Tanaman nilam merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan diberbagai jenis lahan seperti pekarangan, sawah, kebun, dan tegalan. Namun untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, tanaman nilam memerlukan lapisan tanah yang dalam, subur, kaya humus, berstruktur gembur, dan drainase yang baik.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil keberhasilan budidaya tanaman nilam antara lain yaitu:
A. Kesesuaian Lahan dan Iklim
Lahan dan iklim sangat mempengaruhi produksi dan kualitas minyak nilam, terutama ketinggian tempat dan ketersediaan air. Nilam sangat peka terhadap kekeringan (heavy drinker), kemarau panjang setelah panen dapat menyebabkan tanaman mati. Tanaman nilam dapat tumbuh pada ketinggian 0-1.500 m di atas permukaan laut. Akan tetapi, nilam akan tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi pada tempat dengan ketinggian antara 50-400 m diatas permukaan laut. Pada dataran rendah kadar minyak lebih tinggi tetapi kadar patchouli alkohol lebih rendah, sebaliknya pada dataran tinggi kadar minyak
rendah, kadar patchouli alkohol (Pa) tinggi. Jenis tanah yang sesuai dengan tanaman nilam antara lain latosol, andosol, regosol, tumbuhan ini dapat tumbuh baik pada tanah yang gembur dengan humus yang tinggi.
Tanaman ini menghendaki suhu yang panas dan lembab, serta membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Curah hujan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman nilam berkisar antara 1.750-3.500 mm per tahun dengan penyebaran merata sepanjang tahun, suhu optimum untuk tanaman ini adalah 24-25°C. dengan kelembaban lebih dari 70-80 persen (Balitro 2009).
Intensitas penyinaran agar pertumbuhan dan produksi minyak nilam optimal adalah berkisar antara 75-100 persen. Pada tempat-tempat yang agak terlindung, nilam masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi kadar minyak lebih rendah dari pada tempat terbuka (B. S. Hieronymus 1990).
Tabel 6. Kriteria Kesesuaian Lahan dan Iklim Tanaman Nilam
Parameter
-Iklim 2.300-3.000 1.750-2.300 1.200-1.750 > 3.500 1. Curah hujan (mm) 190-200 3000-3.500 > 3500
Tanaman nilam umumnya dikembangkan secara vegetatif, yaitu dengan mempergunakan potong-potongan cabang. Bibit yang baik untuk ditanam harus
berasal dari induk yang sehat, berasal dari bahan tanaman jenis unggul dan dijamin terbebas dari kontaminasi hama da
bibit, telah dikembangkan serta penggunaan setek pendek
bahan tanaman lebih hemat, pertumbuhan bibit cepat pertumbuhan di lapangan lebih tinggi
Tanaman nilam yang umum dibudidayakan adalah nilam Aceh, karena kadar minyak dan kualitas minyak lebih tinggi dari jenis nilam Jawa dan nilam Sabun. Varietas unggulan tanaman nilam yang menj
Tapak tuan, Lhoksemawe, dan Sidikalang. T
dan kadar patchouli alkohol. Lhoksemawe kadar minyaknya tinggi sedangkan Sidikalang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda (Tabel 5).
Tabel 7. Produksi Terna Kering, Kadar Minyak, Produksi Minyak dan Kadar
Tapak Tuan, warna pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu, varietas Lhoksemawe lebih ungu
Gambar 1. Tiga Varietas Unggul Nilam
C. Pola Tanam
Umumnya tanaman nilam diusahakan secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain, seperti dengan tanaman
Tapak Tuan
berasal dari induk yang sehat, berasal dari bahan tanaman jenis unggul dan dijamin terbebas dari kontaminasi hama dan penyakit. Upaya meningkatkan
telah dikembangkan penggunaan bibit yang telah diakarkan
penggunaan setek pendek, dengan penggunaan teknik tersebut pemakaian lebih hemat, pertumbuhan bibit cepat dan keberhasilan lapangan lebih tinggi (Emmyzar dan Ferry Y. 2004).
Tanaman nilam yang umum dibudidayakan adalah nilam Aceh, karena kadar minyak dan kualitas minyak lebih tinggi dari jenis nilam Jawa dan nilam
unggulan tanaman nilam yang menjadi koleksi Balitro
Tapak tuan, Lhoksemawe, dan Sidikalang. Tapak Tuan unggul dalam produksi dan kadar patchouli alkohol. Lhoksemawe kadar minyaknya tinggi sedangkan Sidikalang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda (Tabel 5).
roduksi Terna Kering, Kadar Minyak, Produksi Minyak dan Kadar
Varietas tersebut dapat dibedakan dari warna pangkal batang
Tapak Tuan, warna pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu, varietas Lhoksemawe lebih ungu dan varietas Sidikalang paling ungu (Gambar 1).
Gambar 1. Tiga Varietas Unggul Nilam
Umumnya tanaman nilam diusahakan secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain, seperti dengan tanaman
Sidikalang Lhokseumawe
berasal dari induk yang sehat, berasal dari bahan tanaman jenis unggul dan paya meningkatkan mutu penggunaan bibit yang telah diakarkan lebih dahulu tersebut pemakaian dan keberhasilan (Emmyzar dan Ferry Y. 2004).
Tanaman nilam yang umum dibudidayakan adalah nilam Aceh, karena kadar minyak dan kualitas minyak lebih tinggi dari jenis nilam Jawa dan nilam adi koleksi Balitro yaitu apak Tuan unggul dalam produksi dan kadar patchouli alkohol. Lhoksemawe kadar minyaknya tinggi sedangkan Sidikalang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda (Tabel 5).
roduksi Terna Kering, Kadar Minyak, Produksi Minyak dan Kadar
dakan dari warna pangkal batangnya. Varietas Tapak Tuan, warna pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu, varietas
ikalang paling ungu (Gambar 1).
Umumnya tanaman nilam diusahakan secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain, seperti dengan tanaman
Lhokseumawe
palawija (jagung, cabe, terung, dan lainnya). Selain dengan tanaman palawija, nilam dapat dipolatanamkan dengan tanaman tahunan seperti diantara kelapa, kelapa sawit, karet yang masih berumur muda, karena tanaman nilam masih berproduksi dengan baik pada intensitas cahaya minimum 75 persen. Semua tanaman dapat ditumpangsarikan dengan nilam dengan syarat tidak menimbulkan persaingan dalam hal penyerapan unsur hara, air, dan cahaya matahari dan tidak merupakan sumber hama atau penyakit bagi tanaman nilam sebaiknya yang saling menguntungkan. Oleh sebab itu, waktu dan jarak tanaman antara sesama tanaman pokok dan antara tanaman pokok dengan tanaman sela harus diperhitungkan dengan cermat (Emmyzar dan Ferry Y. 2004).
Nilam yang ditanam dibawah naungan akan tumbuh lebih subur, daun lebih lebar dan tipis serta hijau, tetapi kadar minyaknya rendah. Tanaman nilam yang ditanam di tempat terbuka, pertumbuhan tanaman kurang rimbun, habitus tanaman lebih kecil, daun agak kecil dan tebal, daun berwarna kekuningan dan sedikit merah, tetapi kadar minyaknya lebih tinggi sebaiknya pada awal pertumbuhan diberi sedikit naungan, karena nilam rentan terhadap cekaman kekeringan (B. S. Hieronymus 1990).
D. Jarak Tanam
Jarak tanam akan menentukan populasi tanaman dan luas permukaan daun yang aktif melakukan fotosintesa sehingga akan mempengaruhi kompetisi tanaman dalam penggunaan cahaya, air dan unsur hara, kerapatan yang tinggi kompetisi akan tinggi dibandingkan dengan yang lebih jarang. Jarak tanam yang ideal adalah sesuai bagi perkembangan tanaman bagian atas serta tersedianya ruang bagi perkembangan perakaran dalam tanah yaitu antara 75-100 cm antar baris dan 50 – (75 – 100) cm dalam baris. Pada lahan datar dan subur dapat digunakan jarak tanam yang lebih lebar misalnya 100 x 100 cm, sedangkan dilahan miring jarak tanam yag digunakan lebih sempit misalnya 50 x 75 cm atau 75 x 75 cm. Kebutuhan bibit tergantung dengan jarak tanam ini (Emmyzar dan Ferry Y. 2004).
E. Pemupukan
Menurut Wahid et al, diacu dalam Emmyzar dan Ferry Y. (2004) Tanaman nilam termasuk tanaman yang memerlukan unsur hara cukup tinggi, untuk mempertahankan produksi agar tetap optimal maka pemberian pupuk sangat menentukan, dan rekayasa pemupukan akan mempengaruhi rendemen minyak yang dihasilkan oleh tanaman nilam (Emmyzar dan Ferry Y. 2004).
F. Pemeliharaan dan Pemanenan
Nilam memerlukan pemeliharaan yang intensif terutama pada awal pertumbuhan dan setelah panen. Pemeliharaan yang dilakukan berupa penyulaman tanaman yang mati, penyiangan, pembumbunan, pemangkasan, pemupukan dan pemberian mulsa. Pemberian pupuk dan mulsa sangat penting sekali dilakukan terutama setelah panen pertama (umur 6 bulan), tujuannya guna merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru.
Tanaman nilam dapat dipanen pertama kali saat umur tanaman 6-8 bulan, dan panen berikutnya dilakukan setiap 3-4 bulan sampai tanaman berumur tiga tahun. Setelah itu sebaiknya tanaman diremajakan, karena hasilnya sudah makin menurun. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau menjelang malam hari agar kandungan minyaknya tetap tinggi. Bila pemetikan dilakukan siang hari, sel-sel daun sedang berfotosintesa sehingga laju pembentukan minyak berkurang, daun kurang elastis dan mudah robek. Di samping itu, pada siang hari transpirasi daun berlangsung lebih cepat sehingga jumlah minyak yang dihasilkan berkurang.
Panen sebaiknya dilakukan sebelum daun nilam menjadi coklat kemerahan, karena daun yang berwarna coklat kemerahan rendemen minyak sudah berkurang.
Kandungan minyak tertinggi terdapat pada 3 pasang daun termuda yang masih berwarna hijau. Alat untuk panen dapat menggunakan sabit dengan cara memangkas tanaman pada ketinggian 15-30 cm dari permukaan tanah. Ada baiknya kalau setiap kali panen ditinggalkan satu tanaman tetap tumbuh untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru pada fase selanjutnya.
G. Penanganan Hasil Panen
Hasil pangkasan tanaman nilam dipotong-potong sepanjang 3-5 cm kemudian dijemur selama 1-2 hari atau dijemur 5 jam dan dikering anginkan selama 2-3 hari untuk mengurangi kadar airnya sampai 15 persen. Pengeringan yang terlalu cepat membuat daun menjadi rapuh dan sulit disuling. Kalau terlalu lambat seperti musim hujan, daun menjadi lembab dan mudah terserang jamur, hingga redemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah.