BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.3 Kejadian Malaria
4.3.2 Kejadian Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.8 Distribusi Kejadian Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil Pemeriksaan Mikroskopik
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa diantara sampel yang ditemukan dari hasil pemeriksaan mikroskopis responden yang terdeteksi positif malaria paling banyak ditemukan pada perempuan, yaitu sebanyak 12/14 orang (85,71%). Pada subyek penelitian ini, responden terbesar adalah perempuan, oleh sebab itu hasil yang didapatkan terbanyak pada perempuan. Hasil penelitian Atikoh (2015) di Purbalingga pada tahun 2014 dan Saikhu (2011) bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian malaria.36, 37 Berbeda dengan penelitian Riskesdas 2013, ditemukan pada laki-laki lebih banyak dijumpai kasus malaria dengan risiko 2,36 kali lebih besar terkena malaria dibandingkan perempuan. Keadaan ini dapat dikaitkan dengan aktivitas laki-laki yang lebih banyak di luar rumah pada malam hari atau kegiatan laki-laki yang lebih banyak di daerah dengan adanya tempat perindukan nyamuk seperti bertani, beternak, dan mengelola tambak.38
4.2.3 Kejadian Malaria Berdasarkan Riwayat Malaria
Tabel 4.9 Distribusi Kejadian Malaria Berdasarkan Riwayat Malaria
Hasil Pemeriksaan Mikroskopik malaria dan ketiganya masih ditemukan adanya parasit dalam pemeriksan mikroskopik pada penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa responden pernah
terinfeksi malaria sebelumnya dan ditemukannya parasit pada pemeriksaan mikroskopik tersebut dapat dikarenakan pengobatan yang tidak adekuat karena responden mengaku tidak menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dokter, adanya fase hipnozoit pada P.vivax yang memungkinkan terjadinya relaps pada pasien atau adanya reinfeksi pada responden.1, 12, 18
Salah satu responden yang memiliki riwayat malaria mengatakan bahwa pernah menderita malaria 2 kali, yaitu pada tahun 2012 dan 2013. Responden lain memiliki riwayat malaria saat berpindah tempat tinggal ke Papua pada tahun 2009.
Adapula responden yang pernah menderita malaria 3 kali pada saat masa remaja, namun responden tidak ingat tahun spesifiknya. Selain itu, pada tahun 2016 salah satu responden mengatakan pernah melakukan skrining apusan darah dan ditemukan adanya parasit namun tidak merasakan adanya gejala klinis.
4.3.4 Kejadian Malaria Berdasarkan Gejala Klinis Tabel 4.10 Distribusi Gejala Klinis Pada Responden
Pemeriksaan Mikroskopik
Keluhan gejala klinis pada responden didapatkan melalui pengakuan responden yang ditulis pada kuisioner, berupa demam tinggi yang disertai menggigil dan berkeringat. Pada tabel 4.10 diketahui bahwa seluruh responden 100% (14/14) tidak mengalami adanya gejala klinis tersebut, sementara pada pemeriksaan mikroskopiknya ditemukan parasit. Dapat disimpulkan bahwa, 14 orang mengalami malaria asimtomatik.10
Hal ini bisa dikarenakan parasitemia yang belum menyentuh batas pyogenic treshold yang mampu merangsang respon imun dan menimbulkan demam, atau
infeksi yang sifatnya intermiten sehingga gejala yang dirasakan subyek dianggap biasa atau belum cukup parah untuk dikonsultasikan, atau karena infeksi berkepanjangan yang tidak dapat dikontrol oleh respon imun secara adekuat.18 Selain itu adanya fase hipnozoit pada P.vivax mampu membuat penderita asimtomatik, namun sampai saat ini belum ada alat yang mampu mendeteksi fase hipnozoit tersebut.31
4.3.5 Kejadian Malaria Berdasarkan Karakteristik Geografis Tabel 4.11 Distribusi Karakteristik Geografis Asal Daerah Responden
Pemeriksaan
Dilihat dari letak geografis dari daerah asal responden, maka didapatkan data dalam tabel 4.11, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa karakteristik geografis yang berbeda pada responden. Responden yang ditemukan positif malaria dalam darahnya, sebagian besar berasal dari daerah dataran tinggi pedesaan, yaitu 50%
(7/14) dan hanya 14.3% (2/14) saja yang berasal dari daerah pantai. Hal ini ditemukan serupa dengan penelitian yang dilakukan P2PL bahwa kasus terbanyak malaria di Indonesia ditemukan pada daerah pedesaan.2
Pada penelitian Saikhu (2011) yang melakukan analisis faktor risiko dari kejadian malaria di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan data riskesdas 2007 bahwa penemuan kasus malaria paling banyak di pedesaan dibandingkan perkotaan, namun tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan diantara kedua karakteristik geografik tersebut. Data Riskesdas 2013, menurut karaketeristik
geografis menemukan bahwa prevalensi malaria tertinggi yaitu pada pedesaan sebesar 7.1%.2, 48
Penelitian oleh Syah (2012) di wilayah kerja puskesmas Girian Weru Kota Bitung, menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kondisi geografis antara orang yang tinggal di pantai dan non pantai dengan kejadian malaria. Penelitian tersebut juga medapatkan kesimpulan bahwa penduduk yang tinggal di daerah pantai memiliki risiko 12,524 kali lebih besar terkena malaria dibandingkan dengan penduduk yang tidak bertempat tinggal di daerah pantai.49
Karakteristik geografis ini dinilai untuk mengetahui kondisi geografis disekitar pemukiman penduduk memiliki risiko tinggi sebagai tempat perindukan vektor nyamuk atau tidak. Pedesaan merupakan wilayah yang mengutamakan kegiatan pertanian serta peternakan sehingga banyak dijumpai sawah, semak, rawa-rawa, serta kandang ternak yang berada di dekat rumah penduduk. Karakteristik wilayah ini memiliki air tawar yang tenang dan tersedia sepanjang tahun, kelembabannya tinggi dengan suhu yang stabil. Tempat ini cocok untuk perindukan nyamuk seperti An.aconitus, An.barbisrostris.17, 50
Pada daerah pegunungan memiliki sumber mata air yang jernih juga dengan kondisi kelembaban tinggi. Pada musim kemarau tempat perindukannya semakin meningkat dikarenakan debit air yang semakin menurun sehingga membentuk kobangan air.50 Nyamuk yang dominan di daerah pegunungan adalah An.maculatus.
Pada daerah perkotaan walaupun jarang sekali dilaporkannya kasus malaria, menurut data riskesdas 2013 prevalensinya 5%.2 Hal yang memungkinkan masih terjadinya penularan malaria di daerah perkotaan ini karena pemukiman yang padat, adanya kolam atau kobangan air, serta nyamuk seperti An.barbirostris yang suka beristirahat di pepohonan sekitar rumah.6, 16 Daerah pantai dengan karakteristik kelembapan yang tinggi, air payau serta sinar matahari langsung menjadi tempat yang disenangi oleh vektor nyamuk seperti An.sundaicus.6, 50
4.4 Keterbatasan Penelitian
1. Jumlah sampel yang kecil dan terbatas, sehingga mengurangi nilai uji diagnostiknya.
2. Kemungkinan adanya bias informasi pada faktor perilaku responden, karena daerah yang bervariasi dan sulit untuk dijangkau pada subyek penelitian sehingga sulit dalam melakukan pemeriksaan secara observasional.
3. Keterbatasan peneliti dalam mengidentifikasi spesies Plasmodium.
62 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
1. Angka kejadian malaria pada mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berasal dari daerah endemis malaria adalah sejumlah 50% (14/28) asimtomatik.
2. Parasit malaria yang ditemukan adalah Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum.
3. Perilaku di daerah asal yang paling banyak dilakukan adalah pemakaian anti nyamuk saat tidur dan yang paling jarang dilakukan adalah pemakaian kelambu.
4. Gambaran kejadian Malaria berdasarkan karakteristik individu pada mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berasal dari daerah endemis malaria adalah:
a. Kejadian Malaria paling banyak ditemukan pada mahasiswa perempuan.
b. Mahasiswa yang memliki riwayat malaria sebanyak 21.4% (3/14).
c. Seluruh mahasiswa yang positif malaria mengalami malaria asimtomatik.
5. Kejadian Malaria paling banyak ditemukan pada subyek penelitian yang berasal dari daerah dataran tinggi pedesaan.
5.2 Saran
1. Subyek Penelitian
a. Mahasiswa yang sudah terdeteksi mengalami infeksi Malaria disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan kepada tenaga kesehatan dan mendapatlan pengobatan yang sesuai dan adekuat.
2. Peneliti Selanjutnya
a. Melanjutkan penelitian dengan sampel yang lebih besar untuk mendapatkan nilai prevalensi Malaria
b. Melanjutkan penelitian dengan menghitung jumlah kepadatan parasit untuk mengetahui derajat infeksi.
c. Melanjutkan penelitian epidemiologi terhadap faktor risiko malaria.
d. Melanjutkan uji diagnostik banding secara serologis dan imunologis terutama untuk mengkonfirmasi nilai negatif pada pemeriksaan mikroskopis dan rapid diagnostic test (RDT).
64
1. Departemen Parasitologi FK UI. Parasitologi kedokteran. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2013.
2. Kementerian Kesehatan RI. Infodatin malaria. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI; 2016
3. Kementerian Kesehatan RI. Profil kesehatan indonesia tahun 2015. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2016.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 5 Tahun 2013 Tentang Pedoman Tata Laksana Malaria.
5. Elyazar IRF, Hay SI, Baird JK. malaria distribution, prevalence, drug resistance and control in indonesia. Advances in parasitology. 201;74:41-175.
6. Soedarto. Malaria: Referensi mutakhir epidemiologi global plasmodium- anopheles penatalaksaan penderita malaria. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
7. CDC. Laboratory diagnosis of malaria: Plasmodium falciparum [Internet].
2017. Tersedia pada:
https://www.cdc.gov/dpdx/resources/pdf/benchAids/malaria/Pfalciparum_ben chaidV2.pdf
8. CDC. Laboratory diagnosis of malaria: Plasmodium vivax [Internet]. 2017 Terdapat pada:
https://www.cdc.gov/dpdx/resources/pdf/benchAids/malaria/Pvivax_benchaid V2.pdf
9. CDC. Laboratory diagnosis of malaria: Plasmodium ovale [Internet]. 2017.
Terdapat pada:
https://www.cdc.gov/dpdx/resources/pdf/benchAids/malaria/Povale_benchaid V2.pdf
10. CDC. Laboratory diagnosis of malaria: Plasmodium malariae [Internet]. 2017 Terdapat pada:
https://www.cdc.gov/dpdx/resources/pdf/benchAids/malaria/Pmalariae_bench aidV2.pdf
11. Setiati S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing; 2015
12. Mueller Ivo. et al. Key gaps in the knowledge of plasmodium vivax, a neglected human malaria parasite. The Lancet Infectious Diseases. 2009;9( 9):
555–566.
13. Sorontou Y. Ilmu malaria klinik. Jakarta: EGC; 2013.
14. Smith Ryan C. et al. The Plasmodium bottleneck: malaria parasite losses in the mosquito vector. Baltimore: Mem Inst Oswaldo Cruz, Rio de Janeiro.
2014; 109(5): 644-661.
15. P2PL. Pedoman teknis pemeriksaan parasit malaria. Jakarta: Kemenkes RI;
2011.
16. Sinka ME, Bangs MJ, Manguin S, et al. The dominant Anopheles vectors of human malaria in the Asia-Pacific region: occurrence data, distribution maps and bionomic précis. Parasites & Vectors. 2011;4:89.
17. Harijanto P.N. Malaria: epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis, dan penanganan. Jakarta : EGC; 2000.
18. Chen I, Clarke SE, Gosling R, et al. “Asymptomatic” Malaria: A Chronic and Debilitating Infection That Should Be Treated. PLoS Medicine. 2016;13(1).
19. Pava Z., Burdam F. H., Handayuni I., Trianty L., et. al. Submicroscopic and Asymptomatic Plasmodium Parasitaemia Associated with Significant Risk of Anaemia in Papua, Indonesia. PLoS ONE 2016; 11(10).
20. Natadisastra, D. Parasitologi kedokteran: ditinjau dari organ tubuh yang diserang. Jakarta : EGC; 2009.
21. Sehgal Rakesh. Practicals and viva in medical parasitology. New Delhi:
Elsevier; 2003.
22. Wongsrichanalai, C. et al. A review of malaria diagnostic tools: microscopy and rapid diagnostic test (RDT). The American Society of Tropical Medicine and Hygiene. 2007; 77(6): 119–127.
23. Harijanto P.N. Malaria: dari molekuler ke klinis. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2009.
24. Soedarto. Buku ajar parasitologi kedookteran. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
25. Margono Sri S., Hadidjaja Pinardi. Dasar parasitologi klinik. Edisi ke-1.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2011.
26. Arsin, Andi Arsunan. Malaria di indonesia, tinjauan aspek epidemiologi.
Makassar: Masagena Press; 2012.
27. Widoyono. Penyakit tropis: epidemiologi, penularan, pencegahan &
pemberantasannya. Jakarta: Erlangga; 2008.
28. Kemenkes RI. Pedoman penatalaksanaan kasus malaria. Jakarta: Kemenkes RI; 2011.
29. World Health Organization. Basic malaria microscopy. 2nd Ed. Geneva:
World Health Organization; 2010.
30. Van Eijk AM, Hill J, Noor AM, Snow RW, ter Kuile FO. Prevalence of malaria infection in pregnant women compared with children for tracking malaria transmission in sub-Saharan Africa: a systematic review and meta-analysis. The Lancet Global Health. 2015; 3(10).
31. World Health Organization. Disease surveillance for malaria elimination.
Geneva: World Health Organization; 2012.
32. World Health Organization. Universal access to malaria diagnostic testing: an operational manual. Geneva: World Health Organization; 2011.
33. Kemenkes RI. Panduan pemeliharaan eliminasi malaria. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
34. Van Dijk DP, Gillet P, Vlieghe E, Cnops L, van Esbroeck M, Jacobs J.
Evaluation of the Palutop+4 malaria rapid diagnostic test in a non-endemic setting. Malaria Journal. 2009; 8:293.
35. World Health Organization. Universal access to malaria diagnostic testing.
Geneva: World Health Organization; 2011.
36. Atikoh Ika N. Faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di desa selakambang kecamatan kaligondang kabupaten purbalingga tahun 2014.
Jakarta: UIN; 2015.
37. Saikhu A. Faktor risiko lingkungan dan perilaku yang mempengaruhi kejadian kesakitan malaria di propinsi sumatera selatan (analisis lanjut data riset kesehatan dasar 2007). Jurnal Aspirator. 2011(3):1,8-17.
38. Mayasari R. et. al. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria di Indonesia (analisis lanjut riskesdas 2013). Buletin Penelitian Kesehatan. 2016;
44:1.
39. Husi n H. Analisis faktor risiko kejadian malaria di puskesmas sukamerindu kecamatan sungai serut kota Bengkulu propinsi Bengkulu. Semarang:
UNDIP; 2007.
40. Hasyim H. Camelia Anita. et. al. Determinan kejadian malaria di wilayah endemis. Palembang Jur Kes Mas Nas 2014; 8:7.
41. Anjasmoro R. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja puskesmas rembang kabupaten purbalingga, Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013; 2.
42. Prihatin D. Kejadian malaria di wilayah kerja puskesmas mantangai kabupaten Kapuas provinsi Kalimantan tengah tahun 2012. Depok: UI; 2012.
43. Yawan SF. Analisis faktor risiko kejadian malaria di wiliyaha kerja
45. Sagay AR, Rattu JAM, Tarumingkeng AA. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di kecamatan kema, kabupaten minahasa utara.
Jurnal Media Kesehatan. 2015; 3:7.
46. Handayani L. et. al. Faktor risiko penularan malaria vivak. Berita kedokteran Masyarakat. 2006; 24:1.
47. Ahmadi S. Faktor risiko kejadian malaria di desa lubuk nipis kecamatan tanjung agung kabupaten muara enim. Semarang: Universitas Diponegoro;
2008.
48. Saikhu A. Faktor lingkungan dan perilaku yang mempengaruhi kejadian kesakitan malaria di propinsi sumatera selatan (Analisis lanjut data riset kesehatan dasar 2007). Jurnal Aspirator. 2012; 3:1,10.
49. Syah FI. Hubungan karakteristik individu, perilaku dan lingkungan dengan kejadian malaria di wilayah puskesmas girian weru kota bitung tahun 2012.
Depok: UI; 2012.
50. Hakim L. Malaria: epidemiologi dan diagnosis. Jurnal Aspirator. 2011; 3(2):
107-116.
51. CDC. Malaria [Internet]. 2016. Tersedia pada:
https://www.cdc.gov/dpdx/malaria/index.html
52. World Health Organization. Good practices for selecting and procuring rapid diagnostic tests for malaria. Geneva: World Health Organization; 2011.
53. Koita OA, Doumbo OK, Ouattara A, et al. False-Negative Rapid Diagnostic Tests for Malaria and Deletion of the Histidine-Rich Repeat Region of the hrp2Gene. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene.
2012; 86(2):194-198.
54. World Health Organization. Insecticide-treated mosquito nets: a WHO position statement. Geneva: World Health Organization; 2011.
55. Dahlan MS. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta: Salemba Medika; 2013.
56. Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
57. La Historia con Mapa. Indonesia Map Black and White [Internet]. 2017.
Terdapat pada: https://www.lahistoriaconmapas.com/atlas/country-map05/indonesia-map-black-and-white.htm
68
Lembar Persetujuan Mengikuti Penelitian
Bersama ini saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama :
Umur :
Alamat :
Telepon :
Setelah mendapat keterangan secukupnya dan mengerti manfaat penelitian tersebut di bawah ini dengan judul :
“Angka Kejadian Infeksi Malaria Pada Mahasiswa Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang Berasal Dari Daerah Endemis Malaria Di Indonesia.”
Saya mengerti tujuan penelitian ini dan mengapa diminta untuk berpartisipasi.
Semua pertanyaan yang saya ajukan telah dijawab peneliti.
Saya mengerti bahwa keiikutsertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela dan setiap saat dapat mengundurkan diri dari penelitian.
Jakarta, September 2017
` Yang memberi penjelasan, Yang menyetujui,
Partisipan
(Izzatul Hanifa) ( )
69
Lampiran 2 Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN
ANGKA KEJADIAN INFEKSI MALARIA PADA MAHASISWA KEDOKTERAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA YANG BERASAL DARI DAERAH
ENDEMIS MALARIA DI INDONESIA
*)Lingkari pilihan Anda
No. Pertanyaan Jawaban
KODE
(diisi oleh petugas)
A. IDENTITAS RESPONDEN A1 Nama Lengkap
A2 Usia
A3 Tempat Tinggal Asal/Selama…..
A4 Jenis Kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan
A4 [ ]
B. RIWAYAT MALARIA
B1 Apakah Anda pernah didiagnosis positif menderita malaria yang
0. Tidak 1. Ya
B1 [ ]
No. Pertanyaan Jawaban
Apakah dalam 3-6 bulan ini Anda pernah mengalami demam,
Apakah dalam 3-6 bulan terakhir Anda pernah meminum obat
Kapan terakhir kali Anda pulang ke daerah asal?
0. ≤ 1 bulan 1. >1 bulan
C1 [ ]
C2
Dalam 1 tahun, berapa kali Anda pulang ke daerah asal?
0. 1-2 kali 1. >2 kali
C2 [ ]
C3 Saat berada di tempat tinggal asal, apakah Anda keluar rumah saat
0. Tidak 1. Ya
C3 [ ]
No. Pertanyaan Jawaban
KODE
(diisi oleh petugas)
petang, malam hari atau dini hari menjelang subuh?
C4
Saat berada di tempat tinggal asal, apakah Anda memakai kelambu
Apakah Anda memakai kasa anti
nyamuk pada ventilasi rumah? 0. Tidak 1. Ya
C5 [ ]
C6
Saat berada di tempat tinggal asal, apakah Anda menggunakan anti
perindukan nyamuk di dalam dan di luar rumah Anda?
(luar rumah seperti : kolam, sungai, sawah, cekungan air ≤50
0. Tidak 1. Ya
C7 [ ]
No. Pertanyaan Jawaban
KODE
(diisi oleh petugas)
meter dari rumah)
C8
Bagaimana kondisi geografis daerah tempat tinggal asal Anda?
1. Pantai
2. Dataran Rendah Perkotaan 3.Pegunungan 4.Dataran Tinggi
Pedesaan 5.Lainnya
(Sebutkan)……
……..
C8 [ ]
73
Lampiran 3 Alat dan Bahan Penelitian
Microscope slides merk sail brand cat no. 1701 ukuran 25,4 x 75,2 mm
Alcohol swab merk one swabs
Methanol Absolute Larutan Giemsa 3%
Beaker glass
RDT PALUTOP+4 OPTIMA®:
All. Diag, Strasbourg, France
74
Lampiran 4 Cara Kerja Penelitian
Proses pengambilan darah subyek penelitian pada preparat dan kit RDT
Proses fiksasi preparat apusan tipis menggunakan methanol absolute
Preparat subyek penelitian pada staining tray
Proses pewarnaan preparat apusan darah dengan menggunakan larutan Giemsa 3%
selama 45 menit
(Preparat 4) Preparat sebelum diwarnai dengan pewarnaan Giemsa (Preparat 5) Preparat sesudah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa
75
Lampiran 5 Foto Pemeriksaan Mikroskopik dan RDT Subyek Penelitian
(Subyek 1) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 2) Stadium gametosit Plasmodium
falciparum
(Subyek 3) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 5) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 8) Stadium skizon Plasmodium vivax
(Subyek 10) Stadium skizon Plasmodium vivax
(Subyek 12) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 15) Stadium gametosit dan trofozoit
Plasmodium vivax
(Subyek 16) Stadium gametosit dan trofozoit
Plasmodium vivax
(Subyek 21) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 24) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 26) Stadium gametosit Plasmodium
vivax
(Subyek 27) Stadium gametosit dan trofozoit
Plasmodium vivax
(Subyek 28) Stadium gametosit dan trofozoit
Plasmodium vivax
Hasil pemeriksaan RDT menunjukkan hasil negatif
77
Lampiran 6 Pengolahan Data Responden
Usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
B1
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 25 89.3 89.3 89.3
Ya 3 10.7 10.7 100.0
Total 28 100.0 100.0
B2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 28 100.0 100.0 100.0
B3
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 27 96.4 96.4 96.4
Ya 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
C1
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid ≤1 bulan 5 17.9 17.9 17.9
> 1 bulan 23 82.1 82.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
C2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1-2 kali 18 64.3 64.3 64.3
> 2 kali 10 35.7 35.7 100.0
Total 28 100.0 100.0
C3
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 8 28.6 28.6 28.6
Ya 20 71.4 71.4 100.0
Total 28 100.0 100.0
C4
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 27 96.4 96.4 96.4
Ya 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0
C5
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 19 67.9 67.9 67.9
Ya 9 32.1 32.1 100.0
Total 28 100.0 100.0
C6
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
RDT * Mik Crosstabulation
% within B1 56.0% 44.0% 100.0%
% within Mik 57.1% 35.7% 46.4%
% within Provinsi 0.0% 100.0% 100.0%
85
RIWAYAT PENULIS
Nama : Izzatul Hanifa Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 8 Juni 1996
Alamat : Grand Depok City Sektor Anggrek 1 Blok A no. 9 Depok 16412, Jawa Barat
No. Telpon : 085776620072
Email : [email protected] Riwayat Pendidikan : 1. SDIT Ummul Quro’ Depok
2. SMPIT Nurul Fikri Depok 3. SMAIT Nurul Fikri Depok
4. Program Studi Kedokteran dan Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta