BAHAN DAN METODE EVALUASI
3.3. Cara Analisis
Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Kecamatan Cimanggis dilakukan dengan metode sebagai berikut :
1. Menetapkan tolok ukur atau indikator dari unsur masukan, proses, keluaran, lingkungan, umpan balik dan dampak. Tolok ukur merupakan standar atau target unsur sistem dari suatu program sebagai syarat agar program dapat terlaksana dengan baik.
2. Membandingkan keluaran pada pencapaian program dengan tolok ukur untuk mencari adanya kesenjangan. Tujuan pembandingan keluaran pada program dengan tolok ukur adalah agar suatu masalah dapat diidentifikasi
25 apabila terdapat kesenjangan antara keluaran pada program dengan keluaran pada tolok ukur;
3. Menetapkan prioritas masalah.
Penentuan prioritas masalah harus dilakukan jika terdapat lebih dari satu masalah. Hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan dan sumber daya, serta kemungkinan adanya masalah-masalah tersebut berkaitan satu dengan yang lainnya. Masalah yang dianggap paling besar, mudah diintervensi, dan paling penting, akan menjadi prioritas. Penentuan prioritas masalah dilakukan menggunakan teknik kriteria matriks yang terdiri dari 3 komponen:
1) Pentingnya masalah (I), yang terdiri dari: a. Besarnya masalah (P)
b. Akibat yang ditimbulkan oleh masalah (S) c. Kenaikan besarnya masalah (RI)
d. Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (DU) e. Keuntungan sosial karena selesainya masalah (SB) f. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (PB) g. Suasana politik (PC)
2) Kelayakan teknologi (T)
Makin layaknya teknologi yang tersedia dan dapat dipakai untuk mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
3) Sumber daya yang tersedia (R)
Terdiri dari man, money, material, makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah makin diprioritaskan masalah tersebut.
Selanjutnya beri nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5 (sangat penting) pada tiap kotak dalam matriks sesuai dengan jenis masalah masing-masing. Masalah yang dipilih sebagai prioritas adalah yang memiliki nilai I x T x R tertinggi.
4. Membuat kerangka konsep dari masalah yang diprioritaskan.
Untuk menentukan penyebab masalah yang telah diprioritaskan tersebut, maka dibuat kerangka konsep masalah. Hal ini bertujuan untuk
26 menentukan faktor-faktor penyebab masalah yang telah diprioritaskan tersebut diatas yang berasal dari komponen sistem yang lainnya, yaitu komponen input, proses, lingkungan, dan umpan balik. Dengan menggunakan kerangka konsep diharapkan semua faktor penyebab masalah dapat diketahui dan di identifikasi sehingga tidak ada yang tertinggal.
5. Identifikasi penyebab masalah
Membandingkan masukan, proses, lingkungan, umpan balik dan dampak pada pencapaian program dengan tolok ukur untuk mencari adanya kesenjangan yang kemudian ditetapkan sebagai penyebab masalah. Beberapa penyebab masalah yang terdapat pada kerangka konsep selanjutnya diidentifikasi.
Tolok ukur pada komponen masukan proses, lingkungan dan umpan balik tercantum di Tabel 3.2, Tabel 3.3, Tabel 3.4.
Tabel 3.2. Tolok Ukur pada Komponen Masukan No Variabel Tolok Ukur
1 Tenaga Dokter : 1 orang Perawat : 1 orang Kader : 1 orang Analis : 1 orang
2 Dana Adanya dana yang diperlukan untuk mendukung program yang berasal dari : a. APBN menyediakan seluruh Buffer Stock
b. APBD Menyediakan anggaran dan pelatihan, supervisi dan monitoring, jaminan mutu laboratorium,kegiatan pemecahan masalah serta pengembangan SDM, Swadana puskesmas Menyediakan anggaran operasional,reagen, pemeliharaan, Pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan DBD
c. Swadaya masyarakat
3 Sarana Tersedianya sarana: 1. Bubuk Abate
2. Formulir pemeriksaan jentik berkala 3. Formulir penyelidikan epidemiologi
4. Tersedianya bahan penyuluhan (Leaflet, buku, dll) 5. Daftar Kepala keluarga per RT dan RW
6. Tersedianya alat semprot minimal 4 buah 7. Tersedianya insektisida sesuai kebutuhan
8. Tersedianya alat komunikasi minimal 1 buah faksimili dan telepon/PKC
4 Metode Medis
1. Pendataan, anamnesa, pemeriksaan fisik
2. Ditekankan pada upaya penemuan kasus DBD Non medis
27 Tabel 3.3. Tolok ukur pada komponen proses
No Variabel Tolok Ukur
1 Perencanaan Terdapat rencana kerja yang tertulis dan jadwal sesuai dengan program kerja puskesmas.
2 Pengorganisasian 1. Terkait dalam penanggulangan demam berdarah. 2. Adanya tugas dan wewenang.
3. Adanya struktur organisasi dan staffing pelaksana program. 4. Adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
a. Dokter umum sebagai pemeriksa di puskesmas
b. Perawat sebagai perawat dan wasor program Demam Berdarah di puskesmas
c. Kader sebagai panutan dan penggerak masyarakat dalam pelaksanaan penanggulangan DBD
5. Analis sebagai pemeriksa laboratorium Demam Berdarah
3 Pelaksanaan 1. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) dilaksanakan dengan memeriksa seluruh rumah pada tiap-tiap RW.
2. Penyelidikan Epidemiologi segera dilaksanakan setelah menerima laporan kasus dalam waktu maksimal 3 x 24 jam. 3. Fogging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m selang
waktu 1 minggu.
4. Fogging masal dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah suspek KLB dengan selang waktu 1 bulan.
5. Penyuluhan dapat diberikan oleh dokter, paramedis atau kader terlatih mengenai penyakit demam berdarah dengue.
6. Para pemimpin pemerintah, tokoh masyarakat baik formal maupun informal mengkomunikasikan dan memotivasi masyarakat umum untuk melaksanakan penanggulangan demam berdarah dengue dalam pertemuan yang dilaksanakan secara rutin.
7. Gerakan PSN di seluruh RW.
8. Pertemuan lintas sektoral tingkat kelurahan minimal per 3 bulan.
4 Pencatatan dan pelaporan
Adanya catatan, penilaian dan pelaporan hasil kegiatan penanggulangan demam berdarah dengue yang telah dicapai
5 Pengawasan Adanya pengawasan eksternal maupun internal
Tabel 3.4. Tolok ukur komponen lingkungan dan umpan balik No Variabel Tolok Ukur
1 Lingkungan
Fisik 1. Lokasi pemeriksaan mudah terjangkau 2. Fasilitas kesehatan tersedia
Nonfisik Pendidikan penduduk minimal SMA
2 Umpan balik Masukan hasil pencatatan dan pelaporan untuk perbaikan program selanjutnya
28 6. Mencari jalan keluar atau alternatif penyelesaian masalah.
Setelah penyebab masalah diketahui, langkah selanjutnya adalah membuat beberapa alternatif pemecahan masalah. Pemilihan alternatif pemecahan masalah harus disesuaika dengan kemampuan serta situasi dan kondisi puskesmas. Alternatif pemecahan masalah dibuat secara rinci, meliputi tujuan, sasaran, target, metode, jadwal kegiatan, serta rincian dananya.
7. Menentukan prioritas cara pemecahan masalah
Dari berbagai alternatif pemecahan masalah yang telah dibuat, maka dipilih satu cara penyelesaian masalah yang dianggap paling baik dan memungkinkan. Pemilihan/penentuan prioritas cara penyelesaian masalah ini dengan memakai teknik kriteria matriks. Dua kriteria yang lazim digunakan adalah :
a. Efektifitas jalan keluar
Ditetapkan nilai efektifitas untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan memberikan angka 1 (paling tidak efektif) sampai angka 3 (paling efektif). Prioritas jalan keluar adalah yang nilai efektifitasnya paling tinggi. Untuk menilai efektifitas jalan keluar, diperlukan kriteria tambahan sebagai berikut:
1. Besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude).
Makin besar masalah yang dapat diatasi, makin tinggi prioritas jalan keluar tersebut.
2. Pentingnya jalan keluar (Importancy).
Pentingnya jalan keluar dikaitkan dengan kelangsungan masalah. Makin baik dan sejalan selesainya masalah, makin penting jalan keluar tersebut.
3. Sensitifitas jalan keluar (Vulnerrability).
Sensitifitas dikaitkan dengan kecepatan jalan keluar dalam mengatasi masalah, makin cepat masalah teratasi, makin sensitif jalan keluar tersebut.
29 b. Efisiensi jalan keluar
Tetapkan nilai efisiensi (efficiency) untuk setiap alternatif jalan keluar. Nilai efisiensi biasanya dikaitkan dengan biaya (cost) yang diperlukan untuk melaksanakan jalan keluar. Makin besar biaya yang diperlukan makin tidak efisien jalan keluar tersebut. Beri angka 1 (biaya paling sedikit) sampai angka 5 (biaya paling besar).
Nilai prioritas (P) dihitung untuk setiap alternatif jalan keluar. Dengan membatasi hasil perkalian nilai M x I x V dengan C. jalan keluar nilai P tertinggi, adalah prioritas jalan keluar terpilih.
30 BAB IV