BAB II PENGATURAN YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK
A. Bukti Elektronik Menurut Hukum Acara Pidana di Indonesia
Masalah pembuktian tidak terlepas dari alat bukti. alat bukti adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat bukti tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran tentang adanya suatu tindak pidana yang dilakukan terdakwa.82 sebab seorang terdakwa tidak dapat dijatuhi hukuman, kecuali dapat dibuktikan bahwa ia bersalah telah melakukan sesuatu tindak pidana sebagaimana yang telah didakwakan kepadanya sebelumnya.83 Sebagaimana Menurut Pasal 183 KUHAP, hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Andi Hamzah menyatakan bahwa bukti adalah sesuatu untuk meyakinkan kebenaran suatu dalil, pendirian atau dakwaan. Alat-alat bukti ialah upaya pembuktian melalui alat-alat yang diperkenankan untuk dipakai membuktikan dalil-dalil, atau dalam perkara pidana dakwaan di sidang pengadilan, misalnya keterangan terdakwa, kesaksian, keterangan ahli, surat dan petunjuk, dalam perkara perdata termasuk persangkaan dan sumpah.84
82 Alfitra, Hukum Pembuktian dalam Beracara Pidana, Perdata dan Korupsi di Indonesia, Raih Asa Sukses, Jakarta, 2011, hal. 23
83 Monang Siahaan, Falsafah dan Filosofi Hukum Acara Pidana, Grasindo, Jakarta, 2017, hal. 36
84 Efa Laella Fakhriah, Bukti Elektronik Dalam Sistem Pembuktian Perdata, Refika Aditama, Bandung, 2017. hal.11
Pada dasarnya pengaturan alat bukti dalam perkara pidana masih mengacu kepada alat bukti dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), maka alat bukti yang dinilai memiliki kekuatan hukum atau sah adalah terbatas pada alat bukti yang dimuat dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. namun kemajuan teknologi menyebabkan munculnya kejahatan-kejahatan baru yang menyebabkan penggunaan alat bukti yang baru dan modren menyebabkan penggunaan alat bukti yang terdapat dalam KUHAP saja tidak cukup dalam pembuktian perkara pidana, perkembangan alat bukti dalam hukum acara pidana mengalami perkembangan dan perluasan ke arah satu penggunaan alat bukti yang baru, yaitu alat bukti elektronik (electronic evidence). Pengaturan tentang alat bukti elektronik ini diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Bentuk dan penggunaan alat bukti elektronik berbeda-beda, tergantung ketentuan khusus yang terdapat dalam masing-masing peraturan perundang-undangan, mengenai ketentuan alat bukti elektronik.
Pengaturan alat bukti elektronik dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia secara eksplisit tidak dapat ditemukan dalam KUHAP, namun seiring dengan laju perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga mendorong munculnya kejahatan-kejahatan dan tindak pidana baru, maka diperlukan peraturan perundang-undagan yang sesuai dengan pembangunan dan kebutuhan masyarakat, hal ini sejalan dengan pemikiran Eugen Ehrlich yang menyatakan bahwa dalam membuat undang-undang hendaklah diperhatikan apa yang hidup
65
dalam masyarakat.85 maka pengaturan alat bukti elektronik dinilai penting dan semakin dibutuhkan86
Sebelum berlakunya undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, pemerintah telah mengesahkan beberapa peraturan perundang-undangan terkait bukti elektronik sebagai salah satu alat bukti. Pengaturan tersebut dituangkan dalam beberapa perauran yang memuat ketentuan tindak pidana khusus. Beberapa regulasi tindak pidana khusus tersebut meliputi Undang-Undang No.20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang No. 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, Undang-Undang No. 25 tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian uang Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.87 Kemudian pada tahun 2008 lahirlah Undang-Undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, lahirnya undang-undang ini untuk memberikan kepastian hukum di bidang informasi dan transaksi elektronik.
Dalam undang-undang pidana khusus, alat bukti elektronik dirumuskan secara tegas dan mempunyai kekuatan sebagai alat bukti yang sah. Namun
85 Efa Laella Fakhriah,Op.Cit., 2011. hal. 86
86 Syaibatul Hamdi, Suhaimi, dan Mujibussalim, “Jurnal Ilmu Hukum Bukti Elektronik dalam Sistem Pembuktian Pidana”, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Vol.1, No.4, November 2013.hal.30, http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/MIH/article/view/4564 diakses pada 15 Desember 2018, Pukul 16.45 WIB
87Ibid., hal.27
demikian, dalam perundang-undangan pidana yang mengatur alat bukti elektronik tersebut terdapat perbedaan kebijakan mengenai status alat bukti digital atau alat bukti elektronik, yaitu dalam perundang-undangan yang satu alat bukti elektronik diakui sebagai perluasan alat bukti petunjuk, sedangkan dalam perundang-undangan yang lain diakui sebagai alat bukti yang berdiri sendiri.88 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 merupakan jawaban dari permasalahan utama dalam perkembangan kejahatan yang berbasis teknologi informasi (cybercrime) dan mampu mengakomodasi alat bukti yang paling diperlukan dalam kejahatan itu, yaitu alat bukti elektronik berupa informasi elektronik dan dokumen elektronik.89
Pengertian Informasi Elektronik menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.19 Tahun 2016, adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terlepas pada tulisan, suara , gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronik mail), telegram, teleks, telecopy, atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Sedangkan yang dimaksud dengan Dokumen Elektronik menurut Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016, adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetic, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik,
88 Sigid Suseno, Yuridiksi Tindak Pidana Siber, Refika Aditama, Bandung, 2012. hal.22
89Alcadini Wijayanti, “Perkembangan Alat Bukti dalam Pembuktian Tindak Pidana Berdasarkan Undang-Undang Khusus dan Implikasi Yuridis Terhadap KUHAP”, Dipenogoro Law Review,Vol.1,No.4,2012.hal.3, https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/dlr/article/view/1015 diakses pada 27 Desember 2018 Pukul 05.30
67
termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, menyatakan informasi dan dokumen elektronik merupakan alat bukti yang sah. Kemudian di dalam ayat (2) pasal itu menegaskan, bahwa informasi dan elektronik dan dokumen elektronik merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Penegasan informsai dan dokumen elektronik sebagai alat bukti juga dicantumkan dalam Pasal 44 Undang-Undang No.11 Tahun 2008, yang rumusannya “alat bukti penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan menurut ketentuan undang-undang ini adalah sebagai berikut :90
a. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perundang-undangan; dan b. Alat bukti lain berupa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dan angka 4 serta Pasal 5 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).”
Sesuai dengan dengan Pasal 5 ayat (1) Jo. Pasal 44 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008, maka status bukti elektronik merupakan alat bukti yang berdiri sendiri dan merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sebagaimana diatur
90Ramiyanto, “Bukti Elektronik Sebagai Alat Bukti Yang Sah Dalam Hukum Acara Pidana”, Jurnal hukum dan Peradilan, Vol. 6, No. 4, November 2017. hal.470, https://www.researchgate.net/publication/321370703_bukti_elektronik_sebagai_alat_bukti_yang_s ah_dalam_hukum_acara_pidana_electronic_evidence_as_an_admissible_evidence_in_criminal_la w diakses pada 15 Desember 2018, Pukul 16.45 WIB
dalam hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia, sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti di persidangan. Status bukti elektronik sebagai alat bukti yang berdiri sendiri juga dapat digunakan dalam kaitannya dengan tindak pidana terorisme (Pasal 38 Undang-Undang No. 9 Tahun 2013 Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ), tindak pidana pencucian uang (Pasal 73 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang), tindak pidana narkotika (Pasal 86 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika), dan tindak pidana perdagangan orang (Pasal 20 Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang).91
Kemudian status bukti elektronik sebagai perluasan alat bukti yang sah digunakan untuk pembuktian tindak pidana korupsi. Hal itu dapat dilihat dalam Pasal 26A Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang rumusannya: “Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud Pasal 188 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari:92
a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan b. Dokumen, yakni setiap rekaman dan atau informasi yang dapat dilihat,
dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain
91 Ibid., hal.470-471
92 Ibid.
69
kertas, maupun yang terekam secara elektronik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.”
Di dalam penjelasan Pasal 26A Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan
“disimpan secara elektronik” misalnya data yang disimpan dalam mikrofilm, Compact Disk Read Only Memory (CD-ROM) atau Write Once Read Many (WORM). Yang dimaksud dengan “alat optik atau yang serupa dengan itu” dalam ayat ini tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange), surat elektronik (e-mail), telegram, dan faksimile. Merujuk pada ketentuan Pasal 26A Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 berserta penjelasannya tersebut, maka status bukti elektronik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bukti petunjuk.93
Pada Pasal 188 ayat (1) KUHAP, disebutkan petunjuk adalah perbuatan kejadian, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Dalam ayat (2) pasal itu ditentukan, bahwa petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa. M. Yahya Harahap mengemukakan,94 bahwa Pasal 182 ayat (2) KUHAP membatasi kewenangan hakim dalam cara memperoleh alat bukti petunjuk. Sumber yang dapat digunakan mengkonstruksi alat bukti petunjuk,
93 Ibid.
94 M. Yahya Harahap, Op.Cit., hal.315
terbatas dari alat-alat bukti yang secara limitatif ditentukan Pasal 188 ayat (2).
Dalam ketentuan itu secara tegas sudah menetapkan dengan perkataan “hanya”.
Petunjuk “hanya” dapat diperoleh dari: keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa. Dari perkataan “hanya”, tampaknya sudah secara “limitatif” ditentukan, yang berarti dilarang mencari dan memperoleh petunjuk dari bukti keterangan ahli. Apabila ketentuan Pasal 188 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP dikaitkan dengan Pasal 26A Undang-Undang No. 20 Tahun 2001, maka saat ini alat bukti petunjuk berasal dari keterangan saksi, surat, keterangan terdakwa, dan bukti elektronik berupa informasi dan dokumen.
Dengan demikian dapatlah dipahami, bahwa bukti elektronik yang berupa informasi dan/atau dokumen elektronik merupakan alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana. Dalam hal ini, bukti elektronik berstatus sebagai pengganti surat, alat bukti yang berdiri sendiri, dan perluasan dari bukti petunjuk. ketiga status bukti elektronik itu tidak terdapat di dalam KUHAP, namun pengaturannya terdapat dalam beberapa undang-undang khusus dan instrumen hukum yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung. ketiga status bukti elektronik tersebut dapat disempitkan lagi menjadi 2 (dua), yaitu alat bukti yang berdiri sendiri dan alat bukti yang tidak berdiri sendiri (pengganti surat dan perluasan bukti petunjuk).95
Pengaturan bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah diatur dalam Pasal 5 dan 6 Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dalam ketentuan Pasal 5 tetap dengan perubahan penjelasan ayat (1) dan ayat (2)
95 Ramiyanto, Loc.Cit., hal.472
71
sehingga penjelasan Pasal 5 sebagaimana ditetapkan dalam penjelasan pasal demi pasal dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2016. Adapun ketentuan Pasal 5 tersebut sebagai berikut:
Pasal 5
(1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.
(3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang- Undang ini.
(4) Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:
a. surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan
b. surat beserta dokumennya yang menurut Undang- Undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.
Pasal 6
“Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang diatur dalam Pasal 5 ayat (4) yang mensyaratkan bahwa suatu informasi harus berbentuk tertulis atau asli, Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan”
Pada Penjelasan umum Undang-Undang No.19 Tahun 2016, Perubahan penjelasan Pasal 5 Undang-Undang No.11 Tahun 2008 dipengaruhi putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XIV/2016, mahkamah konstiusi berpendapat bahwa untuk mencegah terjadinya perbedaan penafsiran terhadap Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU ITE, mahkamah menegaskan bahwa setiap intersepsi harus dilakukan secara sah, terlebih lagi dalam rangka penegakan hukum. Oleh karena itu mahkamah dalam amar putusannya menambahkan kata
atau frasa “khususnya” terhadap frasa :informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik”. agar tidak terjadi penafsiran bahwa putusan tersebut akan mempersempit makna atau arti yang terdapat di dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU ITE, untuk memberikan kepastian hukum keberadaan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagai alat bukti perlu dipertegas kembali dalam penjelasan Pasal 5 UU ITE. Perubahan penjelasan tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang No.19 Tahun 2016, sebagai berikut :
Pasal 5
(1) Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.
(2) Khusus untuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik berupa hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.
Merujuk pada Pasal 5 ayat (3) dan ayat (4) Jo. Pasal 6 Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 beserta penjelasannya, maka bukti elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik yang telah ditentukan, serta dianggap sah sebagai alat bukti untuk pembuktian tindak pidana sepanjang yang tercantum di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan.96
96 Ibid., hal.475
73