peningkatan produktivitas budidaya ikan khususnya perikanan air tawar serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam teknik pembenihan ikan patin sehingga komoditas ikan air tawar bisa memberi kontribusi yang besar dalam menyerap tenaga kerja, mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan didalam negeri dan menghasilkan devisa negara bagi Indonesia dalam himpitan krisis global.

Kami sadar masih terdapat banyak kekurangan dalam buku ini, dan kami masih harus terus mencoba, belajar, dan belajar untuk menyempurnakannya. Kritik dan saran akan menjadi inspirasi dan cambuk semangat bagi kami untuk tulisan yang lebih berkualitas di masa yang akan datang.

Jambi, November 2020

Kepala Balai

(8)

PATIN

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN iii

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR TABEL xvii

BAB I PENDAHULUAN 2

BAB II BUDIDAYA PATIN SKALA RUMAH TANGGA DAN

SKALA MENENGAH DI INDONESIA 3

2.1. KONDISI UMUM PATIN DI INDONESIA

5

2.2. TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PATIN 11

2.2.1. PEMIJAHAN 11

2.2.2. PEMELIHARAAN LARVA 27

2.2.3. PENDEDERAN

2.3. TEKNOLOGI PEMBESARAN PATIN 44

2.3.1. PEMBESARAN DALAM KOLAM DAN KARAMBA 44

2.3.2. MANAGEMEN PEMBERIAN PAKAN 49

2.3.2. PEMANENAN DAN TRANSPORTASI 50

2.4. TEKNOLOGI PASCA PANEN 52

2.5. TAMBAHAN (SEKILAS TENTANG PEMBENIHAN

IKAN PATIN JAMBAL DAN HIBRID/PASUPATI)

53

BAB III BUDIDAYA PATIN TERINTEGRASI DENGAN

PENGOLAHAN DI INDONESIA

3.1. PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI PATIN

62 3.2. PERCONTOHAN PEMBESARAN PATIN KOLAM

DALAM

62

3.3. PERCONTOHAN PENGOLAHAN PATIN DI PT. ADIB GLOBAL FOOD KERJASAMA DENGAN BLUPPB KARAWANG

68

(9)

PATIN BAB IV

SEKILAS BUDIDAYA PATIN BERSKSLA EKSPOR

(DI VIETNAM)

4.1. KONDISI UMUM

70

4.2. TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PATIN 74

4.3. TEKNOLOGI PEMBESARAN PATIN 77

4.4. TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN PATIN 83

4.5. TEKNOLOGI PASCA PANEN 85

4.6. PENGOLAHAN ‘BY PRODUCTS’ PATIN 91

4.7. PEMASARAN PATIN DI DUNIA 95

BAB V PENYAKIT PADA IKAN PATIN 101

BAB VI

ANALISIS USAHA BUDIDAYA IKAN PATIN

6.1. PRODUKSI LARVA IKAN PATIN SIAM

109 6.2. PRODUKSI BENIH IKAN PATIN SIAM UKURAN ¾ - 1

INCHI DI HATCHERY

112

6.3. PEMBESARAN IKAN PATIN SIAM DI KOLAM

114 6.4. PEMBESARAN IKAN PATIN SIAM DI KARAMBA 116

BAB VII

MASA DEPAN PATIN DI INDONESIA

7.1. PENENTUAN JENIS PATIN YANG TEPAT

119

7.2. PEMBENIHAN PATIN KEDEPAN 120

7.3. PEMBESARAN PATIN KEDEPAN 121

7.4. PENGOLAHAN (PROCESSING PLANT) PATIN

KEDEPAN

122

7.5. BUDIDAYA TERINTEGRASI (INTEGRATED

FARMING)

122

7.6. BUDIDAYA IKAN PATIN YANG

BERTANGGUNGJAWAB DAN BERKELANJUTAN (RESPOSIBLE AND SUSTAINABLE

AQUACULTURE)

127

(10)

PATIN

7.7. PENERAPAN MODUL STANDARISASI DAN SERTIFIKASI INTERNASIONAL : GOOD AQUACULTURE PRACTICE (GAP), BEST AQUACULTURE PRACTICE (BAP), DAN SAFE

QUALITY FOOD (SQF)

127

7.8. PERLUNYA SOSIALISASI TENTANG

PERSYARATAN PRODUK PERIKANAN DALAM

130

MENEMBUS PASAR EKSPOR

BAB VIII PELUANG BARU USAHA PATIN KEDEPAN

8.1. PRODUKSI INDUK PATIN SIAM

135

8.2 PEMBENIHAN PATIN SIAM DENGAN PENEBARAN

LARVA 7 HARI SECARA LANGSUNG DI KOLAM (TANPA CACING)

135 8.3.

PEMBESARAN IKAN PATIN DI KOLAM DALAM

136

8.4.

PRODUKSI PATIN ORGANIK

137

8.5.

PABRIK PENGOLAHAN IKAN PATIN

139

8.6.

PABRIK PAKAN PATIN

139

DAFTAR PUSTAKA 141

(11)

PATIN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Pita gigi maxillary dan palatal pada langit-langit rahang atas dari kelompok Pangasius : a. P. macronema, b. P. micronema, c. P.

pangasius, d. P. larnaudii, e. P. hypophthalmus, f. P.

pleurotaenia, g. P. krempfi, h. P. sanitwongsei, i. P.

polyuranodon, j. P. conchophilus, k. P. myanmar, l. P. nasutus, m. P. bocourti, n. P. djambal, o. P. humeralis, p. P.

kinabatangenensis, q. P. lithostoma, r. P. niewenhuisii.(Sumber : Roberts and Vidthayanon, 1991)

6

Gambar 2.

Patin Jambal (Pangasius djambal) salah satu ikan patin asli

Indonesia yang telah berhasil dipijahkan di Indonesia

7 Gambar 3. Peta daerah yang melakukan pengembangan ikan patin di

Indonesia 8

Gambar 4. Ikan patin yang telah dikembangkan di Indonesia (patin jambal, patin siam dan patin hibrid /pasupati) beserta hasil fillet sehingga dapat dilihat warna dagingnya.

9 Gambar 5. Ukuran induk yang dipijahkan di Cijengkol, Jawa Barat (kiri)

dan di BBAT Jambi (kanan). 12

Gambar 6. Kegiatan seleksi ikan patin dengan menjaring dan

memeriksa kondisi kematangan gonad satu persatu 13 Gambar 7. Kelamin induk betina (kiri) dan induk jantan (kanan) 13 Gambar 8. Pembiusan induk (kiri) dan cara menyadarkan ikan

(recovery) dengan menyemprotkan air kedalam mulut ikan yang dibius (kanan).

14 Gambar 9. Pengambilan telur menggunakan kateter 15 Gambar 10. Pergerakan Inti pada Pematangan Akhir Oosit ikan patin

siam 15

Gambar 11. Penggunaan catéter keras dan larutan SERA untuk mendeteksi kematangan Gonad oleh UPR di Bekasi dan Jawa Barat.

17 Gambar 12. Penimbangan dan pengukuran induk untuk pendataan

sebelum 17

Gambar 13. Proses pengambilan hormon dan penyuntikan ikan patin

siam di bagian punggung (intra muscular) 18 Gambar 14. Penyuntikan di pangkal sirip dada (intrapheritonial) untuk

meminimalisasi luka pada induk 19

Gambar 15. Kondisi perut induk betina yang siap diovulasikan

(dikeluarkan telurnya) 20

Gambar 16. Proses pengeluaran telur dari induk betina (stripping) 21

(12)

PATIN

Gambar 17. Pengambilan sperma bisa dilakukan dengan ditampung menggunakan spuit (kiri) dan di tumpahkan langsung ke wadah telur (kanan).

22 Gambar 18. Pengadukan telur dan sperma, dan pembuahan dengan 22

mencampurkan air kedalam wadah

Gambar 19. Mencampurkan suspensi tanah merah dalam telur yang telah

dibuahi untuk menghilangkan daya rekat telur. 23 Gambar 20. Corong penetasan standar (kiri) dan corong portable hasil

modifikasi (kanan) untuk ikan patin di BBAT Jambi 23 Gambar 21. Corong penetasan sederhana menggunakan kaca (kiri) dan

paralon (kanan) hasil modifikasi UPR di Jambi 24 Gambar 22. Corong penetasan yang di gunakan di Cijegkol, Jawa Barat 24 Gambar 23. Pembagian telur kedalam corong penetasan menggunakan

gelas ukur (kiri), dan gambar dikanan adalah telur ikan patin siam yang akan menetas (transparan) dan yang mati (berwarna gelap) (Hamid. M.A., dkk, 2007)

25

Gambar 24. Perkembangan telur ikan patin siam sampai menetas

(Hamid. M.A., dkk, 2007) 27

Gambar 25. Pemanenan dan penghitungan larva ikan patin siam 27 Gambar 26. Suasana panen dan paking larva patin di salah satu hatchery

di Jambi 28

Gambar 27. Pembersihan wadah pemeliharaan dan pengisian air

menggunakan filterbag. 29

Gambar 28. Contoh tandon penampung air dari sumur dan persiapan

pemeliharaan pada hatchery skala rumah di UPR Jambi 30 Gambar 29. Perkembangan larva ikan patin siam sampai mulut terbuka,

dan saluran pencernaan sempurna sehingga siap menerima makanan dari luar. (Hamid M.A., dkk, 2007.)

31 Gambar 30. Pakan larva Artemia (kiri) dan Tubifek (kanan) 33 Gambar 31. Sistem penetasan Artemia (kiri) dan cara pemanenannya

(kanan) 34

Gambar 32. Moina beku yang disimpan dalam freezer sebagai alternatif

pakan alami larva ikan patin siam 36

Gambar 33. Penyiponan kotoran di dasar wadah pemeliharaan larva 37 Gambar 34. Sendok yang dapat digunakan untuk sampling kering ikan

patin siam (kiri) dan penghitungan larva patin siam ukuran ¾ inchi (kanan)

38

(13)

PATIN

Gambar 35. Pengolahan dasar kolam untuk ikan patin A) Pengeringan

dan pembersihan dari kompetitor. B) Pengolahan tanah dasar kolam C) Pengapuran D) Kolam siap diisi

39 Gambar 36. Pakan yang digunakan dalam pendederan patin dalam kolam 41 Gambar 37. Benih ukuran 2-3 inchi yang siap dipanen dari kolam 42 Gambar 38. Benih ukuran 2-3 inchi yang siap dipanen dari pemeliharaan

di fiberglass 42

Gambar 39. Proses pengemasan larva dan benih patin untuk transportasi tertutup (kiri dengan sterofoam dan kanan tanpa sterofoam) 42 Gambar 40. Beberapa jenis kolam patin dengan berbagai ukuran yang di

jumpai di masyarakat 45

Gambar 41. Tipe karamba kayu berbentuk seperti kapal di Sungai

Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau 46 Gambar 42. Tipe karamba kayu (atas) dan karamba besi (bawah) di

Sungai Batanghari, Provinsi Jambi 47

Gambar 43. Karamba kayu dan bambu di Provinsi Sumatera Barat 47 Gambar 44. Karamba Gantung (kiri) dan tancap (kanan) di OKI, Sumatera

Selatan 47

Gambar 45. Model karamba di Kalimantan Selatan 48 Gambar 46. Karamba Jaring Apung (KJA) ikan patin siam di waduk, Jawa

Barat 48

Gambar 47. Karamba polyethylene yang mulai marak digunakan karena

ramah lingkungan 48

Gambar 48. Aklimatisasi benih sebelum ditebar dalam kolam 50 Gambar 49. Pemberian pakan pada pembesaran ikan patin siam

dikolam secara manual menggunakan tangan (kiri) dan

menggunakan sekop (kanan). 50

Gambar 50. Cara pemanenan ikan patin dalam kolam menggunakan

jaring dengan pemberat 52

Gambar 51. Penimbangan ikan patin siam ukuran konsumsi dari kolam 53 Gambar 52. Pengangkutan ikan konsumsi dari kolam kedalam truk 53 Gambar 53. Abon patin produksi pengusaha di Provinsi Jambi 54 Gambar 54. Kegiatan usaha pengolahan ikan patin menjadi salai 54 Gambar 55. Kegiatan persiapan kolam dalam untuk pembesaran patin di

BLUPPB Karawang 63

Gambar 56. Proses penimbangan dan penebaran benih ikan patin untuk

pembesaran dikolam dalam 63

Gambar 57. Pemberian Pakan ikan patin menggunakan Rakit di BLUPPB

Karawang, Jawa Barat 64

(14)

PATIN

Gambar 58. Pemberian Pakan ikan patin menggunakan automatic feeder

di BLUPPB Karawang, Jawa Barat 65

Gambar 59. Kegiatan panen ikan patin di kolam dalam BLUPPB

Karawang, Jawa Barat 65

Gambar 60. Proses persiapan ikan patin sebelum dilakukan pemfiletan di

UPI BLUPPB Karawang 66

Gambar 61. Proses filleting, sampai ikan siap dibekukan dalam freezer di

BLUPPB Karawang 68

Gambar 62. Penggunaan mesin IQF untuk pengolahan fillet ikan patin di PT ADIB GLOBAL FOOD bekerjasama dengan BLUPPB Karawang

69 Gambar 63. Proses paking dan produk akhir fillet ikan patin di PT ADIB

GLOBAL FOOD bekerjasama dengan BLUPPB Karawang. 69 Gambar 64. Aliran Sungai Mekong di Beberapa Negara di Asia Tenggara 70 Gambar 65. Sungai Mekong di Vietnam sebagai penghasil ikan patin

terbesar di dunia 72

Gambar 66. Ikan patin berukuran besar hasil tangkapan alam di Sungai Mekong, Vietnam. 73

Gambar 67. Dua jenis ikan patin yang sudah dikembangkan di Sungai

mekong, Vietnam. 73

Gambar 68. Kegiatan pemijahan (A,B) penetasan dalam corong (C) dan

pemeliharaan larva di salah satu hatchery di Vietnam (D). 74 Gambar 69. Siklus Produksi patin siam yang dilakukan di Vietnam 75 Gambar 70. Pembesaran ikan pada kolam di daratan (A) dan di Pulau (B) 78 Gambar 71. Karamba di Sungai Mekong yang sedang dibuat (A) dan

yang sudah beroperasi (B) 78

Gambar 72. Pemberian pakan di kolam dengan ditebar menggunakan

sampan supaya ukuran ikan lebih rata 80

Gambar 73. Pemberian pakan di karamba dengan menggiling pakan basah berbetuk pasta secara langsung diatas tempat pemberian pakan

80 Gambar 74. Pemanenan ikan patin untuk dikirim ke pabrik pengolahan 81 Gambar 75. Produksi ikan patin siam dari tahun 1997 sampai tahun 2008

di Vietnam (Sumber : AQUA Culture AsiaPasific Magazine 82

& Catfish 2007 Vietnam Seminar).

Gambar 76. Luas Area budidaya ikan patin siam dari tahun 1997 sampai tahun 2005 di Vietnam (Sumber : AQUA Culture AsiaPasific

Magazine & Catfish 2007 Vietnam Seminar).

82

(15)

PATIN

Gambar 77. Salah satu pabrik beserta gudang penyimpanan pakan ikan

patin di Vietnam 83

Gambar 78. Pakan basah (berbentuk pasta) dan cara pemberiannya dengan digiling langsung masuk kedalam wadah pemeliharaan (karamba).

85 Gambar 79. Daging ikan salmon yang berwarna merah (kiri) dan daging

ikan patin yang berwarna putih (kanan) yang lebih disukai pasar

86 Gambar 80. Suasana kerja di pabrik pegolahan ikan patin dengan ribuan

pekerja di Vietnam 86

Gambar 81. Beberapa proses pegolahan yang dilewati oleh ikan patin

siam sampai siap dipasarkan. 87

Gambar 82. Berbagai bentuk fillet (skin-on ataupun skinless) merupakan

produk standar pabrik pengolahan di vietnam. 88 Gambar 83. Produk turunan dari fillet ikan patin 88 Gambar 84. Produk patin berupa : Re-fried Vreaded Pangasius Nuggets 88 Gambar 85. Produk patin berupa : Pangasius strips/fingers dan

Pangasius skewers

89

Gambar 86. Produk ikan patin berupa Pangasius Rolls dan Rings 90 Gambar 87. Produk patin berupa : Pangasius Breaded Fillet 90 Gambar 88. Salah satu produk fillet ikan patin Vietnam yang berada di

salah satu supermarket di Indonesia. 91

Gambar 89. Ilustrasi prosentase ikan patin yang digunakan menjadi

produk utama dan prosentase sisa buangan pengolahan fillet 92 Gambar 90. Pemanfaatan kepala ikan patin di Vietnam. 92

Gambar 91. Lemak ikan patin yang siap diolah 93

Gambar 92. Tulang ikan patin yang sudah dipisahkan (kiri) dan setelah

ditepungkan (kanan) 93

Gambar 93. Kulit beku (kiri) dan kerajinan tangan dari kulit ikan patin

(kanan) 94

Gambar 94. Tangki pada proses pembuatan silase skala kecil (kiri) dan

skala besar (kanan) 94

Gambar 95. Daging Sisa dan lemak ikan patin yang telah dibekukan untuk bahan pembuatan pakan ikan yang berbentuk pasta di Vietnam.

95 Gambar 96. Grafik Volume ekspor ikan patin siam di Vietnam dari tahun

2001 -2008 (Sumber : Dr. Nguyen Huu Dung dan AQUACULTURE AsiaPasific Mgazine2008)

96

(16)

PATIN

Gambar 97. Grafik Nilai ekspor ikan patin siam di Vietnam (USD) dari tahun 2001 -2008 (Sumber : Dr. Nguyen Huu Dung dan AQUACULTURE AsiaPasific Mgazine2008)

96 Gambar 98. Pembagian Volume (tonase) dan Nilai (USD) Ekspor ikan

patin siam dari Vietnam ke berbagai negara bagian di dunia (Sumber : Dr. Nguyen Huu Dung dan AQUACULTURE AsiaPasific Mgazine2008)

97

Gambar 99. Sepuluh negara pengimpor terbesar untuk komoditas ikan patin dari Vietnam tahun 2007 (Sumber : Dr. Nguyen Huu Dung dan AQUACULTURE AsiaPasific Magazine2008)

98 Gambar 100. Negara-negara eksportir fillet ikan air tawar ke Uni Eropa

(Sumber : Dr. Nguyen Huu Dung dan AQUACULTURE AsiaPasific Mgazine2008)

98 Gambar 101. Harga patin di beberapa negara importir di dunia 99 Gambar 102. Parasit dari kiri atas ke kanan bawah Trichodinella (A),

Henegguya (B), Dactylogyrus (C) & Gyrodactylus (D), Epystylis (E) dan Myxobulus (F)

101 Gambar 103. Jumlah parasit yang ditemukan oleh Marc Campet dari 113

ekor ikan patin yang di periksa di Vietnam.

102 Gambar 104.

Ciri-ciri luar (kiri) dan organ dalam (kanan) ikan patin yang

terserang bakteri Edwarsiella ichtaluri. 102 Gambar 105. Kematian massal ikan patin siam akibat serangan bakteri

Edwarsiella di Vietnam 103

Gambar 106. Ciri-ciri bagian luar tubuh ikan patin siam yang terserang oleh

bakteri Aeromonas 104

Gambar 107. Kematian ikan berukuran kecil akibat serangan bakteri

Aeromonas di Indonesia 104

Gambar 108. Vaksinasi ikan ukuran benih dengan menggunakan metode

suntik di Asia (kiri) dan Eropa (kanan) 105

Gambar 109. Proses produksi massal vaksin 106

Gambar 110. Segmentasi budidaya ikan pati siam yang dilakukan di

Indonesia 109

Gambar 111. Flow chart rencana pengembangan industri per-patinan terpadu yang dipresentasikan oleh Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan.

123

Gambar 112. Pengembangan kelembagaan klaster patin menurut Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan (2012)

125

(17)

PATIN

Gambar 113. Pengembangan ikan patin terintegrasi di Negara Vietnam

(Cao Thanh Vân, 2007) 126

Gambar 114. Contoh bar coding untuk produk pakan (Michael Lin, 2007) QR (Quick Response) Code gambar di kanan dan AR (Augmented Reality) Code (bawah) yang sekarang lazim digunakan

129 Gambar 115. Salah satu produk ikan patin organik yang telah dipasarkan

oleh Negara Vietnam di dunia internasional 137

Gambar 116. Maggot yang masih hidup (kiri) dan maggot kering (kanan)) 138

Gambar 117. Budidaya cacing tanah di Payakumbuh, Sumatera Barat. 138

(18)

PATIN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.

Edibel portion (berat ikan setelah disiangi dan berat fillet) ikan

patin jambal (n=3) dan ikan patin siam (n=3) 10 Tabel 2. Perbandingan analisa proksimat dari ikan patin siam (P.

hypophthalmus) dan patin jambal (P. djambal) (mean ± SD)

10 Tabel 3. Hasil uji rasa (organoleptik) perbandingan dari daging ikan

patin siam dan patin jambal (30 panelis) 10 Tabel 4. Fase dan Posisi Germinal Vesicle (inti) Pada Proses

Pematangan Akhir Oosit (Hamid, M.A, dkk, 2007) 16 Tabel 5. Dosis penyuntikan berdasarkan jenis hormon yang berbeda

untuk ikan patin siam 19

Tabel 6. Kualitas air yang sesuai untuk media penetasan telur ikan

patin siam (SNI 01-6483.4-2000) 25

Tabel 7. Pergantian Air, Jumlah Cyste Artemia dan Cacing Tubifex yang Dibutuhkan untuk Pemeliharan Ikan Patin Siam Sebanyak 100.000 ekor

35 Tabel 8. Hubungan antara ukuran ikan dan ukuran pakan ikan pada

pemeliharaan ikan patin siam 39

Tabel 9. Jadwal persiapan kolam pendederan 40

Tabel 10. Persentase dan ukuran pakan untuk pendederan benih patin

siam 41

Tabel 11. Pengangkutan ikan patin dengan sistem tertutup dengan menggunakan plastik paking untuk ukuran benih dan jarak tempuh yang berbeda

43 Tabel 12. Pengangkutan ikan patin dengan sistem terbuka

menggunakan drum 200 liter (tanpa dan dengan aerasi) 44 Tabel 13. Kepadatan Penebaran Ikan dan Pemberian Pakan Produksi

Calon Induk Patin Siam (SNI 01-6483.3-2000) 49 Tabel 14. Feeding rate patin siam (pada lingkungan dengan kisaran

suhu 27 s.d. 32

O

C) 51

Tabel 15. Kapasitas drum pada pengangkutan ikan patin siam ukuran

konsumsi (dalam keadaan hidup). 53

Tabel 16. Jenis hormone dan dosis yang diberikan untuk penyuntikkan

ikan patin jambal 56

Tabel 17. perbedaan karakteristik larva ikan patin jambal dengan ikan

patin siam. 58

(19)

PATIN

Tabel 18. Pengangkutan benih ikan patin berdasarkan ukuran dan jarak

tempuh 60

Tabel 19 Contoh resume hasil analisis perhitungan usaha pembesaran

patin di BLUPPB Karawang tahun 2014 67

Tabel 20. Kisaran komposisi pada processing ikan patin di PT. ADIB GOBAL FOOD pada tahun 2015 hasil kerjasama dengan BLUPPB Karawang

70 Tabel 21. Padat tebar pemeliharaan ikan patin siam pada berbagai

sistem pemeliharaan di Vietnam 77

Tabel 22. Perbedaan karakteristik wadah pada sistem pemeliharaan

berbeda 79

Tabel 23. Perbedaan hasil panen, kualitas daging, Benefit ratio, dan

FCR Pakan pada sistem pemeliharaan berbeda 79 Tabel 24. Komposisi pakan patin untuk berbagai ukuran mulai benih

sampai pembesaran (Marc Campet, 2007) 84

Tabel 25.

Feeding Rates (FR) dan Grow Rates (GR) ikan patin siam di

Vietnam untuk berbagai ukuran pada kisaran suhu 29 – 30

O

C 85 Tabel 26. Biaya Investasi Produksi Larva Ikan Patin siam umur 1 hari

untuk kapasitas corong penetasan 110

Tabel 27. Biaya Operasional Produksi Larva Ikan Patin siam umur 1 hari

untuk kapasitas corong penetasan 110

Tabel 28. Biaya Investasi Produksi Benih Ikan Patin siam 1 inchi untuk

kapasitas hatchery 112

Tabel 29. Biaya Operasional/Produksi Benih Ikan Patin siam 1 inchi

untuk kapasitas hatchery 113

Tabel 30.

Biaya Investasi Pembesaran ikan patin siam dalam kolam 114 Tabel 31. Biaya Operasional/Produksi Pembesaran ikan patin siam

dalam kolam 115

Tabel 32.

Biaya Investasi Pembesaran ikan patin siam dalam karamba 116 Tabel 33. Biaya Operasional/Produksi Pembesaran ikan patin siam

dalam karamba 116

Tabel 34. Manfaat yang akan didapatkan oleh segenap stageholder

dengan adanya penerapan sistem klaster. 124

(20)

PATIN

PENDAHULUAN

Oleh :

Boyun Handoyo

(21)

PATIN

BAB I

PENDAHULUAN

Seluruh penjuru dunia juga sudah sangat familiar dengan Patin. Vietnam sebagai pengekspor ikan patin terbesar di dunia sudah mengirimkan ikan patin ke berbagai negara seperti Uni Eropa, Rusia, Amerika Serikat, dan pasar terbaru China dan Hongkong. Demikian juga di seluruh penjuru tanah air, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, bahkan sudah mencapai Pulau Sulawesi. Melihat hal tersebut sebenarnya pembudidaya patin di Indonesia tidak perlu bingung dalam hal pemasaran, apabila dapat menciptakan produk yang bermutu lebih baik, atau minimal sama dengan Negara Vietnam, tidak mustahil Indonesia bisa mejadi salah satu Eksportir ikan patin.

Ikan patin sebagai salah satu komoditas andalan air tawar memiliki beberapa kelebihan, selain dagingnya yang putih, rasanya enak, dan relatif mudah dalam proses budidayanya.

Bahkan pada spesies tertentu,

yaitu patin siam (Pangasianodon hypopthalmus) sangat adaptif dalam kondisi lingkungan perairan yang jelek dengan kepadatan yang tinggi (pH rendah maupun Oksigen yang rendah dapat hidup dan tumbuh).

(22)

PATIN

Pengembangan budidaya ikan patin di Indonesia sebenarnya sudah cukup maju, terutama di bagian hulunya, yaitu usaha pembenihan ikan patin. Namun di sektor hilirnya, yaitu usaha pembesaran, pasca panen dan pemasaran di Indonesia masih kalah jauh dengan Negara Vietnam. Karena pengembangan usaha di bagian hilirnya bermasalah, maka industri ikan patin di indonesia berjalan lambat. Bahkan beberapa pembudidaya ikan patin di Jambi pernah merasa trauma dengan anjloknya harga ikan patin karena produksi di masyarakat booming dan jenis pakan dan system budidaya lokal tidak bisa menampung dan FCR berkisar antara 1,3 - 1,6 (tergantung ukuran panen) sehingga bayak pembudidaya ikan patin dengan modal yang pas-pasan gulung tikar.

Seluruh penjuru dunia juga sudah sangat familiar dengan ikan patin.

Vietnam sebagai pengekspor ikan patin terbesar di dunia sudah mengirimkan ikan patin ke berbagai negara seperti Uni Eropa, Rusia, Amerika Serikat, dan pasar terbaru China dan Hongkong. Demikian juga di seluruh penjuru tanah air, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, bahkan sudah mencapai Pulau Sulawesi. Melihat hal tersebut sebenarnya pembudidaya patin di Indonesia tidak perlu bingung dalam hal pemasaran, apabila dapat menciptakan produk yang bermutu lebih baik, atau minimal sama dengan Negara Vietnam, tidak mustahil Indonesia bisa mejadi salah satu Eksportir ikan patin.

Vietnam dengan Sungai Mekong-nya (tepatnya di delta mekong) berhasil menjadi negara pengekspor patin terbesar di dunia.

Indonesia yang memiliki banyak sungai besar belum mampu megembangkan budidaya ikan patin untuk ekspor. Bahkan lebih tragis lagi, di beberapa supermarket di Indonesia terdapat produk fillet ikan patin dari Vietnam dengan brand ”dori fillet”. Hal inilah yang menjadi alasan kami untuk menulis buku ini.

Untuk menuju indonesia bisa memproduksi ikan patin dengan standar produksi internasional, maka harus memperhatikan beberapa hal, mulai dari proses budidaya sampai pasca panen sesuai dengan standar. Dengan membandingkan kondisi pengembangan ikan patin di Indonesia dan Vietnam yang lebih maju di bagian hilir, diharapkan dapat menjadi referensi dan rekomendasi bagi semua pelaku usaha dan pemerintah dalam menyusun perencananaan usaha kedepan.

Dalam buku ini juga ditampilkan teknologi budidaya ikan patin terkini di Indonesia mulai dari skala rumahtangga sampai usaha berskala besar (ekspor).

Informasi dalam buku ini didapatkan dari pengalaman langsung yang pernah dilakukan penulis di BPBAT Sungai Gelam - Jambi sebagai Pusat Patin Nasional (PUSTINA) dimana penulis sekarang bekerja dan beberapa tempat ajang pernah kami kunjungi di UPR dan pembudidaya, serta hasil survei dan studi referensi kondisi di negara lain. Terakhir, informasi olahan ikan patin khas indonesia juga semakin melengkapi informasi dalam buku ini.

(23)

PATIN

BUDIDAYA PATIN SKALA RUMAH TANGGA DAN MENENGAH DI INDONESIA

Oleh :

Boyun Handoyo, Irwan, Dafzel Day, Solaiman, Janu Dwi

Kristianto, Reni AL, Nofri Hendra, Solihin

(24)

PATIN

BAB II

BUDIDAYA PATIN SKALA RUMAH TANGGA DAN MENENGAH DI INDONESIA

2.1. KONDISI UMUM IKAN PATIN DI INDONESIA

Ikan patin termasuk ke dalam kelompok “catfish” yang berukuran besar.

Kelompok Pangasius ini terdapat 19 spesies yang tersebar mulai dari daratan India, Indocina, Burma, Malaysia dan Indonesia (Roberts and Vidthayanon, 1991). Di Indonesia sendiri daerah penyebarannya meliputi Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Roberts and Vidthayanon, 1991). Berdasarkan hasil studi identifikasi dan inventarisasi plasma nutfah perikanan Jambi tahun 1992, keluarga Pangasiidae yang ditemukan di perairan umum Jambi ada 4 jenis dari kelompok Pangasius dan 2 jenis dari kelompok Helicophagus (Anonimus, 1992). Sebagai ikan konsumsi ekonomis penting yang banyak diminati masyarakat, maka patin lokal berpotensi dan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan sebagai komoditi budidaya.

Dan sebagai komoditas lokal diharapkan keberadaannya dapat mengganti patin siam (Pangasius hypophthalmus) yang telah dikembangbiakkan di masyarakat.

Secara umum Pangasius mempunyai ciri-ciri, yaitu bentuk badan sedikit memipih, tidak bersisik. Mulutnya kecil dengan 2-4 pasang sungut peraba, mempunyai patil pada sirip punggung dan dada. Sedangkan ciri-ciri khusus yang dapat digunakan untuk membedakan antar

spesies (Roberts and Vidthayanon, 1991), diantaranya :

1. Bentuk Kepala

Kelompok Pangasius mempunyai bentuk kepala yang berbeda-beda sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies.

Ada spesies yang mempunyai bentuk kepala membundar dan melebar tanpa moncong/hidung, mempunyai moncong

yang meruncing dan

memanjang/menyempit (Gambar 1.) 2. Mulut

Jenis Pangasius dapat dibedakan dari posisi rahang, ukuran dan bentuk mulut, yaitu tipe terminal, subterminal, dan inferior.

3. Pita pada Gigi Maxillary dan Palatal Kumpulan gigi palatine dan vomerine ada yang terpisah-pisah, bertemu di satu titik atau bertemu dalam bidang mendatar dan lebar serta membentuk kurva. Sedangkan ukurannya ada yang kecil, membundar dan segi empat (Gambar 2).

4. Tapis Insang

Jumlah tapis insang pada lengkung tulang insang I berkisar antara 12-46 buah.

Spesies Pangasius dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu yang mempunyai jumlah tapis insang rendah (< 20), sedang (20-30) dan tinggi (> 30).

(25)

PATIN 5. Gelembung renang

Gelembung renang ada yang terletak pada ruang abdomen, di atas pangkal sirip anal bahkan ada yang sampai ke pangkal sirip ekor. Jumlah ruang ada yangterdiri dari satu, dua dan tiga ruang atau rangkaian dari beberapa ruang.

Berdasarkan ciri-ciri morfologis di atas, maka identifikasi yang telah dilakukan terhadap (bentuk kepala dan pita gigi maxillary palatal pada langit-langit rahang atas pangasius yang ada di sungai-sungai di Asia Tenggara tersebut adalah sebagai berikut:

Ikan patin lokal yang sudah dikembangkan di Indonesia adalah ikan patin jambal (Pangasius djambal) yang bisa mencapai ukuran lebih dari 20 kg/

ekor. Ikan ini memiliki kelebihan dagingnya

yang berwarna putih (sama dengan ikan Pangasius bocourti yang merupakan komoditas ekspor negara di sekitar Sungai Mekong.

Habitat ikan patin jambal adalah sungai-sungai besar di daerah tropis. Ikan patin jambal di Indonesia tersebar di sungai-sungai di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Namun karena polusi, penangkapan yang berlebihan sehingga berangsur-angsur mulai punah dan susah didapatkan di perairan di Pulau Jawa.

Beberapa sungai di Sumatera yang terdapat ikan patin jambal adalah : Sungai Batanghari, Sungai Inderagiri, dan Sungai Musi. Di Pulau Jawa ada di Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo. Sdangkan di Kalimantan terdapat di Sungai Barito, Mendawai, dan Kahayan.

Gambar 1. Pita gigi maxillary dan palatal pada langit-langit rahang atas dari kelompok Pangasius : a. P. macronema, b. P. micronema, c. P. pangasius, d. P. larnaudii, e. P. hypophthalmus, f. P. pleurotaenia, g. P. krempfi, h. P. sanitwongsei, i. P. polyuranodon, j. P. conchophilus, k. P. myanmar, l. P. nasutus, m. P. bocourti, n. P. djambal, o. P. humeralis, p. P.

kinabatangenensis, q. P. lithostoma, r. P. niewenhuisii. (Sumber : Roberts and Vidthayanon, 1991)

(26)

PATIN

Gambar 2. Patin Jambal (Pangasius djambal) salah satu ikan patin asli Indonesia yang telah berhasil dipijahkan di Indonesia

Ikan patin jambal termasuk ikan yang cukup memiliki kisaran toleransi yang lebar terhadap lingkungan dan cocok dibudidayakan di daerah tropis, seperti daerah asalnya di Indonesia. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan terhadap toleransi ikan patin jambal terhadap lingkungan adalah :

- Suhu/temperatur 27 s.d. 31 OC - pH 6 s.d. 8,9

- Oksigen untuk telur dan larva lebih besar dari 3 ppm

- Oksigen untuk benih dan induk 0,6 s.d. 9,6

O C

- Salinitas (larva) 0 s.d. 4 ppt

Ikan patin jambal termasuk ikan yang cukup rentan terhadap penyakit. Penyakit yang sering menyerang pada induk adalah penyakit borok akibat ikan lecet dan lender habis. Penyakit ini biasanya menyerang karena handling yang kurang bagus atau akibat transportasi untuk waktu yang lama. Pengobatan biasanya

dilakukan dengan menggunakan perendaman dengan Kalium Permanganat (PK) atau pemberian Oksi Tetrasiklin (OTC) pada makanan yang diberikan, untuk menghindari infeksi sekunder (bakterial). Selain patin jambal, ikan patin yang telah dikembangkan di Indonesia adalah ikan patin siam. Patin siam di introduksi di Indonesia dari Thailand. Ikan ini lebih dahulu berhasil dibudidayakan di Indonesia dibandingkan jenis patin asli Indonesia.

Ikan patin siam memiliki daya toleransi terhadap lingkungan yang lebih baik dibandingkan ikan patin yang lain. Selain itu ikan patin siam juga memiliki jumlah telur (fekunditas) yang lebih banyak dibandingkan dengan ikan patin lain di Indonesia, sehingga memungkinkan untuk diproduksi dalam jumlah yang banyak..

Sekarang ikan ini mendominasi budidaya patin di Indonesia.

(27)

PATIN Gambar 3. Peta daerah yang melakukan pengembangan ikan patin di Indonesia

Pada tahun 2006 ditetapkan

“GERTAK ”(Gerakan serentak) Patin Jambal untuk ekspor oleh Pemerintah Indonesia melalui Dirjen Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2006. Dipilihnya ikan patin jambal adalah karena kondisi dagingnya yang berwarna putih sehingga layak untuk ekspor. Seiring berjalannya ternyata pemilihan komoditas patin jambal mendapatkan kesulitan ditengah jalan karena sulit untuk memproduksi ikan ini dalam jumlah yang besar karena fekunditas ikan patin jambal yang sangat kecil (hanya menghasilkan 5-10 ribu ekor benih per-kg induk) dengan rerata 8500 ekor per-kg induk sehingga

sangat jauh jika dibandingkan dengan

ikan patin siam (90 ribu – 120 ribu

larva/kg induk). Selain itu ikan patin

jambal memiliki kondisi tubuh yang

lemah dan daya toleransi yang kecil

terhadap kondisi lingkungan yang

buruk, sehingga utuk dilakukan

pengangkutan hidup mengalami

permasalahan.

(28)

PATIN

Gambar 4. Ikan patin yang telah dikembangkan di Indonesia (patin jambal, patin siam dan patin hibrid /pasupati) beserta hasil fillet sehingga dapat dilihat warna dagingnya.

Sebagai solusi untuk mengatasi hal tersebut, maka pada tahun 2007 mulai dikembangkan strain baru, yaitu patin hibrid yang merupakan hasil persilangan antara ikan patin jambal (jantan) dan ikan patin siam (betina) sehingga diharapkan akan mendapatkan jumlah benih yang lebih banyak dan diharapkan dapat daging yang berwarna putih. Akan tetapi setelah didapatkan ikan patin hibrid permasalahan kembali timbul pada segmen pasca panen (processing) yang belum siap menampung ikan ini.

Sedangkan ikan patin hibrid ini juga memiliki kelemahan yang mudah sekali mati dalam proses pengangkutan, dan mengeluarkan lendir yang lebih banyak sehingga proses pembusukan lebih cepat.

Ikan patin jambal jika dilihat dari karakteristik dan komposisi dagingnya, adalah ikan yang cukup digemari masyarakat, dan memiliki nilai gizi yang bagus. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisa edibel portion, kualitas daging komposisi proksimat, dan uji organoleptik jika dibandingkan dengan ikan patin siam (lihat pada tabel) hasil pengujian di Balai Riset Perikanan Air Tawar Sukamandi. Ikan patin jambal juga diharapkan mampu bersaing sebagai komoditas ekspor, karena dagingnya yang berwarna putih, sehingga bisa bersaing dengan ikan P. bocourti dari Vietnam yang memiliki daging berwarna putih, dan filletnya sudah di ekspor ke negara Asia lain, Eropa dan Amerika.

PATIN JAMBAL

PATIN SIAM

PATIN HIBRID/PASUPATI

(29)

PATIN Tabel 1. Edibel portion (berat ikan setelah disiangi dan berat fillet) ikan Patin Jambal (n=3) dan ikan Patin Siam (n=3).

Ikan

Berat badan (gr)

Berat Dressed (gr)

Dressing (%)

Berat fillet (gr)

Fillet (%) Patin Siam 1272 ± 28 971 ± 18 76,3 ± 0,3 779 ± 15 61,3 ± 0,5 Patin

Jambal

1853 ± 101 1475 ± 96 79,7 ± 4,5 1143 ± 80 61,7 ± 1,9

❖ Dressed yang dimaksud adalah ikan yang sudah disiangi termasuk kepala dan siripnya. Fillet yang dimaksud adalah daging dari belakang kepala sampai dengan pangkal sirip ekor, termasuk kulit dan daging bagian perut pada tubuh ikan.

Tabel 2. Perbandingan analisa proksimat dari ikan Patin Siam (P. hypophthalmus) dan Patin Jambal (P. djambal) (mean ± SD)

Ikan Kadar Protein (% d.w.)

Kadar Lemak (% d.w.)

Kadar Abu (% d.w.)

Kadar Air

N 3 2 2 2

patin siam 68,7 ± 0,1 3,3 ± 0,1 3,6 ± 0,1 66,9 ± 0,3 patin jambal 68,6 ± 0,1 5,8 ± 0,1 3,5 ± 0,1 59,3 ± 0,1

Tabel 3. Hasil uji rasa (organoleptik) perbandingan dari daging ikan Patin Siam dan Patin Jambal (30 panelis)

Ikan Warna Odor Tekstur

patin siam 5,0 ± 1,9 5,1 ± 1,0 6,3 ± 1,6

patin jambal 6,1 ± 1,5 5,8 ± 1,0 6,2 ± 1,7

Skor : 1 (rendah/sangat tidak suka) ; 9 (tinggi/sangat suka)

Setelah beberapa kali dilakukan dilakukan kunjungan ke Vietnam, ternyata ikan patin yang mayoritas dibudidayakan di sana adalah tetap ikan patin siam. Daging putih yang didapatkan adalah dari hasil teknologi budidaya dengan penggunaan pakan berkualitas dan melalui teknologi pengolahan (processing) menggunakan formula tertentu. Budidaya ikan patin

dengan strain daging yang sangat putih (P.

Bocourti) dilakukan sangat sedikit prosentasenya, karena memang fekunditasnya yang rendah dan pemeliharaan memerlukan kualitas air yang prima (rentan mati), sehingga tidak cocok untuk komoditas dalam skala industri dan hanya digunakan untuk yang kelas premium saja.

(30)

PATIN

2.2. TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PATIN

2.2.1. PEMIJAHAN

Pemijahan ini merupakan salah satu langkah dalam memproduksi benih ikan patin dari mulai pemeliharaan induk, menghasilkan telur, penetasan telur, sampai menghasilkan larva ikan patin siam. Dalam melakukan pemijahan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Wadah yang dibutuhkan

a. Wadah pemeliharaan induk Wadah pemeliharaan induk bisa berupa kolam maupun karamba b. Bak pemberokan/penampungan

induk

c. Hapa penampung induk

d. Corong penetasan beserta sistemnya.

e. Fiber pembiusan ukuran volume 100 liter.

f. Hapa penampungan larva disesuaikan dengan ukuran corong.

2. Alat yang dibutuhkan a. Alat suntik volume 3 ml b. Baskom plastik

c. Ember plastik

d. Jaring penangkap induk ukuran 1,5x 2 x 1 m3

e. Serok induk

f. Timbangan induk 60 kg; ketelitian 0,01g

g. Timbangan telur 2 kg; ketelitian 0,001 g

h. Termometer maksimum-minimum i. Alat tagging

j. Microchip k. Mikroskop

l. Handcounter minimal 5 unit m. Pipet volume 5 ml

n. Handuk

o. Tas pengangkut ikan ukuran 80 x 20 x 40 cm3

p. Mangkok ukur q. Bulu ayam

r. Fiber pembiusan 100 liter

s. Pompa air untuk pemulihan induk t. Kateter

u. Cawan petri v. Gelas ukur 100 ml 3. Bahan yang dibutuhkan

a. Pakan induk berprotein 28-32%

b. Hormon ovulasi (GnRh-a + Domperidone)

c. Bahan anastesi ( minyak cengkeh : 25 ppm)

d. Larutan sera (ethanol absolut (99,5 %, formalin 40 %, dan asam asetat glasial dengan perbandingan dalam larutan = 60%:30%:10%)

e. Suspensi tanah merah (disaring terlebih dahulu dengan serok halus )

f. Sodium khlorida (NaCl 0,9 %) g. Kertas tissue untuk

mengeringkan wadah dan ikan pada waktu pengalinan

4. Prosedur kerja yang dilakukan 4.1. Pemeliharaan induk

a. Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,7-1 kg/m2 pada kedalaman air 1,5 – 2 m dengan perbandingan jantan betina 1 : 2

(31)

PATIN b. Pakan yang diberikan berprotein 32 – 34

% sebanyak 1-2 % dari bobot biomassa ikan per hari

c. Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari.

d. Ukuran induk ada bermacam versi. Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di Jawa Barat menyukai ikan yang berukuran kecil (1,5 – 2 kg), karena lebih mudah dalam penanganan (handling), lebih mudah menentukan target produksi,

lebih irit hormon ovulasi, selain itu mereka berpendapat dengan ukuran induk yang kecil maka masa pemakaian induk menjadi lebih lama. Sedangkan UPR di Jambi dan Riau lebih menyukai induk yang berukuran besar (> 3 kg), karena akan mendukung kepercayaan bahwa benih yang dihasilkan akan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan bermutu tinggi.

Gambar 5. Ukuran induk yang dipijahkan di Cijengkol, Jawa Barat (kiri) dan di BPBAT Sungai Gelam Jambi (kanan).

4.2. Pemilihan induk siap pijah

a. Sebelum dilakukan seleksi sebaiknya induk sudah dipuasakan minimal 24 jam sebelumnya untuk mempermudah dalam seleksi induk betina. Karena apabila induk belum dipuasakan terkadang pembudidaya bisa tertipu oleh kondisi perut yang gendut akibat penuh dengan pakan (bukan berisi telur).

b. Seleksi dimulai dengan menangkap induk dengan cara dijaring.

c. Induk diserok satu per satu dan diamati keadaan bagian perut dan urogenitalnya. Lebih baik meminimalisasi penggunaan tangan dalam menangani induk, dan melepaskan ikan yang berontak apabila ditangkap. Pemaksaan terhadap induk dapat menyebabkan stress pada induk sehingga bisa menyebabkan kegagalan dalam ovulasi, induk terluka, dan kematian pada induk.

(32)

PATIN

Gambar 6. Kegiatan seleksi ikan patin dengan menjaring dan memeriksa kondisi kematangan gonad satu persatu

Gambar 7. Kelamin induk betina (kiri) dan induk jantan (kanan) d. Perut induk betina yang matang gonad

membesar dan urogenitalnya berwarna merah, menandakan ada telur di dalamnya.

e. Induk betina yang matang gonad dimasukkan ke fiber pembiusan untuk diambil sampel telurnya dengan menggunakan kateter. Penggunaan kateter dilakukan untuk lebih memastikan tingkat kematangan gonad induk.

Terkadang ada induk betina yang gendut, tetapi ketika dilakukan pemijahan akan kempes, karena induk tersebut sudah kelewat matang atau sering disebut oleh petani sebagai induk yang ”masuk angin”. Pembiusan dilakukan untuk mengurangi kondisi stres pada induk ikan patin pada saat dilakukan kanulasi, penyuntikan hormon dan striping. Pembiusan menggunakan cairan benzocaine.

(33)

PATIN

Gambar 8. Pembiusan induk (kiri) dan cara menyadarkan ikan (recovery) dengan menyemprotkan air kedalam mulut ikan yang dibius (kanan).

Pembuatan benzocaine adalah dengan melarutkan benzocaine (ethyl aminobenzoate) ke dalam alkohol.

Untuk membuat 100 ml cairan benzocaine adalah dengan melarutkan 10 g benzocaine ke dalam 100 ml alcohol, sehingga didapatkan 100.000 ppm. Sebelum melakukan kegiatan pemijahan disarankan untuk menyiapkan 500 ml cairan benzocaine.

Jumlah benzocaine yang digunakan untuk pembiusan ikan patin siam disarankan 100 ppm.

Namun jumlah tersebut belum standar, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang tepat. Induk patin siam yang telah dibius dapat disadarkan kembali dengan memberikan air segar pada insangnya, yaitu dengan cara mengalirkan air segar ke dalam mulut ikan patin.

Anastesi (pembiusan) efektif untuk mengurangi stres, meskipun tentunya penggunaan anastesi akan menambah biaya produksi dan tambahan kegiatan

operasionalnya. Lebih lanjut, jika penanganan induk tidak baik, hasilnya tidak bisa diharapkan meskipun menggunakan obat bius. Teknik penanganan adalah lebih penting dari sekedar penggunaan obat bius.

f. Sampel telur diamati secara visual dan mikroskopis dengan direndam dalam larutan sera selama kurang lebih 10 menit.

g. Pengamatan telur dilakukan untuk memprediksi induk yang siap pijah.

Induk yang siap pijah memiliki ciri-ciri : - Ukuran seragam

- Warna putih kekuningan, tidak transparan (opaque).

- Inti telur berada pada posisi di tengah atau agak ke tepi atau stadia 1 dan stadia 2 (lihat Gambar).

- Diameter telur 1.0-1.2 mm.

(34)

PATIN

Gambar 9. Pengambilan telur menggunakan kateter

STADIA I - II STADIA III STADIA IV

STADIA IV-V STADIA V STADIA VI

Gambar 10. Pergerakan Inti pada Pematangan Akhir Oosit ikan patin siam (Hamid, M.A, dkk, 2007)

(35)

PATIN Tabel 4. Fase dan Posisi Germinal Vesicle (inti) Pada Proses Pematangan Akhir Oosit

(Hamid, M.A, dkk, 2007)

Metode penentuan induk matang diatas dilakukan oleh BPBAT Sungai Gelam Jambi. Cara ini memang yang paling valid diantara cara yang lain tingkat keberhasilannya diatas 90 % dengan catatan semua yang dilakukan secara teknis memenuhi syarat. Akan tetapi metode perlu pemahaman tentang biologi reproduksi. Cara yang ini dapat disederhanakan dengan melihat tingkat transparasi telur, yaitu apabila semakin banyak telur yang transparan, berarti induk tersebut kurang bagus, meskipun ukuran telur seragam, dan untuk memastikannya adalah dengan memberi larutan SERA untuk melihat posisi inti. Pada UPR di Jawa Barat (Bogor dan Bekasi) memiliki cara masing-masing dengan tingkat keberhasilan berbeda juga.

Untuk petani di Bogor banyak yang tidak melihat kondisi telur (hanya melihat kondisi perut yang gendut atau sering disebut menggunakan “feeling”). Pembenih di bekasi dan sekitarnya sudah menggunakan kateter, biasanya mereka menyukai katéter yang keras untuk mengambil telur. Pemeriksaan telur dengan melihat tingkat sebaran telur ketika pertama kali diberi larutan sperma. Apabila telur diberi larutan sperma langsung menyebar berarti telur matang, dan apabila telur menggumpal ketika diberi larutan sperma, berarti kondisi telur tidak bagus (banyak lemak) sehingga ada kemungkinan gagal ovulasi.

Stadia Kondisi Kecerahan Oosit (Fase)

Germinal vesicle (GV ) stadia /posisi inti

I Semua oosit opaque Inti berbentuk bulat dan

berada di tengah oosit

II

Translucent oosit meningkat sampai 1/3 bagian dari oosit yang diamati

Inti bergerak dari tengah ke arah periphery

III Translucent oosit menempati 1/3 oosit

Inti dekat dengan periphery

IV

Semua oosit menjadi translucent tetapi granule di dalam oosit tidak jelas

Inti menempel di periphery dan menjadi rata

V

Semua oosit menjadi translucent dan granul di dalam oosit tampak jelas

Inti melebur

VI Matang, setelah ovulasi Matang,cortical layers ooplasma melingkupi telur.

(36)

PATIN

Gambar 11. Penggunaan catéter keras dan larutan SERA untuk mendeteksi kematangan Gonad oleh UPR di Bekasi dan Jawa Barat.

h. Induk jantan matang gonad ditandai dengan mengurut bagian perut ke arah anal.

i. Bila keluar cairan sperma berwarna putih kental maka induk jantan dipindahkan ke bak inkubasi induk untuk pemijahan. Kematangan gonad induk jantan di satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda. Terkadang di statu daerah sangat mudah mendapatkan induk jantan yang matang. Akan tetapi ada juga daerah yang sulit untuk mendapatkan induk

matang. Untuk daerah yang sulit mendapatkan induk matang, disarankan untuk memelihara induk jantan pada kolam yang diberi peneduh (pohon atau atap).

j. Induk betina yang terpilih diukur panjang tubuhnya dan ditimbang bobot tubuhnya untuk menentukan volume hormon yang akan digunakan, kemudian dipindahkan ke bak inkubasi induk untuk dipijahkan.

k. Induk betina yang terpilih dipindahkan ke bak inkubasi induk. Induk betina ditampung di hapa dalam bak inkubasi.

Gambar 12. Penimbangan dan pengukuran induk untuk pendataan sebelum dipijahkan

(37)

PATIN l. Bak inkubasi induk diaerasi dan air

dialirkan terus menerus selama proses pemijahan

m. Induk jantan ditampung di bak terpisah dengan induk betina 4.3. Penyuntikan Hormon

a. Telur induk betina patin yang siap pijah berada tahap pematangan akhir.

Namun ovulasi tidak bisa terjadi tanpa stimulasi hormon pada kondisi buatan.

Sehingga penyuntikan hormon pada induk betina patin siam harus dilakukan untuk mencapai proses ovulasi pada pembenihan patin siam.

Bahan untuk merangsang ovulasi pada ikan patin yang sudah dikenal seperti ovaprim, HCG, dan hipofisa ikan mas.

b. Dalam buku ini kami akan menjelaskan pembenihan patin menggunakan hormone ovaprim yang sudah familiar di masyarakat.

c. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi keberhasilan proses ovulasi adalah manajemen induk sehari-hari untuk mencapai kematangan gonad yang cukup. Jika kondisi gonad tidak cukup matang,

hormon jenis apapun dengan dosis berapapun tidak bisa membawa keberhasilan ovulasi.

d. Jenis hormon adalah faktor kedua dan dapat dipilih sesuai kebiasaan penggunaan.

e. Ovaprim dapat diperoleh dengan mudah di Indonesia (tidak dilarang), dan penggunaannya sangat mudah;

dapat digunakan langsung dari botolnya sesuai kebutuhan pada setiap kegiatan pembenihan.

f. Penyuntikan dengan ovaprim menggunakan dosis 0,5 ml/kg induk, dilakukan 2 kali dengan interval 6 jam.

g. Induk jantan tidak disuntik hormon.

h. Induk betina dibius menggunakan anastesi dalam fiber pembiusan.

i. Pembiusan dilakukan sampai induk tidak berontak kuat (setengah sadar).

Penyuntikan juga bisa

mengkombinasikan 2 jenis hormon yaitu HCG dan ovaprim. Induk yang disuntik dengan menggunakan HCG disuntik pertama biasanya pada pukul 12.00 dan induk yang disuntik dengan ovaprim disuntik pertama biasanya pada pukul 20.00. Penyuntikan kedua untuk induk yang menggunakan HCG dan ovaprim dilakukan pada pukul 02.00

..

Gambar 13. Proses pengambilan hormon dan penyuntikan ikan patin siam dibagian punggung (intra muscular)

(38)

PATIN

j. Penyuntikan dilakukan di punggung atas kanan/kiri (intramuscular), dengan sudut penyuntikan 45º.

Tabel 5. Dosis penyuntikan berdasarkan jenis hormon yang berbeda untuk ikan patin siam

Jenis Hormon

Suntik 1 Suntik 2 Pengecekan

HCG 500 IU/Kg induk 1500 IU/Kg induk (14 jam setelahnya)

(6 jam

setelahnya) Ovaprim (0,5ml/Kg induk)

x1/3

(0,5ml/Kg induk)x2/3 (6 jam setelahnya)

(6 jam

setelahnya) HCG dan

Ovaprim

500 IU/Kg induk 0,3 ml/Kg induk (14 jam setelahnya)

(6 jam

setelahnya) Hipofisa

ikan mas

(4xBerat induk)x1/4

(5xBerat induk)x3/4 (6 jam setelahnya)

(6 jam

setelahnya) k. Penyuntikan pada bagian punggung

kadang-kadang menyebabkan bagian punggung menjadi bengkak. Hal ini terjadi karena dilakukannya penekanan pada tempat penyuntikan untuk mencegah keluarnya hormon yang disuntikkan. Oleh karena itu, sebagai pilihan bisa dilakukan penyuntikan di bawah sirip dada (intrapheritonial) untuk menyalurkan hormon langsung ke rongga perut.

l. Penyuntikan secara intrapheritonial mempunyai konsekuensi keharusan penggunaan obat bius. Sebab dalam operasionalnya mengharuskan induk pada posisi bagian abdomen berada di atas (terbalik). Sedangkan penyuntikan pada punggung masih memungkinkan dilakukan tanpa pembiusan, karena posisi tubuh induk dalam keadaan tidak terbalik (normal).

Gambar 14. Penyuntikan di pangkal sirip dada (intrapheritonial) untuk meminimalisasi luka pada induk

(39)

PATIN 4.4. Pengalinan/stripping dan Pembuahan

a. Setelah 6 jam dari penyuntikan kedua dilakukan pengecekan terhadap induk betina apakah sudah ovulasi atau belum, langkah pertama yang dilakukan adalah pembiusan terhadap induk. Hal itu dilakukan untuk memudahkan dalam proses pengecekan dan mengurangi tingkat stres pada ikan. Pembiusan dilakukan dengan menggunakan benzocaine dengan dosis 100 ppm.

b. Langkah kedua yang dilakukan adalah pengecekan ovulasi, pengecekan dilakukan dengan cara mengurut perut induk ikan dari arah kepala ke lubang genital, langkah ini dilakukan dengan hati-hati.

c. Waktu striping yang tepat adalah pada saat telur keluar ketika dilakukan pijatan yang lembut pada bagian abdomen,

jangan sekali-kali dilakukan pijatan yang kuat atau dipaksakan.

d. Apabila induk belum ovulasi maka dilakukan penimbangan berat induk dan kanulasi dengan kateter. Adapun tujuan dari penimbangan tersebut adalah untuk mengetahui ada tidaknya penambahan berat pada induk, apabila berat induk bertambah maka disinyalir ada perkembangan pada telur, sedangkan tujuan dari kanulasi adalah untuk mengambil sampel telur, yang kemudian diamati di bawah mikroskop untuk melihat perkembangan oosit.

Menimbang induk dan kanulasi ini baik bila dilakukan, namun tidak menjadi keharusan bila kondisi tidak memungkinkan, misalnya karena induk stres atau tidak adanya timbangan yang memiliki tingkat keakuratan yang tinggi.

Gambar 15. Kondisi perut induk betina yang siap diovulasikan (dikeluarkan telurnya) e. Bila induk belum ovulasi maka kegitan

pengecekan tersebut dilakukan lagi setiap satu jam. Apabila pada saat pengecekan ternyata induk sudah ovulasi maka segera dilakukan pembiusan dan penimbangan induk, setelah itu dilakukam striping, namun sebelum striping semua alat yang akan digunakan harus bersih dan dalam keadaan kering termasuk lubang genital dan sirip bawah induk ikan.

f. Jika telur tidak bisa diovulasikan dengan striping yang lembut dengan kata lain membutuhkan pijatan yang kuat pada abdomen, ini artinya bahwa ovulasi belum terjadi, maka proses striping harus dihentikan dan induk harus dikembalikan ke wadah inkubasi induk dan ditunggu sekitar satu jam lagi. Striping dengan pijatan yang kuat atau dipaksakan menyebabkan telur yang diovulasikan tidak total atau

(40)

PATIN

parsial, lebih lanjut menyebabkan ikan sangat stres dan mati. Jika waktu striping optimum (tepat), maka telur keluar dengan lancar sehingga waktu striping dan handling menjadi lebih

singkat dan induk segar kembali dengan stres yang minimal.

g. Bagian perut induk betina ditekan kearah genital dengan lembut.

Gambar 16. Proses pengeluaran telur dari induk betina (stripping) h. Bila telur keluar dengan mudah maka

induk betina siap untuk diovulasikan i. Induk betina dibius total sampai ekor

dan penutup insang tidak bergerak j. Induk betina ditimbang bobot

tubuhnya.

k. Air pada tubuh induk betina dikeringkan dengan menggunakan handuk lembut dan kertas tissu. Induk distripping dengan memijat secara lembut bagian perut induk ke arah anal.

l. Telur ditampung dalam baskom palstik atau stainless. Induk betina kembali ditimbang setelah stripping untuk mengetahui jumlah telur.

m. Secara bersamaan induk jantan ditangkap dan dibius.

n. Stripping induk jantan yang telah pingsan spermanya langsung dimasukkan pada baskom penampungan telur. Kalau induk jantan terbatas, pengambilan sperma bisa dilakukan dengan ditampung dalam spuit suntik yang telah diberi larutan NaCl 0,9% dengan perbandingan (Sperma dan NaCl = 1 : 3), dan disimpan dalam kulkas/ box pendingin (cooler). Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah dalam membagi sperma untuk membuahi telur.

(41)

PATIN

Gambar 17. Pengambilan sperma bisa dilakukan dengan ditampung menggunakan spuit (kiri) dan di tumpahkan langsung ke wadah telur (kanan).

o. Penambahan NaCl 0,9% pada campuran telur-sperma (supaya lebih merata) dan diaduk dengan bulu ayam sampai sperma meliputi telur secara merata.

p. Pembuahan dilakukan dengan mencampurkan air ke dalam campuran telur-sperma dan diaduk sampai merata selama 2-3 menit.

Gambar 18. Pengadukan telur dan sperma, dan pembuahan dengan mencampurkan air kedalam wadah.

q. Telur dibilas dengan air bersih sebanyak 3 kali sampai hilang gelembung busa sperma.

r. Penggunaan suspensi tanah liat untuk menghilangkan daya rekat telur.

Penyiapan suspensi tanah liat :

1. Siapkan tanah liat (berwarna merah/oranye/putih) secukupnya (± 5 kg dalam 10 liter air).

2. Besihkan tanah dari kerikil, atau rumput.

3. Saring larutan tanah dengan serok halus 2 lapis.

4. Tanah merah yang tersaring diendapkan.

5. Lapisan air diatas suspensi tanah dibuang sehingga didapatkan suspesi tanah yang kental.

6. Simpan suspensi tanah di tempat yang sejuk ( suhu ruangan)

7. Suspensi tanah siap digunakan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian secara parsial dengan menggunakan tingkat signifikansi α = 5% (0,05) diketahui bahwa variabel leverage secara parsial berpengaruh negatif, untuk variabel

Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian diperoleh dari sumber pustaka penelitian terdahulu yang membahas terkait dengan e-government serta data yang valid dari

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 177 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang

Memberikan gambaran tentang pengaruh kesiapan kerja dan konsep diri terhadap kecemasan menghadapi wawancara kerja pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi

Tabel 6 menunjukkan hasil dari pengukuran tinggi dan jarak dimana dari hasil pengukuran tersebut diperoleh hasil bahwa tinggi tiang dan jarak antar tiang PJU

Hasil dari proses kelahiran dan kematian dapat dianggap sebagai analogi waktu kontinu dari sebuah random walk bagian 3.53 proses kelahiran dan kematian merupakan cara yang baik

 Menjembatani kebutuhan seluruh unit kerja Bank terkait dengan konsultasi maupun pemberian opini DPS atas produk dan/atau aktivitas perbankan lain yang dilakukan.  Membantu dan

Penukaran kata sifat dengan kata benda, kata benda dengan kata benda dan kata kepunyaan dengan kata benda (JJx-NNx, NNx-NNx dan PRP$-NNx) Dari keseluruhan hasil