• Tidak ada hasil yang ditemukan

HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER

2. Cakrawala Pembaca

Cakrawla ialah bentangan visi dari titik tolak khusus. Tentunya untuk mendapatkan sebuah cakrawala atau horizon berarti seseorang

16 Abu Jafar Muhammad, Tafsir ath-Thabārī, terj. Anshari Taslim, juz 5 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), 113.

17 Suraida Madina, “Pendidikan Keluarga dalam Surah Ibrahim ayat 35-41; Telaah Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Azhar” (Banjarmasin: Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,2016), 98-102.

69 belajar untuk melampaui apa yang dekat, bukan menjauhinya. Tetapi untuk melihatnya lebih baik di dalam sebuah keseluruhan yang lebih

besar dan proporsi yang lebih benar.18

Berbicara mengenai doa tentunya bukan hal tidak pernah kita laksanakan. Telah kita ketahui bersama, bagi umat Islam ajakan berdoa bukanlah sesuatu yang baru. Sebab ini merupakan salah satu pokok agama Islam yang dipraktikan sejak zaman Rasulullah Saw hingga sekarang di sepanjang hayat dalam berbagai kondisi. Dalam kitab suci al-Qur’an sudah bertebaran ayat-ayat yang mengajarkan kita baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada era sekarang banyak yang mengalami kekerasan, kerusakan maupun perpecahan terjadi di dalam negeri maupun luar

negeri. Dengan berdoa lahirnya optimisme yang dapat

menghilangkan kegelisahan dan mengatasi masalah. Setiap umat dianjurkan untuk kembali kepada Tuhannya. Berdoa juga tidak sepenuhnya seorang hamba yang mengalami perbuatan buruk yang telah dilakukan atau sesuatu negatif yang menimpanya, akan tetapi doa sebaagai bentuk realisasi tanda keimanan seorang hamba yang senantiasa mengantungkan harapan hanya kepada Allah. Salah satunya ialah berdoa kepada kedua orang tua, yang berbunyi:

ْ يِغَصْ ِنِْاَيَّ بَرْاَمَكْاَمُه َحَْ راَوَّْىَدِلاَْوِلَوْ ِلِْ رِف غاَّْمُهَّللا

اًر

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.”

Doa ini mempunyai banyak manfaat di dalamnya yaitu sebagai bentuk ibadah yang paling mudah dalam mengidentifikasi penghambaan diri manusia, sebagai bentuk melindungi orang tua

secara lahir maupun batinnya, sebagai jalan menuju surga, dan mampu menghilangkan kesulitan yang dialami serta Allah melampangkan rezeki dan karunia-Nya. Rasulullah Saw sendiri mengatakan bahwa berdoa untuk kedua orang tua merupakan salah satu amal yang paling utama.

Dari sini penulis mencoba memahami makna berdoa untuk

kedua orang tua pada konteks

َّْىَدِلاَو

(wālidayya) dari segi bahasa

ataupun perbedaan makna. Selanjutnya penulis melakukan langkah pertama yaitu mengetahui perbedaan dari beberapa tafsir, sebagai berikut ini :

Pada surah Ibrāhīm ayat 41, Said bin Jubair mengatakan

wālidiy ialah orang tua tunggal, yang berarti hanya ayahnya saja.

Mengingat ibunya ialah seorang muslimah. Setelah itu, Ibrahim as memohon ampun untuk orang beriman dari kalangan keturunannya saja.19

Kemudian, ath-Thabari berkata wālidayya artinya orang tua, maksudnya doa Ibrahim as untuk orang tua yang memohonkan ampunan untuk keduanya. Allah memberitahukan bahwasanya permohonan ampunan Ibrahim as kepada ayahnya ketika ia mengetahui bahwasanya ayahnya adalah musuh Allah maka ia berlepas darinya. Ayahnya Ibrahim as ialah seorang yang

menyembah berhala.20 Ulama pun berbeda pendapat mengenai

ayahnya sebagai orang tua kandung atau bukan. Sebagian ulama

19 Imam asy-Syaukani, Tafsir Fatḥ al-Qadīr, terj. Amir Hamzah, 92.

20 Syaikh Bakar Abdul Hafidz al Khulaifat, Tafsir dan Makna Do’a-do’a dalam

71 menyatakan Azar sebagai orang tua, tidak menyebutkan sebagai

bapak kandung.21

Kata waliwālidayya berasal dari kata wa yang artinya dan, li yang artinya untuk. Berasal dari kata wāliddun. Pada kamus

al-ma’any walada artinya melahirkan anak.22 Dalam kamus Mahmud

Yunus, walada artinya perempuan beranak atau melahirkan.23. kata

wālidayya artinya orang tua. Apabila disatukan memiliki arti yaitu

manusia yang melindungi, menjaga dan menjadi pendukung untuk anak. Ia adalah seorang yang melahirkan anak dan menjaga anak setiap waktu.

Menurut penulis pada ayat ini menjelaskan kisah nabi Ibrahim as yang tertera pada ayat sebelumya, yaitu ayat 35 dengan awalan surah yang berbunyi wa idz qāla Ibrāhīmu. Ibrahim as mengetahui bahwasanya masyarakat Babilion pada saat itu menyembah berhala yang hidup di zaman raja Namrud. Mereka beranggapan berhala-berhala tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya. Terutama

“paman”24 Ibrahim as bernama Azar. Azar ialah paman nabi Ibrahim

as yang menjadi orang tua angkat setelah ayah kandungnya

meninggal. Ia berprofesi sebagai tukang pembuat patung.25 Dari sini

Ibrahim as berdakwah melawan paganisme, tetapi tidak ada yang mempercayai kepercayaan Ibrahim as kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecuali Sarah.

21 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati), 391.

22 Kamus Al-Ma’any, https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/%D9%88%D9%84%D8%AF/ .

23 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: PT Mahmud Yunus Dzurriyyah), 506.

24 Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 7, 248.

25 Khairul Muttaqin, “Keislaman Ayah Nabi Ibrahim (Studi Tafsir dan Hadis Tentang Agama Ayah Ibrahim as)”. jurnal El-Furqania, vol. 5, no. 2 (Agustus 2017): 201.

Hingga pada akhirnya Ibrahim as menikahi Sarah untuk memberi kemudahan dalam berdakwah di samping nabi Ibrahim as mencintainya. Ketika bertahun-tahun Ibrahim as tidak mempunyai keturunan dan Sarah meminta Ibrahim as untuk menikah lagi dengan

wanita pilihannya bernama Hajar (budak Sarah). Dari

pernikahkannya inilah Ibrahim as dan Hajar dikaruniai anak bernama Ismail yang kemudian Allah menyuruh Ibrahim as membawa Hajar beserta Ismail ke Makkah karena kecemburuan Sarah terhadap Hajar. Makkah pada saat itu dilanda kekeringan, tidak ada mata air maupun bahan-bahan untuk makan.

Setelah itu, Ibrahim as berdoa pada Allah untuk menjadikan negeri Makkah menjadi negeri aman, yang mempunyai kelapangan rezeki makanan dan minuman. Selain itu, Ibrahim as memohon kepada Allah agar keturunannya tidak menyembah selain Allah Swt, seperti menyembah berhala. Hingga pada akhirnya Ibrahim as memohon ampunan kepada Allah untuk orang tuanya, orang-orang beriman terutama orang-orang yang menyembah berhala yang tertera pada akhir surah Ibrāhīm ayat 41.

Dari sini terjadi perbedaan pendapat, siapa yang dimaksud

wālidayya (orang tua) dalam ayat tersebut. Jika dilihat dari konteks

ayatnya, kata mu’minīn terletak setelah kata wālidayya. Ini dapat menjadi syarat bahwa yang boleh diminta ampun oleh Allah ialah orang-orang mukmin. wauw penengah antara wālidayya dan

mu’minīn disini merupakan wauw ataf yang artinya penghubung.

Dan ini menjelaskan ayah angkatnya Ibrahim as tidak berhak menerima ampunan Allah atas apa yang dilakukannya menyembah berhala. Ini menandakan tidak mustahil ibu Ibrahim as seorang

73

muslimah, ia bernama bernama Buna binti Karbina bin Kartsi26.

Berarti, Ibrahim as memohon ampun bukan untuk ayah angkatnya, tetapi untuk orang tua kandung yang beriman.

Selanjutnya, tidak ada penjelasan bahwa ibunya Buna binti Karbina bin Kartsi dan ayahnya Tarikh bin Nashur bin Sarugh bin Rau bin Sam bin Nuh menyembah berhala, untuk itu Ibrahim as memohon ampun untuk kedua orang tuanya yang beriman mengingat tidak ada manusia yang luput dari dosa selama di dunia ini. Nabi Ibrahim as ingin orang tuanya terhindar dari siksaan api neraka. Ia menyadari pengorbanan beratnya menjadi orang tua terutama ketika ia dikaruniai anak saat usia masa senja. Ismail as dilahirkan saat Ibrahim as berusia 99 tahun. Sedangkan Ishaq as dilahirkan saat Ibrahim as berusia 112 tahun. Alasan lainnya ialah kata wālidayya bergandengan dengan kata mu’minīn. Itu berarti Ibrahim as berhak meminta maaf juga kepada orang-orang beriman, termasuk kedua orang tua kandungnya.

Di sisi lain, Ibrahim as diasuh oleh pamannya yang bernama Azar sebagai pengganti orang tua setelah ayah kandungnya meninggal. Hal ini dibuktikan pada surah at-Taubah ayat 114 menggunakan kata ab. Redaksi ab tidak selalu mengacu pada ayah kandung Ibrahim as, melainkan bisa mengacu pada kakek, paman,

dan lain-lain.27 Ayah kandungnya diceritakan bernama Tarikh bin

Nashur bin Sarugh bin Rau bin Sam bin Nuh.28

Dari pemaparan penulis di atas, dapat disimpulkan bahwa kata

wālidayya pada surah Ibrahim ayat 41 dapat diartikan orang tua

26 Siti Mahmudah, “Interaksi Pendidikan Islam dalam Al-Qur’an Kisah Nabi Ibrahim dan nabi Ismail” (Surakarta: Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Muhammadiyah, 2010), 6.

27 Khairul Muttaqin, “Keislaman Ayah Nabi, 202. 28 Hamka, Tafsir Al-Azhar, juz 17, 249.

Ibrahim as. Sementara orang tua tersebut dapat dikatakan ibu dan ayah kandung, bukan ayah angkat atau paman nabi Ibrahim as. Pemahaman ini sesuai dengan silsilah keturunan nabi Ibrahim as ke atas yang merupakan orang-orang salih.

Dengan demikian, Ibrahim as berusaha melindungi keluarga dan orang-orang beriman dari segala dosa yang mereka lakukan dulu, sekarang maupun nanti dengan memohon ampunan untuk orang tua, yang terlihat pemaparan di atas dari sisi sejarah maupun dari konteks bahasa yang menjelaskan mereka berhak menerima ampunan dan perlindungan Allah Swt.

Tentunya anak mempunyai kewajiban mendoakan orang tuanya. Doanya anak akan terus menemani orang tua dimana pun dan kapan pun. Bahkan ketika orang tuanya mempunyai masalah dalam hidupnya. Sama halnya sewaktu anak tersebut masih kecil, tidak mungkin ia tidak mempunyai masalah, begitu pun semakin lama tumbuh anak tersebut. Seberapa banyak dosa-dosa yang telah anak lakukan, orang tua tetap berdoa kepada Allah untuk memberi ampunan kepada anaknya. Karena itu, sudah seharusnya tugas anak memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosa dunia yang nantinya akan ada hari pembalasan, yaumul hisāb seperti teks pada pembahasan ayat ini.

Dari kisah Ibrahim as, penulis menangkap sisi hikmah dari kejadian yang menimpa Ibrahim as. Di balik doa ini Ibrahim as memohon hikmah dengan adanya semua kejadian yang menimpah kaumnya. Hikmah mempunyai arti sebagai pengetahuan tentang berbagai akibat yang timbul dari sebuah perbuatan. Yang juga diartikan mengklarifikasi kebenaran dengan ilmu dan pengetahuan akal. Makna hikmah dalam doa nabi Ibrahim as ini memiliki

75 kedekatakan, karena baik larangan maupun hukum-hukum Allah merupakan inti dari pengetahuan dan pemahaman yang diberikan kepada para nabi melalui wahyu.

Dokumen terkait