BAB II PENGATURAN YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK
C. Perkembangan Pengaturan Yang Berkaitan Dengan Bukti
Pengaturan bukti elektronik memiliki sejarah yang panjang dan akan terus berkembang, hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya peraturan perundang-undangan yang pernah berlaku dan digunakan dalam menangani permasalahan dalam pembuktian tindak pidana informasi dan transaksi elektronik, sebelum berlakunya peraturan perundang-undangan yang mengatur keabsahan bukti elektronik, perihal bukti elektronik telah diatur terlebih dahulu di dalam Surat Edara Mahkamah Agung (SEMA) RI tanggal 14 Januari 1988 No.39/TU/88/102/Pid, yang memberikan pendapat bahwa microfilm atau microfiche dapat dipergunakan sebagai bukti yang sah108 dalam perkara pidana di pengadilan menggantikan alat bukti surat, dengan catatan microfilm itu sebelumnya dijamin otentikasinya yang dapat ditelusuri kembali dari registrasi
107 Andi Muhammad Sofyan dan Abd. Asis, Op. Cit., hal.259
108 Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor:39/TU/88/102/Pid, yang dikeluarkan Pada Tanggal 14 Januari 1988
83
maupun berita acara.109 berikut peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bukti elektronik yang berlaku dan pernah digunakan dalam pembuktian tindak pidana informasi dan transaksi elektronik di indonesia.
1. Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan
Undang-Undang Dokumen Perusahaan merupakan cikal bakal mulai diakuinya bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah dan dapat digunakan di persidangan. Hal tersebut dapat dilihat pada bab III (ketiga) tentang Pengalihan Bentuk Dokumen Perusahaan dan Legalisasi, Pasal 12 ayat (1) menyatakan, dokumen perusahaan dapat dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya.
Kemudian dalam Pasal 15 ayat (1), berbunyi : Dokumen Perusahaan yang telah dimuat dalam mikrofilm atau media yang lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah.
Berdasarkan penjelasan pasal demi pasal, yang dimaksud dengan mikrofilm adalah film yang memuat rekaman bahan tertulis, tercetak, tergambar dalam ukuran yang sangat kecil. Sedangkan media lainnya adalah alat penyimpan informasi yang bukan kertas dan mempunyai tingkat pengamanan yang dapat menjamin keaslian dokumen yang dialihkan atau ditransformasikan, misalnya Compact Disk-Read Only Memory (CD-ROM), dan Write-Once-Read-Many (WORM).
Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah bahwa dengan undang-undang Dokumen Perusahaan mulai ada pengaturan dokumen elektronik sebagai alat bukti, meskipun terbatas pada dokumen perusahaan. Undang-undang ini hanya
109 Hari Sasangka dan Lily Rosita, Op.Cit., hal.63
mengatur mengenai peralihan dari kata tertulis ke dalam bentuk data elektronik.
sehingga dapat dikatakan munculnya undang-undang Dokumen Perusahaan merupakan awal mula diakuinya bukti elektronik berupa dokumen elektronik sebagai alat bukti yang dapat diajukan ke pengadilan.110
Abdul Gani Abdullah, Dirjen Administrasi Hukum Umum, Departemen Kehakiman dan HAM, menyatakan isi SEMA No.39/TU/88/102/Pid Pasal 15 tersebut jika dikaitkan dengan Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, dapat diartikan bahwa mikrofilm tersmasuk sebagai alat bukti surat. Menurutnya berdasarkan undang-undang Dokumen Perusahaan tersebut dapat diketahui bahwa alat bukti surat tidak hanya tertulis di atas kertas, namun juga yang tersimpan dalam mikrofilm atau media lainnya.111
2. Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 21 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Pengaturan alat bukti dalam undang-undang ini terdapat pada Pasal 26 A yang menyatakan: Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :
a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan air optik atau yang serupa dengan itu; dan
110 Efa Laela Fakhriah, Op.Cit., 2017. hal. 86
111 https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol6004/sudah-banyak-uu-akui-alatbukti-elektronik diakses pada 10 Januari 2019, Pukul 16.30 WIB.
85
b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dijabat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.
Berdasarkan undang-undang ini, ada perluasan mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah berupa petunjuk. Berdasarkan Pasal 188 ayat (2) KUHAP, bahwa alat bukti petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa, tetapi menurut undang-undang ini, bukti petunjuk juga dapat diperoleh dari alat bukti lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26A tersebut.
Pada penjelasan Pasal 26A huruf a yang dimaksud dengan “disimpan secara elektronik” misalnya data yang disimpan dalam mikro film, Compact Disk Read Only Memory (CD-ROM) atau Write Once Read Many (WORM).Yang dimaksud dengan “alat optik atau yang serupa dengan itu” dalam ayat ini tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange), surat elektronik (e-mail), telegram, teleks, dan faksimili.
Pada Pasal 26A tersebut telah diatur secara jelas bahwa alat bukti lainnya yang bersifat elektronik merupakan bagian dari alat bukti petunjuk. Dalam perkembangannya pasal ini pun telah dilakukan pengujian bersamaan dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan (2) serta Pasal 44 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tenang Informasi dan Transaksi Elektronik. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 20/PUU-XIV/2016 tanggal 7 September 2016 yang
memutuskan bahwa frase informasi elektronik dan/atau data elektronik dalam Pasal 26A UU Tipikor bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai khususnya frase informasi elektronik dan/atau data elektronik sebagai alat bukti dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang No.19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.112
3. Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang.
Undang-Undang Terorisme telah memberikan pengaturan ataupun mengakui keberadaan alat bukti elektronik, dalam hal ini undang-undang Terorisme telah mengakui bukti elektronik untuk dapat dipergunakan sebagai salah satu alat bukti yang sah untuk dapat digunakan dalam rangka pembuktian terorisme. sebelumnya Alat bukti yang digunakan dalam pembuktian terorisme yaitu yang tercantum dalam Pasal 184 KUHAP, dinilai masih sulit dalam pembuktian kasus terorisme yang semakin berkembang seiring perkembangan zaman, Pengaturan mengenai bukti elektronik dalam undang-undang Terorisme diatur dalam Bab V tentang Penyidikan, Penuntutan, dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan, pada Pasal 27 menyatakan:
112Vidya Prahassacitta, “CCTV Sebagai Alat Bukti Pidana Pasca Putusan Mk 20/Puu-Xiv/2016”, http://business-law.binus.ac.id/2016/11/22/kedudukan-cctv-sebagai-alat-bukti-hukum-pidana-pasca-putusan-mk-2016/ diakses pada tanggal 10 Januari 2019, Pukul 16.30 WIB.
87
Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi :
1. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;
2. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan 3. data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada :
a) tulisan, suara, atau gambar;
b) peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
c) huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
sebagai contoh,113 kasus Abu Bakar Ba’asyir salah satu bukti eksistensinya penggunaan pembuktian dengan alat bukti elektronik dalam kasus tindak pidana terorisme sesuai dengan Pasal 27 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Terorisme.
Terlihat dalam putusan Nomor: 148/Pid.B/2011/PN.Jkt.Sel yang dilakukan oleh Terdakwa ABU BAKAR BIN ABUD BAASYIR alias ABU BAKAR BAASYIR, tempat lahir Jombang, umur 72 Tahun, jenis kelamin Laki-laki, kebangsaan Indonesia, agama Islam, tempat tinggal Ngruki RT.006/RW.017 Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, pekerjaan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki. Dalam bagian
113Hani Amalia Susilo, “Eksistensi Penggunaan Alat Bukti Elektronik Dalam Pembuktian Tindak Pidana Terorisme”, Jurnal Poenale Fakultas Hukum Universitas Negeri Lampung, Vol.5, No.2, 2017. hal.3-4, http://jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/pidana/article/view/825 diakses pada 15 Desember 2018, Pukul 16.45 WIB
pertimbangan Majelis Hakim, Menimbang bahwa dalam persidangan juga telah diajukan alat bukti berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang, yaitu sebagai berikut:
1) Rekaman Video pelatihan militer diPegunungan Jalin Jantho Aceh.
2) Call Data Record (CDR) terhadap Nomor: Terdakwa, Lutfi Haidaroh dan Haris AI Falah.
3) Selayang pandang Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) dan Hierarki Struktural JAT.
4) Bill RM Abu Nawas.
5) Surat Terdakwa kepada 4 instansi (Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Rl dan Densus 88.
6) Bill Pembayaran Wisma Anggrek di Banda Aceh An.Bpk. Eko Purwanto.
Berdasarkan kasus Abu Bakar Ba’asyir tersebut, dapat dilihat bahwa bukti elektronik dalam pembuktian kasus terorisme sangat diperlukan mengingat perkembangan kejahatan yang berkembang dengan cepat, dapat juga ditarik kesimpulan bahwa undang-undang Terorisme tidak hanya mengakui alat bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah tetapi juga telah dilaksanakan dalam penegakan hukum di Indonesia.
89
4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi
Pengaturan tentang alat bukti dalam Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dimuat dalam Pasal 44 ayat (2), yaitu: “Bukti permulaan yang cukup dianggap telah ada apabila telah ditemukan sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti, termasuk dan tidak terbatas pada informasi atau data yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan baik secara biasa maupun elektronik atau optik” berdasarkan Pasal 44 ayat (2) tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi mengakui keberadaan alat bukti elektronik dan dapat digunakan sebagai bukti permulaan pada tindak pidana korupsi.
Berkaitan dengan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi yang diatur dalam Pasal 12 huruf a, bahwa tindakan penyadapan dan merekam suara sebagai bagian dari tindakan yang boleh dilakukan oleh Tim KPK dalam melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. Namun, penyadapan tersebut harus dilakukan setelah adanya dugaan kuat yang diperoleh dari laporan hasil pengawasan (indikasi) dan bukti permulaan yang cukup, dan mengikuti prosedur yang benar menurut hukum dan dapat dipertanggungjawabkan, hal ini sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) serta dengan penjelasannya dala Undang-Undang No.19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Pengaturan bukti elektronik dalam undang-undang KPK, memberikan banyak dampak positif dalam penanganan tindak pidana korupsi yang berkaitan
dengan informasi dan transaksi elektronik. sebagai contoh kasus Percobaan Suap terhadap auditor Badan Pemeriksa Keuangan, Khairiansyah Salman, oleh anggota Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah. Pada Awal 2005 Badan Pemeriksa Keuangan menemukan keganjilan dalam proyek oengadaan kotak suara. Mulyana melobi khairiansyah, seorang auditor proyek, untuk menyembunyikan penyimpangan dalam audit. Maka atas laporan Khairiansyah, KPK melakukan penyadapan dengan memasang kamera CCTV di salah satu kamar hotel tempat penyerahan uang.114 Berdasarkan Putusan No.
03/PID.B/TPK/2005/PN.JKT.PST tanggal 12 Semptember 2005, Mulyana Wira Kusumah divonis dua tahun tujuh bulan penjara.115
5. Undang No. 25 Tahun 2003 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang jelas mengatur perihal alat bukti yang yang dapa digunakan dalam pemeriksaan tindak pidana pencucian uang, hal tersebut terdapat pada Pasal 38 Undang-Undang Tindap Pidana Pencucian Uang, yaitu:
Alat bukti pemeriksaan tindak pidana pencucian uang berupa:
a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;
b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu;
dan
114 Tim Liputan Khusus KPK, Seri Buku Tempo: KPK Tak Lekang, Kepustakaan Populer Gramedia, jakarta, 2013, hal.45
115 https://acch.kpk.go.id/id/jejak-kasus/114-mulyana-wira-kusumah diakses pada tanggal 10 Januari 2019, Pukul 16.30 WIB.
91
c. dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 7.
Pada Pasal 1 angka 7 berbunyi, Dokumen yang dimaksud yaitu data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau tanpa bantuan sarana baik yang tertuang di kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada :
a) Tulisan, suara, atau gambar;
b) Peta, rancangan, foto atau sejenisnya;
c) Huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
Pada perkembangannya tindak pidana pencucian uang semakin kompleks, melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan modus yang semakin variatif, sehingga upaya yang telah dilakukan dalam penanganan tindak pidana pencucian uang belum optiman, antara lain karena peraturan perundang-undangan yang ada ternyata masih memberikan ruang timbulnya penafsiran yang berbeda-beda, adanya celah hukum, kurang tepatnya pemberian sanksi, belum dimanfaatkannya pergeseran bebab pembuktian, keterbatasan akses informasi, sempitnya kewenangan dari para pelaksana undang-undang, maka untuk memenuhi kepentingan nasional dan menyesuaikan dengan standar internasional, maka dibentuklah Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dalam Pasal 99 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010, saat diundangkan yaitu pada tanggal 22 oktober 2010, mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi Undang-Undang No. 25 Tahun
2003 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
6. Undang-Undang No. 8 tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang sebelumnya telah mengatur mengenai bukti elektronik, namun dalam undang-undang ini mengatur lebih jelas dan lebih banyak penggunaan bukti elektronik. Pengaturan mengenai bukti elektronik yang tidak terdapat dalam undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang yang lama dapat dilihat sebagai berikut :
Pasal 44 (1) huruf h, yaitu:
“Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf d, PPATK dapat:
merekomendasikan kepada instansi penegak hukum mengenai pentingnya melakukan intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”
Pasal 73
Alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana Pencucian Uang ialah:
a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana; dan/atau b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima,
atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan Dokumen.
Dalam penjelasan Pasal 24 ayat (1), bahwa Rincian daftar Transaksi yang wajib dibuat dan disimpan pada dasarnya sama dengan Transaksi tunai yang seharusnya dilaporkan kepada PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Daftar dapat dibuat dalam bentuk elektronik sepanjang dapat dijamin bahwa data atau informasi tersebut tidak mudah hilang atau rusak.
93
Pada penjelasan Pasal 42 Yang dimaksud dengan “menyelenggarakan sistem informasi” salah satu maksudnya adalah mengumpulkan, mengevaluasi data dan informasi yang diterima oleh PPATK secara manual dan elektronik.
7. Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam undang-undang pidana khusus, yang memuat ketentuan bukti elektronik dirumuskan tegas dan mempunyai kekuatan sebagai alat bukti yang sah. Namun demikian, dalam perundang-undangan pidana yang mengatur alat bukti elektronik tersebut terdapat perbedaan, yaitu dalam perundang-undangan yang satu alat bukti diakui sebagai perluasan alat bukti petunjuk dan perundang-undangan yang lain diakui sebagai alat bukti yang beridi sendiri. Tersebarnya pengaturan bukti elektronik dibeberapa peraturan perundang-undangan seperti yang dijelaskan diatas, mengakibatkan alat bukti elektronik hanya dapat digunakan dalam hal atau tindak pidana tertentu saja.
Oleh karena lahirnya Undang-Undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elekronik merupakan jawaban atas persoalan tersebut.
Berdasarkan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan bahwa alat bukti elektronik yang terdiri dari informasi elektronik dan dokumen elektronik diakui sebagai alat bukti yang sah. Pengakuan informasi elektronik dan dokumen elektronik sebagai alat bukti tersebut termasuk juga hasil cetaknya. Namun demikian dalam Pasal 5 ayat (2) terdapat rumusan yang dapat ditafsirkan secara sempit bahwa alat bukti elektronik bukan alat bukti yang berdiri sendiri yang mempunyai kedudukan yang sama dengan lima alat
bukti dalam KUHAP, tetapi hanya perluasan dari alat bukti dalam KUHAP.
Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, dengan adanya undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik ini, alat bukti elektronik dapat berlaku sebagai alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana di Indonesia, terkhusus yang berkaitan dengan tindak pidana Informasi dan transaksi elektronik.
8. Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Pembentukan undang-undang ini, sebenarnya berkaitan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi RI No. 20/PUU-XVI/2016. Putusan itu merupakan hasil pemeriksaan uji materi (judicial review) yang diajukan oleh Setya Novanto melalui kuasa hukumnya terkait ketentuan bukti elektronik (informasi dan/atau dokumen elektronik) berupa hasil penyadapan (intersepsi) dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 44 huruf b Undang-Undang No.11 Tahun 2008 serta Pasal 26A Undang No.20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Di dalam putusannya tersebut, Mahkamah menyatakan bahwa bukti elektronik (informasi dan/atau dokumen elektronik) termasuk hasil penyadapan (intersepsi) dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah, apabila diperoleh secara sah yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau instansi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang. Apabila bukti elektronik tidak diperoleh secarah sah, maka hakim
95
mengesampingkan atau menganggap tidak mempunyai nilai pembuktian di pengadilan.116
Berkaitan dengan alat bukti, maka undang-undang No. 19 Tahun 2016, menegaskan kembali ketentuan keberadaan Informasi Elekronik dan/atau Dokumen Elektronik dalam penjelasan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2). Berikut penjelasannya:
Penjelasan Pasal 5 ayat (1) berbunyi:
“Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik”
Penjelasan Pasal 5 ayat (2) berbunyi:
“Khusus untuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik berupa hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang”
Berdasarkan perubahan tersebut, kini bukti elektronik lebih tegas dan jelas pengaturannya, sehingga meminimalisir persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi hukum pidana dalam menangani kasus tindak pidana informasi dan transaksi elektronik dan memperlancar proses pembuktian dalam hukum acara pidana.
116 Ramiyanto, Loc.Cit., hal.476
96 BAB IV
PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA AKSES KOMPUTER DAN/ATAU SISTEM ELEKTRONIK SECARA ILEGAL DALAM ORDER FIKTIF TAXI ONLINE BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO.11 TAHUN
2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK (STUDI PUTUSAN NO. 1502/PID.SUS/2018/PN.MDN)
C. Prinsip Minimum Pembuktian dalam Hukum Acara Pidana Indonesia Prinsip minimum pembuktian atau lazim disebut dengan asas minimum pembuktian merupakan prinsip yang mengatur batas yang harus dipenuhi untuk membuktikan kesalahan terdakwa, batas yang harus dipenuhi ini maksudnya berkaitan dengan Pasal 183 KUHAP, yaitu hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwa lah yang bersalah melakukannya.
Berdasarkan Pasal 183 KUHAP tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip minimum pembuktian mengatur sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ditambah keyakinan hakim yang menjadi dasar ataupun patokan bagi hakim dalam menjatuhkan vonis bersalah atau tidaknya terdakwa.
Eddy OS Hiariej117 berpendapat dalam konteks prinsip minimum pembuktian selalu terjadi perdebatan apakah dua alat bukti yang dimaksud bersifat kualitatif ataukah kuantitatif. Bersifat kualitatif berarti harus ada dua alat bukti dari lima alat bukti yang ada: apakah satu keterangan saksi dan surat, atau satu keterangan saksi dan satu keterangan ahli, atau satu keterangan ahli dan satu
117Eddy OS Hiariej. “Menakar Bukti Minimum”,
https://nasional.kompas.com/read/2012/07/02/03041542/menakar.bukti.minimum diakses pada 6 Maret 2019, Pukul 09.00 WIB
97
surat dan seterusnya. Adapaun kuantitatif berarti keterangan dua orang saksi atau dua surat atau dua keterangan ahli sudah dihitung sebagai alat bukti. Dalam tataran praktis dua alat bukti dimaksud adalah kualitatis ataupun kuantitatif. Pasal 185 Ayat (2) KUHAP menyatakan “keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktiakan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang
surat dan seterusnya. Adapaun kuantitatif berarti keterangan dua orang saksi atau dua surat atau dua keterangan ahli sudah dihitung sebagai alat bukti. Dalam tataran praktis dua alat bukti dimaksud adalah kualitatis ataupun kuantitatif. Pasal 185 Ayat (2) KUHAP menyatakan “keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktiakan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang