HUKUM KELEMBAGAANDAN
PATIN Perikanan Prima
- Menghasilkan Patin sebagai bahan baku Industri pengolahan yang mempunyai kualitas berdaya saing tinggi dalam jumlah yang cukup.
- Membantu daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan patin untuk ekspor
- Mensejahterakan masyarakat pembudidaya patin di daerah tersebut Sedangkan secara umum tujuan pengembangan klaster adalah :
- Meningkatkan pertumbuhan investasi dan ekonomi lokal/daerah yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan;
- Menumbuhkan jaringan dan kemitraan usaha bagi komunitas klaster (UMKM dan Besar);
- Mewujudkan skala ekonomi usaha
secara berimbang dalam rangka meningkatkan daya saing global.
- Sasarannya adalah keterpaduan industri pengolahan hasil perikanan dari hulu sampai hilir dengan industri pendukung lainnya.
- Terbentuknya klaster per-patin-an yang mampu menanggulangi kemiskinan dan menciptakan peluang kerja.
Dari penerapan klaster pada pengembangan ikan patin, maka diharapkan :
- Meningkatkan kesejahteraan petani - Mempunyai kualitas produk akhir
yang kompetitif
- Membangun image ikan patin mampu sebagai penyangga perekonomian masyarakat.
Tabel 34. Manfaat yang akan didapatkan oleh segenap stageholder dengan adanya penerapan sistem klaster.
No Stake holder Ekspektasi Prioritasisasi
1 Petani Produk meningkat, Harga stabil
Bertambahnya pendapatan, kesejahteraan naik
2 Industri
Kualitas produk terjamin, kuantitas dan kualitas bahan baku sesuai kebutuhan dan pasar dikuasai
Meningkatkan profit, penghela perekonomian rakyat
3 Pemda Lapangan kerja bertambah PAD meningkat, kewibawaan aparat meningkat
Dalam mewujudkan penerapan sistem klaster dalam budidaya ikan patin di Indonesia perlu dukungan kelembagaan. Kelembagaan tersebut harus meliputi segenap stakeholder.
PATIN
Gambar 112. Pengembangan kelembagaan klaster patin menurut Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan (2012).
Dalam kelembagaan tersebut, masing-masing Zone memiliki tugas.
Fungsi dan kewajiban Zona I (pembudidaya) adalah :
- Bergabung dalam kelompok dan melaksanakan manajemen produksi sesuai dengan rancangan kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan pengembangan kemitraan patin;
- Melakukan budidaya patin dengan teknis budidaya yang ditetapkan oleh perusahaan
Pembina/penghela/dinas/koperasi;
- Menjual patin ke perusahaan penghela/ Pembina melalui koperasi sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
Tugas dan kewajiban zona II (Koperasi/BUMD/UPP) adalah :
- Melakukan pengawasan dan monitoring produksi kelompok pembudidaya Patin
- Melakukan pembelian, pengumpulan, sortir dan grading Patin dari kelompok pembudidaya.
- Melakukan pengemasan dan pengadaan transportasi Patin
- Mengelola, memanfaatkan, dan memelihara asset yang diadakan baik dari pemerintah, swasta atau lainnya untuk pengembangan kemitraan Patin (depo ikan segar dan fillet, (Koperasi, BUMD, BUMDES, UPP)
ZONE II
PATIN
Kewajiban Perusahaan
Penghela/Pembina :
- Menampung, membeli, menangani dan atau mengolah serta memasarkan produksi Patin
- Membantu menyediakan sarana produksi dan mengusahakan pinjaman kredit yang diperlukan Sedangkan untuk menjamin terlaksananya pengembangan klaster ini, maka berdasarkan pengalaman, pola kemitraan antara usaha budidaya ikan dengan perusahaan pengolahan/fillet patin sebaiknya berazaskan :
- Kesetaraan
- Sama-sama menguntungkan - Penyebaran resiko bersama - Pengambilan keputusan bersama - Memupuk keterbukaan
- Saling membutuhkan keberadaan satu sama lain
- Saling memperkuat
- Saling menghidupi
- Saling memiliki serta menghargai hak dan kewajiban
- Tanggung jawab
Konsep diatas ditawarkan oleh Direktorat Usaha dan Investasi, Dirjen Pengolahan Hasil dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Konsep tersebut cukup baik untuk dilaksanakan. Permasalahannya sampai tahun 2009 belum ada Model Area yang dibangun untuk dijadikan contoh kasus dalam pengembangan ikan patin dengan sistem klaster tersebut. Oleh sebab itu konsep tersebut harus secepatnya diwujudkan dengan membuat suatu Model Area Pengembangan ikan patin dengan sistem klaster. Sebagai perbandingan, dapat dilihat penerapan konsep pengembangan budidaya ikan patin terintegrasi di Vietnam.
AFA, Nafiqaved, VASEP, An Giang & Can Tho Uni, Centerof Techn.
Application and Transfer, Banks, Centerof Extension No. 9, Development Assistance Fund, Farmer‘s Association, TPCs, VCCI,
Infrastructure
Roads, Bridges, Ferries, Public Utilities , Land, Water Area, Communication, Wells
Gambar 113. Pengembangan ikan patin terintegrasi di Negara Vietnam (Cao Thanh Vân, 2007)
PATIN
7.6. BUDIDAYA IKAN PATIN YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN BERKELANJUTAN (RESPOSIBLE AND SUSTAINABLE AQUACULTURE)
Budidaya yang bertanggung jawab dan berkelanjutan harus dimulai dengan penerapan dasar-dasar ekologi perairan dalam praktek budidaya ikan. Konsep yang sudah mulai diterapkan di Indonesia (yang telah dilakukan lebih dulu di negara lain seperti China sebagai penghasil ikan air tawar terbesar didunia) adalah “Budidaya berbasis tropik level” yang dipekenalkan oleh Prof. Enang Harris dari Institut Pertanian Bogor. Dalam Budidaya berbasis tropik level dijelaskan bahwa budidaya di masa mendatang akan kembali menerapkan prinsip-prinsip ekologi, bukan seperti yang dilakukan sekarang, yaitu budidaya yang intensif/superintensif degan padat tebar tinggi dan monokultur (satu komoditas saja) seperti budidaya udang dan beberapa ikan lain. Konsep yang akan diterapkan adalah dengan menebar ikan dan organisme lain kedalam wadah budidaya sebagai ikan/organisme yang memiliki fungsi “servis”. “Servis” yang dimaksud adalah berfungsi sebagai organisme yang memanfaatkan limbah sisa buangan hasil budidaya (sisa pakan dan kotoran ikan) sehingga kondisi wadah budidaya diusahakan menjadi suatu ekosistem yang seimbang. Sebagai contoh : Budidaya ikan patin dengan ikan servis ikan tambakan, ikan mola, ikan nila dan ikan sapu-sapu, atau jenis lain.
Supaya lebih lengkap bisa ditebar bakteri probiotik sehingga proses pemanfaatan limbah lebih optimalSupaya semua berjalan dengan baik, wadah budidaya diberi aerasi.
Sistem ini bisa dilakukan secara bertingkat, Misal : Air dari kolam patin dialirkan ke kolam ikan “servis”. Selain itu dapat juga dilakukan dalam wadah yang sama, yaitu dengan cara memelihara ikan patin dalam jaring/hapa, sedangkan ikan
“servis” di luar hapa. Berdasarkan komunikasi pribadi dengan Bp. Enang Haris, limbah (sisa pakan dan kotoran ikan) yang tidak termanfaatkan oleh ikan utama, adalah lebih banyak jika dibandingkan yang termanfaatkan, sehingga ikan “servis yang ditebar, diduga akan lebih efektif jika lebih banyak daripada ikan yang diberi makan (ikan utama).
Konsep ini juga bisa diterapkan di perairan umum seperti Danau/ Waduk yang terdapat kegiatan budidaya (Karamba Jaring Apung) supaya keseimbangan ekosistem dalam perairan tersebut tetap terjaga dengan menebar
“ikan servis” di perairan umum tersebut.
Akan tetapi dalam kasus ini perlakuan tidak akan efektif jika ikan “servis” yang ditebar terlalu sedikit
.
7.7. PENERAPAN MODUL STANDARISASI DAN SERTIFIKASI INTERNASIONAL : GOOD AQUACULTURE PRACTICE (GAP), BEST AQUACULTURE PRACTICE (BAP), DAN SAFE QUALITY FOOD (SQF)
1. Desain dan Konstruksi Wadah Penerapan desain kolam yang standar untuk kolam/tambak di berbagai lokasi (lahan gambut, air payau, pegunungan dan
lainnya), demikian juga standar untuk pembuatan karamba. Pembuatan wadah budidaya juga diusahakan tanpa
PATIN