IN COCONUT PLANTATION
MATERI DAN METODE Materi
Materi
Materi yang digunakan pada penelitian ini meliputi rumput gajah (Pennisetum
purpureum) dengan cultivar: King, Hawai, Lampung, Taiwan dan Afrika. Peralatan pendukung budidaya tanaman diperlukan pada penelitian ini dan anyaman bambu yang dipasang sebagai naungan.
Metode
Metode penelitian ini adalah percobaan lapang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: RL : rumput gajah cultivar Lampung
RK : rumput gajah cultivar King RH : rumput gajah cultivar Hawai RA : rumput gajah cultivar Afrika RT : rumput gajah cultivar Taiwan
Rumput tersebut ditanam pada petak dengan ukuran 1 x 1,5 m. Penanaman dilakukan dengan jarak baris 90 cm dan jarak dalam baris 60 cm. Peletakan naungan dari anyaman bambu berada pada ketinggian 2 m diatas rumput. Fungsi naungan disesuaikan agar tanaman hanya mendapatkan 50% sinar matahari untuk pertumbuhan rumput. Pupuk yang diberikan adalah pupuk urea dengan waktu pemberian sebanyak dua kali, tahap pertama dilakukan pada saat tiga hari setelah pemotongan pertama untuk selanjutnya dibudidayakan kembali dan hasil produksinya diukur dalam penelitian ini. Pemberian pupuk tahap kedua dilakukan pada hari ke 33 setelah pemotongan pertama. Rumput dipelihara selama 60 hari hingga pemotongan, dengan kriteria pemotongan yaitu 10 cm diatas permukaan tanah.
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 168
Variabel Penelitian
Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah kemampuan adaptasi rumput dengan mengacu pada :
- Pertumbuhan tanaman (persentase luas daun, tinggi tanaman dan jumlah anakan). Pada variabel ini, hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan perlakuan penanaman tanpa naungan kemudian dibentuk dalam persen. Hasil yang diperoleh kemudian ditransformasikan menggunakan transformasi Arcsin untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.
- Kualitas hijauan yang diukur melalui kandungan nutrisi hijauan atau komposisi kimiawi meliputi kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), bahan ekstrak tanpa nitogen (BETN), (AOAC, 2010), kemudian dibuat dalam bentuk persentase perbandingan antara rumput naungan dan tanpa naungan. Adapun rumus yang digunakan:
Kandungan nutrisi rumput (naungan)
X 100% Kandungan nutrisi rumput (tanpa naungan)
- Produksi bahan kering, bahan organik dan protein kasar rumput gajah di bawah naungan. hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan perlakuan penanaman tanpa naungan kemudian dibentuk dalam persen
Analisa data
Data yang diperoleh lalu dianalisa menggunakan Analisa Ragam (Anova) jika ada data yang menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian kemampuan pertumbuhan rumput ditinjau dari segi luas daun, tinggi pohon dan jumlah anakan, dimaksudkan agar dapat menentukan kemampuan adaptasi berbagai cultivar rumput gajah dibawah naungan, sehingga data yang
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 169
diperoleh dibandingkan dengan pertumbuhan rumput gajah tanpa naungan kemudian dibuat dalam bentuk persen. Hasil penelitian didapatkan data bahwa berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50% berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase luas daun pada setiap jenis cultivar rumput gajah. Data pertumbuhan tanaman selama percobaan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pertumbuhan Rumput Gajah pada Berbagai Cultivar Sebelum dan Setelah Transformasi
Perlakuan Luas daun (%) Tinggi pohon (%) Jumlah anakan (%) Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah RL 56,16 33,37A 83,20 54,53A 63,83 40,75 RK 75,25 49,19AB 82,74 55,46A 60,08 36,93 RH 76,21 55,26CD 90,46 65,08B 73,04 46,71 RA 68,01 42,73AB 89,97 61,34AB 61,03 38,47 RT 84,56 64,72D 92,70 66,58B 62,10 38,92 Keterangan : Superskrip (A-D) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang
sangat nyata (P<0,01).
Rumput gajah cultivar Taiwan memiliki persentase luas daun terbesar yaitu 64,72% sedangkan persentase luas daun terendah dimiliki oleh rumput gajah Lampung 33,37%. Kemampuan adaptasi masing-masing jenis rumput berbeda disebabkan morfologinya yang juga berbeda. Rumput gajah Taiwan memiliki kemampuan adaptasi terbaik saat ditanam dibawah naungan. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Sirait (2008) yang memperoleh hasil bahwa luas daun rumput yang diberi naungan melebihi luas daun rumput tanpa naungan. Alasan dari hasil penelitian itu adalah perluasan daun merupakan upaya tanaman untuk memaksimalkan penangkapan cahaya yang jumlahnya terbatas.
Parameter pertumbuhan yang lain adalah persentase tinggi pohon. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa perbedaan jenis cultivar rumput gajah yang ditanam dibawah naungan 50% dapat memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi pohon. Persentase tinggi pohon pada rumput gajah Taiwan adalah yang tertinggi (66,58%) diikuti oleh cultivar Hawai (65,08%), Afrika (61,34%), King (55,46%) dan Lampung (54,53%). Kemampuan adaptasi terhadap naungan setiap cultivar rumput gajah berbeda-beda. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sawen (2012) tinggi tanaman rumput gajah yang diberi naungan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari pada tanpa naungan. Hal tersebut dikarenakan rumput gajah
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 170
memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan yang kurang mendapat sinar matahari, dengan memanfaatkan sinar matahari yang terbatas, jenis rumput ini mampu menghasilkan energi untuk proses fotosintesis. Berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50% tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase jumlah anakan. Namun secara angka persentase jumlah anakan tertinggi ada pada cultivar rumput gajah Hawai 46,71% dan yang terendah adalah rumput gajah King (36,93%). Hal ini disebabkan proses fotosintesis yang kurang maksimal karena terhalang oleh naungan menyebabkan hasil fotosintesis lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan rumput dan bukan untuk perbanyakan anakan. Hal ini sejalan dengan penelitian Sawen (2012) bahwa rumput gajah yang tumbuh dibawah naungan cenderung memiliki anakan yang lebih sedikit dari pada rumput gajah tanpa naungan.
Kemampuan adaptasi berbagai cultivar rumput gajah di bawah naungan ditinjau dari segi kualitas kimiawi tersaji pada Tabel 2. Hasil yang ditampilkan pada tabel 2 merupakan persentase dari perbandingan hasil analisa antara rumput yang ternaungi 50% dengan yang tidak ternaungi. Berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50% berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan BK.
Tabel 2. Kemampuan adaptasi ditinjau dari variabel kimiawi rumput gajah Variabel (% tanpa naungan) RL RK RH RA RT BK 96,75bc 94,62b 97,62bc 83,58a 96,68b BO 93,00A 90,56B 103,31C 93,40B 111,03D PK 93,78b 80,92a 83,00a 92,91b 100,13c SK 94,35b 98,72c 89,25a 97,33b 97,45bc LK 93,17c 65,34a 83,94b 90,84c 81,71b BETN 99,33c 92,80a 99,95c 96,18b 98,49c ---
Keterangan : Superskrip (a-c) yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05). Superskrip (A-D) yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Data menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi rumput gajah Hawai sangat baik pada area naungan hal ini terlihat dari persentase kemampuan adaptasi tertinggi yaitu 97,62% jika ditinjau dari prosentase kandungan BK rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Sedangkan kemampuan adaptasi yang
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 171
terendah ditinjau dari nilai kandunngan BKterdapat pada rumput gajah cultivar Afrika yaitu 83,58%. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Wijaya, dkk. (2018) bahwa kandungan BK rumput gajah mengalami penurunan pada tanaman yang diberi naungan. Hal tersebut karena tingginya sinar matahari yang diterima rumput tanpa naungan menyebabkan percepatan penuaan pada tanaman dan akan terjadi lignifikasi lebih besar sehingga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan bahan kering.
Kemampuan adaptasi berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50% berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase kandungan BO rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Jenis cultivar King menunjukkan persentase kemampuan adaptasi yang tertinggi hingga 111,03% jika ditinjau dari prosentase kandungan BO rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Sementara itu cultivar rumput gajah Lampug menunjukkan kemampuan adaptasinya dibawah naungan yang rendah (93,00%) ditinjau dari nilai persentase BO rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wijaya, dkk. (2018) menunjukkan hasil yang relevan dengan penelitian ini, kandungan BO rumput gajah yang diberi naungan justru cenderung lebih tinggi dari pada tanpa naungan. Rumput gajah yang hidup di bawah naungan cenderung mampu tumbuh dengan baik, karena sinar matahari yang di terima tanaman sudah mencukupi, di sisilain tanaman yang berada di bawah naungan tidak banyak mengalami cekaman panas oleh sinar matahari yang langsung diterima sepanjang hari. Tingginya sinar matahari yang diterima rumput tanpa naungan menyebabkan percepatan penuaan pada tanaman dan akan terjadi lignifikasi lebih cepat, sehingga proporsi bahan organik pada tanaman menjadi rendah (Mangiring dkk., 2017).
Berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50% berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan PK rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Rumput gajah cultivar Taiwan menunjukkan hasil kemampuan adaptasi terbaik, ditunjukkan persentase kandungan PK di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi sebesar 100,13%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan PK antara rumput yang diberi naungan dan yang tanpa naungan relatif sama. Hasil
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 172
penelitian lain yang dilakukan oleh Nurhayu dan Saenab (2019) menunjukkan hasil yang sama dengan hasil penelitian ini, yaitu kandungan PK pada beberapa jenis rumput yang diberi naungan menunjukkan hasil yang semakin baik dari pada perlakuan tanpa naungan. Hal ini bisa dijelaskan bahwa tidak semua jenis rumput tahan terhadap cekaman panas sehingga tetap membutuhkan naungan untuk berproduksi maksimal. Pada parameter kandungan SK, menunjukkan bahwa perlakuan naungan pada berbagai cultivar rumput gajah memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kandungan SK. Jenis cultivar King menunjukkan persentase kemampuan adaptasi yang tertinggi hingga 98,72% jika ditinjau dari prosentase kandungan SK rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi, sedangkan cultivar lainnya berada pada prosentase dibawahnya. Data ini menunjukkan bahwa kandungan SK pada berbagai cultivar rumput gajah yang di tanam di bawah naungan memiliki kandungan SK lebih rendah disbanding dengan rumput gajah yang di tanam tanpa naungan. Menurut Wijaya, dkk. (2018) dengan menurunnya intensitas sinar matahari yang didapat maka proses pembentukan serat (lignifikasi) menjadi lebih lambat karena sinar matahari mampu meningkatkan proses lignifikasi. Rumput gajah cultivar King secara morfologi memang lebih bersifat kasar dan berdaun kaku, mencerminkan kandungan serat kasarnya lebih tinggi di banding dengan cultivar lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi berbagai cultivar rumput gajah jika ditinjau dari prosentase kandungan LK rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi, menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05). Berdasarkan data pada Tabel 3 diketahui bahwa tingkat adaptasi rumput gajah jenis King sangat rendah ditinjau dari kandungan LK (65,34%) jika ditinjau dari prosentase kandungan LK rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi, dan diikuti cultivar lainnya yang juga lebih rendah dibanding dengan jumlah LK yang terkandung dalam rumput gajah kultivar lainnya yang tidak di naungi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahmawati (2019) yang menyatakan bahwa kemampuan adaptasi rumput ruzi kurang baik pada naungan 60% yang menyebabkan menurunnya kadar LK yang dipengaruhi oleh proses metabolisme yang terganggu sehingga bahan organik dan laju fotosintesis menurun. Pada parameter BETN, dengan
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 173
membandingkan kadar BETN antara rumput yang ternaungi dan tidak ternaungi diketahui bahwa pemberian naungan pada berbagai cultivar rumput gajah memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kandungan BETN. Prosentase kandungan BETN pada rumput gajah cultivar King memiliki prosentase paling rendah dibanding dengan cultivar lainnya. Jenis cultivar King menunjukkan persentase kemampuan adaptasi yang terendah sebesar 92,80% jika ditinjau dari prosentase kandungan bahan organik rumput gajah yang di naungi di bandingkan dengan yang tidak di naungi. Rendahnya nilai BETN ini akan berpengaruh terhadap nilai kecernaan pakan yang akan menjadi semakin rendah juga.
Tabel 3. Produksi Rumput Gajah dengan Berbagai Cultivar yang Ditanam Dibawah Naungan.
Variabel RL RK RH RA RT
Prod. BK (ton/ha) 16,68 15,94 19,08 14,20 21,33
Prod. BO (ton/ha) 14,57 12,50 16,92 13,91 18,83
Prod. PK (ton/ha) 1,79 1,21 2,12 1,43 2,14
Produksi bahan kering pada berbagai jenis cultivar rumput gajah yang diberi perlakuan naungan menunjukkan tidak adanya pengaruh yang nyata (P>0,05) antar perlakuan. Rumput gajah dengan cultivar Taiwan menunjukkan produksi paling tinggi yang mencapai 21,33 ton/ha. Rumput gajah cultivar Afrika menunjukkan produksi bahan kering terendah yaitu 14,20 ton/ha. Naungan yang diberikan pada rumput di penelitian ini akan mencegah cahaya matahari sekitar 50%. Dengan jumlah cahaya matahari yang diperoleh sebesar 50% ternyata rumput juga masih mampu berfotosintesis dengan baik. Produksi bahan kering pada penelitian ini kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh karakteristik produksi masing-masing jenis cultivar. Menurut Indria, dkk. (2016) rumput gajah Hawaii memiliki tingkat produksi lebih tinggi dari pada rumput gajah Afrika. Kemudian menurut Mangiring, dkk. (2017) menurunnya produksi bahan kering pada rumput yang diberi naungan adalah karena menurunnya jumlah sinar matahari yang diterima tanaman yang mengakibatkan hasil fotosintesis akan semakin kecil. Produksi bahan organik rumput gajah yang diberi naungan juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) antar
Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI
Muwakhid 174
cultivar rumput gajah. Rumput gajah Taiwan memiliki produksi bahan organik tertinggi diantara jenis lain dan rumput gajah King menghasilkan produksi bahan organik terendah. Hasil penelitian menunjukkan tren data yang mirip dengan produksi bahan kering. Hal ini karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering suatu tanaman. Rumput gajah Taiwan memiliki daun yang besar sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung lebih baik dan menghasilkan produksi yang lebih tinggi juga. Menurut Lugiyo dan Sumarto (2000), ukuran daun rumput gajah Taiwan memiliki lebar 1,25-2,50 cm dengan panjang 60-90 cm. Parameter produksi protein kasar juga menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh nyata (P>0,05) yang diberikan oleh perlakuan. Produksi protein kasar tertinggi juga diperoleh pada jenis rumput gajah Taiwan (2,14 ton/ha) dan yang terendah adalah rumput gajah King (1,21 ton/ha). Kandungan protein pada masing-masing cultivar jelas berbeda namun hasil dari produksi PK menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata hal ini mungkin dikarenakan tiap jenis rumput pada penelitian ini merupakan satu spesies. Selain itu, produksi protein kasar juga dipengaruhi oleh serapan nitrogen oleh tanaman.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berbagai cultivar rumput gajah yang diberi naungan 50%, memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda beda, namun secara keseluruhan, rumput gajah memiliki tingkat adaptasi terhadap naungan yang cukup baik. Cultivar rumput gajah Taiwan memiliki kemampuan adaptasi yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan, kualitas nutrisi, maupun produksinya. Disarankan pra pengguna bibit rumput gajah menggunakan cultivar Taiwan untuk untuk di tanam pada lahan yang ternaungi tanaman tegakan.