• Tidak ada hasil yang ditemukan

d. Akar dan Umbi 1) Akar

ilustrasi 5. Bungkil Kacang Tanah

Bungkil kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan sumber protein nabati yang dihasilkan dari proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak. Kandungan nutrisi diantaranya protein kasar berkisar antara 40-50% dan TDN 75-85%, namun bungkil kacang tanah defisiensi terhadap asam amino (lisin, metionin, sistin, triptofan), rendah kalsium, karoten, dan vitamin D. Penggunaan bungkil kacang tanah direkomendasikan tidak lebih dari 25% untuk sapi laktasi.

c) Bungkil Bunga Matahari

Bunga matahari termasuk dalam golongan tanaman perennial dengan tinggi batang mampu mencapai 6 m, dan bijinya banyak dimanfaatkan manusia untuk diolah menjadi minyak dan makanan (kuaci). Residu dari hasil pengolahan biji tersebut berpotensi sebagai bahan pakan ternak karena memiliki kadar protein kasar 30% dan TDN 65%. Penggunaan bungkil bunga matahari pada ransum dapat mencapai 20%.

3.2 Roughages

Roughages merupakan bahan pakan ruminansia yang memiliki kandungan serat kasar lebih dari 18% dan rendah energi seperti jerami padi, jerami jagung, pucuk tebu dan hijauan kering. Komponen serat menjadi sumber energi utama pada ruminansia namun memerlukan aktivitas mikroba agar dapat didegradasi menjadi monomer atau oligomer dari senyawa dasar penyusunnya, yaitu: hexose dan pentose. Proses degradasi dan fermentasi serat melibatkan berbagai aktivitas, antara lain mekanis, enzimatis dan metabolis yang mampu pengaruhi interaksi antara mikroba rumen dengan lingkungan di dalam rumen. Bahan pakan berserat mampu menjadi sumber energi untuk ternak.

Kebutuhan energi ternak dipengaruhi oleh status fisiologi ternak dan faktor lingkungan. Kebutuhan energi pada daerah tropis akan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah subtropis, karena kualitas pakan yang pada umumnya relatif lebih rendah. Pakan berkualitas rendah menyebabkan

heat increment yang lebih tinggi, dan mengakibatkan efisiensi pakan lebih

rendah. Heat increment merupakan energi yang dikeluarkan ternak pada saat proses pencernaan pakan dalam saluran cerna. Sumber energi dengan nilai kalori sekitar 2,25 kali lebih tinggi dibandingkan karbohidrat yang dimiliki oleh lemak. β-oksidasi lemak dapat menghasilkan energi dalam

bentuk FADH2 dan NADH yang berperan dalam proses electron transport

sehingga menghasilkan energi tinggi. Oksidasi lengkap dari asam palmitat

(C16) dapat menghasilkan FADH2 dan NADH yang setara dengan 129 ATP.

Nilai manfaat pakan berserat dapat ditingkatkan dengan cara merubah komponen serat menjadi senyawa dengan konformasi molekul lebih sederhana sehingga akan lebih mudah dipecah dan difermentasi oleh mikroba rumen.

3.2.1 Roughages Kering

Hay merupakan metode pengawetan hijaun (pengeringan) dengan cara menurunkan kadar air agar jaringan tanaman mati atau tidak aktif sehingga mampu menghambat terjadinya kerusakan akibat reaksi enzim pada hijaun maupun akibat kontaminasi mikroba. Keuntungan dari pembuatan hay diantaranya: hay menjadi pakan alternatif khususnya pada musim kemarau, dimana pada musim tersebut hijauan sangat terbatas, lebih awet dibandingkan hijauan segar dan lebih mudah diberikan untuk ternak, metode pembuatan hay:

26 Karakteristik Pakan Ruminansia

1. Pengeringan Matahari

Hijauan yang telah memasuki masa panen, sebagai upaya dalam memperpanjang masa simpan dapat dilakukan pengurangan kadar air. Pengurangan kadar air dapat dilakukan secara langsung yakni dengan memanfaatkan panas matahari. Pengeringan dilakukan dengan cara menghamparkan hijauan ditempat yang lapang selama beberapa hari dengan beberapa waktu dibalik agar hijauan dapat kering merata, selanjutnya hijauan yang telah kering sempurna dapat dibentuk menyerupai bentuk persegi panjang, kubus maupun berbentuk gulungan dengan menggunkan bantuan mesin. Metode pengeringan menggunakan sinar matahari relatif murah dan mudah dilakukan, namun sangat bergantung dengan kondisi cuaca.

2. Pengeringan dalam Ruangan

Ruangan yang digunakan untuk membuat hay telah dilengkapi dengan alat (blower) pada lantai sehingga udara yang dihasilkan mampu mengeringkan hijauan. Pengeringan dengan cara tersebut mampu menjaga nutrisi dalam hijauan yang seringkali hilang akibat pemanasan dan waktu yang dibutuhkan lebih singkat karena tidak tergantung dengan cuaca, namun pengeringan dalam ruangan memiliki beberapa kekurangan diantaranya: a) pengeringan tidak seragam karena lapisan yang menghadap ke blower mengering dengan cepat daripada lapisan yang berlawanan; b) biaya pengeringan relatif mahal; dan c) proses tersebut kurang cocok diaplikasikan pada hijauan yang memiliki kondisi kelembaban tinggi.

3. Dehidrasi Hijauan

Kehilangan nutrisi dapat disebabkan karena penanganan yang buruk dan aktivitas enzim pada tanaman. Proses dehidrasi hijauan melibatkan sirkulasi udara panas untuk mengeringkan hijauan dengan cepat. Jenis pengeringan untuk dehidrasi hijauan berbeda-beda seperti pengering suhu rendah dan pengering suhu tinggi. Keuntungan dari dehidrasi hijauan adalah waktu pengeringan lebih cepat, dapat meminimalkan hilangnya enzim pada tanaman, dan mengurangi potensi hilangnya bagian tanaman terutama daun. Kekurangan dari metode tersebut yaitu biaya yang dibutuhkan selama proses dehidrasi hijauan dan pemeliharaan alat relatif mahal, membutuhkan ketersediaan hijauan yang berkelanjutan dan tenaga ahli yang trampil serta profesional.

Karakteristik hay yang baik diantaranya, yaitu: memiliki aroma khas hijauan, kadar air tidak lebih dari 15-20%, tidak mengalami kontaminasi dengan bahan asing (debu, jamur, gulma yang tidak diinginkan), berwarna hijau, jumlah daun relatif banyak, dan disukai ternak. Peyimpanan hay dapat mempengaruhi kualitas hay, sehingga dibutuhkan cara penyimpanan yang tepat seperti: hay yang akan disimpan kadar airnya tidak lebih dari 15% dan menyimpannya dilakukan dengan membentuk hay menjadi gulungan, berbentuk persegi panjang dan/atau dibentuk kubus.

3.2.2 Roughages Hijauan

Hijauan merupakan pakan ruminansia yang utama, sehingga ketersediaan hijauan baik kualitas maupun kuantitasnya sangat menentukan produktivitas dan perkembangan ruminansia. Kualitas, kuantitas dan kesinambungan ketersediaan pakan menjadi kendala yang sering dihadapi, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya komponen iklim, kondisi tanah, luas lahan yang semakin sempit serta musim kemarau yang identik dengan suhu tinggi sehingga membuat hijauan pakan sulit didapatkan, terutama jenis rumput unggul. Hijauan selain dimanfaatkan sebagai pakan ternak juga berperan penting dalam konservasi tanah, kualitas air, dan kualitas udara. Spesies, varietas, iklim, stadium pertumbuhan, kesuburan tanah, pengambilan sampel dan prosesing menyebabkan perbedaan komposisi kimia hijauan dan berdampak pada kualitas hijauan.

Fase pertumbuhan ukuran daun bertambah besar sehingga fotosintesis meningkat dan berdampak pada peningkatan laju pertumbuhan dan kualitas hijauan. Tanaman yang memasuki fase produksi maka pertumbuhan tanaman menjadi melambat, hal tersebut disebabkan karena sebagian besar energi dimanfaatkan tanaman untuk menghasilkan bunga dan biji. Kualitas hijuan dapat berpengaruh terhadap pakan yang dikonsumsi oleh ternak.

Tabel 1. Pengaruh Kualitas Hijauan terhadap Jumlah Konsumsi Pakan

Kualitas hijuan Intake (%) Jumlah Konsumsi BK sapi potonga (kg) Tinggi 1,75 -2,5 9,52 -13,6 Sedang 1,50 -1,75 8,16 - 9,52 Rendah 1,00 -1,25 5,44 - 6,8

28 Karakteristik Pakan Ruminansia

3.2.3 Silase

Kuantitas dan kualitas rumput berfluktuasi mengikuti musim, sehingga

berpengaruh terhadap produktivitas ruminansia. Produktivitas rumput

tinggi, mampu tumbuh dengan cepat, dan memiliki kualitas yang tinggi pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau rumput yang dihasilkan memiliki kualitas dan kuantitas rendah. Teknologi yang dapat diaplikasikan dalam menjaga nutrisi hijauan, memperpanjang masa simpan, dan mempermudah proses pemberian pakan diantaranya adalah proses silase. Silase merupakan hijauan yang sengaja diawetkan melalui proses fermentasi secara anaerob (tanpa udara, atau oksigen) dalam tempat yang disebut silo. Silase berdasarkan cara pengawetannya terbagi menjadi dua kategori, yaitu: fermentasi alami dan perlakuan additif.

Dokumen terkait