BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.2 Perilaku Responden di Daerah Asal
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku di Daerah Asal
Karakteristik Jumlah Persentase (%)
Aktivitas di luar rumah saat petang, malam hari, atau dini hari selama di tempat tinggal asal
Tidak 8 28,6
Ya 20 71,4
Pemakaian Kelambu di tempat tinggal asal
Tidak 27 96,4
Ya 1 3,6
Pemakaian kasa anti nyamuk pada ventilasi di tempat tinggal asal
Tidak 19 67,9
Ya 9 32,1
Pemakaian anti-nyamuk saat tidur di tempat tinggal asal
Tidak 15 53,6
Ya 13 46,4
Gambaran tentang perilaku responden di daerah asal pada penelitian ini tercantum dalam tabel 4.3. Perilaku responden yang paling banyak dilakukan adalah kebiasaan pemakaian anti-nyamuk saat tidur yaitu dilakukan oleh 67,9% (19/28) dan yang paling banyak tidak dilakukan oleh responden adalah penggunaan kelambu saat tidur malam, yaitu sebanyak (96,4%) (27/28).
Responden yang memiliki kebiasaan beraktivitas di luar rumah saat petang hingga malam hari selama berada di tempat tinggal asal pada penelitian ini sebanyak 71,4% (20/28). Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan terjadinya penularan malaria karena adanya kontak dengan nyamuk vektor. Pada An.sundaicus bersifat antrofilik, endofagik maupun eksofagik dan aktif pada 20.00 – 03.00. Pada An.aconitus bersifat zoofilik, namun apabila hewan yang dijumpai sedikit makan akan menggigit manusia dan kebanyakan aktivitasnya sebelum pertengahan malam. An.barbirostris bersifat zoofilik dan eksofagik. Sedangkan An.maculatus memiliki sifat eksofilik, eksofagik dengan aktivitas paling tinggi pada 18.00 – 21.00.6, 16 Responden biasanya menggunakan waktu keluar rumah di malam hari untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Pada penelitian Husin (2007) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu, Hasyim (2012) di Kabupaten Lahat, dan Anjasmoro (2013) di wilayah kerja Puskesmas Rembang Kabupaten Purbalingga menemukan tidak terdapat hubungan antara keluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria.39, 40, 41
Sedangkan, menurut penelitian Prihatin (2012) di wilayah kerja Puskesmas Mantangai menemukan adanya hubungan antara keluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria. Bahkan, penelitian Yawan (2006) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan keluar malam hari mempunyai risiko terkena penyakit malaria sebesar 4,680 kali lebih besar dari pada orang yang tidak memiliki kebiasaan keluar rumah di malam hari.42, 43
Responden yang memiliki kebiasaan memakai kelambu pada saat tidur malam hari di daerah asal hanya 3,6% (1/28). Kebiasaan dalam memakai kelambu pada saat tidur malam hari bertujuan untuk mencegah adanya kontak dengan nyamuk, karena kelambu menjadi barrier sehingga mampu meminimalisir kontak dengan nyamuk.
Penelitian yang dilakukan oleh Hasyim (2014) yang dilakukan di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan tahun 2011 serta penelitian yang dilakukan oleh Prihatin (2012) pada Puskesmas Mantangai di Kalimantan Selatan tidak menemukan adanya hubungan antara pemakaian kelambu dengan kejadian malaria.40, 42 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yawan (2006) dan Santy et al.
(2014), bahwa terdapat hubungan bermakna antara pemakaian kelambu di malam hari dengan kejadian malaria. Pada penelitian Kalangie et al. (2015) menyatakan terdapat risiko 4,727 lebih besar terkena malaria pada responden yang tidak memakai kelambu.43, 44, 45
Namun, penggunaan kelambu dalam mencegah kontak dengan nyamuk penyebab malaria bergantung dengan cara penggunaan serta kondisi kelambu itu sendiri. Penelitian Handayani (2008) menemukan bahwa pada Kabupaten Bengkulu, masih banyak masyarakat yang menggunakan kelambu dengan kondisi tidak layak karena sudah banyak sobekan. Mengibas ruang dalam kelambu sebelum tidur, menyelipkan ujung kelambu, dan melepas kelambu setelah tidur masih jarang dilakukan oleh masyarakat.46 Selain itu, WHO merekomendasikan pemakaian kelambu berinsektisida atau insecticide-treated net (ITN) yang dapat menghindari sekaligus mematikan nyamuk. Terdapat 2 jenis ITN, yaitu ITN konvensional yang dicelupkan ke dalam insektisida setiap 3 kali cuci atau long-lasting insecticidal net yang materialnya sudah mengandung insektisida. Penggunaan ITN ini mampu mengurangi 50% kasus malaria bila dibandingkan dengan penggunaan kelambu biasa.6, 54
Responden yang memakai kasa anti nyamuk pada ventilasi tempat tinggal asal sebanyak 67,9% (19/28). Pemakaian kasa anti nyamuk diharapkan dapat meminimalisir nyamuk yang dapat masuk ke dalam rumah sehingga mengurangi adanya kontak antara manusia dengan nyamuk di dalam rumah. Penelitian oleh Ahmadi (2008) di Desa Lubuk Nipis Kabupaten Muara Enim dan Yawan (2006) di wilayah kerja Puskesmas Bosnik Kabupaten Biak menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemakaian kasa anti nyamuk dengan kejadian malaria.43, 47 Berbeda dengan penemuan Atikoh (2105) di Purbalingga pada tahun 2014 yang menemukan adanya hubungan antara pemasangan kasa anti nyamuk pada ventilasi rumah dengan kejadian malaria. Pada penelitian Husin (2007) ditemukan bahwa orang yang tinggal di rumah tanpa terpasangnya kasa anti nyamuk pada ventilasi rumah memliki risiko
sebesar 3,71 kali lebih besar terkena malaria dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah yang terpasang kasa anti nyamuk pada ventilasinya.36, 39
Responden yang memiliki kebiasaan menggunakan anti nyamuk sebelum tidur selama di daerah asal dilakukan oleh 67,9% (19/28). Kebiasaan dalam menggunakan anti nyamuk bertujuan untuk menghindari kontak dengan vektor nyamuk. Anti nyamuk dipakai di malam hari saat di luar atau di dalam rumah berupa obat oles, semprot, bakar, atau elektrik. Responden pada penelitian ini yang tidak memiliki kebiasaan memakai anti nyamuk mengaku bahwa terkadang lupa memakainya sebelum tidur. Pada penelitian Hasyim (2014) yang dilakukan di Kabupaten Lahat tahun 2011, Yawan (2006) di wilayah kerja Puskesmas Bosnik Kabupaten Biak tidak menemukan adanya hubungan antara pemakaian anti nyamuk dengan kejadian malaria.40, 43 Hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian oleh Husin (2007) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan anti nyamuk dengan kejadian malaria. Pada penelitian Ahmadi (2008) menemukan bahwa orang yang tidak menggunakan anti nyamuk saat tidur mempunyai risiko terjadinya malaria 4,308 kali lebih besar dibandingkan pada orang dengan tidak menggunakan anti nyamuk.39, 47