• Tidak ada hasil yang ditemukan

IN COCONUT PLANTATION

CAPAIAN (HASIL) A. Potensi Lingkungan Kecamatan Mesuji Raya

1. Iklim Lingkungan

Keadaan iklim Kecamatan Mesuji Raya termasuk iklim basah dengan rata-rata curah hujan 1.213,3 mm/tahun. Suhu lingkungan berkisar antara 25-33°C dengan kelembaban 65-83% (BPP Dabuk Putih, 2019). Santosa (2005) menyatakan, bahwa suhu ideal untuk pengembangan sapi potong 10-27°C dengan kelembaban 60-80%. Hal ini menunjukan bahwa Kecamatan Mesuji Raya masih memiliki iklim yang cocok dalam pengembangan usaha sapi potong.

2. Fasilitas Pendukung

Dalam menunjang pelaksanaan program pengembangan kawasan sapi potong Kecamatan Mesuji Rayamemiliki fasilitas pendukung, yaitu Unit Pelaksanaan Tugas Daerah (UPTD) BPP Dabuk putih yang berfungsi sebagai pelaksana penyuluhan pertanian, pusat data dan penembangan pertanian. B. Potensi Sumber Daya Alam Kecamatan Mesuji Raya

1. Jenis dan Luas Lahan Hijauan

Menurut Sofyan (2003), hijauan makanan ternak yang dipergunakan untuk ternak ruminansia sebagian besar rumput-rumputan. Gufroni dan Ibrahim 2005 menyatakan bahwa jenis hijauan pada perkebunan sawit adalah biomasa tanaman sawit, rumput dan gulma. Diwyanto (2002), menyatakan bahwa sumber pakan ternak bukan hanya tanaman yang sengaja ditanam

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 141

sebagai pakan ternak, namun juga limbah pertanian dan perkebunan. Dengan produksi bahan kering sebanyak 100.037.974,87 kg/ tahun, memudahkan peternak dalam mendapat pakan.

Tabel 1. Jenis dan luas lahan hijauan di Kecamatan Mesuji Raya

Jenis Hijauan Luas Total BK

Sawit 18.787 38.987.875

Tanaman Mengahsilaan (2.300 kg/Ha/th) * 16.164,5 37.178.350 Tanaman belum menghasilkan (690 kg/ha/th)* 2.622,5 1.809.525 2. Kapasitas Tampung Ternak

Ma’sum, (1999), menyatakan bahwa faktor yang diperlukan untuk menganalisis kapasitas tampung ternak ruminansia di suatu wilayah adalah dengan menghitung potensi hijauan pakan.

Tabel 2. Kebutuhan BK Ternak Ruminansia Jenis Ternak Kebutuhan

BK per ekor Populasi Ternak (ekor) Kebutuhan BK Sapi 3558,75 2014 7.167.322,5 Kerbau 3558.75 42 149.467,5 Kambing 498,225 1737 865.416,83 Total 8.182.206,83

Total populasi, kebutuhan bahan kering ternak ruminansia di Kecamatan Mesuji Raya sebanyak 8.182.206,83 kg/tahun dan kebutuhan Bahan kering terbak sapi 7.167.322,5 kg/tahun. Kapasitas tampung lahan terhadap populasi ternak sapi di asumsikan jika ternak kerbau dan kambing tidak bertambah.

Tabel 3. Kapasitas Tampung ternak

Produksi BK (Kg/th) Kebutuhan BK sapi (Kg/ekor/th)

Kapasitas Tampung (UT)

38.987.875 3.558,75 10.955,49

Tabel 4. Potensi penambahan sapi potong Produksi BK (Kg/th) Kebutuhan BK sapi

(Kg/ekor/th)

Kapasitas Tampung (UT)

30.805.668,17 3.558,75 8.656,31

Berdasarkan produksi bahan kering hijauan, Kecamatan Mesuji Raya memiliki kapasitas tampung ternak sebanyak 10.955 UT/ekor sapi. Berdasarkan kelebihan produksi bahan kering hijauan 66.143.728,12 kg/th, maka Kecamatan Mesuji Rayadapat menambah populasi ternak sebanyak

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 142

8.656 UT/ekor sapi.

C. Potensi Sumber Daya Manusia Kecamatan Mesuji Raya 1. Karakteristik Peternakan

Berdasarkan data dan informasi yang didapat selama kegiatan, diperoleh kondisi dan karakteristik peternakan di Kecamatan Mesuji Raya. Tabel 5. Populasi ternak sapi di Kecamatan Mesuji Raya

Jenis Ternak Populasi (ekor)

Sapi 2.014

Kerbau 42

Kambing 1.737

BPP Dabuk Putih (2019)

Kecamatan Mesuji Rayamemiliki populasi ternak sapi sebanyak 2014 ekor, kambing 1.737 ekor, dan kerbau 42 ekor dari 18 desa.

Tabel 6. Kepemilikan sapi potong

Responden Kepemilikan 1-5 ekor Kepemilikan > 5 ekor

Jumlah (org) 31 7

Persentase (%) 86,1% 19,4 %

Aziz (1993) dalam menyatakan bahwa pada tingkat pemeliharaan <6 ekor maka dikatagorikan sebagai peternakan sapi potong baru bersifat dimiliki, belum diusahakan, biasanya ternak merupakan status sosial, serta pemasaran yang baru dilakukan apabila ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk kepentingan yang bersifat sosial, budaya atau keagamaan. Palabiran (2012), menyatakan bahwa semi intensif merupakan sistem pemeliharaan sapi potong dengan sebagian pemeliharaannya digembalakan dan sebagian lagi di kandangkan. Sistem pemeliharaan yang dilaksanakan peternak tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi peternak.

Tabel 7. Sistem pemeliharaan

Sistem pemiliharaan Jumlahresponden Persentase

Intensif 14 11,2%

Semi intensif 32 88,8%

Dengan dilakukannya sistem pemeliharaan semi intensif, maka pakan yang baik secara kualitas harus disiapkan untuk ternak saat dikandangkan malam hari untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, namun pada kenyataanya sebagian besar peternak di Kecamatan Mesuji Rayahanya memberikan

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 143

hijauan, sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dan berpengaruh pada produktifitas sapi potong.

Tabel 8. Mata pencaharian utama

Mata Pencaharian Jumlah responden Persentase

Peternak murni 1 2,78

Petani 28 77,70

Buruh tani 4 11,11

Wirasasta 3 8,33

Dipahami bahwa berternak merupakan usaha sambilan untuk memanfaatkan waktu luang atau sebagai penghasilan tambahan. Hal ini menyebabkan proses pemeliharaan ternak kurang diperhatikan, sehingga berimbas pada hasil produksi dan penjualan ternak yang rendah.

Tabel 9. Umur peternak

Umur (Tahun) Jumlah responden Persentase

30-45 tahun 15 41,68

45-60 tahun 19 52,77

> 60 th 2 5,55

Chamdi (2003), menyatakan bahwa semakin muda usia peternak (usia produktif 20–45 tahun) umumnya rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tinggi dan terhadap introduksi teknologi semakin tinggi. Santosa dkk (1979) menyatakan umur 30-60 tahun merupakan umur seseorang untuk melakukan segala sesuatu dengan berfikir dan bertindak secara hati-hati. Berdasarkan hasil kegiatan menunjukkan bahwa Kecamatan Mesuji Raya memiliki potensi peternak dengan usia produktif dan akan memberikan pengaruh yang positif dalam mendukung pengembangan usaha ternak sapi potong. Usia produktif sangat penting bagi pelaksana usaha, karena pada usia ini peternak mampu mengkoordinasi dan mengambil langkah-langkah yang efektif bagi kemajuan usahanya

Tabel 10 Pengalaman beternak

Pengalaman Jumlah Responden Persentase

<5 Tahun 8 22,23

5-10 Tahun 17 48,22

>10 Tahun 11 30,55

Samsudin (1977), menyatakan bahwa dengan bertambahnya tingkat pengalaman diharapkan agar peternak lebih dinamis, aktif, dan terbuka dalam

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 144

mengadopsi teknologi baru, namun pada kenyataanya, pengalaman berternak belum mempengaruhi keterampilan, keaktifan, dan keterbukaan dalam mengadopsi teknologi sebagian besar peternak di Kecamatan Mesuji Raya.

Berdasarkan hasil wawancara kepada responden, faktor yang berpengaruh besar terhadap pola pikir peternak adalah berternak sapi potong merupakan kegiatan sambilan dan tingkat pendidikan, sehingga pola pemeliharaan dalam berternak tidak dapat berkembang dengan baik.

Tabel 11. Pendidikan peternak

Pendidikan Jumlah Prsentase

SD 19 52,78

SMP 12 33,33

SMA 5 13,89

Rakhmat (2000), menyatakan bahwa pendidikan formal yang tinggi akan membuat seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan wawasan yang luas dalam menganalisa suatu kejadian. Salah satu penyebab lambatnya pembangunan peternakan adalah rendahnya tingkat pendidikan peternak sehingga kemampuan mengadopsi teknologi peternakan menjadi rendah. Pendidikan peternak yang rendah di Kecamatan Mesuji Rayaberdampak negatif dalam pelaksanaan pengembangan kawasan, karena berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami sesuatu.

D. Masukan Teknologi Peternakan 1. Teknik pengolahan pakan

Untuk mendapatkan pakan yang memenuhi kebutuhan ternak perlu dilakukan beberapa teknik pengolahan yang buasa dkenal dengan fermentasi dan pencampuran bahan pakan yang seuai status fisologis ternak. Menurut Hungatae (1996), peningkatan kuantitas bagian yang dapat dicerna pada pakan yang berkualitas rendah dapat dilakukan melalui perlakuan kimia, fisik dan biologis.

Tabel 12. Penerapan teknik pengolahan pakan

Pengolahan Pakan/Ransum seimbang Jumlah Presentase

Ya 0 0

Tidak 36 100

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 145

diusahakan mengandung zat-zat pakan yang dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, dan reproduksi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengolahan pakan ternak dapat membantu pemenuhan gizi yang dibutuhkan ternak ditengah ketersediaan kualitas pakan yang buruk.

Masukan teknologi pengolahan pakan tidak diaplikasikan dalam melakukan usaha peternakan oleh seluruh responden yang terdapat di Kecamatan Mesuji Raya. Berdasarkan hasil wawancara kepada responden, hal ini terjadi karena beberapa hal, diantaranya tidak keputusan adopsi inovasi dari proses penyuluhan tidak hanya karena frekuensi tapi karena pertimbangan ekonomis walaupun yang dilakukan oleh penyuluh dan dinas teknis cukup intens karena berternak merupakan usaha sambilan.

2. Metode perkawinan

Reproduksi menjadi dasar utama untuk menentukan tingkat produksi ternak di dalam peternakan. Reproduktivitas sapi potong yang tinggi merupakan kunci keberhasilan tingginya produksi ternak, terutama berhubungan dengan jumlah anak yang dilahirkan.

Tabel 13. Penerapan metode perkawinan

Metode perkawinan Jumlah Persentase

Alami 13 36,11

IB 9 25

Campuran 14 38,89

Masuknya teknik IB sudah ditunjang oleh fasilitas pendukun, yaitu Satuan Pelayanan Inseminasi Buatan Kecamatan Mesuji Raya. Inseminasi buatan dapat meningkatkan reproduktivitas ternak dan dapat meningkatkan genetik ternak sapi, sehingga dapat membantu dalam pengembangan usaha peternakan sapi potong yang lebih baik. Satuan Pelayana Inseminasi Buatan sudah berjalan baik, dengan melakukan pelayanan IB kepada peternak yang terdapat di Kecamatan Mesuji Raya. Berdasarkan hasil wawancara kepada responden, masih terdapatnya peternak yang tidak menerapkan teknologi IB karena faktor ekonomi.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 146

E. Analisi Faktor Internal Eksternal

Komponen yang menjadi kekuatan dalam pengembangan sapi potong di Kecamatan Mesuji Raya, yaitu daya tampung ternak tinggi dengan skor (0,643) dengan potensi dalam penambahan populasi ternak sapi potong sebanyak 18.586 UT. Komponen yang menjadi kelemahan, yaitu berternak yang merupakan usaha sambilan dengan skor (0,232), sehingga hasil produksi yang dihasilkan rendah.

Tabel 14. Matriks evaluasi faktor internal

Faktor Internal Bobot Ranking Skor

Kekuatan Umur peternak 0.073 2 0.146

Iklim dan kondisi mendukung 0.142 4 0.568

Pengalaman 0.136 3 0.408

Daya tampung ternak tinggi 0.161 4 0.644

Jenis hijauan dan limbah pertanian

0.107 4 0.428

Kelemahan Rendahnya pendidikan peternak

0.127 2 0.254

Rendahnya pengetahuan peternak

0.137 3 0.411

Beternak masih merupakan sambilan

0.117 2 0.234

Total 3.093

Komponen yang menjadi kekuatan dalam pengembangan sapi potong di Kecamatan Mesuji Raya, yaitu daya tampung ternak tinggi dengan skor (0,644) dengan potensi dalam penambahan populasi ternak sapi potong sebanyak 8.656 UT. Komponen yang menjadi kelemahan, yaitu berternak yang merupakan usaha sambilan dengan skor (0,234), sehingga hasil produksi yang dihasilkan rendah.

Tabel 15. Matriks evaluasi faktor eksternal

Faktor Eksternal Bobot Ranking Skor

Peluang Masukan Teknologi IB 0.135 3 0.405

Kebijakan Pemerintah 0.224 4 0.896

Fasilitas pendukung 0.241 4 0.964

Ancaman Belum diterapkannya Teknologi pakan

0.19 2 0.380

Pola Peternakan Tradisional 0.21 1 0.210

Total 2.855

Faktor peluang yang menjadi komponen penting dalam pengembangan sapi potong di Kecamatan Mesuji Rayaa dalah tersedianya fasilitas pendukung

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo et al. 147

dalam pengembangan sapi potong dengan skor (0.964). Ancaman terbesar dalam pengambangan peternakan sapi potong, yaitu pola peternakan yang masih tradisional dengan skor (0,210) yang membuat kurangnya terapan teknologi peternakan, sehingga menghasilkan produksi yang tidak optimal.

Strategi Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Kecamatan Mesuji Raya Strategi S-O

Strategi Pilihan yang dapat dilakukan yaitu mengoptimalkan sumberdaya lahan dan peran fasilitas pendukung untuk penguasaan teknologi peternakan dan perluasan informasi dengan melibatkan peran aktif pemerintah dalam hal ini penyuluh pertanian petugas fungsional peternakan pengawas mutu pakan.

Strategi W-O

Strategi terpilih yang dapat dilakukan, yaitu dengan menyiapkan lahan khusus peternakan, meningkatkan motivasi dan partisipasi peternak dalam hal kemampuan teknis budidaya dengan mengadopsi teknologi peternakan yang inovatif melalui peran pemerintah khususnya fasilitas pendukung. Pemberian modal usaha untuk peningkatan skala usaha yang lebih besar.

Strategi S-T

Strategi pilihan yang didapat, yaitu dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peran pemerintah dengan penyuluhan dalam memanfaatkan sumber daya alam secara baik serta menyerap masukan teknologi dan menuju peternakan yang modern.

Strategi W-T

Pilihan strategi pengembangan peternakan sapi potong yang dapat dilakukan, yaitu mengoptimalkan kemampuan teknis budidaya, penguasaan teknologi pengolahan pakan melalui penyuluhan dan pelatihan yang melibatkan pemerintah yang tersedia di Kecamatan Mesuji Raya.