HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER
3. Peleburan Cakrawala
Peleburan cakrawala terjadi setelah memahami cakrawala teks dan cakrawala penafsir. Cakrawala ialah bentangan visi yang meliputi segala sesuatu yang bisa dilihat dari titik khusus. Cakrawala selalu berarti bahwa seseorang belajar untuk melihat melampaui yang dekat dan yang paling dekat, bukan untuk memalingkan muka, tetapi melihatnya lebih baik dalam keseluruhan yang lebih besar dan
dalam dimensi yang lebih baik.29
Berikut hasil interprestasi dari analisis kata wālidayya dalam doa kepada kedua orang tua, di antaranya:
Pertama, mengenai sejarah teks dan pemahaman penafsir. Jika dilihat pada surah Ibrāhīm menceritakan nabi Ibrahim as sebagai anak yang menjauhkan orang tuanya dari kemusyrikan. Nabi Ibrahim as tidak ingin orang tuanya masih memiliki dosa yang tidak akan Allah ampuni. Sehingga, sebagai baktinya ia mendoakan orang tuanya diampuni dosanya oleh Allah.
Kedua, pemahaman yang masuk berupa makna wālidayya. Menurut cakrawala pembaca kata wālidayya pada surah Ibrahim agak sulit untuk diartikan sebagai ayahnya saja, seperti saat dikenakan kepada Azar, yang terdapat informasi bahwa Azar bukanlah orang tua Ibrahim, akan tetapi dia hanyalah ayah
angkatnya saja30, ketika ayah nabi Ibrahim as meninggal dunia
29 Hans Georg Gadamer, Truth and Methode, Transeleted By Joel Sheinmer and Donald G. Marshall (London: Continumm, 2004), 578.
sehingga kemudian Ibrahim diasuh oleh Azar. Penulis sebagai penafsir memiliki pemahaman bahwa makna yang terkandung pada penjelasan wālidayya ialah ayah dan ibu kandung Ibrahim as sendiri. Di sini dapat dijelaskan seperti sudah penulis ulas di dalam cakrawala teks bahwa Ayah Ibrahim as bernama Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Rau bin Faligh bin Abir bin Shaleh bin Ar Fakshad bin Sam bin Nuh. Ibunya bernama Buna binti Karbina bin Kartsi.
Dengan kata lain, Ibrahim as memohon ampun untuk ayahnya yang telah meninggal yang mungkin sebelumnya juga hidup bersama masyarakat menyembah berhala sehingga memiliki banyak dosa. Di sini, selain untuk ayahnya, ia juga memintakan ampunan untuk ibunya karena Ibrahim as sadar tidak ada manusia yang luput dari dosa duniawi.
Ketiga, peleburan cakrawala untuk menemukan makna baru. Setelah sebelumnya menelisik makna “orang tua”. Dalam konteks ini pertanyaan mengenai makna orang tua dalam surah Ibrāhīm, setelah dipahami di sini kata wālidayya dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), digunakan bukan hanya sekedar kedua orang tua dalam arti ibu dan ayah atau ayahnya saja. Ini mempunyai makna baru, dalam arti bisa digunakan untuk para nasab selanjutnya ke atas yaitu kakek, nenek, moyang maupun generasi ke atas lainnya.
Untuk itu, doa ini melindungi keluarga dan orang-orang beriman dari segala dosa yang mereka lakukan dulu, sekarang maupun nanti dengan memohon ampunan untuk orang tua, baik secara kandung maupun secara angkat yang terlihat pemaparan di atas dari sisi sejarah maupun dari konteks bahasa yang menjelaskan mereka berhak menerima ampunan dan perlindungan Allah Swt.
77 Disimpulkan dari tiga poin di atas, jika signifikansi doa Ibrahim as ini dengan permohonan ampun bagi orang tua yang disebut dengan kata wālidayya dalam surah Ibrahim dibawa pada era sekarang, penulis merasa bahwa pengunaan kata wālidayya di surah Ibrāhīm relevan pada era sekarang saat kedua orang tua telah meninggal dunia. Perkataan “ampunilah” mengisyaratkan betapa sayangnya anak ingin menghapus segala dosa yang ada di dunia dan berharap Allah memberikan tempat terbaik disisi-Nya. Tentunya kewajiban anak bukan hanya di dunia saja dan terlepas saat orang tua meninggal, tetapi lebih dari itu.
Kewajiban berbuat baik kepada orang tua masih tersisa empat perkara, yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman-teman dan terus menyambung silaturahmi itu semua yang tersisa dari kewajiban untuk berbuat baik setelah mereka meninggal.
Doa ini berguna bagi semua orang yang menginginkan Allah melindungi orang tuanya yang beriman, sehingga Allah memberikan ampunan padanya atas dosa-dosa di dunia. Sebagaimana nanti Allah memberikan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Karena ketulusan doa yang dipanjatkan, dan yang lebih penting juga izin dari Allah kelak akan dapat membalikkan semua persangkaan, ketika suatu hal itu terasa sulit akan menjadi mungkin terjadi atas izin Allah Swt.
Doa yang diungkapkan oleh nabi Ibrahim as sebagai upaya tawakkal kepada Allah, karena Ibrahim tidak tahu bagaimana nasib orang tuanya yang meninggal sebelum mendapatkan dakwah tauhid. Ini dapat bermanfaat apabila manusia mempunyai jalan buntu,
karena segala masalah yang melingkupi orang tuanya, selama mereka termasuk orang-orang yang beriman, namun mungkin bergelimang dosa. Berdoa menjadi bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan, sementara hasilnya diserahkan sepenuhnya dengan bertawakkal kepada Allah. Sikap tawakkal dilanjutkan, ketika menghadapi beragam rintangan usaha menggapai keridhoan Allah Swt.
C. Memohon Kasih Sayang bagi Orang Tua dalam QS 17:23-24 1. Cakrawala Teks QS 17:23-24
Cakrawala memiliki tahapan untuk mencapai pemahaman yang benar dalam hermeneutika. Pertama tahapan pemaknaan teks, kedua kesadaran sejarah teks untuk mengetahui bagaimana cerita dari ayat tersebut. Ketiga adalah sejarah efektif untuk mencari mana kesesuaian teks dan konteksnya. Berikut teks ayat nya dalam surah al-Isrā’ ayat 23-24 :
ًْناَس حِإْ ِن يَدِلاَو لِبَِوُْهَّيَِّإْ َّلَِّإْاوُدُب عَ تْ َّلََّأْ َكُّبَرْ َٰىَضَقَو
َ
ْ
َْرَ بِك لاْ َكَدنِعْ َّنَغُل بَ يْاَّمِإ
َُّْلَّْلُقَوْاَُهُ رَه نَ تْ َلََّوْ ٍفُأْاَمَُّلَّْلُقَ تْ َلََفْاَُهُ َلَِكْ وَأْاَُهُُدَحَأ
اًيمِرَكْ ًلَّ وَ قْاَم
.
ْ ضِف خاَو
اًيِغَصْ ِنِاَيَّ بَرْاَمَكْاَمُه َحَ راْ ِبَّرْلُقَوِْةَ حََّرلاَْنِمْ ِلُّذلاَْحاَنَجْاَمَُلَّ
ْ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".” (QS. Al-Isrā’/17: 23-24)
79 Berikut pemaparan untuk tahapan yang lebih luas:
a. Makna Teks
Makna teks dalam ayat ini dapat ditelusuri dari latar belakang teks tersebut. Berikut surah al-Isrā’ ayat 23-24, yang berbunyi:
ًْناَس حِإِْن يَدِلاَو لِبَِوُْهَّيَِّإْ َّلَِّإْاوُدُب عَ تْ َّلََّأَْكُّبَرَْٰىَضَقَو
َ
ْ
َْرَ بِك لاَْكَدنِعَّْنَغُل بَ يْاَّمِإ
َْه نَ تْ َلََّوْ ٍفُأْاَمَُّلَّْلُقَ تْ َلََفْاَُهُ َلَِكْ وَأْاَُهُُدَحَأ
اًيمِرَكْ ًلَّ وَ قْاَمَُّلَّْلُقَوْاَُهُ ر
.
اًيِغَصْ ِنِاَيَّ بَرْاَمَكْاَمُه َحَ راْ ِبَّرْلُقَوِْةَ حََّرلاَْنِمْ ِلُّذلاَْحاَنَجْاَمَُلَّْ ضِف خاَو
ْ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isrā’/17: 23-24)
Secara umum didapatkan beberapa informasi mengenai surah al-Isrā’. Surah ini mempunyai beberapa nama, antara lain adalah surah al-Isrā’ dan surah Bani Isra’il. Dinamakan surah al-Isrā’ karena awal ayat ini berbicara tentang Isra, perjalanan malam Nabi Muhammad dari Makkah ke Yerusalem. Demikian juga dinamai surah Bani Israil, karena hanya disini diuraikan tentang pembinaan dan penghancuran Bani Israil. Dinamakan juga surah subhāna, karena awal ayat pertamanya dimulai dengan kata tersebut.
Surah ini terdapat dalam urutan yang ke-17 berdasarkan susunan mushaf Ustmani, dan urutan ke-50 bedasarkan
turunnya wahyu. Terdapat 111 jumlah ayat. Surah ini mempunyai jumlah kata 1.560 kata dan jumlah huruf sebanyak 64.440 huruf. Menurut mayoritas ulama, surah ini turun sebelum Nabi Saw berhijrah ke Madinah atau tergolong surah Makkiyah, berada setelah surah an-Nahl.
Surah al-Isrā’ mengkisahkan tentang peristiwa
perjalanan isra dan mi’raj Rasulullah Saw mengandung ayat sajdah (sujud) yang disebutkan pada ayat 107 dan dianjurkan untuk bersujud saat membaca dan mendengarkan ayat ini. Dari sisi isi termasuk surah yang berukuran sedang, dimulai dengan
tasbih dan taqdis (pemuliaan) Allah Swt. 31
b. Sejarah Teks
Sejarah teks merupakan peristiwa yang ada pada teks tersebut. Seperti halnya unsur tauhid pada ayat-ayat sebelumnya, maka pada surah al-Isrā’ ayat 23 Allah
memerintahkan manusia untuk tidak menafikan dan
menyembah selain diri-Nya. Sebab ketika Allah melarang perbuatan syirik, Allah memerintahkan untuk bertauhid kepadaNya, maka Allah mengatakan jangan menyembah seseorang pun dari penduduk dunia dan langit yang hidup
maupun yang mati karena Allah Maha Mengetahui.”32
Kemudian, tema utama ayat ini adalah ajakan menuju ke hadirat Allah Swt dan meninggalkan selain-Nya, karena hanya Allah pemilik rincian segala sesuatu dan Allah juga yang
31 M. Achmad Saiful Rizal, “Studi kritis Pemikiran John Wansbrough Terhadap QS.Al-Isra Ayat 1 (Teori Manhaj al-Bayani dan Munasabah)” (Surabaya: Skripsi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel, 2018), 45.
32 Syaikh Bakar Abdul Hafidz al Khulaifat, Tafsir dan Makna Do’a-do’a dalam
81 mengutamakan sesuatu atas lainnya. Di sinilah memaparkan tentang keesaan Allah diteruskan dengan perbuatan baik kepada kedua orang tua. Sebab sesungguhnya dengan adanya orang tua seorang anak itu ada dan Allah menguatkan hak-hak orang tua dengan memposisikan di bawah kedudukan setelah
beribadah kepada Allah yakni mentauhidkan Allah Swt.33
Di sini Allah mengkhususkan penyebutan kondisi lanjut usia kedua orang tua yang lebih memerlukan kasih sayang lebih, seperti mengurus mereka dalam keadaan apapun, berkata lemah lembut, bersikap sopan santun, dan selalu ada di sisinya ketika mereka sakit atau dalam keadaan sulit. Dengan demikian, seorang anak dilarang menampakkan sesuatu yang menunjukkan kerisauan dan keberatan terhadap kedua orang tua.
Kemudian ayat selanjutnya terdapat doa yang
diperuntukkan kepada kedua orang tua, dan mendoakan keduanya adalah termasuk dalam perbuatan baik kepada keduanya sebagaimana Allah telah menyandingkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan perintah untuk bertauhid dan beribadah kepada-Nya yang menunjukan akan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua di sisi
Allah.34
Ayat ini memberi isyarat kepada kita tentang perjuangan orang tua kepada anaknya yang telah mendidiknya. Pendidikan secara khusus disebutkan pada bagian ayat terakhir supaya hamba ingat bahwa kasih sayang keduanya tidak
33 Amr Khalid, Spiritual Al-Quran (Yogyakarta: Darul Hikmah, 2009), 339. 34 Syaikh Bakar Abdul Hafidz al Khulaifat, Tafsir dan Makna Do’a-do’a dalam
pernah putus, sekaligus memberi pesan bertapa pentingnya untuk membalas jasa kepada orang tua dari hal terkecil, seperti berkata lembut, jangan berkata “ah” yang sudah dijelaskan sebelumnya pada ayat 23. Sebab, sehebat apapun anak di luar sana, tetapi saat dihadapan orang tua, tetaplah seorang anak yang butuh bimbingan untuk tetap merendah.
Ayat ini memiliki munasabah dengan ayat sebelumnya di ayat 22. Pada ayat 23 tertera tujuan hidup di dunia, mengakui hanya Allah Swt Tuhan semesta alam. Tidak mempersekutukan Allah dengan lainnya. Dibarengi dengan ayat 23 yang menegaskan Allah memerintahkan pada umatnya dilarang untuk menyembah selainNya. Untuk memperkuat keimanan, Allah mengutus Rasul-rasulNya.
Dari penjelasan tersebut, ayat 22 menjelaskan larangan untuk berbuat syirik. Sedangkan ayat 23 memerintahkan menyembah kepada Allah, bukan lainnya, dan perintah untuk berbakti kepada orang tua sekalipun orang tua dalam kondisi lemah. Adapun ayat 24 menjelaskan bertawadhu kepada kedua orang tua dan selalu mendoakannya.
Doa memintakan kasih sayang Allah kepada kedua orang tua dari sejarah teksnya dipanjatkan ketika orang tua masih hidup. Sehingga, doa ini relevan bagi seorang anak yang karena baktinya mendoakan orang tuanya, baik itu orang tua yang beriman ataupun mereka yang berbeda iman. Di sini, berbeda dengan doa Ibrahim yang memintakan ampunan kepada kedua orang tuanya yang lazimnya sudah meninggal terlebih dahulu.
83 2. Cakrawala Pembaca
Pada surah al-Isrā’ ayat 23-24, Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir mengatakan wālidayni disini berarti kedua orang tua, ibu dan bapak, untuk bersikap lemah lembut terhadap kedua orang tua, menyenangkan hatinya dan menjaga kedua orang tua hingga masa
tuanya.35 Dalam tafsir Qurthubi, berbuat baik kepada kedua orang
tua yang disebut dengan istilah wālidayni di sini dibarengi dengan kata ihsāna, yang artinya berbuat baik dengan sebaik-baiknya. Maksudnya Allah memerintahkan berbuat baik, kecuali ketika orang tua mengajak berbuat kemusyrikan dengan menyekutukan Allah dengan Tuhan lain.
Pemahaman di atas, sejalan dengan pandangan Asy-Syaukani yang menjelaskan dalam Tafsir Fatḥ al-Qadīr bahwa
wālidayni diartikan dengan kedua orang tua. Penempatan wālidayni ini setelah Allah menyuruh umatnya untuk tidak
menduakan Allah. Ini karena keduanya: ibu dan juga bapak, serta Allah Swt juga tidak meminta balasan atau pujian atas kebaikan mereka. Kemudian, Ibnu Hatim meriwayatkan dari al-Hasan mengenai firman-Nya wālidayni ihsāna (dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya), ini
mengandung arti birru yang artinya berbakti. 36
Menurut penulis perbuatan baik kepada ibu dan bapak adalah kewajiban yang dibuktikan kata qadhā pada awal ayat.
Qadhā mempunyai beberapa arti, di antaranya: menjadikan,
memerintahkan, menyelesaikan, mewajibkan untuk tidak
mengingkari, dan berbuat kebaikan. Artinya, Allah
35 Imam asy-Syaukani, Tafsir Fatḥ al-Qadīr, terj. Amir Hamzah, juz. 6 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), 534-535.
memerintahkan kepada hamba-Nya hanya menyembah Dia semata. Tiada ada sekutu bagi-Nya. Tauhid inilah yang merupakan tujuan penciptaan manusia. Allah menyebutkan perintah tauhid untuk beribadah kepada Allah dan mengiringinya dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua.
Allah memaparkan berbuat kebaikan kepada kedua orang tua tanpa terputus, karena keduanya merupakan sebab hadirnya anak. Allah memerintahkan menjadi anak shaleh selalu dibarengi dengan beribadah kepada-Nya. Sebagaimana Allah telah membarengi perintah berterimakasih kepada orang tua sebagai ungkapan rasa bersyukur, karena ibu dan bapak sudah berusaha keras menghidupi dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mereka jugalah tempat kembali sang anak menghadapi lika-liku kehidupan. Pesan yang disampaikan ialah berbakti kepada kedua orang tua adalah perbuatan yang paling utama setelah sholat, sebagai pilar Islam yang paling agung.
Kemudian, kata wālidayni merupakan bentuk mutsanna, yaitu kata benda yang berjumlah dua orang: ibu dan bapak. Ini juga bisa berarti salah satu atau keduanya, dibuktikan dengan kata
ahaduhumā aw kilāhumā sebagai pelaku (fa’il) dari kata yablughanna. Makna orang tua di sini ialah salah satu dari ibu dan
bapak kandung, atau keduanya yang bersifat universal. Kemudian kondisi tersebut disandingkan dengan perintah berbuat baik yang diungkapkan di awal ayat dengan kata ihsan yang artinya perbuatan baik atau kebaikan.
Kebaikan mempunyai banyak macam-macamnya, kebaikan dari segi materi dengan cara mencukupi kebutuhan orang tua, bersikap lemah lembut di hadapannya, berprilaku dengan penuh
85 sopan santun terhadap keduannya. Anak tidak diperbolehkan mengatakan “uff” yang artinya “ah”. Tidak dibatasi bukan hanya perkataan “ah” saja, tetapi perintah berbuat baik ini agar anak tidak membuat orang tuanya bersedih. Sehingga, tindakan tidak menuruti perkataannya juga tidak dibenarkan. Ibaratnya, jangan ucapkan kata-kata buruk bahkan yang paling rendah sekalipun
ta’affuf yaitu kekesalan sekalipun kata “ah” kata yang buruk
paling ringan.
Selanjutnya, kata larangan wa lā tanharhumā artinya janganlah kamu membentak dengan kata-kata kasar seperti mencaci dan memaki. Perbedaan antara larangan ta’affuf (mengeluh) dan intihar (membentak) adalah, yang pertama larangan untuk menampakkan kekesalan baik sedikit atau banyak.
Sedangkan yang kedua adalah larangan menunjukkan
pertentangan dalam ucapan dengan membantah atau tidak membenarkan apa yang mereka ucapkan. Jadi ta’affuf adalah ucapan buruk yang tidak tampak jelas, sedangkan intihar adalah bentakan dan sikap yang kasar. Maka jangan sampai membentak orang tua atau berkata buruk kepada keduanya.
Sementara itu, terdapat kata rahmat yang mempunyai arti kasih sayang Allah. Telah kita ketahui Allah mempunyai banyak rahmat di antaranya sifat Allah Rahman dan Rahīm.
Ar-Rahman yang berarti zat yang memiliki kasih sayang luas yang
terbentang bagi seluruh makhluk dalam hal rezeki dan kemashalatan bagi seluruh umat dan ini bisa terputus, karena hanya berlaku selama di dunia. Sedangkan Ar-Rahīm ialah Dzat yang memiliki kasih sayang yang kekal selamanya dan bekelanjutan hingga waktu akhirat dan hanya spesifik untuk kaum
muslim semata. Rahmat Allah sangat dekat. Kedekatan di sini memiliki hukum kausalitas, yakni yang mendekati akan didekati, artinya Allah mendekati siapapun yang mendekatinya. Mendekati rahmat Allah tergolong mudah, cukup dengan menebar kebaikan bagi orang lain, contohnya berbuat baik kepada kedua orang tua.
Di sisi lain, doa ini juga menunjukkan prinsip keadilan, di mana Allah memberikan keadilan pada setiap umatnya. Allah memberikan kesempatan orang tua mengasihi anak dengan penuh kasih sayang, sebagaimana sang anak menerima kasih sayang dari Allah Swt. Di samping itu, pada masa tuanya ataupun masa sakit ibu dan ayah, terletak kewajiban anak untuk membalas belas kasih yang diterima kepada orang tuanya. Sebab yang telah kita ketahui, semakin menua usia orang tua, semakin kembali seperti anak bayi yang baru lahir. Pada saat itu mereka ingin mendapatkan kasih dan sayang, dan mendapatkan kenyamanan. Dengan begitu, orang tua menerimanya dengan penuh bahagia.
Di sini timbul sebab-akibat. Kasih sayang itu diberikan sebab dahulu orang tua menyayangi anaknya sejak masa kandungan hingga anaknya telah dewasa. Kita memintakan kasih sayang Allah untuk orang tua, karena mereka sudah memberikan dan mendidik kita pada sejak kecil. Hal ini merupakan salah satu prinsip al-Qur’an bahwa rahmat Allah tercurahkan pada siapa saja umat manusia. Tidak pernah terbatas kasih sayang Allah, terlebih manusia itu mau mendekati Allah.
3. Peleburan Cakrawala
Peleburan cakrawala diartikan sebagai bentuk kesatuan dari cakrawala teks dan cakrawala penafsir yang tidak memungkinkan
87 penafsir beribacara tentang makna asli dari ayat tersebut tanpa mengakui bahwa pendapat penafsir juga ikut masuk di dalamnya.
Pertama, mengenai sejarah teks dan penafsir. Pada surah al-Isrā’ ayat 23-24 mengkisahkan pengurusan atau penjagaan anak kepada kedua orang tuanya di masa tua mereka, yang didahului oleh perintah bertauhid dan larangan menyekutukan Allah Swt.
Kedua, pemahaman yang ada pada surah al-Isrā’ ayat 23-24, terkait dengan makna kata wālidayni, artinya kedua orang tua kandung secara lengkap. Sementara pemahaman penulis, makna
wālidayni dapat diartikan punya dalam makna secara umum yang
mengikutkan silsilah nasab keturunan ke atas. Dijelaskan dalam kamus Bahasa Indonesia (KBBI), kata orang tua diartikan dengan orang yang dianggap tua (laki-laki dan perempuan), dihormati dan
disegani orang lain.37 Hasilnya adalah makna dari orang tua bukan
hanya ibu bapak sendiri tetapi juga ibu dan bapak orang lain. Di sini, orang yang lebih tua, siapapun mereka, hendaknya tetap diberikan penghormatan.
Ketiga, peleburan cakrawala pada surah al-Isrā’ ayat 23-24, terjadi pada makna kata wālidayni berguna pada era sekarang, di mana manusia sering berjauhan antara jarak masa dan waktu. Dalam proses komunikasi jarak jauh antara orang tua dan anak terkadang tidaklah mudah. Seperti kelompok masyarakat yang harus merantau dari kampung halamannya demi pekerjaan, pendidikan dan urusan lainnya. Seringkali jarak menjadikan komunikasi kita sulit untuk berdekatan, bahkan hanya sekedar tatap muka. Terlahirlah resah dan gelisah akan kehidupan orang
37 Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tuanya. Seperti kehadiran virus corona yang menjadi pandemi bagi seluruh dunia. Virus yang dapat membahayakan manusia lainnya terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia seperti ibu, bapak, kakek dan nenek maupun yang mengalami suatu penyakit. Sehingga akhirnya virus corona tersebut menjauhkan kita dari orang tersayang, salah satunya keluarga. Sehingga mempunyai batasan untuk berdekatan.
Di sisi lain, sudah merupakan kewajiban seorang anak suntuk terus berbakti kepada kedua orangtua, sementara virus corona membuat anak tidak bisa berdekatan dengan keduanya atau menyambul tali rahim secara dekat karena pembatasan fisik. Untuk itu, doa kepada kedua orang tua merupakan salah satu cara seorang anak bisa tetap mengharapkan perlindungan Allah bagi orang tua dari jarak jauh, karena dengan berdoa hati akan merasakan damai. Dengan berdoa keharmonisan akan tetapi terjalin. Singkatnya, doa merupakan salah satu jalan anak untuk tetap berbakti kepada orang tua.
Doa ini relevan bagi siapa saja yang menginginkan Allah memberikan rahmat dan kasih sayangnya bagi kedua orang tuanya, terutama bagi orang tua yang lanjut usia maupun sakit. Dengan hadirnya rahmat. Membawa hikmah dari setiap kejadian atau ujian yang Allah berikan. Dengan demikian doa ini bermanfaat bagi siapa saja yang mengharapkan Allah membukakan hatinya untuk memberikan anugrah dan pengetahuan-Nya dari segala ketetapan