HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER DALAM KAJIAN AL-QUR’AN
C. Pemikiran Hermeneutika Hans Georg Gadamer
Hermeneutika Hans Georg Gadamer memiliki konsep dasar yang bersifat ontologis. Dalam buku Truth and Method, dia mengungkapkan metode bukan merupakan jalan menuju kebenaran. Bahkan metode tidak mampu dijadikan kebenaran baru, tetapi hanya menyembunyikan secara eksplisit bentuk kebenaran yang sudah ada di dalam metode tersebut. Sebagai penerus Heidegger, Gadamer telah mengembangkan interprestasi ontologis, dia tidak mengatakan bahwa hermeneutika sebagai metode, karena pemahaman yang benar yaitu
pemahaman yang bersifat ontologis, bukan metodologis.15 Artinya,
14 Inyak Ridwan Munzir, Hermeneutika Filosofis Hans- Georg Gadamer, 59. 15 Muhammad Hanif, “Hermeneutika Hans Georg Gadamer, 99.
45 kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan, sehingga terjadi keterbukaan. Pemahaman dapat diperoleh dengan keterbukaan, bukan
manipulasi dan pengendalian.16 Untuk itu, bahasa menjadi peran
penting bagi terjadinya dialog.
Pemahaman menurut Hans George Gadamer bersifat historikal karena manusia merupakan makhluk yang berhubungan langsung dengan sejarah. Hal ini tidak bisa dipisahkan antara penafsir dan teks. Ketika seorang mencoba memahami sebuah teks selalu menunjukan sebuah tindakan proyeksi. Gadamer memproyeksikan dirinya sebuah makna teks secara keseluruhan segera beberapa makna awal muncul di dalam teks. Yang terakhir hanya muncul karena Gadamer membaca teks dengan pengharapan khusus berkenaan dengan sebuah makna tertentu. Pengerjaan ini secara terus menerus akan selalu direvisi bedasarkan apa yang muncul ketika menyelami makna, adalah
pemahaman terhadap yang ada di sana.17
Kesadaran pemahaman sejarah dengan cara memahami makna yang dikandung proposi materi teks dan pemahaman sejarah yang didapatkan melalui proposisi historikalitas. Semua itu menggunakan ruang dan waktu. Terdapat tiga dimensi waktu dalam memahami teks,
yaitu past, present dan future.18 past (masa lampau) tempat dimana
teks itu muncul dan pada saat itu teks bukan milik penyusun melainkan setiap orang. Present (sekarang atau saat ini) berisi
sekumpulan penafsir yang penuh dengan prasangka yang
16 Sofyan A.P Kau, “Hermeneutika Gadamer dan Relevansinya dengan Tafsir”. jurnal Farabi, vol. 11, no. 1 (Juni 2014): 9.
17 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, terj. Ahmad Sahidah, 323.
18 Hasyim Hasanah, “Hermeneutik Ontologis-Dialektis Hans Georg Gadamer”. jurnal At-Taqaddum, vol. 9, no. 1 (Juli 2017): 9.
menghasilkan dialog dengan masa sebelumnya. Sehingga muncul penafsiran sesuai dengan konteks penafsir.
Proses memahami teks dengan peleburan horizon. Proses ini mengharuskan penafsir menceburkan diri ke dalam pembangkitan kembali makna teks. Sekurang-kurangnya peleburan dua horizon
yaitu pengarang dan konteks historis dari sebuah teks
dipertimbangkan dalam proses interpretif bersama prasangka-prasangka penafsir seperti tradisi, budaya, norma dan bahasa. Dan terakhir yaitu future (masa akan datang), terdapat hal baru yang bersifat produktif dan didapatkan dengan cara dialogis dari subyek maupun objek hermeneutika. Hermeneutika bertujuan bukan meletakan aturan bagi pemahaman yang “benar objektif”, namun
untuk mendapatkan pemahaman seluas mungkin.19
Pemahaman inilah hasil dari interaksi masa lalu, masa kini yang selalu mengalami makna baru, perbaikan sesuai kondisi dan situasi masa sekarang. Pemahaman merupakan upaya saling memahami dan usaha bersama untuk saling mengerti, Gadamer mengatakan, “Understanding means understanding one another. Understanding
fisrt of all having come to a mutual understanding. Understanding is always coming to an understanding about something.” 20 Artinya,
“Pemahaman berarti memahami satu sama lain. Pemahaman pada mulanya datang dari saling memahami. Pemahaman selalu berarti upaya untuk mengerti tentang sesuatu.”
Hans Georg Gadamer menekankan aspek pemahaman dan pentingnya bahasan untuk mencari pemahaman. Gadamer mempunyai beberapa point penting diantaranya :
19 Sofyan A.P Kau, “Hermeneutika Gadamer dan Relevansinya, 11-12. 20 Hasyim Hasanah, “Hermeneutik Ontologis-Dialektis, 10.
47 1. Kesadaran sejarah
Kesadaran sejarah harus menyadari bahwa di dalam kenyataannya mendekati sebuah karya, terdapat sebuah tradisi. Meskipun tidak diakui atau tidak mungkin karena unsur lain. Oleh karena itu, tidak mampu mempunyai pengetahuan objektif apa pun tentang dirinya. Selalu berada di dalam situasi ini, dan untuk menjelaskannya adalah sebuah tugas yang tidak pernah selesai sepenuhnya. Ini juga terjadi pada situasi hermeneutik, yakni situasi di mana seorang menemukan dirinya berhubungan dengan tradisi yang coba dipahami. Penjelasan terhadap ini tidak pernah sepenuhnya dicapai, tetapi ini tidak menyebabkan kurangnya
refleksi, tetapi terletak pada esensi historis milik kita.21
Penafsir mempunyai pemahaman tidak luput dari situasi hermeneutik tertentu yang melingkupinya, atau dapat dikatakan
situasi hermeneutik tertentu mempengaruhi pemahaman
hermeneutik penafsir. Baik berupa kultur, tradisi, maupun pengalaman hidup. Untuk mendapatkan sebuah kesadaran merupakan sebuah tugas khusus yang sulit. Seorang penafsir harus mampu mengendalikan pendapatnya ketika menafsirkan sebuah teks. Penafsir harus belajar mengenali secara sadar maupun tidak sadar keterpengaruhan sejarah akan ada dalam dirinya. Sebab sejarah adalah langkah awal menjelaskan pemahaman langsung
dengan si penafsir.22
Menurut Hans Georg Gadamer dalam bukunya Truth and Method :
“To this exent, history of effect is not new. But I to
require an inquiry into history of effect every time a work of
21 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, terj. Ahmad Sahidah, 355. 22 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, terj. Ahmad Sahidah, 362.
art an aspect of tradition is led out of the twilight region between tradition and history so that it can be seen clearly and openly in terms of its own meaning -this is a new demand (addressed not to research, but to its methodological consciousness) that proceeds inevitably from thinking historical consciousness trough.”23
“Sejauh ini, sejarah efek bukanlah hal baru. Tetapi memerlukan penyelidikan tentang sejarah efek dari sebuah karya seni atau aspek tradisi dibawa keluar dari wilayah senja antara tradisi dan sejarah sehingga dapat dilihat dengan jelas dan terbuka dalam artian maknanya sendiri – ini adalah permintaan baru (ditunjukan untuk tidak meneliti, tapi juga pada kesadaran metodologisnya) yang secara tak terelakkan dari pemikiran kesadaran historis.” Selanjutnya, langkah yang kuat terpengaruh adalah latar belakang si penafsir. Langkah inilah yang akan membentuk prasangka (prajudice). Di sini penafsir perlu berhati-hati dalam
menafsirkan teks.24 Maksudnya, seorang penafsir tidak
menafsirkan sesuai keinginannya dan tidak keluar dari batasannya. Penafsir sebaiknya tidak menafsirkan semata-mata berasal dari prapemahaman yang terpengaruh oleh pengalamannya dahulu. Dan pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks.
Sahiron menjelaskan setiap penafsir pasti berada pada situasi tertentu yang dapat mempengaruhi pemahaman terhadap teks yang ditafsirkan. Hal ini disebut juga dengan effective story (sejarah efektif) yang terdiri dari kultur, tradisi dan pengalaman hidup manusia. Hans Georg Gadamer mengatakan dalam bukunya: “Seseorang harus belajar memahami dan menggenali
23 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, translated by Joel Sheinmer and Donald G.Marshall (London: Continuum, 2004), 299.
24 Muhammad Hanif, “Hermeneutika Hans Georg Gadamer dan Signifikansinya Terhadap Penafsiran Al-Qur’an”, 101.
49 bahwa dalam setiap pemahaman baik secara sadar maupun tidak sadar, pengaruh yang sangat penting untuk mempengaruhi
seseorang ialah effective story (kesadaran sejarah).” 25
2. Prasangka
Prasangka merupakan pengalaman manusia yang pernah dilaluinya. Karena manusia tidak mungkin mengetahui tanpa membaca dan melalui pengalaman dalam hidupnya. Seluruh pemahaman manusia bersifat prasangka. Ini dikatakan lingkaran hermeneutika.
Prasangka perlu dipahami dalam sebuah teks dengan cara yang benar. Kebenaran mengenai konsepsi prasangka dikuatkan dalam peryataannya:
“Thus it is quite right for the interpreter not to
approach the text directly, relying solely on the fore meaning at once available to him, but rather to examine explicitly the legitimacy, i.e. the origin and validity, of the fore-meaning present within him”.
“Jadi, para penafsir tidak memahami teks secara langsung namun juga memasukan sesuatu yang implisit sebagai bentuk legitimasi. Yaitu berupa kebenaran yang datang dari dalam dirinya dan divalidasikan.”
Pra-pemahaman pada diri pembaca akan mempengaruhi pembaca dalam mendialogkan teks dengan konteks. Pembaca juga harus pintar dalam memahaminya dengan melakukan revisi agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Untuk itu, Gadamer sudah menjelaskan agar suatu teks harus tetap terbuka terhadap aspek-aspek baru. Sehingga teks akan mengungkapkan dirinya sendiri dan mampu mengungkapkan kebeneran saat dihadapkan
25 Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Pesantren Newsea Press,2009), 79.
pada rangkaian pra makna yang ada dalam diri penafsir sejak awal. Suatu penafsiran akan dapat menyingkirkan prasangka-prasangka yang tidak cocok dan terbuka dengan prasangka-prasangka yang benar. Selanjutnya menyingkirkan prasangka-prasangka yang
tidak sesuai.26
3. Peleburan Cakrawala (Horizon)
Cakrawala adalah bentangan visi yang meliputi segala
sesuatu yang bisa dilihat dari titik khusus. Dengan
mempergunakan akal pemikiran yang menjelaskan kesempitan
horizon, kemungkinan ekspansi dari horizon.27 Gadamer
menyatakan ketika seseorang tidak mempunyai suatu pandang, tidak melihat penilaian secara luas dan dilandasi dengan pemikiran yang sempit. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai suatu suatu pandang ialah orang yang tidak terkurung oleh cakupan pandangan sekilasnya saja namun mampu melihat di balik apa yang segera terlihat dihadapannya. Seorang yang mempunyai pandangan atau horizon luas mampu melihat hal-hal
yang penting yang menghubungkan satu dengan yang lainnya.28
Hans Georg Gadamer berpendapat dalam menafsirkan terdapat dua horizon, yaitu horizon pembaca dan horizon penafsir yang harus diperhatikan. Kita tidak bisa menghindari yang berakar dari horizon dunia hidup kita. Horizon penafsir menempatkan pengalaman dalam situasi keterbukaan yang nantinya membiarkan sesuatu masuk untuk dikatakan. Keterbukaan bersifat bersedia,
26 Agus Damarji, “Dasar-dasar Ontologis Pemahaman Hermeneutika Hans Georg Gadamer”. jurnal Refleksi, vol. 13, no. 4 (April 2013): 481.
27 Rasidah, “Hermeneutika Gadamer dan Implikasinya terhadap Pemahaman Kontemporer Al-Qur’an”. jurnal Religia, vol. 14, no. 2 (Oktober 2011): 215.
28 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 364.
51 tidak mau menguasai, mendengar dari sesuatu lain. Maka kesadaran hermeneutik dalam kondisi keterbukaan seseorang akan
menghasilkan sifat produktif Pengalaman (cakrawala)29 meletakan
keadaan yang sebenarnya terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan.30
Kemudian dari segi horizon teks, seorang dapat
menganalisis aspek historisnya seperti latar belakang teks dan asbabun nuzul. Menganalisis aspek kebahasaan teks. Dengan begitu, seseorang yang memiliki horizon tidak terbatas pada sesuatu ataupun tidak tertutup dan mengetahui makna relatif segala sesuatu di dalam horizon ini, baik besar ataupun kecil, baik dekat ataupun jauh. Karena penafsir menempatkan dirinya seolah-olah hidup di tengah horizon sejarah tersebut, sehingga dapat memahami signifkansi sejarah tradisi. Penafsir juga telah terpengaruhi kondisi politik, sosial, ekonomi dll, sehingga muncul sebuah hubungan antara horizon sejarah atau tradisi dan horizon penafsir. 31
Maka pemahaman yang utuh didapatkan dengan
mempertemukan horizon masa lalu dan masa kini. Horizon pada masa sekarang tidak dapat terlepas dari horizon pada masa lampau. Setiap pemahaman adalah peleburan dari dua macam horizon atau cakrawala (fusion of horizon). Kemudian menggabungkan antara horizon teks, horizon penafsir, dan horizon pembaca. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal yang
29 Cakrawala terbagi menjadi dua, yaitu cakrawala masa lalu dan masa kini. Cakrawala masa lalu ialah pengalaman maupun prasangka-prasangka yang telah terjadi pada masa lalu. Sedangkan cakrawala masa kini ialah prasangka yang membentuk dalam diri manusia yang senantiasa dibawa. Jadi cakrawala masa kini tidak dapat dibentuk tanpa masa lalu, karena keduanya memiliki ikatan satu sama lain.
30 Hasyim Hasanah, “Hermeneutik Ontologis-Dialektis, 17.
lebih baik, perlu untuk memperhatikan horizon teks dan pembaca. Saat seorang membaca teks akan memulai dengan cakrawala hermeneutika yang digunakan, namun juga harus mengakui, menerima dan memperhatikan secara terbuka bahwa horizon teks itu memiliki horizonnya sendiri yang kemungkinan berbeda dengan horizon pembaca, sehingga memerlukan peleburan untuk
mendapatkan makna baru. 32
4. Menerapkan Makna “Berarti”
Setelah melakukan peleburan cakrawala, langkah
selanjutnya yaitu mengaplikasikan konteks tersebut ke masa sekarang. Tentunya fungsi interprestasi adalah menafsirkan dengan menghubungkan makna teks kepada suasana kekinian.
Hans Georg Gadamer mengatakan sesuatu seperti aplikasi teks yang harus dipahami sesuai tempat pada situasi kekinian. Dalam makna mengetahui dan menjelaskan, memahami sudah mencakup di dalamnya sesuatu seperti aplikasi atau relasi teks terhadap suasana kekinian yang membentuk suatu tantangan yang
nyata.33 Teori aplikasi ini menjelaskan setelah seorang penafsir
menemukakan makna yang dimaksud oleh teks tersebut.
Selain itu, langkah selanjutnya mengembangkan penafsiran atau interprestasi dengan tetap memperhatikan kesinambungan makna baru dengan makna asal teks. Saat teks telah terdapat makna leksikalnya, dikorelasikan makna tesebut dengan makna kedua dan makna ketiga dengan memperhatikan komponen yang terkandung di dalam makna leksikal tersebut. Menurut Gadamer,
32 Hans Georg Gadamer, Truth an Method, terj. Ahmad Sahidah, 372.
33 Richard E Palmer, Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interprestasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 195.
53 mekanisme ini disebut denan sinn (arti) dan significance (makna
yang berarti atau mendalam).34 Untuk itu, hermeneutika
membentuk suatu pola yang lebih baik untuk mendapatkan
kelayakan operasional pemahaman dalam sejarah dan sastra. 35
Tentunya tugas interprestasi bukan sekedar upaya untuk masuk ke dalam suatu dunia lain tetapi sebagai upaya untuk menjangkau jarak teks dan situasi kekinian dengan mencangkup tidak hanya penjelasan apa yang dimaksud oleh teks namun juga teks tersebut bisa dibawa pada era sekarang. Dengan kata lain, memahami teks selalu sudah merupakan pengaplikasiannya. `
D. Penerapan Hermeneutika Hans Georg Gadamer terhadap Teks