• Tidak ada hasil yang ditemukan

HERMENEUTIKA DOA KEPADA ORANG TUA (STUDI KASUS SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN SURAH AL-ISRĀ AYAT 23-24)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HERMENEUTIKA DOA KEPADA ORANG TUA (STUDI KASUS SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN SURAH AL-ISRĀ AYAT 23-24)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

(STUDI KASUS SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN

SURAH AL-ISRĀ’ AYAT 23-24)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh:

Siti Rachmah Amalia NIM. 11160340000082

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

HIDAYATULLAH

JAKARTA

1442 H/2021 M

(2)

i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

HERMENEUTIKA DOA KEPADA ORANG TUA

(STUDI KASUS SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN SURAH AL-ISRĀ’ AYAT 23-24)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Agama (S.Ag) dalam Bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

Siti Rachmah Amalia NIM. 11160340000082

Pembimbing

Moh. Anwar Syarifuddin, MA. NIP. 19720518 199803 1 003

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli yang diajukan untuk memenuhi satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tangerang, 20 Februari 2021

(4)

iii

Moh. Anwar Syarifuddin, M.A NIP. 19820816 201503 1 004

PENGESAHAN SIDANG MUNAQASYAH

Skripsi berjudul HERMENEUTIKA DOA KEPADA ORANG TUA (STUDI KASUS SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN SURAH AL-ISRĀ’ AYAT 23-24) telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 28 April 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Jakarta, 15 Juni 2021 Sidang Munaqasyah

Anggota,

PEDOMAN TRANSLITERASI Ketua Merangkap Anggota,

Dr. Eva Nugraha, M.Ag NIP. 19710217 199803 1 002

Sekretaris Merangkap Anggota,

Fahrizal Mahdi,Lc., MIRKH NIP. 19820816 201503 1 004

Pembimbing,

Moh. Anwar Syarifuddin, M.A NIP. 19820816 201503 1 004

Penguji II,

Muhamad Tamamul Iman, M.Phil NIP. 19890510 202012 1 008 Penguji I,

Kusmana, MA., Ph.D NIP. 19650424 199503 1 001

(5)

iv

PENDOMAN TRANSLITERASI

Pedoman Transliterasi Arab latin yang merupakan hasil keputusan bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor: 0543b/U/1987.

A. Konsonan

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada halaman berikut ini:

Huruf Arab Huruf Latin Nama

ا

-

Tidak dilambangkan

ب

B Be

ت

T Te

ث

ṡ Es (dengan titik diatas)

ج

J Je

ح

ḥ Ha ( dengan titik dibawah)

خ

Kh Ka dan Ha

د

D De

ذ

Ż Zet (dengan titik diatas)

ر

R Er

ز

Z Zet

س

S Es

(6)

v

ص

ṣ Es (dengan titik dibawah)

ض

ḍ De (dengan titik dibawah)

ط

ṭ Te (dengan titik dibawah)

ظ

ẓ Zet (dengan titik dibawah)

ع

‘ Apostrof terbalik

غ

G Ge

ف

F Ef

ق

Q Qi

ك

K Ka

ل

L El

م

M Em

ن

N En

و

W We

ه

H Ha

ء

̓ Apostrof

ي

Y Ye

Hamzah (

ء

) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa

diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda ( ̓ ).

(7)

vi B. Tanda Vokal

Vokal dalam bahasa Arab-Indonesia terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau disebut dengan diftong. Untuk vokal tunggal sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ

A Fatḥah

َ

I Kasrah

َ

U Ḍammah

Adapun vokal rangkap, sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ

ى

Ai a dan i

و

َ

Au a dan u

Dalam bahasa Arab untuk ketentuan alih aksara vokal panjang (mad) dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ

ا

Ā a dengan topi di atas

ْ يِا

Ī i dengan topi di atas

(8)

vii C. Kata Sandang

Kata sandang dilambangkan dengan “al-” yang diikuti huruf

syamsiyah dan qamariyah.

Al-Qomariyah

ْ يِنُم لَا

Al-Munīr

Al-Syamsyiyah

لاَجِرلا

Al-Rijāl

D. Syaddah (Tasydid)

Dalam bahasa Arab syaddah atau tasydid dilambangkan dengan

sebuah tanda ( ّ) dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf

yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tdak berlaku jika huruf yang menerima syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh uruf-huruf syamsiyah. Misalnya kata

ُْةَر وُرَّضلَا

tidak ditulis al-Ḍarūrah melainkan al-Darurah, demikian seterusnya.

E. Ta Marbūṭah

Transliterasi untuk ta marbūṭah ada dua, yaitu: ta marbūṭah yang hidup atau mendapat harakat fatḥah, kasrah dan ḍammah, transliterasinya adalah [t]. Sedangkan ta marbūṭah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h]. Kalau pada kata yang berakhir dengan ta marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan yang kedua kata itu terpisah, maka ta marbūṭah itu ditransliterasikan dengan ha (h).

(9)

viii F. Huruf Kapital

Penerapan huruf kapital dalam alih aksara ini, juga mengikuti Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yaitu, untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan nama diri dan lain-lain. Jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf capital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abū Hāmīd, al-Gazālī, al-Kindī.

Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal dari Indonesia sendiri, disarankan tidak dialih aksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-palimbadi, tidak “And al-Samad al-Palimbānī; Nuruddin al-Raniri, tidak Nūr al-Dīn al-Ranīrī.

G. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (Fi‘il), kata benda (Isim), maupun huruf (Ḥarfu) ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara atas kalimat-kalimat dalam bahasa Arab, dengan

berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas. Contohnya :

َّْيَدِلا

َْوِلَو

dibaca dengan Wālidayya. ۡم ک س ف ۡن ا ۡن م ۡم ک ل ل ع ج ہللّٰا و dibaca dengan Wallahu ja’ala lakum min anfusikum.

Penulisan nama orang harus sesuai dengan tulisan nama diri mereka. Nama orang berbahasa Arab tetapi bukan asli orang Arab tidak perlu dialihaksarakan. Contoh : Nurcholish Majid, Mohamad Roem, Fazlur Rahman, bukan Fazl al- Rahmān.

(10)

ix ABSTRAK

Siti Rachmah Amalia, NIM. 11160340000082

“Hermeneutika Doa Kepada Orang Tua (Studi Kasus Surah Ibrāhīm Ayat 41dan Surah Al-Isrā’ Ayat 23-24)”

Skripsi ini membahas pemahaman yang bisa diambil dari ayat-ayat yang mengungkap doa kepada kedua orang tua dalam surah al-Isrā’ ayat 23-24 dan surah Ibrāhīm ayat 41. Dari sisi teksnya, ayat-ayat ini tentunya memiliki makna yang luas bila dianalisis dari segi historisnya. Begitu juga kemanfaatannya (meaningfulness) bagi orang-orang yang hidup di masa kini, ketika dipahami secara kontekstual dan dikaitkan dengan kenyataan yang terjadi dewasa ini. Karena di sinilah analisis hermeneutika menemukan arti pentingnya bagi pembangunan peradaban manusia. Hermeneutika berupaya memahami makna secara relevan menurut teks dan konteks tersebut dengan menggunakan hermeneutika Hans Georg Gadamer dengan menganalisis berupa surah Ibrāhīm ayat 41 dan surah al-Isrā’ ayat 23-24 yang menyatakan permohonan ampun kepada kedua orang tua serta bersikap baik kepada keduanya.

Analisis kedua menggunakan analisis cakrawala teks mengatakan kata wālidayya atau wālidayni yang diartikan ibu dan ayah. Dalam cakrawala pembaca ternyata bukan hanya ibu dan ayah semata, melainkan garis nasab ke atas seperti nenek, kakek dan juga orang tua bagi setiap manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Analisis ketiga yaitu peleburan cakrawala yang menyatakan dari surah Ibrāhīm ayat 41 dan surah al-Isrā’ ayat 23-24 terdapat manfaat bagi siapa saja yang menginginkan Allah memberikan perlindungan dan penjagaan kepada mereka. Dengan cara memohon ampun dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dengan demikian, berdoa dapat menghantarkan hati merasakan ketenangan yang lebih baik dan dari sini dapat menjadi contoh bagi manusia lainnya di kehidupan sekarang maupun kehidupan masa yang akan datang.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirabbil’alamin, dengan menyebut asmaa Allah yang

Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji serta syukur penulis haturkan kepada Allah Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan taufiq, hidayah, serta nikmat yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyusun serta menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Hermeneutika Doa Kepada Orang Tua (Studi Kasus Surah Ibrāhīm Ayat 41 dan Surah Al-Isrā’ Ayat 23-24)”.

Sholawat serta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Saw akhir zaman penuntun umat islam yang setia menuntun pengikutnya kepada jalan yang sesuai dengan pedoman kehidupan umat islam. Semoga semua umatnya senantiasa dapat menjalankan syariat-syariatnya, amin.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak sekali kekurangan maupun kesalahan penulis karena terbatasnya kemampuan penulis. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kepentingan bersama. Maka sepatutnya penulis mengucapkan banyak terimakasih sedalam-dalamnya kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc, MA, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Yusuf Rahman, MA, selaku Dekan Fakultas Ushluddin, Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Eva Nugraha, MA, selaku ketua program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan bapak Fahrizal Mahdi, Lc.,MIRKH, selaku sekretaris program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

4. Seluruh jajaran dosen fakultas Ushuluddin dan khususnya prodi ilmu al-Qur’an dan Tafsir yang tidak bisa penulis sebutkan satu

(12)

xi

persatu tanpa mengurangi rasa hormat yang telah memberikan ilmu dengan tulus dan ikhlas dan membimbing kami menjadi manusia yang lebih baik.

5. Bapak Moh. Anwar Syarifuddin, MA, selaku pembimbing penulis. Terimakasih atas ilmunya, kebaikan, kesabarannya, yang telah memberikan waktunya untuk nasehat, bimbingan, koreksian terhadap skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik. 6. Alm. Bapak Haji Rahmat dan Bu Hajah Rosidah selaku kakek dan

nenek yang tidak pernah berhenti mendoakan, memberikan motivasi dan menyayangi sepenuh hati. Terimakasih atas segala pengorbanan yang tiada henti sehingga penulis lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan.

7. Kedua orang tua tercinta, Abi Muhammad Najar dan Umi Tuti Rahmawati yang tidak pernah berhenti memberikan kasih dan sayangnya, menemani dalam segala suka maupun duka. Terimakasih untuk doa yang telah dipanjatkan umi dan abi dalam setiap keadaan. Semoga segala keberhasilanku, menjadi ladang pahala untuk kalian dan menjadi sebuah kebangganmu terhadapku. 8. Saudara-saudaraku, Nazriah Nurunajwa dan Imam Fatihatul

Muslim yang selalu ada di sisi penulis dalam suka dan duka dan yang selalu memberikan semangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

9. Sahabat-sahabatku, Iffah Afkarina, Siti Marwati, Mayang Setiyana, Rosyidah Maizan dan Anisah Zahidah yang telah menyemagati penulis dalam hal apapun.

10. Teman-teman seperjuangan pada program Ilmu al-Qur’an dan Tafsir angkatan 2016, terkhusus orang-orang yang aku sayang

(13)

xii

Syifa Dini Amalia, Ifta Athiyah dan Astiana Abdillah yang menemani penulis selama menulis skripsi ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis berdoa semoga segala kebaikan semua pihak yang membantu penulis dalam berjuang selama ini dapat diterima Allah Swt dan mendapat pahala yang mengalir seterusnya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membaca khususnya bagi penulis sendiri.

Tangerang, 03 Januari 2021

(14)

xiii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ii

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG MUNAQASYAH ... iii

PENDOMAN TRANSLITERASI ... iv

ABSTRAK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

D. Tinjauan Pustaka ... 11

E. Metodologi Penelitian ... 14

F. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG DOA DALAM AL-QUR’AN A. Pengertian Doa ... 17

B. Kedudukan dan Keutamaan Doa ... 32

C. Adab Berdoa Kepada Kedua Orang Tua ... 34

D. Manfaat Berdoa Kepada Orang Tua ... 36

BAB III PANDANGAN UMUM TENTANG HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER A. Pengertian Hermeneutika ... 39

(15)

xiv

C. Pemikiran Hermeneutika Hans Georg Gadamer ... 44

D. Hermeneutika Gadamer Terhadap Teks Al-Qur’an ... 53

BAB IV ANALISIS TAFSIR AL-QUR’AN SURAH IBRĀHĪM AYAT 41 DAN SURAH AL-ISRĀ’ AYAT 23-24 MELALUI HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER A. Penafsiran Surah Ibrāhīm Ayat 41 dan Surah Al-Isrā’ Ayat 23-24 1. Penafsiran Surah Ibrāhīm Ayat 41 ... 57

2. Penafsiran Surah Al-Isrā’ Ayat 23-24 ... 58

B. Berdoa Memohon Ampunan Bagi Kedua Orang Tua 1. Cakrawala Teks Al-Qur’an ... 61

2. Cakrawala Pembaca ... 68

3. Peleburan Cakrawala ... 75

C. Berdoa Memohon Kasih Sayang Orang Tua 1. Cakrawala Teks Al-Qur’an ... 78

2. Cakrawala Pembaca ... 83 3. Peleburan Cakrawala ... 86 D. Analisis Perbandingan ... 89 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 91 B. Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA ... 93

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Quraish Shihab doa merupakan permintaan yang ditujukan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan dan kemampuan lebih tinggi, melebihi kedudukan dan kemampuan sang pemintanya. Doa adalah suatu fitrah di dalam diri manusia. Setiap manusia senantiasa mengalami senang dan susah, mengalami sehat dan sakit, mengalami kemajuan dan kemunduran. Tentunya sudah menjadi naluri manusia untuk meminta pertolongan kepada orang yang berkuasa. Tidak ada tempat berlindung, tidak ada tempat

meminta tolong, kecuali hanya berdoa kepada Allah. 1

Doa sebagai ibadah yang bukan hanya semata-mata untuk memohon pertolongan Allah dalam memecahkan problem manusia yang dihadapinya, akan tetapi secara luas sebagai suatu kebutuhan setiap saat dalam rangkaian ibadah. Salah satu doa yang amat sering dilafalkan oleh seorang hamba-Nya yaitu doa untuk kedua orang tua yang berbunyi :

اًيِغَصْ ِنِاَيَّ بَرْاَمَكْاَمُه َحَ راَّْيَدِلاَوِلَوْ ِلِْ رِف غاْ ِ بَر

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.”

Doa kepada kedua orang tua tersebut dapat ditemukan dalam beberapa surah al-Qur’an, di antaranya surah Ibrmīhā ayat 41, yang berbunyi

1 Hosein Fadhlullah, Menyelami Samudra Do’a, cet. 5 (Jakarta: Al-Huda, 2005), 164.

(17)

ُْباَسِ لْٱُْموُقَ يَْم وَ يَْينِنِم ؤُم لِلَوَّْىَدِلََٰوِلَوْ ِلِْ رِف غٱْاَنَّ بَر

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat).” (QS. Ibrmīhā/14: 41)

Ayat ini menjelaskan bahwa nabi Ibrahim as meminta ampunan kepada Allah SWT dan mengharapkan ampunan bagi kedua orang

tuanya dan orang-orang yang beriman.2 Persoalan permohonan

ampunan yang dilakukan Ibrahim, khususnya yang ditujukan kepada ayahnya seperti tertuang dalam ayat lain, seperti QS. Maryam 19: 47 mendapat penentangan Allah, seperti dijelaskan di tempat lain dalam surah At-Taubah ayat 114:

ِْإْاَهَدَعَوٍْةَدِع وَّمْنَعْ َّلَِّإِْهيِبَِلَِْميِهاَر بِإُْراَف غِت ساَْناَكْاَمَو

َْعُْهَّنَأُْهَلََّْينَ بَ تْاَّمَلَ فُْهَّيَّ

ِْه َّل ِلْ وُد

ُْه نِمَْأَّرَ بَ ت

َ

ْ

ٌْميِلَحٌْهاَّوََلَِْميِهاَر بِإَّْنِإ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim

adalah seorang yang sangat Lembut hatinya lagi Penyantun.” 3

(QS. At-Taubah/9: 114)

Dari sini, persoalan permohonan ampun yang dilakukan Ibrahim as untuk kedua orang tuanya ini memerlukan pembahasan yang cukup komprehensif. Persoalan ini menjadi penting mengingat janji Ibrahim as untuk memohonkan ampunan untuk ayahnya Azar terjadi ketika masih dalam masa awal kenabian, ketika Ibrahim as masih tinggal di Mesopotamia, sementara kejadian permohonan ampunan untuk kedua

2 Syekh Bakar Abdul Hafizh, Tafsir dan Makna Do’a dalam al Qur’an; Penerjemah Andi Muhammad Syahril (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2016), 319.

3 Abu Jafar Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tafsir ath-Thabārī ; Penerjemah Anshari Taslim, jilid 5 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), 622.

(18)

3 orang tuanya terjadi di masa ketika Ibrahim as telah berhijrah ke Syam dan kemudian mengunjungi Makkah dalam kunjungannya yang kedua. Mungkinkah kejadian lama terulang dan kemudian Ibrahim as seperti terperosok ke dalam lubang yang sama?. Permasalahan inilah yang memerlukan analisis pemahaman yang lebih memadai, terutama dengan mengoptimalkan penggunaan pendekatan hermeneutika Gadamer.

Pembahasan tentang doa permohonan ampun Ibrahim as kepada kedua orang tuanya menjadi penting ketika doa kepada kedua orang tua menjadi salah satu wujud bagi kepedulian seorang anak dalam baktinya kepada kedua orang tuanya, yang sudah mengasuh, mendidik, dan menyayangi anak-anaknya sejak kecil. Hal ini tergambar dalam doa kepada kedua orang tua dalam surah al-Isrā’ ayat 23-24:

ًْناَس حِإِْن يَدِلاَو لِبَِوُْهَّيَِّإْ َّلَِّإْاوُدُب عَ تْ َّلََّأَْكُّبَرَْٰىَضَقَو

َ

ْ

ْاَُهُُدَحَأَْرَ بِك لاْ َكَدنِعَّْنَغُل بَ يْاَّمِإ

اًيمِرَكْ ًلَّ وَ قْاَمَُّلَّْلُقَوْاَُهُ رَه نَ تْ َلََّوْ ٍفُأْاَمَُّلَّْلُقَ تْ َلََفْاَُهُ َلَِكْ وَأ

.

ِْف خاَو

َْحاَنَجْاَمَُلَّْ ض

اًيِغَصْ ِنِاَيَّ بَرْاَمَكْاَمُه َحَ راْ ِبَّرْلُقَوِْةَ حََّرلاَْنِمْ ِلُّذلا

ْ

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendakhlah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaamu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".” (QS. Al- al-Isrā’/17: 23-24)

Doa menjadi salah satu media berkomunikasi langsung antara hamba dengan Allah tanpa perantara. Karena itu, doa bersifat personal, rahasia, dan membatin. Doa tidak hanya merupakan

(19)

ungkapan lisan, melainkan juga ungkapan batin seorang muslim. Setiap muslim akan merasakan manfaatnya atas setiap doa yang dipanjatkan. Doa menandai batas akhir dari setiap ikhtiar manusia ketika batas-batas kemampuan kemanusiaan bersinggungan dengan

campur tangan kekuasan Allah.4 Doa bukanlah ungkapan kekecewaan

atau tempat pelarian apabila seseorang mengalami kegagalan, melainkan doa sudah menjadi kebutuhan bagi setiap muslim dan bernilai ibadah kepada Allah. Dari sini pembaca harus memperhatikan beberapa aspek terkait memahami ayat dengan realita masyarakat pada masa sekarang, ketika ayat-ayat ini digunakan untuk memohon keselamatan nasib kedua orang tua, termasuk ketika menggunakan interprestasi.

Interprestasi selalu berkaitan dengan teks dan konteks, yang idealnya dilakukan dengan cara menghamorniskan keduanya. Sehingga relevansi makna yang dihasilkan tidak memihak berat sebelah di antara keduanya. Salah satu pendekatan ilmiah yang digunakan pada penafsiran yaitu menggunakan hermeneutika. Fazlur Rahman Malik menyatakan bahwa pesan moral al-Qur’an mesti dipahami secara efektif dan menyeluruh terhadap perkembangan kronologisnya, bukan merupakan pemahaman parsial ayat perayat

yang dianggap sebagai sesuatu yang mutlak.5

Dalam kajian hermeneutika terdapat ruang lingkup dan objek pembahasan yang berupa teks. Teks tersebut bisa saja mewujud dalam rupa ujaran bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia, sehingga penerapan analisis hermeneutika dalam kajian penafsiran dan

4 M. Anwar Syarifuddin dan Jauhar Azizy “Mendialogkan Hermeneutika Doa dalam Kisah Ibrahim dan Musa,” Refleksi: Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin, vol. 13, no. 6 (April 2014): 696.

5 Ulyah Ulfah, “Hermeneutika double movement Fazlur Rahman: Menuju Penetapan Hukum Berivisi Etis”. Jurnal Ushuluddin, vol. 12, no. 2 (2011): 116.

(20)

5 pemahaman al-Qur’an dapat memperkuat metodologi dan hasil penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Dalam konteks kajian pemahaman al-Qur’an, hermeneutika dapat digunakan sebagai ilmu yang merefleksikan kilasan kejadian-kejadian masa lalu untuk diimplementasikan bagi kemanfaatan orang-orang yang hidup masa kini.

Hermeneutika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu hermen dan hermenela yang secara sederhana berarti menafsir

dan penafsiran, mengungkap dan pengungkapan.6 Salah satu tokoh

dalam bidang hermeneutika adalah Hans Georg Gadamer yang lahir pada 11 Febuari 1900. Gadamer tumbuh dalam keluarga Silesia (sekarang Polandia). Ayahnya bernama Johanes Gadamer dan ibunya

bernama Emma Caroline Johanna.7 Dalam pandangan Gadamer

pemahaman yang dianggap benar adalah pemahaman yang mengarah

pada tingkat ontologis, bukan metodologis.8 Artinya kebenaran dapat

tercapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan begitu, bahasa menjadi medium yang sangat penting bagi terjadinya dialog. Bagi Gadamer, metode bukan merupakan suatu jalan untuk mencapai suatu kebenaran. Kunci pemahaman baginya adalah partisipasi keterbukaan.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan cakrawala9 teks.

Setiap teks memiliki cakrawala historis saat teks itu diturunkan atau

6 Martinho G.da Silva, Hans Georg Gadamer : Penggagas Filsafat Hermeneutika

Modern yang Mengangunkan Tradisi (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,2014), 21.

7 Martinho G.da Silva, Hans Georg Gadamer, 2.

8 Sofyan A.P, “Hermeneutika Gadamer dan Relevansinya dengan Tafsir”. Jurnal

Farabi, vol. 11, no. 2 (Desember 2014): 9.

9 Cakrawala adalah jangkauan pandangan yang mencangkup sesuatu yang dilihat dari titik pandang tertentu. Dalam menganalisis Qur’an, maka cakrawala teks al-Qur’an itu sendiri dengan memaknai esensi yang terkandung dalam al-al-Qur’an.

(21)

dibuat. Maka, kesadaran akan keterpengaruhan mufasir oleh sejarah menjadi sangat penting.

N. Kholis Huqola memperkuat pentingnya penggunaan hermeneutika Gadamer. Menurutnya, penafsir tidak mungkin bisa mengetahui makna secara benar ataupun bisa memposisikan dirinya dalam posisi seorang pengarang, karena penafsir selalu menggengam makna subjektif, tidak bisa melepaskan dari lingkungan tradisi di tempat hidupnya. Ini yang disebut dengan “pra-pemahaman” yang nantinya mempengaruhi penafsir dalam mendialogkan teks dan konteks.10

Makna dalam proses memahami teks dapat diperoleh melalui peleburan dua horizon. Tindakan yang disebut dengan pemahaman adalah suatu kehendak yang sejauh mungkin bisa melahirkan proses peleburan pengarang dan konteks historis dari sebuah teks bersama prasangka-prasangka penafsir seperti tradisi, kepentingan bahasa, dan budaya. Sehingga ketegangan atau gap di antara keduanya dapat diatasi. Hasil dari peleburan dua horizon akan menghasilkan suatu makna yang berarti. Selanjutnya menerapkan makna yang berarti itu pada masa sekarang.

Penulis bermaksud menggunakan hermeneutika Hans Georg Gadamer dalam memahami makna ayat-ayat berdoa kepada orang tua. Tujuan penulis ingin mengkaji kembali yaitu masyarakat tidak hanya sekedar berdoa, tetapi mereka perlu mengetahui maknanya. Bahkan pembaca dapat mengetahui latar belakang doa yang dipanjatkannya dan pembaca dapat pula mengambil manfaat ataupun hikmah dari makna ayat-ayat berdoa kepada kedua orang tua yang berguna bagi

10 Eristia Mulyawan, “Pembacaan Makna Maaf dalam Hadis Menghalalkan Tinjauan Hermeneutika Gadamer” (Jakarta: Skripsi Jurusan Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah, 2017), 4.

(22)

7

kehidupannya. Penulis berfokus pada kata

ْيدلاو

(wālidayya) sebagai

pembeda penafsiran tentang siapa yang dimaksud pada kata

wālidayya tersebut.

As-Syaukani dalam kitabnya Fatḥ al-Qadīr menjelaskan surah

Ibrmīhāayat 41 menyingkap kepada kita akan doanya nabi Ibrahim as

yang menjadi panutan untuk para hamba yang selalu meningat dan bersyukur kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim as menghadap Tuhannya untuk bermunajat dengan kerendahan hati, diri, dan ketenangan untuk meminta keamanan kota Makkah. Ia pun memohon ampun untuk kedua orang tua, dirinya dan para keturunannya. Ia menyadari akan

ada hari di mana semua perbuatan manusia akan

dipertanggungjawabkan pada hari perhitungan.11

Quraish Shihab menyatakan perkataan wālidayya itu

menunjukan orang tua yang meninggal dalam keadaan muslim dan bukan musyrik. Ini merupakan doa terakhir nabi Ibrahim as kepada orang tuanya. Hal menarik terdapat perbedaan dalam memahami kata

wālidayya.12 Sa’id bin Jubair membacanya waliwālidiy (dan orang

tuaku) dengan bentuk tunggal, maksudnya adalah ayahnya saja.13

Doa kepada orang tua sudah sangat familiar di tengah masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang menggunakan doa tersebut. Di sini masyarakat perlu memahami ayat-ayat berdoa kepada orang tua, bukan hanya sekedar arti, melainkan pesan yang terkandung dalam ayat-ayatnya, salah satunya menggunakan hermeneutika Hans Georg Gadamer. Gadamer menggunakan peleburan horizon teks dengan horizon seorang pembaca, sehingga

11 Al-Syaukani, Tafsir Fatḥ al-Qadīr, terj. Penerjemah Tim Pustaka Azzam, cet, I, jilid 6 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), 85.

12 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), vol. 6, 391. 13 Al-Syaukani, Tafsir Fatḥ al-Qadīr, 92.

(23)

bisa diimplementasikan dengan realita yang terjadi pada masa kekinian.

Pada masa sekarang doa ini menjadi wasilah pengganti dari perbuatan baik yang seharusnya ditunaikan, ketika seseorang terpaksa berada jauh dari kedua orang tua dengan alasan menuntut ilmu, menjalankan pekerjaaan, telah menikah maupun yang lainnya, sehingga seseorang tidak bisa langsung berbakti di dekat keduanya.

Terlebih baru-baru ini hadirnya virus corona,14 yang memisahkan

masyarakat dengan adanya pembatasan secara fisik. Menurut WHO,15

orang tua mudah terinfeksi oleh virus corona karena kekebalan tubuh lebih rendah. Untuk itu, demi keselamatan orang tua, banyak dari kita yang berada jauh dari orang tua tidak bisa pulang ke kampung halaman. Mendoakan mereka menjadi salah satu jalan pengganti terbaik bagi anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, bukan hanya untuk kebaikan dunia saja, melainkan kebaikan akhirat juga. Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya.

Doa ini relevan bagi siapa saja yang menginginkan Allah memberi keselamatan kepada kedua orang tuanya dan memohon ampun atas dosa-dosa orang tua. Salah satu alasannya, karena sebagai anak, tentunya seseorang menyadari tidak mungkin membalas semua jasa dan pengorbanan kedua orang tua, selain hanya Allah yang dapat membalasnya. Semua ini menunjukan rasa keihklasan baktinya pada

14 Coronavirus adalah virus menular yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi pernapasan ringan, seperti flu atau batuk. Virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia). Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019.

15 WHO adalah Organisasi Kesehatan Dunia. salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional .

(24)

9 orang tua. Sebagaimana Ibnu ash-Shobuni mengeluarkan pendapat dalam kitabnya Shofwah at-Tafāsīr yaitu Nabi Ibrahim as senantiasa mendoakan ayahnya. Ia ikhlas berbakti kepada ayahnya. Ayahnya

selalu menyembah berhala, menafikan dan mendustakan Allah Swt.16

Bedasarkan paparan di atas, penulis merasa tertarik untuk mengetahui makna di balik tafsiran ayat-ayat berdoa kepada orang tua menggunakan hermeneutika Hans Georg Gadamer yang disebutkan di

atas dengan membuat judul “Hermeneutika Doa Kepada Orang Tua

(Studi Kasus Surah Ibrāhīm Ayat 41dan Surah Al-Isrā’ Ayat 23-24)” Penulis berharap bahwa tulisan ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat terhadap doa ini.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Dari pembahasan yang penulis paparkan dalam latar belakang di atas dapat simpulkan bahwa doa kepada orang tua merupakan salah satu bentuk bakti seseorang kepada orang tuanya. Dengan berdoa manusia akan menjadi tenang dalam berbagai masalah yang dihadapi orang tuanya, dan dengan berdoa setiap orang tua akan terlindungi oleh Allah Swt.

Oleh karena itu, penulis perlu memahami konteks berdoa kepada orang tua yang ada di dalam al-Qur’an. Terdapat tiga rumusan masalah pokok, yakni

a. Penafsiran ayat-ayat berdoa kepada orang tua dalam surah Ibrāhīm ayat 41, dan surah al-Isrā’ ayat 23-24.

b. Mengungkap makna berdoa kepada orang tua.

16 M Ali Al-Sobuni, Shofwah at-Tafāsīr, terj. Yasin, jilid 3 (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), 71.

(25)

c. Mengungkap manfaat kekinian melalui tafsiran ayat-ayat berdoa kepada orang tua dengan analisis hermeneutika Hans Georg Gadamer.

2. Batasan Masalah

Penulis ingin membatasi pembahasan dalam pembuatan skripsi agar tidak melebar kemana-mana, penulis mencoba hanya membatasi dalam permasalahan sebagaimana telah ditulis pada bagian identifikasi masalah bahwa penulis hanya menganalisis kata wālidayya sebagai pembeda dengan doa lain terkait kisah Ibrahim dan dengan kata wālidain yang terdapat dalam menyikapi kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Analisis hanya dibatasi pada 3 ayat saja yang terkait dengan doa dan perintah berbakti kepada orang tua.

3. Rumusan Masalah

Bedasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas menghasilkan beberapa perumusan masalah yang nantinya akan menjadi pembahasan dalam setiap bab di dalam karya tulisan ilmiah ini. Adapun rumusan masalahnya adalah bagaimana memahami ayat-ayat berdoa kepada orang tua melalui analisis hermeneutika Hans Georg Gadamer ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penelitian

a. Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk memahami makna ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan doa kepada orang tua. Kemudian menjelaskan tafsirnya dan menggali makna berarti (meaningfull sense) melalui hermeneutika Hans Georg Gadamer.

(26)

11 b. Penelitian ini untuk mengetahui bahwa berdoa merupakan

salah satu cara komunikasi manusia dengan Allah. Dan sebagai kebutuhan setiap manusia sepanjang hari.

c. Penelitian ini untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh kesarjanaan strata 1 dalam bidang Ilmu al-Qur’an dan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Manfaat Penelitian

a. Memberikan suatu bentuk pemahaman kepada masyarakat yang diharapkan masyarakat tidak hanya sekedar berdoa, tetapi mereka perlu mengetahui maknanya, sehingga bisa diimplementasikan dengan realita yang terjadi pada masa kekinian.

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian ini terdiri dari buku, jurnal, ataupun karya ilmiah. Adapun tulisan yang penulis gunakan, sebagai berikut :

1. Rasyidah dalam tulisan yang berjudul “Hemeneutika Gadamer dan Implikasinya Terhadap Pemahaman Kotemporer al-Qur’an”. Jurnal Refeleksi IAIN Ar-Raini Banda Aceh vol. 14, no. 2 (Oktober 2011): 207-230. Tulisan ini mengkaji pemikiran hermeneutika Gadamer dalam memahami teks dan implikasinya terhadap pembacaan kotemporer al-Qur’an.

2. Moh. Anwar Syarifuddin dan Jauhar Azizy dalam tulisannya yang berjudul “Hermeneutika Doa dalam Kisah Ibrahim dan Musa Mendialogkan Makna dan Signifikansi Kekinian”. Jurnal

Refleksi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, vol. 13, no. 6 (April

2014): 695-726. Mengulas tentang makna dan signifikansi doa dalam kisah Nabi Ibrahim as dan Musa as. Dalam penelitian ini

(27)

berupaya menyajikan produk baru tafsir atas ayat doa dalam kisah Ibrahim as dan Musa as dan untuk menelusuri makna meminjam teori Hermeneutika E.D Hirsch Jr.

3. Sofyan A.P. Kau yang berjudul “Hermeneutika Gadamer dan Relevansinya dengan Tafsir”. Jurnal Farabi IAIN Gorontalo vol. 11, no. 2 (Desember 2014): 109-123. Jurnal ini membahas hermeneutika perspektif Hans Georg Gadamer yang pada dasarnya memahami teks sama dengan melakukan dialog dan membangun sintesis anatara dunia teks, dunia pengarang, dan dunia pembaca. Hal ini menjadi penting dalam setiap pemahaman.

4. Ahmad Fauzi dalam tesis yang berjudul “Konsep Doa Para Nabi dalam al-Qur’an”, Pascarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015. Membahas mengenai konteks doa para nabi meminta permohonan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Memiliki kedamaian, pertolongan atau perlindungan, rezeki, syukur,

kekuasaan,keturunan, keteguhan hati, ilmu pengetahuan,

kesembuhan, tawakal (berpasrah diri kepada Allah SWT).

5. Muhammad Hanif yang berjudul “Hermenutika Hans George Gadamer dan Signifikansinya dalam Penafsiran Al-Qur’an”. Jurnal Maghza vol. 2, no. 1 (Juni 2017): 93-108, IAIN Puwokerto.

6. Hasyim Hasanah dalam penelitian yang berjudul “Hermenutika Ontologis Dialektis Hans Georg Gadamer (Produksi Makna Wayang sebagai Metode Dakwah Sunan Kalijogo)”. Jurnal

At-Taqqaddum UIN Walisongo Semarang vol. 9, no. 1 (Juli 2017):

1-13. Penelitian ini menjelaskan hermeneutika filosofis menurut Gadamer bukan sebagi metode berfilsafat, melainkan kesadaran

(28)

13 estetis berfilsafat dari fenomena pemahaman. Dikaitkan dengan sifat kekinian yang diwariskan dari tradisi seperti wayang. Hermeneutika gadamer dimanfaatkan untuk produksi makna wayang Sunan Kalijaga.

7. Lia Andriyani dalam tulisannya “Pembacaan Hermeneutika Hadis Tentang Perempuan Kekurangan Akal dan Agama Pespektif Hans-Georg Gadamer”. Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Dalam penelitian ini memfokuskan untuk membahas hadis perempuan memiliki kekurangan akal dan agama. Hal tersebut terkait erat dengan peradaban Islam yang berhubungan dengan tradisi. Pemahaman yang kurang memperhatikan aspek-aspek historis akan menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami hadis Nabi. Hermeneutika menjadi metode. Tulisan ini menggunakan kajian hermeneutika guna menegosiasikan matan dengan realita yang ada pada zaman sekarang.

8. Eristia Mulyawan dalam penelitiannya yang berjudul

“Pembacaan Makna Maaf dalam Hadis Menghalalkan Tinjauan Hermeneutika Gadamer”, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Skripsi ini membahas kajian interprestasi terhadap hadis yang mencangkup persoalan matan dan perawi-perawinya dengan menggunakan hermeneutika Hans Georg-Gadamer.

9. Muhammad Yusuf Nasution dalam penelitian yang berjudul “Memahami Doa Nabi Nuh ; Analisis atas Surah Nūh Ayat 26-28”, skripsinya pada tahun 2018. Dalam pembahasannya di sini menjelaskan doa menjadi suatu kebutuhan dalam menjalani kehidupan, salah satunya membahas makna yang terkandung dalam doa yang dipanjatkan oleh nabi Nuh as.

(29)

10. Nafisatul Mu’awwanah dalam tulisannya yang berjudul “Hermeneutika Hans Georg Gadamer dan Relevansinya terhadap Pemahaman Hadis Keterlibatan Malaikat dan Hubungan Seksual”. Jurnal Millati UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta vol. 2, no. 2 (Desember 2018) : 277-299. Dalam penelitiannya menjelaskan teori hermeneutika Gadamer dan relevansinya yang dapat diaplikasikam terhadap hadis keterlibatan malaikat dalam hubungan seksual. Dengan teori Gadamer menggabungkan dua horizon yang akan menghasilkan meaningfull sense. Meaningfull

sense inilah menurut Gadamer dapat diterapkan oleh pembaca.

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (liblary

research)17, dalam arti semua sumber data tentang berdoa kepada

orang tua berasal dari bahan-bahan tertulis. Penelitian ini pengumpulan data-datanya diolah melalui penggalian dan penelusuran terhadap kitab-kitab, buku-buku dan catatan lainnya yang memiliki hubungan dan mendukung pembahasan ini.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan kajian literatur dan kepustakaan. Adapun pembahasan ini terkait dengan doa kepada orang tua yang terdapat pada dua bagian, yaitu :

a. Sumber Data Primer

17 Penelitian Liblary Research adalah penelitian kepustakaan yang dilaksanakan dengan cara membaca, menelaah dan mencatat berbagai literatur atau bahan bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan, kemudian disaring dan dituangkan dalam kerangka pemikiran secara teoritis

(30)

15 Data penelitian ini adalah al-Qur’an itu sendiri serta kitab-kitab tafsir diantaranya Fatḥ al-Qadīr, Shofwah at-Tafāsīr,

ath-Thābarī dan lain sebagainya.

b. Sumber Data Sekunder

Data sekundernya adalah berbagai pembahasan mengenai hermeneutika Hans Georg Gadamer. Sedangkan referensi lainnya yaitu buku, skripsi, jurnal-jurnal dan artikel yang berhubungan dengan pembahasan.

3. Pengolaan Data

Data yang terkumpul akan diolah dengan menggunakan

metodologi deskriptif18 dan analisis dengan pendekatan

hermeneutika Hans Georg Gadamer, yaitu menggambarkan keadaan atau objek penelitian bedasarkan fakta-fakta yang kemudian melakukan perincian terhadap objek tertentu dengan cara memilah untuk memperoleh kejelasan. Memaparkan

data-data yang diperoleh dari kepustakaan.19

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis akan menyusun dalam lima bab sebagai berikut :

Bab I berisikan pendahuluan, latar belakang, identifikasi, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, kemudian yang terakhir sistematika penulisan.

18Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok

manusia, suatu objek, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.

19 Ibnu Hajar, Dasar- dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), 274.

(31)

Bab II menjelaskan tentang pengertian doa khususunya penjelasan doa kepada orang tua.

Bab III menjeskan hermeneutika secara umum, menjelaskan biografi Hans Georg Gadamer serta pemahaaman Hans Georg Gadamer terhadap hermeneutika.

Bab IV berisikan penafsiran dari ayat-ayat yang terkait doa kepada kedua orang tua dan mengungkapkan makna kekinian ayat-ayat al-Qur’an yang terkait doa kepada orang tua melalui hermeneutika Hans Georg Gadamer.

(32)

17 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG DOA DALAM AL-QUR’AN

A. Pengertian Doa 1. Secara Etimologi

Doa secara etimologi berasal dari kata masdar - وعدي – اعد

ءاعد da’ā - yad’ū - du’ā-an. Tersusun dari akar kata و -ع - د,

artinya kecendrungan kepada sesuatu dengan suara atau kata-kata.1

Doa bermakna mengundang, merayu, mengutarakan, sesuai dengan penempatan dalam sebuah kalimat. Kata doa secara bahasa bermakna memanggil dengan suara dan ucapan seperti “da’awtu,

ad’u, dan du’ā” yaitu bentuk tunggal dari ad’iyah. Jika seseorang

berkata “da’ā ar-rajulu” bermakna memanggil, atau “da’ā ilā

al-amri” yang bermakna menyeru kepada suatu hal. Kata doa juga

bermakna meminta pertolongan dan memohon.2

2. Secara Terminologi

Secara terminologi dalam Lisanul Arab doa berarti memohon dengan penuh harap kepada sang Pencipta dengan mengharapkan

kebaikan dari-Nya.3 Menurut Zakiyah Drajat, doa merupakan suatu

dorongan moral yang mampu melakukan kinerja terhadap segala

sesuatu di luar jangkauan teknologi. 4

Doa secara istilah adalah permohonan atau permintaan dari seseorang hamba kepada Tuhan dengan menggunakan lafal yang dikehendaki dan dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan, atau

1 Harun Yahya, Memilih Al-Qur’an Sebagai Pembimbing Keutamaan Doa dan

Do’a Para Nabi dalam al-Qur’an (Surabaya: Risalah Gusti, 2004), 116.

2 Syaikh Bakar Abdul Hafizh, Tafsir dan Makna Doa-Doa dalam Al-Qur’an, terj. Andi Muhammad Syahril (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), 5.

3 Ibnu Manzur, Lisanul Arab, Juz 14 (Bairut: Daru Sadir), 258.

(33)

meminta sesuatu sesuai dengan hajatnya atau memohon perlindungan kepada Allah Swt. Doa yang dimaksud di sini suatu aktivitas ruhaniah yang mengandung permohonan kepada Allah Swt, seperti meminta kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal dan tabahan dalam menjalani kehidupan. Sebaiknya kita semua meminta atau berdoa kepada Allah setiap waktu, setiap saat, kapanpun dan dimanapun.

Manusia hidup akan terus diuji oleh Allah Swt. Pada umumnya Allah akan memberikan dua macam ujian untuk manusia. Pertama, manusia akan diuji dengan yang jelek-jelek, seperti kehilangan uang, tidak mempunyai pekerjaan, badan sakit, ditimpa musibah dan lain sebagainya. Kedua, manusia akan diberikan ujian dengan yang baik-baik, seperti naik pangkat, berprestasi, mempunyai anak yang shaleh shalehah, kaya raya dan sebagainya. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

Namun pada kenyataannya apabila manusia mendapatkan sesuatu kejelakan, misalnya kehilangan harta. Maka dirinya kembali mengingat Allah Swt dan akan selalu berdoa agar diberi

kemudahan mencari uang kembali.5 Akan tetapi, apabila manusia

diberi sesuatu yang bersifat baik, maka terkadang manusia melupakan Allah. Padahal Islam menjelaskan bahwa hal yang paling baik ketika manusia mengingat Allah saat mendapatkan suatu kebaikan, dengan cara bersyukur dan lebih ikhtiar lagi pada hari kemudian. Manusia yang selalu bersyukur ialah golongan orang-orang yang tidak mengingkari nikmat-Nya.

5 Mawardi Labay El-Sulihani, Zikir dan Doa dalam Kesibukan (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2000), 282-283.

(34)

19 Demikian sebagai hamba yang selalu berfikir untuk selalu merenungkan permasalahan doa, dan mencari ketentraman dengan hakikat yang sebenarnya. Jangan memohon secara berlebihan dengan memaksakan kehendak. Terutama memohon kepada selain Allah, yang membuat manusia merusak akidahnya sendiri. Sebagaimana Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shidiqiey mengutip perkataan dari Imam Ash-Shan’any yang berbunyi:

“Di antara ucapan yang menyesatkan, ialah berdoa dengan

nama-nama Tamilkha, Thamkhisya, Tamsyamisya,

Syamkhisya dan dengan nama-nama Ashabul Kahfi (aulia tujuh). Demikan juga berdoa dengan nama-nama yang tidak dikenal pengertiannya. Karena, berdoa dengan nama-nama tersebut adalah perbuatan orang yang dangkal pengertiannya tentang kitab Allah dan sunah Nabi, serta menyesatkan kaum

yang awam.” 6

Di dalam al-Qur’an sendiri terdapat 203 ayat yang menyebutkan kata doa dalam beberapa pengertian. Masing-masing mempunyai makna tertentu. Adapun doa secara etimologi sebagai berikut:

1. Doa dalam makna al-isti’ānah (memohon pertolongan dan

bantuan) hanya kepada Allah Swt.7 Manusia memerlukan Allah

sebagai hamba yang lemah. Salah satu cara komunikasi dengan Allah yaitu melalui doa. Doa merupakan media yang ditempuh manusia untuk mengungkapkan perasaannya. Allah tidak akan mungkin menyiakan doa bagi orang-orang yang mau memohon kepada-Nya. Sebab, Allah menyukai manusia yang memohon kepadaNya. Tergambar dalam firman-Nya yang berbunyi :

6 Muhammad Hasbi Ash Shidiqiey, Dzikir dan Doa Aspek Hukum dan Adab (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2003), 109.

(35)

ٌْبيِرَقْ ِنِِإَفْ ِنَِعْ يِداَبِعْ َكَلَأَسْ اَذِإَو

َ

ْ

َّْدلاْ َةَو عَدْ ُبيِجُأ

ِْناَعَدْ اَذِإْ ِعا

َ

ْ

َْنوُدُش رَ يْ مُهَّلَعَلْ ِبِْاوُنِم ؤُ ي لَوْ ِلِْاوُبيِجَت سَي لَ ف

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, Maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah/2 : 186)

Kata (‘ibadi) hamba-hambaKu adalah bentuk jamak dari kata (abd) ‘abd. Kata ‘ibd bisa digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau saat mereka penuh dosa tetapi mereka menyadari dosanya serta mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya. “Orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” menunjukan bahwa bisa jadi ada seseorang yang memohon tetapi belum lagi dinilai berdoa oleh-Nya. Allah menilai doa seseorang antara lain orang tersebut tulus penuh harapan hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Bukan juga menghadapkan diri kepada-Nya bersama dengan selain-Nya. Ini difahami dengan penggunaan

kata Kepada-Ku.8

2. Doa dalam makna al-Tahmīd (memuji). Memuji kepada Allah Swt dengan nama-namaNya. Tertera pada surah al-Isrā’ ayat 110 yang berbunyi :

َْنَٰ َ حََّرلاْاوُع داِْوَأَْه َّللاْاوُع داْ ِلُق

َ

ْ

ََْٰن سُ لْاُْءاَ سَْ لِاُْهَلَ فْاوُع دَتْاَّمْايََّأ

َ

ْ

ْ رَه َتَْ َلََّو

َْلََّوَْكِت َلََصِب

ْ

ًْلَيِبَسَْكِلََٰذَْ ينَ بِْغَت باَوْاَِبِْ تِفاَُتُ

“Katakanlah: ‘Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaul husna (nama-nama yang terbaik)

(36)

21 dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu’.” (QS. Al-Isrā’/17: 110)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia berdoa

menggunakan sifat-sifat paling utama dan makna-makna paling mulia. Nama yang bagus sebenarnya mengarah kepada bagusnya syariat yang ditetapkan karena kemutlakannya dan nash menunjukan hal yang demikian. Seperti bacaan doa yang berada di dalam sholat. Serulah nama Allah dengan sebaik-baiknya, menggunakan tutur kata yang lemah dan lembut sebab

semua ini ketetapan Allah melalui Al-Qur’an dan hadis.9

3. Doa dalam makna ibadah. Tertera dalam hadis. Rasulullah Saw bersabda:

ٍْع يَسُيْ نَعٍْ رَذْ نَعْ ِشَم عَ لِاْ نَعَْةَيِواَعُمُْن بُْناَو رَمْاَنَ ثَّدَحٍْعيِنَمُْن بُْدَ حََأْاَنَ ثَّدَح

ُْةَداَبِع لاَْوُهُْءاَعُّدلاْ َلاَقَْمَّلَسَوِْه يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصِْ ِبَّنلاْ نَعٍْيِشَبِْن بِْناَم عُّ نلاْ نَع

ُّْبَرْ َلاَقَوْ{َْأَرَ قَُّْثُ

ْ ِتَِداَبِعْ نَعَْنوُِبِ كَت سَيَْنيِذَّلاَّْنِإْ مُكَلْ بِجَت سَأْ ِنِوُع داْ مُك

ْ دَقَوٌْحيِحَصٌْنَسَحٌْثيِدَحْاَذَهْىَسيِعْوُبَأْ َلاَقْ}َْنيِرِخاَدَْمَّنَهَجَْنوُلُخ دَيَس

َْذْ ِثيِدَحْ نِمْ َّلَِّإُْهُفِر عَ نْ َلََّوٍْ رَذْ نَعُْشَم عَ لِاَوٌْروُص نَمُْهاَوَر

ِْد بَعُْن بُّْرَذَْوُهٍْ ر

ٍْ رَذِْن بَْرَمُعُْدِلاَوٌْةَقِثُّْ ِنِاَد مَ لَّاَِّْللَّا

10

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu'awiyah dari Al A'masy dari Dzar dari Yusai' dari An Nu'man bin Basyir dari Nabi Saw beliau bersabda, "Doa adalah ibadah." Kemudian beliau membaca ayat: Dan Tuhanmu

berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan

Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang

9 Syekh Imam Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurthubi, terj. Mukhlis B Mukti dan Asamuni (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), 857.

10 Hadis ini adalah hadis hasan shahih, dan telah diriwayatkan oleh Manshur serta Al A'masy dari Dzarr dan kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Dzar bin Abdullah Al Hamdani, ia adalah orang tsiqah, anak Umar bin Dzar.

(37)

menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina." (QS.

Ghāfir/40: 60).” (HR. Tirmidzi No. 3294)11

4. Doa dalam makna al-Nidā (memanggil atau seruan). Allah Swt menjelaskan pada surah al-Isrā’ ayat 52, yang berbunyi :

َّْلْنِإَْنوُّنُظَتَوِْهِد مَِبَِْنوُبيِجَت سَتَ فْ مُكوُع دَيَْم وَ ي

ْ مُت ِْب

ْ

ًْلَيِلَقْ َّلَِّإ

“Yaitu pada hari dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali

sebentar saja.” (QS. Al-Isrā’/17: 52)12

Al-Nidā yang berarti seruan Allah. Menyeru kepada

kebaikan dan kebahagiaan yang sudah Allah janjikan kepada manusia jika manusia selalu tunduk dan patuh akan perintah-Nya. Sebagai seorang hamba tentunya kita membutuhkan Tuhan, terutama dalam situasi sulit. Manusia menyeru Tuhannya ketika sedang berdoa dan membutuhkannya.

5. Doa bermakna percakapan. Pada hakikatnya, manusia merasakan keakraban saat berdialog dengan Allah melalui doa. Untuk itu, doa dikatakan sebagai percakapan. Tertera dalam surah Yunus ayat 10, yang berbunyi :

ٌْم َلََسْاَهيِفْ مُهُ تَّ يَِتََوَّْمُه َّللاْ َكَناَح بُسْاَهيِفْ مُهاَو عَد

َ

ْ

ُْد مَ لْاِْنَأْ مُهاَو عَدُْرِخآَو

َْينِمَلاَع لاْ ِبَرِْه َّلِل

“Doa mereka di dalamnya ialah:

Subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka

ialah: Salam. dan penutup doa mereka ialah:

Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin”. (QS. Yunus/10: 10)

11 M. Albani, Shahih Sunan Tirmidzi; Seleksi Hadis Shahih Dari Kitab Sunan

Tirmidzi Buku 2 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), 86.

12 M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pendoman Dzikir dan Doa, 61.

(38)

23 6. Doa dalam makna al-Isti’ādzah (pelindungan). Manusia memerlukan perlindungan dari godaan setan yang terkutuk. Setan selalu berusaha menjauhkan manusia dari penciptanya. Untuk itu, Allah memberikan cara kepada umat-Nya untuk terus berdoa. Ketika manusia sudah berdoa, pasti akan memiliki tingkat imunitas yang tinggi terhadap godaan setan dan juga selalu terjaga, selalu merasa tenang, serta diberikan kekuatan untuk menahan semua ujian sulit di kehidupannya. Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surah al-Mu’minūn ayat 97, yang berbunyi :

ِْينِطاَيَّشلاْ ِتاَزََهُْ نِمَْكِبُْذوُعَأْ ِ بَرْ لُقَو

“Dan katakanlah : “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan setan.” (QS. Al-Mu’minūn/23: 97)

Sebagaimana Hasbi Ash-Shiddeiqy menjelaskan bahwa doa adalah perisai, senjata penangkis dari bencana, dan ibarat

air yang dapat memberikan penyejuk bagi kehidupan. 13

7. Doa dalam pengertian istighfar (memohon ampun), Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surah al-Muzammil ayat 20, yang berbunyi :

َْه َّللاْاوُرِف غَ ت ساَو

َ

ْ

ٌْميِحَّرٌْروُفَغَْه َّللاَّْنِإ

“Dan mohonlah ampunan kepada Allah;

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Muzammil/73: 20)

Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah Swt. Hal

ini merupakan bagian penting dari amalan zikir serta tanda

(39)

kezuhudan seorang hamba.14 Isftighfar juga berguna sebagai pelindung dari godaan setan. Setan selalu menggangu manusia, tidak membiarkan manusia beribadah. Setan tidak pernah ridho selama manusia tidak mengikuti jalan mereka. Kalau bumi memiliki pelindung berupa atmosfer, maka pelindung manusia dari setan adalah rohani yang kokoh. Ruhani yang kokoh muncul dari kedekatan manusia dengan Allah. Semakin manusia berusaha mendekati Allah, semakin setan menjauhi diri manusia. Untuk itu, manusia harus senantiasa istighfar atau memohon ampun agar lebih dekat dengan Tuhannya.

Kata doa tertera di dalam al-Qur’an yang terdiri dari beberapa

bentuk, diantaranya : 15

1. Kata doa berbentuk fi’il amr (kata kerja perintah), yaitu

ْاَنَلُْع داْاوُلاَق

َْيِهْاَمْاَنَّلْ ِينَبُ يَْكَّبَر

َ

ْ

ُْلوُقَ يُْهَّنِإَْلاَق

ْ

ِْبْ َلََّوٌْضِراَفْ َّلٌَّْةَرَقَ بْاَهَّ نِإ

ٌْر ك

َْكِلََٰذَْ ينَ بٌْناَوَع

َ

ْ

َْنوُرَم ؤُ تْاَمْاوُلَع فاَف

“Mereka menjawab: "mohonkanlah kepada

Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, tetapi pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah/2: 68)

2. Fi’il mādhi (kata kerja lampau) yang berbentuk tunggal, seperti

َْنوُمِر ُّمٌُّْم وَ قِْء َلَُّؤَٰ َهَّْنَأُْهَّبَرْاَعَدَف

“Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya: "Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa

14 Amatullah Armstong, Khazanah Istilah Sufi Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, 125.

15 Achmad Fauzy Azhary, “Doa Orang Muslim dan Kafir dalam Perspektif al-Qur’an (Kajian Tafsir Tematik)” (Surabaya: Tesis Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Ampel, 2011), 28-31.

(40)

25 (segerakanlah azab kepada mereka)"” (QS. Ad-Dukhān/44: 22).

3. Kata doa dalam fi’il mudhōri’ terdapat di dalam al-Qur’an. Diantaranya beberapa ayat berikut ini

ِْ يَ لِْبُِْهَءاَعُدْ ِرَّشلِبُِْناَسنِ لْاُْع دَيَو

َ

ْ

َْعُْناَسنِ لْاَْناَكَو

ًْلَّوُج

“Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.” ( QS. Al-Isrā’ /17: 11)

4. Selain kata doa, di dalam al-Qur’an juga terdapat makna yang sama yaitu “memohon dan berdoa”, seperti kata Rabbi (bentuk tunggal) ada pada surah Al-Isrā’ ayat 24

َْحاَنَجْاَمَُلَّْ ضِف خاَو

ْ

َْمُه َحَ راْ ِبَّرْلُقَوِْةَ حََّرلاَْنِمْ ِلُّذلا

ًْيِغَصْ ِنِاَيَّ بَرْاَمَكْا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil"”. (QS. Al-Isrā’/17: 24)

ْ لِلَوْاًنِم ؤُمَِْتِ يَ بَْلَخَدْنَمِلَوَّْيَدِلاَوِلَوْ ِلِْ رِف غاْ ِبَّر

ِْزَتْ َلََّوْ ِتاَنِم ؤُم لاَوَْينِنِم ؤُم

ِْد

اًراَبَ تْ َّلَِّإَْينِمِلاَّظلا

“Ya Tuhanku! ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahKu dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan"” (QS. Nūh/71: 28).

Kemudian kata Rabbana (bentuk prural) yang terdapat pada surah berikut ini

ْ غاْاَنَّ بَر

ُْقَ يَْم وَ يَْينِنِم ؤُم لِلَوَّْيَدِلاَوِلَوْ ِلِْ رِف

ُْباَسِ لْاُْمو

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat).” (QS. Ibrāhīm/14: 41)

(41)

Demikianlah kata doa terungkap dari beberapa pengertian yang ada di dalam al-Qur’an. Selanjutnya, para ahli juga

memberikan penjelasan mengenai pengertian doa secara

terminologi. Pengertian tersebut didapatkan melalui buku-buku maupun kajian. Berikut penjelasannya:

1. Ibnu Qayyim16 menjelaskan bahwa doa adalah obat yang paling

bermanfaat. Melawan dari marabahaya (bala), yang akan menolak, membereskan dan menahan agar tidak terjadi serta mengangkat atau meringankan bila benar-benar terjadi, dialah senjata orang-orang yang beriman. Doa adalah sebuah pintu yang agung. Allah akan mendatangkan keberkahan yang berturut-turut bila seorang hamba mengetuknya.

2. Mohammad Saifullah Aziz dalam bukunya Risalah Memahami

Ilmu Tasawuf menyatakan bahwa doa adalah suatu

penghambaan dan sebagai media komunikasi antara makhluk dengan khalik, serta dicurahkan segala isi hati yang paling rahasia. Dengan berdoa, manusia merasa sedang komunikasi

dengan Tuhan. Serta memohon ampunan dan perlindungan.17

3. Abdul Azis Dahlan dalam bukunya Ensiklopedi Islam menyatakan doa adalah permohonan manusia kepada Tuhan dengan menggunakan lafaz yang dikehendaki dan memenuhi

syarat yang sudah ditetapkan. 18

16 Ibnu Qayyim ialah seorang imam sunni yang lahir pada tanggal 4 Febuari. Ia seorang ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fiqih bermazhab Hambali.

17 Moh Saifullah Al-Aziz S, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf (Surabaya: Terbit Bintang, 1998), 277.

18 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Van Hoeven, 2000), 22.

(42)

27

4. Al-Qadhi Iyadh19 berkata doa bermakna ibadah hakiki yang

pantut dinamakan ibadah karena menunjukan kepasrahan diri kepada Allah dengan menunjukan rasa memohon dengan

ketundukan hati.20

Dalam berdoa diutamakan menggunakan etika yang dipandang baik dengan merendahkan suara, penuh harap, lembut. Bahkan keindahan doa dapat terasa apabila kalimat terucap secara

khusyu. Kekhusyukan dalam berdoa sangat menentukan

keberhasilannya, melalui konsentrasi kepada semua kekuatan yang dimiliki ketika berdoa dengan menaruh hati, berpikir positif, optimis, dan lidah berdzikir terus kepada Allah Swt. Manusia yang merendahkan diri seraya memuji Allah Swt serta memohon ampun atas dosa-dosanya. Rasulullah Saw juga menjelaskan, yang

berbunyi

ْ ِبَِأْ نَعُْءاَّذَ لْاٌْدِلاَخْ َنَرَ ب خَأَِّْللَّاُْد بَعْ َنَرَ ب خَأِْنَسَ لْاْوُبَأْ ٍلِتاَقُمُْن بُْدَّمَُمُْ ِنَِثَّدَح

ٍْةاَزَغْ ِفَِْمَّلَسَوِْه يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصَِّْللَّاْ ِلوُسَرَْعَمْاَّنُكَْلاَقْىَسوُمْ ِبَِأْ نَعِْ يِد هَّ نلاَْناَم ُْع

َْلَّْاَن لَعَجَف

ِْيِب كَّتلِبِْاَنَ تاَو صَأْاَن عَ فَرْ َّلَِّإٍْداَوْ ِفُُِِْب هَ نْ َلََّوْاًفَرَشْوُل عَ نْ َلََّوْاًفَرَشُْدَع صَنْ

ْىَلَعْاوُعَ ب راْ ُساَّنلاْاَهُّ يَأْ َيَّْ َلاَقَ فَْمَّلَسَوِْه يَلَعَُّْللَّاْىَّلَصَِّْللَّاْ ُلوُسَرْاَّنِمْ َنَدَفْ َلاَق

َْلَّْ مُكَّنِإَفْ مُكِسُف نَأ

َِّْللَّاَْد بَعَْيََّْلاَقَُّْثُْاًيِصَبْاًعيَِسَْْنوُع دَتْاَََِّّإْاًبِِاَغْ َلََّوَّْمَصَأَْنوُع دَتْ

َِّْللَِّبِْ َّلَِّإَْةَّوُ قْ َلََّوَْل وَحْ َلَِّْةَّنَ لْاِْزوُنُكْ نِمَْيِهًْةَمِلَكَْكُمِ لَعُأْ َلََّأٍْس يَ قَْن ب

“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin

Muqatil Abul Hasan telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Khalid Al Hadzdza` dari Abu Utsman an Nahdi dari Abu Musa menuturkan; kami pernah bersama Rasulullah Saw dalam suatu peperangan, kami tidak menaiki tanah mendaki atau tanah tinggi atau menuruni lembah selain kami meninggikan

19 Al-Qadhi Iyadh ialah seorang ulama hadis yang menganut mazhab maliki. 20 Syaikh Bakar Abdul Hafizh, Tafsir dan Makna Doa-Doa dalam Al-Qur’an, terj. Andi Muhammad Syahril (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), 5.

(43)

suara kami dengan takbir. Kata Abu Musa, kemudian Rasulullah Saw mendekati kami dan bersabda, "Hai manusia, rendahkanlah suara kalian ketika berdoa, sebab kalian tidak menyeru Dzat yang tuli lagi tidak ghaib, sesungguhnya kalian menyeru kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Kemudian beliau bersabda, "Hai Abdullah bin Qais, maukah kamu kuajari kalimat yang menjadi harta karun surga?, yaitu ucapan laa-haula walaa

quwwata illa billah."” (HR. Bukhari No. 6120)21

Sebagaimana Allah menginginkan umatnya untuk membaca doa dalam situasi apapun, seperti kisah-kisah dalam al-Qur’an yaitu doa nabi Muhammad Saw memohon untum pengampunan dosa dan perlindungan dari Allah setelah mengalami kekalahan dari perang Uhud yang tergambar dalam firman Allah, yang berbunyi :

ْ سِإَوْاَنَ بوُنُذْاَنَلْ رِف غاْاَنَّ بَرْاوُلاَقْنَأْ َّلَِّإْ مَُلَّ وَ قَْناَكْاَمَو

َْد قَأْ ت ِبَثَوَْنِر مَأْ ِفِْاَنَ فاَر

ْاَنَما

َْنيِرِفاَك لاِْم وَق لاْىَلَعَْن رُصناَو

“Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".” (Qs. Ali Imran/3: 147)

Nabi Musa as memohon pertolongan dan petunjuk Allah dari masalah yang membelitnya, serta agar dihindarkan dari bahaya, yang berbunyi :

ُْبَّقَرَ تَ يْاًفِِاَخْاَه نِمَْجَرَخَف

َ

ْ

اِْم وَق لاَْنِمْ ِنِ َِنْ ِبَرَْلاَق

َْينِمِلاَّظل

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu".” (QS. Al-Qasas/28: 21)

21 Al-Bukhari, Ensiklopedia Hadis Shahih Bukhari dalam Kitab Qadar (Jakarta: Al-Mahira, 2012), 120.

Referensi

Dokumen terkait

Dilihat dari perspektif kebijakan hukum pidana, formulasi Pasal 50 ayat (3) huruf f dan h Jo Pasal 78 ayat (5) dan ayat (7) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

Secara umum orang tua di SD Plus Al-Ishlah Bondowoso Tahun Pelajaran 2012/2013 mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak menurut

Tabiat (pembawaan); yaitu suatu dorongan jiwa yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan manusia, tetapi disebabkan oleh naluri (dalam Islam disebut dengan garîzah ),

Penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat Al- Qur‟an yang tersebar dalam pelbagai surat yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa Quraish Shihab menyatakan dalam ayat ini adalah penolakan terhadap alasan seorang anak untuk tidak berbakti pada

dengan berbuat baik dan syukur pada keduanya. b) Bahwa anak adalah belahan jiwa dari orang tua. c) Orang tua telah memberi kenikmatan kepada anak, baik anak sedang. dalam keadaan

Maksud dari ayat diatas adalah Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat,