yaitu dalam mengolah data gizi menggunakan dua
software yang berbeda seperti inputan data yang dilakukan oleh masing-masing Kabupaten menggunakan software Pemantauan Status Gizi dan Keluarga Sadar Gizi (PsgKadarzi) sedangkan untuk pengolahan datanya menggunakan softwareStatistical Package for the Social Sciences (SPSS) sehingga waktu yang digunakan cukup lama atau kurang efisien (Jumidah, 2014). Selain itu adanya ketidak sesuaian antara kuisioner yang digunakan untuk mengumpulkan data mentah dengan aplikasi yang sudah ada, keluaran yang dihasilkan pada Sistem Pemantauan status Gizi (PSG) belum seluruhnya memenuhi kebutuhan dinas kesehatan Lombok Barat, misalnya rekapitulasi Kasus Balita Gizi Buruk per kecamatan, Laporan Pasien Gizi Buruk dan Gizi kurang dengan penyakit penyerta per kecamatan dan masih banyak lagi laporan lainnya, kemudian kendala yang terakhirhasil analisis yang diberikan oleh pihak propinsi sebagai pengolah informasi setelah diserahkan oleh masing-masing kabupaten/kota yang terdapat pada Provinsi NTB tidak disertai dengan penjelasan sehingga ada kesalahan informasi yang diberikan oleh propinsi yang menjadi ketidakpuasan pihak kabupaten dikarenakan ketidaksesuaian hasil analisis pihak kabupaten sendiri dengan data mentah yang tersedia dan hasil analisis pun tidak dijelaskan sebelumnya bagaimana hasil analisis tersebut diperoleh.
2.Konsep Dasar
2.1 Pemantauan Status Gizi (PSG)
Pemantaun Status Gizi (PSG) adalah salah satu metode penilain status gizi penduduk, khususnya anak balita dan merupakan bagian dari Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) (Depkes RI, 2008). Pemantauan Status Gizi (PSG) adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap masalah gizi buruk dan indikator pembinaan gizi masyarakat agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif, efisien dan tepat waktu melaui proses pengumpulan data, pengolahan, penyebaran informasi kepada penyelenggara program kesehatan dan tindak lanjut sebagai respon terhadap perkembangan informasi (KemenKes, 2012). Kegiatan pemantauan di atas merupakan salah satu kegiatan yang dapat diandalkan untuk mendukung pencapaian tujuan kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat. Dengan pelaksanaan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang baik keadaan gizi masyarakat dapat dipantau secara teratur, sehingga mampu mencegah, mengantisipasi dan menangani masalah gizi di masyarakat dengan baik (KemenKes, 2012). Saat ini Pemantauan Status Gizi (PSG) menjadi tanggung jawab dari Dinas Kesehatan pada seksi Gizi. Pemantauan Status Gizi (PSG) tersebut dilakukan dengan cara berkoordinasi pada petugas Puskesmas di wilayah kerjanya masing-masing.
2.2 Keluarga Sadar Gizi
Kualitas data dan informasi kesehatan yang valid merupakan informasi yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan sumber daya manusia. Dapat dilihat dengan saksama bahwa di dalam membangun sumber daya manusia terdapat hubungan positif antara derajat kesehatan masyarakat dengan produktivitas. Rakyat sehat dan produktivitas kuat ditunjang oleh gizi yang baik kemudian gizi yang baik dapat tercapai bila masyarakat mengimplementasikan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Kecukupan gizi dalam anggota keluarga merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Anggota keluarga yang memperhatikan gizi akan menunjang keberhasilan dalam meningkatkan perekonomian dan ketahanan bangsa dan negara juga semakin kuat. Dalam hal ini gizi sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan produktivitas anak. Anak yang mengalami masalah gizi pada usia dini akan mengalami gangguan tumbuh kembang dan meningkatkan kesakitan, penurunan produktivitas serta kematian. Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap status gizi adalah konsumsi makanan (Depkes RI, 2008).
Dalam mengatasi masalah gizi, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat menyusun rencana strategis yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap kesehatan yang berkualitas, meningkatkan surveilans dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan. Rencana di atas merupakan Program Perbaikan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat agar seluruh keluarga menjadi Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). KADARZI adalah keluarga yang mengenal masalah gizi dan mampu mengatasi masalah gizi setiap anggota keluarga. Keluarga yang memiliki balita di dalam satu rumah tangga dilakukan Pemantauan Status Gizi (PSG) dengan tujuan memberikan informasi gambaran besaran masalah gizi.
Berikut tabel klasifikasi status gizi anak bawah lima tahun atau balita :
Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi Anak Balita
Sumber : Dinas Kesehatan Lombok Barat
C-192
3.MetodologiPerencanaan basis data secara dasar menyesuaikan dengan kebutuhan dan merujuk pada dokumen yang telah tersedia pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat. Gambar 1 berikut adalah metode yang dipergunakan untuk menyusun basis data sistem pemantauan status gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.
Studi awal, Penelusuran kebutuhan Data Analisa Kebutuhan Data Racang Bangun Basis Data Basis Data Sistem Pemantauan Status Gizi Gambar 1. Metodologi
Metodologi dimulai dari studi awal penelurusan kebutuhan data, analisa kebutuhan data, rancang bangun basis data dan hasil akhir menghasilkan basis data sistem pemantauan status gizi balita Kabupaten Lombok Barat.
3.1 Jenis Data
Jenis data berupa data primer yang bersumber langsung dari masyarakat yang dikumpulkan secara kolektif.
3.2 Studi Awal dan Koleksi Data
Tahap ini data diperoleh dari seksi gizi dan bagian Data dan Informasi (Datin) Dikes Kab. Lobar. Informasi awal diperoleh dengan cara wawancara dan dokumentasi.
3.3 Teknik Analisa Data
Analisis data akan dilakukan terhadap penggunaan sistem informasi kesehatan Daerah (SIKDA) khusus pada modul pemantauan status gizi, desain database sistem pemantauan status gizi yang akan diintegrasikan dengan SIKDA Kabupaten Lombok Barat. Yang meliputi : identitas lokasi, identitas rumah tangga, kebiasaan menimbang anggota keluarga, pertanyaan untuk ibu hamil atau ibu nifas, asupan gizi keluarga, identitas balita termuda, ASI dan pola makan bayi 0-5 bulan, asupan gizi balita 6-59 bulan, kapsul vitamin A untuk balita 6-59 bulan, penimbangan balita, data Antropometri seluruh balita di rumah tangga, status gizi balita berdasarkan data
Antropometri dan data lainnya yang terkait dengan sistem yang dikumpulakan melalui diskusi dengan pemangku kepentingan.
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Struktur Basisdata
Berdasarkan hasil analisa kebutuhan data awal maka dapat diidentifikasi kebutuhan basis data sejumlah 16 tabel seperti terlihat pada gambar 3 (ERD). Tabel 2 sampai tabel 10 sebagian dari tabel yang dihasilkan yang akan digunakan untuk
pembuatan sistem informasi pemantauan status gizi balita.
a. Tabel Tprov (Propinsi) digunakan untuk menyimpan data kode provinsi serta nama provinsi
Tabel 2. Tabel Tprov
b. Tabel Tkab (Kabupaten) digunakan untuk menyimpan data kode kabupaten serta nama kabupaten
Tabel 3. Tabel Tkab
c. Tabel Tkec (Kecamatan) digunakan untuk menyimpan data kode kecamatan serta nama kecamatan
Tabel 4. Tabel Tkec
d. Tabel Tdes (Desa) digunakan untuk menyimpan data kode desa serta nama desa
Tabel 5. Tabel Tdes
e. Tabel TSubDes (Sub Desa) digunakan untuk menyimpan data kode sub desa nama sub desa (lingkungan)
Tabel 6. Tabel TSubDes
f. Tabel BBU_0_60_l (Berat Badan Balita Laki) digunakan untuk menyimpan data Berat Badan Balita Laki-laki Umur 0-60 bulan serta standar deviasi
Tabel 7. Tabel BBU_0_60_l
g. Tabel BBU_0_60_p (Berat Badan Balita Perempuan) digunakan untuk menyimpan data Berat Badan Balita Perempuan Umur 0-60 bulan serta standar deviasi