PEMBERIAN TEPUNG CANGKANG TELUR Siti Nurul Alfira, Rinduwati, dan Muhammad Rusdy
MATERI DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Pastura Fakultas Peternakan dan Laboratorium Kimia Pakan Universitas Hasanuddin, Makassar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2019 β Februari 2020.
Materi Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, oven, alat tulis menulis, polybag, cangkul, spektrofotometer, beaker glass dan blender. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung cangkang telur, tanah, benih sorgum, dan potassium permanganate, Amonium oksalat, aquades. HCl, H2SO4, KMNO4, NH4OH, dan HNO3.
Prosedur dan Tahapan Penelitian
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut :
P0 : Tanpa Tepung Cangkang Telur
P1 : Tepung Cangkang Telur 15 g/polybag setara dengan 3 ton/ha P2 : Tepung Cangkang Telur 20 g/polybag setara dengan 4 ton/ha P3 : Tepung Cangkang Telur 25 g/polybag setara dengan 5 ton/ha
a. Persiapan Sampel dan Penanaman
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan persiapan tanah yang akan digunakan. Tanah dihancurkan dan dibersihkan dengan cara diayak. Kemudian 10 kg tanah dimasukkan ke dalam setiap polybag yanag berukuran 30 cm x 40 cm dengan diameter 15 cm dan disiram agar kelembaban tanah di dalam polybag terjaga. Serbuk cangkang telur disebar pada media tanam sebelum penanaman dalam lubang dengan kedalaman 5 cm, kemudian ditimbun kembali dan didiamkan selama 2 minggu. Kemudian penanaman benih sorgum sebanyak 5 benih untuk setiap polybag. Penyiraman dilakukan setiap hari. Kegiatan pemeliharaan yang lainnya
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Alfira et al 122
seperti pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman.
a. Pemotongan dan pengujian
Pemotongan dilakukan setelah berumur 2 bulan dan pengambilan dimulai dari batang dan daunnya. Tahap selanjutnya yaitu batang dan daunnya digiling hingga berbentuk tepung kemudian dilakukan pengujian kalsium dan fosfor di Laboratorium Kimia Pakan.
Parameter yang Diamati Kalsium
Menurut UPTD Pengujian Mutu Produk Peternakan, 2016 bahwa cara pengujian kalsium yaitu pengambilan sampel diambil dari batang dan daunnya kemudian dilakukan pengujian kalsium. Pertama cara membuat indukan yaitu sampel abu yang telah diuji ditambahkan HCl : aquades (1:3) sebanyak 40 ml, dimasukkan ke dalam beaker glass (50 ml), dan kemudian dididihkan selama 30 menit (untuk mempercepat didih tambahkan nitrit acid). Kemudian diangkat lalu saring dengan kertas saring 41. Langkah-langkah proses pengujian kadar kalsium adalah sebagai berikut: indukan diambil sebanyak 25 ml an dimasukkan ke dalam beaker gelas 250 ml, kemudian ditambahkan aquades hingga batas 100 ml, dan ditambahkan metil red 0,1% dan ππ»4ππ» sampai warna bening. Kemudian ditambahkan HCl : aquades (1:3) (periksa pH sampai kisaran 2,5-3), dan ditambahkan aquades hingga batas 150, an dipanaskan dan kemudian ditambahkan ammonium oksalat 4,2% panas jenuh sebanyak 10 ml, dan didiamkan selama semalam (minimal 6 jam), kemudian disaring dengan kertas saring 42. Setelah itu dicuci dengan ππ»4ππ» : aquades (1: 50) sebanyak 80 ml. Endapan dan kertas saring dimasukkan ke dalam beaker glass semula, dan ditambahkan 130 ml π»2ππ4 : aquades (1 : 25), kemudian dipanaskan hingga suhu 70β , dan dititrasi dengan πΎπππ4 sampai berubah warna merah muda dan tidak berubah dalam 30 detik.
Fosfor
Menurut UPTD Pengujian Mutu Produk Peternakan, (2016) bahwa cara pengujian fosfor yaitu pengambilan sampel diambil dari batang dan daunnya kemudian pengujian dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer.
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Alfira et al 123
Analisi Data
Data yang diperoleh dianalisi statistik dengan menggunakan sidik ragam sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji Duncan jika berpengaruh nyata (P<0,05).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rata-rata kadar kalsium dan fosfor pada tanaman sorgum (Sorghum bicolor L
moench) dengan pemberian pupuk tepung cangkang telur dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata kadar kalsium dan fosfor pada tanaman sorgum (Sorghum
bicolor L moench) dengan pemberian pupuk tepung cangkang telur Parameter
Perlakuan Kalsium (%) Fosfor (%)
P0 0.223ab 0.089b
P1 0.254b 0.090b
P2 0.189ab 0.084b
P3 0.135a 0.069a
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf (P<0.05). P0: tanpa pupuk(kontrol), P1: dengan pupuk cangkang telur (15gram/polybag), P2: pupuk cangkang telur (20 gram/polibag), P3: pupuk cangkang telur (25 gram/polybag). Kadar Kalsium
Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kadar kalsium pada tanaman
Sorghum bicolor L Moench yang telah diberi pupuk tepung cangkang telur tidak berpengaruh nyata (P>0.05). Hal ini disebabkan karena pupuk yang digunakan memiliki kandungan unsur hara yang rendah dan kalsium pada tepung cangkang telur tidak mudah larut dalam air. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwa (2007) bahwa pupuk organik memiliki kandungan unsur hara yang rendah untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Menurut Febriyanti (2017) bahwa cangkang telur mengandung kalsium karbonat yang dimana memiliki tingkat kelarutan yang rendah didalam air. Berdasarkan hasil sidik ragam bahwa terlihat adanya peningkatan pada P1 (0.254%) dan berbeda nyata dengan P3 (0.135%). Hal ini disebabkan karena kandungan kalsium yang terdapat pada cangkang telur yaitu sebesar 15,38% kalsium karbonat yang juga sangat dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurshanti
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Alfira et al 124
(2009) bahwa cangkang telur dapat dijadikan sebagai pupuk organik yang memiliki kandungan kalsium karbonat (15,38%), fosfor (0,41%), natrium (0,095%), kalsium (0,056%), protein (3,08%), kadar air (0,33%), dan nitrogen (0,09%).
Kadar Fosfor
Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kadar fosfor pada tanaman
Sorghum bicolor L Moench yang telah diberi pupuk tepung cangkang telur berpengaruh nyata (P<0.05). Hasil uji duncan mengindikasikan bahwa P0(0.089%) tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap P1(0.090%) dan P2(0.084%), dan berbeda nyata terhadap P3(0.069%). Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kandungan dari masing-masing perlakuan yaitu pemberian tepung cangkang telur kontrol, 15 gram/polybag, 20 gram/polybag dan 25 gram/polybag dan mungkin adanya kelebihan dosis pada P3 yaitu 25 gram/polibag. Hal ini sesuai dengan pendapat Elvira (2016) bahwa kelebihan atau kekurangan unsur hara dapat memberikan hasil yang kurang bagus dan jika diberikan dengan pupuk organik ditambah dengan pupuk anorganik akan memberikan dampak positif /baik pada tanaman.
Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan terjadi peningkatan pada P1 (0.090%) tetapi tidak berbeda nyata pada P2 (0.084%) dan P3 (0.069%). Hal ini disebabkan bahwa kandungan tanah yang digunakan yaitu tanah latosol sudah memiliki kandungan fosfor, sehingga dosis dengan perlakuan P1 sudah cukup untuk diberikan tanaman sorgum. Hal ini sesuai dengan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah (2018) bahwa tanah latosol memiliki kandungan fosfor dalam bentuk senyawa P2O5 sebesar 19,68%. Tanah-tanah yang mendapat pupuk P lebih dari P yang diambil tanaman atau panen akan memberikan status P lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Mempertahankan P cukup tinggi hingga P menjadi optimum untuk pertumbuhan adalah sangat penting. Penggunan hara lain dapat meningkatkan serapan P, penambahan Ca (pengapuran pada tanah masam) dan pemberian S pada tanah alkalin dapat meningkatkan ketersediaan P (Winarso, 2005).
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Alfira et al 125
SIMPULAN DAN SARAN