• Tidak ada hasil yang ditemukan

IN COCONUT PLANTATION

CAPAIAN (HASIL) Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Kelurahan Kance diwe pada posisi 103°22‟ 10 BT 4°0‟ 10 LS ketinggian 785 m di atas pemukaan laut (dpl), jarak dari kantor kecamatan 2 km jarak dari kantor kota 34 km, perbatasan wilayah sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Atung Bngsu, Kelurahan Lubuk Buntak dan Kelurahan Perahu Dipo

- Sebelah Timur Berbatasan dengan Kabupaten Lahat

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi bengkulu dan kabupaten lahat - Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Penjalang

Dari sisi geografis ini Kelurahan Kance diwe memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan ekonomi di berbagai sektor mulai dari sektor pertambangan, sektor wisata, sektor perdagangan, dan yang paling penting adalah sektor pertanian.

Data populasi kambing PE di Kel. Kance Diwe sebanyak 899 masing masing : dusun bandar 299 ekor, Bandar jaya 401 ekor Lebuhan Bandar 102 ekor dan karang anyar 97 ekor (Anonimous, 2020). Sumbangan luas hijauan sumber pakan ternak adalah kebun kopi untu bandar jaya 750 ha. Sumber hijauan untuk dusun Bandar adalah tanaman pangan dan pekarangan 65 ha dan kebun kopi 210 Ha.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 155

1. Karakteristik hijauan pakan yang tersedia di Dusun Bandar (pola pemeliharaan Umbaran)

Pengadaan pakan hijauan di Dusun Bandar dengan pola pemeliharaan umbaran baran/gembala diperoleh dari tegalan/ tanah bera/belukar, kebon, dan sawah disajikan pada Tabel 1. Sumber utama pakan hijauan dari tegalan/belukar, disusul kebun kopi sebagai pakan cadangan saat sore dan sawah berupa rumput dan gulma, namun saat-saat tertentu peternak mengambil hijauan di sekitar rumah yang sebagian berfungsi sebagai pagar. Hal ini dapat mendukung pertumbuhan hijauan di tegalan karena pergantian pemotongan rumput. Menurut Sajimin, dkk. (2014), tanaman dengan frekuensi pemotongan yang tinggi akan menyebabkan berkurangnya cadangan zat makanan sehingga jumlah tunas berkurang dengan karbohidrat yang sangat minim.

Tabel 1. Lokasi perolehan pakan hijauan

Uraian perolehan hijauan Responden Persentase

Tegalan/belukar/bera 7 38,46

Kebun Kopi 4 46,16

Sawah 1 15,38

Jenis hijauan yang diberikan pada ternak kambing yang terdapat di lokasi penelitian dusun Bandar seperti pada Tabel 2.

Tabel 2 Jenis hijauan yang digunakan 13 responden

No Nama Frek /prosentase

1 Rumput Lapang /Panicum maximum 7

2 Pucuk Tebu /Sugar cane 7

3 Paitan /Thitonia diversifolia 6

4 Rumput Gajah/ pannisetum purpureum 5

5 Kaliandra / Kaliandra sp 4

6 Gamal / Gliricidia maculate 4

7 Nangka / Artrocarpus heterophyllus 4

8 Bebandotan/ Agrotum conyzoides 2

9 Ubi jalar / Colococia esculenta 2

Pengamatan jenis pakan yang diberikan kepada kambing PE pada responden peternak dengan pengamatan langsung. Berdasarkan hasil inventarisasi jenis hijauan rumput (graminae) yang dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan kambing adalah rumput lapang, pucuk tebu, rumput Gajah, tebon jagung, (4 macam daun dari 27 macam hijauan). Sedangkan daun tanaman pohon yang dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan kambing adalah daun Kaliandra, daun

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 156

Nangka, daun Gamal, daun Apokat, daun Ketela pohon (5 macam daun dari 27 macam hijauan). Hijauan lain dalam bentuk semak yang dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan kambing adalah daun Pahitan, daun bebandotan, daun Ubi Jalar, daun Katuk.

Hasil penelitian penggunaan pakan hijauan yang dimanfaatkan responden dengan persentase kemunculan >40% peternak adalah rumput lapang, pucuk tebu, daun Pahitan dan rumput Gajah. Peternak (responden) ternyata dalam memberikan pakan lebih mengedepankan kemudahan dalam mendapatkan pakan, yaitu lebih mudah mendapatkan hijauan rumput. Febrina dan Liana (2008) menyatakan bahwa secara umum petani peternak di pedesaan masih bertumpu pada cara-cara tradisional dengan mengandalkan rumput lapang sebagai sumber utama pakan ternak. Penggunaan pakan oleh peternak dengan persentase kemunculan 10-40% berikutnya adalah daun kaliandra, daun nangka, daun gliricidia dan ubi jalar.

2. Karakteristik hijauan pakan yang tersedia di Dusun Bandar Jaya (pola pemeliharaan Dikandangkan)

Pada pola pemeliharaan dikandangkan terkonsentrasi pada penyediaan hijauan berbasis perkebunan kopi, rumput liar dilahan kosong bera, lahan sepanjang daerah aliran sungai dan anak anak sungai, serta hijauan dari pekarangan. Pengadaan pakan hijauan di Dusun Bandar jaya pola pemeliharaan di kandangkan disajikan pada Tabel 3. Sumber utama pakan hijauan dari kebun kopi, disusul rumput liar dari lahan kosong/belukar/bera daerah DAS sungai dan anak sungai besemah. Sebagai pakan utama adalah hijauan daun bersumber dari tanaman pelindung kebun kopi berupa Gamal, nangka, cadangan saat sore berupa rumput dan gulma, namun saat-saat tertentu peternak mengambil hijauan di sekitar rumah yang sebagian berfungsi sebagai pagar.

Tabel 1 Lokasi Perolehan pakan Hijauan

Uraian perolehan hijauan Responden Persentase

Kebun Kopi 8 61,5385 %

Daerah DAS 3 23,0769 %

Lahan kosong /bera 1 7, 6923 %

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 157

Jenis hijauan yang diberikan pada ternak kambing yang terdapat di lokasi penelitian dusn Bandar seperti pada Tabel 2. Hasil pengamatan pakan yang diberikan pada pada Kambing PE adalah jenis Rumput Lapang, rumput gajah. Jenis Daun adalah Daun Gamal, Kaliandra, daun nangka. Jenis Hijauan Lain adalah pahitan dan bebandotan.

Tabel 4 Jenis hijauan yang digunakan 13 responden

No Nama Frekuensi Persentase

1 Gamal/ Gliricidia maculata 11 0,846154

2 Nangka /Artrocarpus heterophyllus 8 0,615385

3 Kaliandra/ Kaliandra sp 7 0,538462

4 Rumput Gajah/ pannisetum purpureum 3 0,230769

5 Rumput Lapang/ Panicum maximum 2 0,153846

6 Pahitan/Thitonia diversifolia 1 0,076923

7 Bebandotan/ Agrotum conyzoides 1 0,076923

Pengamatan jenis pakan yang diberikan kepada kambing PE pada responden peternak dengan pengamatan langsung. Berdasarkan hasil inventarisasi jenis hijauan rumput (graminae) yang dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan kambing PE adalah rumput lapang dan, rumput Gajah, (2 macam daun dari 27 macam hijauan). Sedangkan daun tanaman pohon yang dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan kambing adalah daun Kaliandra (53,8%), daun Nangka (61%), daun Gamal (84,6%), (3 macam daun dari 27 macam hijauan).

Hasil penelitian penggunaan pakan hijauan yang dimanfaatkan responden dengan persentase kemunculan >50% peternak adalah Gamal (, Kaliandra dan Nangka. Peternak (responden) ternyata dalam memberikan pakan lebih mengedepankan kemudahan dalam mendapatkan pakan, dalam hal ini di daerah perkebunan kopi maka pilihan utama dari naungan kopi berupa Gamal nangka maupun kaliandra.

Penampilan Reproduksi Kambing 1. Jumlah kepemilikanTernak

Kepemilikan kambing pada masing 13 responden di Dusun Bandar Kelurahan Kance Diwe pada Tabel 5. Sedangkan Kepemilikan kambing pada responden di Dusun Bandar Jaya seperti pada Tabel 6.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 158

Jenis

Dusun Bandar Jumlah

Jantan Betina

Anak 19 33 52

Muda 17 14 31

Dewasa 12 87 99

Laktasi bunting 8

Laktasi non bunting 11

Kering bunting 31

Kering non bunting 37

182

Tabel 6. Kepemilikan Kambing 13 responden di Dusun Bandar Jaya

Jenis

Dusun Bandar Jaya Jumlah Jantan Betina

Anak 35 57 92

Muda 34 41 75

Dewasa 25 162 187

Laktasi bunting 16

Laktasi non bunting 63

Kering bunting 42

Kering non bunting 41

354

Dari data pada Tabel 5 terlihat bahwa rataan kepemilikan ternak kambing di usun Bandar Jaya, 27 ekor/peternak terdiri dari 14 ekor ternak dewasa, 5 ekor ternak muda dan 7 ekor anak, Dusun Bandar 14 ekor/peternak yang meliputi 8 ekor ternak dewasa, 2 ekor ternak muda 4 ekor ternak anak. Perbedaan jumlah ternak yang dipelihara berbeda antar kedua Dusun, disebabkan adanya perbedaan orientasi pada peternak di Dusun Bandar Jaya yang menekuni peternakan kambing menuju intensif karena waktu kerja di perkebunan kopi lebih longgar 1 tahun sekali selama 2 bulan pada saat panen raya sedangkan di dusun Bandar petani mengelola sawah yang lebih memerlukan perawatan. 2. Penampilan Reproduksi kambing

Hasil kajian ditunjukan Table menunjukan umur berahi pertama Kamping PE di dusun Bandar Jaya 10,04 sedangkan di dusun Bandar 12,76 bulan, kondisi parameter reproduksi kambing di kedua dusun ini sesuai dengan beberapa laporan penelitian Sutama et al. (1995) melaporkan bahwa kambing betina PE mencapai pubertas pada umur 10-12 bulan pada saat mencapai bobot badan sekitar 13,5-22,5 kg (rataan 18,5 kg) yakni sekitar 55-60% dari berat badan dewasa, dan berahi pertama selalu diikuti dengan ovulasi.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 159

Tabel 7. Penampilan reproduksi Kambing PE Di Dusun Bandar Jaya dan Bandar

Parameter reproduksi Bandar Jaya Bandar

Umur birahi pertama (bulan) 10.04 12,76

Umur pertama kawin (bulan) 10,43 13,44

Umur pertama beranak (bulan) 15,82 19,21

Lama bunting (bulan) 5,39 5,77

Kiding interval (bulan) 7,67 7,84

Jumlah anak per kelahiran (ekor) 2,14 1,78

Bobot lahir (kg) 3,25 -

Umur sapih (bulan) 3,6 4,8

Seks Rasio 1: 6,48 1:7,5

Dari Tabel 7 terlihat adanya perbedaan antara umur pertama kawin dan beranak di dua dusun, kemungkinan ada kaitannya dengan kurangnya pemahaman peternak terhadap tanda-tanda birahi pada kambing. Menurut Mulyono (1999), pubertas (birahi pertama) pada ternak kambing dan domba, terjadi pada umur 6-12 bulan, dewasa kelamin pada umur 4-6 bulan, namun untuk tujuan perkawinan sebaiknya pejantan digunakan setelah mencapai antara 10-18 bulan (Willamson dan Payne, 1993).

Rata-rata umur pertama kali kambing PE di Dusun Bandar Jaya dan Dusun Bandar beranak masing masing 15,82 bulan dan 19,21 bulan. Perbedaan ini disebabkan kambing petani di Dusun Bandar Jaya dikawinkan pada umur lebih muda dibandingkan dengan Dusun Bandar. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilaporkan Atabany (2001), yakni umur beranak pertama pada kambing PE 643,24 hari (21,44 bulan). Berdasarkan laporan, kambing PE beranak pertama pada umur 16–18 bulan, dalam 2 tahun dapat beranak 3 kali dengan masa produktif 5 tahun (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011).

Data reproduksi pada Tabel 7 menunjukkan bahwa ternak kambing di kedua Dusun cukup prolifik ditandai dengan jumlah anak/kelahiran yang cukup baik. Siklus birahi 22,79 hari, hasil ini lebih tinggi dari kambing Saanen yang dilaporkan oleh Atabany (2001), yakni 21, 73 hari. Peternak di Dusun Bandar tidak langsung mengawinkan ternaknya tetapi menunggu ternaknya sampai dewasa tubuh baru dikawinkan tetapi terkadang peternak di Dusun Bandar membeli ternak yang sudah dewasa tubuh sehingga ketika birahi langsung dikawinkan. Sutama dan Budiarsana (1997), menyatakan bahwa penundaan umur perkawinan pertama perlu dilakukan, untuk memberi kesempatan ternak

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 160

untuk mencapai kondisi dan berat badan yang cukup untuk mempertahankan kebuntingan dankinerja produksi dan reproduksi selanjutnya.

Sistem perkawinan ternak kambing di kedua kecamatan masih secara alamiah, ternak betina yang sedang birahi dikeluarkan dari kandang, dan dikawinkan dengan pejantan unggul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seks rasio ternak di Dusun Bandar Jaya 1:6,48 dan di Dusun Bandar 1:7,5. Hasil ini mengindikasikan bahwa sistem perkawinan ternak kambing di kedua dusun terlihat kurang efisien, menurut Atabany (2001), perbandingan antara jantan dan betina dewasa (induk laktasi, induk kering, dara bunting, dan dara siap kawin) pada peternakan kambing PE yang ideal 1:14 dan pada peternakan kambing Saanen 1:3. Menurut Blakely dan Bade (1991), seekor jantan sehat dapat mengawini betina sebanyak 30 ekor. Devendra dan Burn (1994) berpendapat bahwa seekor kambing jantan dewasa dapat mengawini 25 ekor betina.

Selang beranak per induk di kedua dusun termasuk baik yaitu Bandar Jaya 7,67 bulan dan Dusun Bandar 7,81 bulan. Berdasarkan laporan penelitian Sutama et al. (1997), aktivitas seksual setelah beranak pada kambing PE terjadi relatif cepat (semasa ternak masih menyusui anaknya), sehingga interval beranak bisa dicapai pada umur 7-8 bulan. Oleh karena itu, menurut Mulyono (1999), diperlukan suatu pola reproduksi dan perkawinan yang efektif dalam rangk meningkatkan jumlah bakalan kambing.

Jumlah anak per kelahiran atau ata litter size kambing PE di Dusun Bandar Jaya dan Bandar masing-masing 2,14 dan 1,7862. Hasil ini mengindikasikan bahwa kambing bibit yang digunakan di Dusun Bandar Jaya relatif lebih produktif dibandingkan dengan di Dusun Bandar, hasil ini juga lebih tinggi dari hasil Budiarsana et al. (2003), di desa Panulisan Timur yaitu 1,75±0,45 dan 1,29±0,46. Rataan bobot lahir anak kambing di Dusun Bandar Jaya yaitu 3,25 kg, sementara dari Dusun Bandar tidak diperoleh data hasil penimbangan. Keterbatasan fasilitas dan alat timbang serta kurangnya pengetahuan peternak merupakan kendala pengembangan ternak kambing di kecamatan Bandar.

Umur sapih anak kambing di Dusun Bandar Jaya dilakukan lebih dini dari Dusun Bandar, keadaan ini berkaitan dengan manajemen pemeliharaan induk anak yang berbeda antar petani. Peternak di Dusun Bandar Jaya, menerapkan

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 161

pola pemisahan anak dari induk setelah disapih terutama anak kambing yang memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat. Kambing yang memiliki performa pertumbuhan yang cepat diberi kesempatan menyususi lebih lama dari induknya agar dapat dijadikan sumber bibit.

KENDALA YANG DIHADAPI

Kajian ini sebenarnya merupakan penajaman penyuluhan pertanian yang dilaksanakan di Kelurahan Kance Diwe Kecamatan Dempo Selatan, untuk mendapatkan data yang akurat mengenai permasalahan usaha tani dalam hal ini peternakan kambing peranakan ettawah (PE), namun demikian informasi berdasar

recording ternak sebelum dilaksanakannya kajian ini yang tidak lengkap terkait tetua kambing kemurnian kambing PE dan hereditas lainnya menyebabkan cukup menyulitkan mengidentifikasi kondisi reproduksi per individu ternak. Termasuk dalam hal ini penimbangan bobot lahir tidak lengkap dan bobot sapih tidak ada. Untuk mendapatkan data lebih dalam mengenai hijauan pakan ternak spesifik lokasi terkait kandungan nutrisinya masih terkendala biaya karena pengujian bahan pakan mahal dan kajian ini atas biaya sendiri.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil kegiatan maka simpulan dalam kegiatan ini sebagai berikut: 1. Hasil pengkajian pada pola pemeliharaan umbaran/pengembalaan di Dusun

Bandar hijauan yang banyak digunakan >40% rumput lapang, pucuk tebu dan rumput gajah 10-40% adalah kaliandra, nangka, gamal, babandotan dan ubi jalar.

2. Hijauan yang di gunakan di dusun Bandar Jaya pola pengandangan berturut turut gamal, nangka, kaliandra, rumput gajah, rumput lapang, pahitan, dan babandotan.

3. Penampilan reproduksi untuk pola umbaran/pengembalaan di Dusun Bandar adalah umur birahi pertama 12,76 bulan, umur pertama kawin 13,44 bulan, umur pertama beranak 19,21 bulan, lama bunting 5,77 bulan, kidding interval 784 bulan, jumlah anak perkelahiran 1,78 ekor, bobot lahir tidak ada pencatatan, umur sapih 4,8 bulan dan seks ratio 1:7,5.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 162

4. Penampilan reproduksi kambing PE pola pemeliharaan dikandangkan di Dusun Bandar Jaya sebagai berikut umur birahi pertama 10,04 bulan, umur pertama kawin 10,43 bulan, umur pertama beranak 15,82 bulan, lama bunting 5,39 bulan, kidding interval 7,67 bulan, jumlah anak perkelahiran2,14 ekor, bobot lahir 3,25, Umur sapih 3,6 bulan dan seks ratio 1:6,48.

5. Secara umum keseluruhan parameter reproduksi Bandar Jaya dengan pola pengandangan lebih baik dibanding dusun Bandar dengan pola pemeliharaan umbara/pengembalaan kecuali seks rasio dikarenakan kualitas pakan yang diberikan kemungkinan lebih berkualitas karena lebih banyak leguminose dibanding Dusun Bandar yang dominan adalah rumput.

Saran

Untuk perbaikan pemeliharaan kambing Peranakan ettawah di Kedua Dusun disarankan untuk melakukan pemberian pakan sesuai umur dan status fisiologi ternak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous 2018. LAporan Statistik Pertanian, Bidang Peternakan Tahun 2018, Dinas Pertanian Kota Pagar Alam.

Anonymous, 2019. Laporan Statistik Pertanian. Bidang Peternakan Tahun 2019. Dinas Pertanian Kota Pagar Alam.

Anonymous, 2020. Programa Penyuluhan Pertanian kelurahan Kance Diwe Kecamatan Dempo selatan KotaPagar Alam.

Atabany, A. 2001. Studi kasus produktivitas kambing peranakan etawah dan kambing saanen pada peternakan kambing perah barokah dan PT. Taurus dairy farm. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Blakely, J. & D. H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi ke-2. Terjemahan:

Bambang Srigandoro. Gadjah MadaUniversity Press, Yogyakarta.

Devendra, C.& M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Terjemahan: IDK Harya Putra. Penerbit ITB Bandung, Bandung.

Febrina, D., & Liana, M. (2008). Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ruminansia pada peternak rakyat di kecamatan rengat barat kabupaten indragiri hulu. Jurnal Peternakan, 5(1), 28–37

Mulyono, S. 1999. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Penerbit Swadaya, Jakarta.

Sajimin, Kompiang, I. P., Supriyati, & Lugiyo. (2014). Pengaruh pemberian berbagai cara dan dosis Bacillus sp. Terhadap produktivitas dan kualitas rumput Panicum maximum. JITV, 19(2).

Sutama, I-K., I. G. M. Budiarsana, H. Setianto, & A. Priyanti. 1995. Productive and reproductive performancesof young Peranakan Etawah does. Jurnal IlmuTernak dan Veteriner.

Prosiding Seminar Nasional ke -9 HITPI

Agustomo 163

Sutama, I-K & I.G.M. Budiarsana.1997. Kambing Peranakan Etawah penghasil susu sebagai sumber pertumbuhan baru sub-sektor peternakan di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional dan Veteriner. Bogor, 18-19 November, 1:158. Williamson, G. & W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis.

Tejamahan: S.G. N Djiwa Darmadja. An Introduction to Animal Husbandry in The Tropics third Eition.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

PRODUKTIFITAS BERBAGAI CULTIVAR RUMPUT GAJAH