BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
3.6 Variabel Penelitian
3.6.2 Variabel Terikat
Variabel terikat dari penelitian ini adalah hasil dari pemeriksaan mikroskop dan rapid diagnostic test (RDT) malaria sediaan darah jari yang menunjukkan ada atau tidaknya parasit malaria.
Pemeriksaan Sampel Penelitian 3.7 Alat dan Bahan
1. Sarung tangan steril merk super care 2. Alcohol swab merk one swab
3. Lancet steril merk blood lancet
4. Microscope slides merk sail brand cat no. 1701 ukuran 25,4 x 75,2 mm 5. Alkohol 70%
6. Minyak immersi 7. Larutan Buffer (pH7.2) 8. Giemsa Stock
9. Methanol Absolute EMSURE®
10. Mikroskop Cahaya Shimadzu Rika GLB B1500 MB
11. RDT PALUTOP+4 OPTIMA®: All. Diag, Strasbourg, France 12. Staining Tray
3.8 Cara Kerja
3.8.1 Pemeriksaan Mikroskopis Apusan Darah15, 29
Untuk mengidentifikasi adanya parasit malaria pada darah, maka dilakukan pengambilan darah sebagai sampel yang akan diperiksa dibawah mikroskop. Proses pengambilan darah sebagai berikut:
1. Tangan kiri pasien dipegang dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas.
2. Pilih ujung jari tengah atau jari manis pasien.
3. Ujung jari dibersihkan dengan kapas alkohol dan biarkan kering.
4. Ujung jari yang telah dibersihkan ditusuk dengan menggunakan lancet steril.
5. Tetes darah pertama yang keluar dihapus dengan kapas kering.
6. Tetes darah kedua yang keluar diteteskan di object glas.
Teteskan 1 tetes kecil darah di bagian tengah object glass untuk sediaan darah tipis.
Teteskan 2 - 3 tetes kecil darah di bagian ujung object glass untuk sediaan darah tebal.
7. Bersihkan sisa darah di ujung jari dengan menggunakan kapas.
8. Untuk membuat sediaan darah tipis, ambil object glass baru dan ditempelkan ujungnya pada tetes darah kecil. Kemudian dengan sudut 45°, geser object glass tersebut dengan cepat kearah berlawanan dengan tetes darah tebal hingga membentuk hapusan seperti lidah.
9. Untuk membuat sediaan darah tebal, ujung object glass kedua ditempelkan dan darah dibuat homogen dengan cara memutar ujung object glass tersebut searah jarum jam, sehingga membentuk bulatan darah dengan diameter 1 cm.
10. Berikan label dan biarkan sediaan darah kering.
Proses pewarnaan sediaan darah sebagai berikut:
1. Sediaan darah tipis yang sudah kering difiksasi dengan methanol absolute, hindari terkena sediaan darah tebal.
2. Siapkan 3% larutan Giemsa dengan mencampur 3 cc Giemsa stock dan 97cc larutan buffer.
3. Tuang larutan Giemsa pada staining tray hingga menutupi seluruh permukaan object glass, dan biarkan selama 30 – 45 menit.
4. Bilas larutan Giemsa dengan menuangkan air perlahan – lahan.
5. Tunggu object glass cukup kering lalu periksa dibawah mikroskop.
3.8.2 Pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) Malaria15
1. Tangan kiri pasien dipegang dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas.
2. Pilih ujung jari tengah atau jari manis pasien.
3. Ujung jari dibersihkan dengan kapas alkohol dan biarkan kering.
4. Ujung jari yang telah dibersihkan ditusuk dengan menggunakan lancet steril.
5. Tetes darah pertama yang keluar dihapus dengan kapas kering.
6. Ambil 2 - 5 µl darah ujung jari memakai loop/ tabung mikro kapiler hingga penuh dan teteskan pada kotak sampel yang terdapat pada dipstick secara tegak lurus.
7. Teteskan larutan buffer pada kotak buffer 4 - 6 tetes.
8. Perhatikan pita yang terbentuk. Apabila terdapat pita pada strip tertentu, maka kompleks antigen antibodi sudah terbentuk karena darah mengandung antigen malaria.
9. Interpretasi hasil sesuai petunjuk pada kit.
3.9 Alur Penelitian
Identifikasi Plasmodium sp parasit
Analisis data
Pemeriksaan mikroskopis Interpretasi data positif/negatif
Apusan darah tipis
Apusan darah tebal RDT
Pengambilan sampel darah jari
Pengisian kuesioner Mahasiswa berasal dari daerah endemis malaria
3.10 Output yang Diharapkan
Sampel yang diambil berupa darah jari yang nantinya akan menjadi bahan pemeriksaan melalui metode pemeriksaan mikroskopis serta rapid diagnostic test (RDT). Hasil yang didapat diharapkan berupa: ditemukannya
parasit dalam apusan darah jari serta terdeteksinya antigen parasit dalam pemeriksaan RDT.
46 4.1 Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan di laboratorium parasitologi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Mei sampai November 2017. Hasil Penelitian ini didapatkan 28 responden mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2014 yang berasal dari daerah endemis malaria dengan menggunakan metode total sampling. Peneliti mendata mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2014 yang berasal dari daerah endemis malaria berdasarkan Annual Paracite Incidence (API) provinsi Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016.
Sebagai gambaran tentang karakteristik responden, maka peneliti menganalisanya berdasarkan usia, jenis kelamin, daerah asal, serta data lain yang didapatkan dari hasil kuesioner responden. Gambaran karakteristik subyek penelitian tersebut tercantum dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Karakteristik Responden
Karakteristik Jumlah Persentase (%)
Usia
Lampung (LCI) 2 7,1
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa usia responden yang mengikuti penelitian ini paling rendah adalah 19 tahun dan paling tinggi adalah 22 tahun. Rata – rata usia responden adalah 20,6 tahun. Jenis kelamin yang paling banyak mengikuti penelitian ini adalah perempuan, yaitu sebanyak 71,4% (20/28).
Berdasarkan asal daerahnya, provinsi yang paling banyak mengikuti penelitian ini adalah Provinsi Jawa Tengah, yaitu sebanyak 21,43% (6/28).
Berdasarkan nilai API Provinsi Indonesia tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016, responden berasal dari daerah asal dengan status endemisitas malaria ringan atau Low Case Incidence (LCI) sebanyak 96,42% (27/28) dan berasal dari daerah asal dengan status endemisitas malaria sedang atau Middle Case Incidence (MCI) sebanyak 3,6% (1/28) yaitu Provinsi Bangka Belitung.
Tabel 4.2 Riwayat Malaria dan Kebiasaan Pulang ke Daerah Asal
Karakteristik Jumlah Persentase (%)
Riwayat Malaria
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa berdasarkan riwayat malaria terdapat 10,7% (3/28) responden pernah didiagnosis malaria yang sudah dipastikan dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan). Sebagian besar responden yaitu, 82% (23/28) terakhir kali pulang ke daerah asal > 1 bulan saat dilakukan pemeriksaan. Frekuensi pulang ke daerah asal pada responden yang terbanyak, yaitu 64,3% (18/28) adalah sebanyak 1 – 2 kali dalam setahun.
4.2 Perilaku Responden di Daerah Asal
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku di Daerah Asal
Karakteristik Jumlah Persentase (%)
Aktivitas di luar rumah saat petang, malam hari, atau dini hari selama di tempat tinggal asal
Tidak 8 28,6
Ya 20 71,4
Pemakaian Kelambu di tempat tinggal asal
Tidak 27 96,4
Ya 1 3,6
Pemakaian kasa anti nyamuk pada ventilasi di tempat tinggal asal
Tidak 19 67,9
Ya 9 32,1
Pemakaian anti-nyamuk saat tidur di tempat tinggal asal
Tidak 15 53,6
Ya 13 46,4
Gambaran tentang perilaku responden di daerah asal pada penelitian ini tercantum dalam tabel 4.3. Perilaku responden yang paling banyak dilakukan adalah kebiasaan pemakaian anti-nyamuk saat tidur yaitu dilakukan oleh 67,9% (19/28) dan yang paling banyak tidak dilakukan oleh responden adalah penggunaan kelambu saat tidur malam, yaitu sebanyak (96,4%) (27/28).
Responden yang memiliki kebiasaan beraktivitas di luar rumah saat petang hingga malam hari selama berada di tempat tinggal asal pada penelitian ini sebanyak 71,4% (20/28). Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan terjadinya penularan malaria karena adanya kontak dengan nyamuk vektor. Pada An.sundaicus bersifat antrofilik, endofagik maupun eksofagik dan aktif pada 20.00 – 03.00. Pada An.aconitus bersifat zoofilik, namun apabila hewan yang dijumpai sedikit makan akan menggigit manusia dan kebanyakan aktivitasnya sebelum pertengahan malam. An.barbirostris bersifat zoofilik dan eksofagik. Sedangkan An.maculatus memiliki sifat eksofilik, eksofagik dengan aktivitas paling tinggi pada 18.00 – 21.00.6, 16 Responden biasanya menggunakan waktu keluar rumah di malam hari untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Pada penelitian Husin (2007) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu, Hasyim (2012) di Kabupaten Lahat, dan Anjasmoro (2013) di wilayah kerja Puskesmas Rembang Kabupaten Purbalingga menemukan tidak terdapat hubungan antara keluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria.39, 40, 41
Sedangkan, menurut penelitian Prihatin (2012) di wilayah kerja Puskesmas Mantangai menemukan adanya hubungan antara keluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria. Bahkan, penelitian Yawan (2006) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan keluar malam hari mempunyai risiko terkena penyakit malaria sebesar 4,680 kali lebih besar dari pada orang yang tidak memiliki kebiasaan keluar rumah di malam hari.42, 43
Responden yang memiliki kebiasaan memakai kelambu pada saat tidur malam hari di daerah asal hanya 3,6% (1/28). Kebiasaan dalam memakai kelambu pada saat tidur malam hari bertujuan untuk mencegah adanya kontak dengan nyamuk, karena kelambu menjadi barrier sehingga mampu meminimalisir kontak dengan nyamuk.
Penelitian yang dilakukan oleh Hasyim (2014) yang dilakukan di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan tahun 2011 serta penelitian yang dilakukan oleh Prihatin (2012) pada Puskesmas Mantangai di Kalimantan Selatan tidak menemukan adanya hubungan antara pemakaian kelambu dengan kejadian malaria.40, 42 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yawan (2006) dan Santy et al.
(2014), bahwa terdapat hubungan bermakna antara pemakaian kelambu di malam hari dengan kejadian malaria. Pada penelitian Kalangie et al. (2015) menyatakan terdapat risiko 4,727 lebih besar terkena malaria pada responden yang tidak memakai kelambu.43, 44, 45
Namun, penggunaan kelambu dalam mencegah kontak dengan nyamuk penyebab malaria bergantung dengan cara penggunaan serta kondisi kelambu itu sendiri. Penelitian Handayani (2008) menemukan bahwa pada Kabupaten Bengkulu, masih banyak masyarakat yang menggunakan kelambu dengan kondisi tidak layak karena sudah banyak sobekan. Mengibas ruang dalam kelambu sebelum tidur, menyelipkan ujung kelambu, dan melepas kelambu setelah tidur masih jarang dilakukan oleh masyarakat.46 Selain itu, WHO merekomendasikan pemakaian kelambu berinsektisida atau insecticide-treated net (ITN) yang dapat menghindari sekaligus mematikan nyamuk. Terdapat 2 jenis ITN, yaitu ITN konvensional yang dicelupkan ke dalam insektisida setiap 3 kali cuci atau long-lasting insecticidal net yang materialnya sudah mengandung insektisida. Penggunaan ITN ini mampu mengurangi 50% kasus malaria bila dibandingkan dengan penggunaan kelambu biasa.6, 54
Responden yang memakai kasa anti nyamuk pada ventilasi tempat tinggal asal sebanyak 67,9% (19/28). Pemakaian kasa anti nyamuk diharapkan dapat meminimalisir nyamuk yang dapat masuk ke dalam rumah sehingga mengurangi adanya kontak antara manusia dengan nyamuk di dalam rumah. Penelitian oleh Ahmadi (2008) di Desa Lubuk Nipis Kabupaten Muara Enim dan Yawan (2006) di wilayah kerja Puskesmas Bosnik Kabupaten Biak menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemakaian kasa anti nyamuk dengan kejadian malaria.43, 47 Berbeda dengan penemuan Atikoh (2105) di Purbalingga pada tahun 2014 yang menemukan adanya hubungan antara pemasangan kasa anti nyamuk pada ventilasi rumah dengan kejadian malaria. Pada penelitian Husin (2007) ditemukan bahwa orang yang tinggal di rumah tanpa terpasangnya kasa anti nyamuk pada ventilasi rumah memliki risiko
sebesar 3,71 kali lebih besar terkena malaria dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah yang terpasang kasa anti nyamuk pada ventilasinya.36, 39
Responden yang memiliki kebiasaan menggunakan anti nyamuk sebelum tidur selama di daerah asal dilakukan oleh 67,9% (19/28). Kebiasaan dalam menggunakan anti nyamuk bertujuan untuk menghindari kontak dengan vektor nyamuk. Anti nyamuk dipakai di malam hari saat di luar atau di dalam rumah berupa obat oles, semprot, bakar, atau elektrik. Responden pada penelitian ini yang tidak memiliki kebiasaan memakai anti nyamuk mengaku bahwa terkadang lupa memakainya sebelum tidur. Pada penelitian Hasyim (2014) yang dilakukan di Kabupaten Lahat tahun 2011, Yawan (2006) di wilayah kerja Puskesmas Bosnik Kabupaten Biak tidak menemukan adanya hubungan antara pemakaian anti nyamuk dengan kejadian malaria.40, 43 Hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian oleh Husin (2007) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan anti nyamuk dengan kejadian malaria. Pada penelitian Ahmadi (2008) menemukan bahwa orang yang tidak menggunakan anti nyamuk saat tidur mempunyai risiko terjadinya malaria 4,308 kali lebih besar dibandingkan pada orang dengan tidak menggunakan anti nyamuk.39, 47
4.3 Kejadian Malaria
Tabel 4.4 Distribusi Hasil Pemeriksaan Mikroskopik dan RDT Responden Pemeriksaan Mikroskopik
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa hasil dari pemeriksaan sampel darah jari secara mikroskopis didapatkan sebanyak 50% (14/28) ditemukan adanya parasit Plasmodium sp pada darahnya. Pada pemeriksaan RDT, penelitian ini menggunakan merk PALUTOP+4 OPTIMA® (All. Diag, Strasbourg, France) dengan
antibodi spesifik Plasmodium falciparum, protein HRP-2, antibodi spesifik Plasmodium vivax, enzim Pv LDH dan antibodi pan species, enzim pLDH. Pada pemeriksaan ini didapatkan hasil negatif pada seluruh sampel darah jari responden.
Hal ini ditemukan pula pada penelitian Daysema, Sharky D, et al (2016) di Kabupaten Merauke yang menjumpai RDT negatif namun ditemukannya parasit pada pemeriksaan mikroskopik sebanyak 15 orang dari 100 subyek yang diperiksa. Pada penelitian ini, penggunaan RDT pada sampel darah pada penderita malaria tidak dilakukan. Namun, oleh laboratorium Parasitologi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta RDT ini dipakai pula pada praktikum parasitologi dengan menggunakan sampel darah penderita malaria.
Untuk menentukan akurasi dari pemeriksaan RDT dilakukan uji diagnostik dengan gold standard pemeriksaan malaria yaitu pemeriksaan mikroskopik.1 Hal ini diperlukan karena sensitivitas antar produk RDT yang beredar cukup bervariasi, sehingga dibutuhkan nilai diagnostik RDT untuk menjadi landasan penggunaan di lapangan sesuai dengan kondisi populasi.52 Penilaian uji diagnostik guna mengukur sensitivitas dan spesifisitas alat yang digunakan, maka dilakukan penghitungan sebagai berikut55, 56:
Tabel 4.5 Skema Struktur Dasar Uji Diagnostik
Baku Emas
Sumber : Dahlan, Sopiyudin. 2009.55 Sensitivitas : a/(a+c)
Spesifisitas : d//(b+d)
Nilai duga positif (PPV) : a/(a+b) Nilai duga negatif (NPV) : d/(c+d)
Rasio kemungkinan positif : sensitivitas/(1-spesifisitas) Radio kemungkinan negatif : (1-sensitivitas)/spesifisitas
Berdasarkan rumus tersebut maka didapatkan nilai parameter diagnostik pada pemeriksaan RDT dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.6 Hasil Uji Diagnostik RDT dengan Pemeriksaan Mikroskopis RDT Mikroskopik
Sensitivitas Spesifisitas PPV NPV LR
(+) (-) (+) (-)
(+) 0 0
0% 100% 0% 50% 0% 1%
(-) 14 14
*PPV : Positive Predictive Value
*NPV : Negative Predictive Value
*LR : Likehood-Ratio
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui nilai uji diagnostik pada penelitian ini.
Nilai sensitivitas merupakan nilai yang menggambarkan kemampuan suatu alat ukur untuk mendeteksi suatu penyakit. Pada penelitian ini kemampuan RDT untuk mendeteksi malaria didapatkan nilai sensitivitas 0%. Nilai spesifisitas merupakan nilai yang menggambarkan kemampuan suatu alat ukur untuk menyingkirkan adanya suatu penyakit. Pada penelitian ini kemampuan RDT untuk menyingkirkan adanya malaria didapatkan nilai spesifisitas 100%. Nilai duga positif (PPV) merupakan nilai yang menggambarkan kemampuan RDT untuk memprediksi dengan benar penderita malaria, pada penelitian ini didapatkan 0%. Nilai duga negatif (NPV) merupakan nilai yang menggambarkan kemampuan RDT untuk memprediksi dengan benar bukan penderita malaria, pada penelitian ini didapatkan 50%. Nilai Rasio kemungkinan (LR) positif merupakan perbandingan antara penderita malaria hasil uji positif dengan proposi bukan penderita malaria hasil uji positif, pada penelitian ini didapatkan positif 0%. Nilai rasio kemungkinan (LR) negatif merupakan perbandingan antara penderita malaria hasil uji negatif dengan bukan penderita malaria hasil uji negatif.
Berdasarkan hasil uji diagnostik yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan bahwa RDT yang dipakai tidak akurat untuk mendeteksi malaria pada individu yang berasal
dari daerah endemis. Menurut Sudigdo (2011), uji diagnostik untuk keperluan skrining harus memiliki sensitivitas tinggi.56
Hasil penelitian Sinaga (2016) menemukan bahwa RDT yang tidak akurat untuk deteksi dini malaria dalam kehamilan. RDT yang dipakai pada penelitian tersebut adalah Parascreen®, Zephyr Biomedicals, India mendapatkan nilai sensitivitas 0%, spesifisitas 100%, PPV 0%, PPN 91,1%, LR positif 0, dan LR negatif 1. Namun, pada penelitian ini uji diagnostik bukan merupakan tujuan utama penelitian, sehingga syarat perhitungan sampel minimal untuk uji diagnostik tidak terpenuhi. Namun, menurut Sopiyudin (2009) kriteria subjek dalam uji diagnostik ini terpenuhi karena subjek yang diperiksa diduga mengalami penyakit.55
Menurut WHO, kemampuan RDT dapat dipengaruhi salah satunya oleh jumlah parasit yang terkandung di dalam darah.52 Dijk et al. (2009) pernah melakukan uji coba menggunakan RDT PALUTOP+4 OPTIMA® menggunakan sampel dengan ukuran parasitemia yang bervariasi. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa semakin rendah nilai parasitemianya semakin rendah pula sampel yang dapat dideteksi benar oleh RDT. Pada densitas P.falciparum >1000/µl sensitivitas pada penelitian tersebut mencapai 91% sedangkan pada densitas 0-100/µl sensitivitasnya mencapai 67,9%. Pada densitas P.vivax >500/µl sensitivitas pada penelitian tersebut mencapai 83,8% sedangkan pada densitas ≤500/µl sensitivitas mencapai 24,1%.34
Selain itu, WHO memaparkan bahwa kemampuan RDT dipengaruhi pula oleh konsentrasi dari antigen parasit.52 Pada penelitian Koita et al. (2012) di Mali, menemukan pada penelitiannya terdapat 12 preparat apusan darah positif pada pemeriksaan mikroskopik yang mendapatkan hasil negatif pada RDT. Saat dilakukan deteksi menggunakan PCR, ditemukan adanya delesi pada histidine-rich repeat region of the hrp2 gene sehingga tidak terdeteksi oleh RDT dan hal tersebut banyak terjadi pada penderita malaria asimtomatik.53
WHO juga menyebutkan kemampuan RDT dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing produk yang dirancang untuk mendeteksi antigen.52 Pada penelitian ini menggunakan PALUTOP+4 OPTIMA® (All. Diag, Strasbourg, France) dengan antibodi protein HRP-2, enzim Pv LDH dan enzim pLDH. Selain itu, kualitas dari alat RDT pun dapat mempengaruhi hasil. Salah satunya batas expired pada alat RDT, aturan penyimpanan RDT, yang pada penelitian ini harus pada suhu 4 - 30°C selama 24 bulan, serta teknik pemakaian alat yang quality control nya dapat dilihat pada warna pita yang terlihat pada kit.35, 52
Tabel 4.7 Hasil Identifikasi Spesies Plasmodium
Spesies Plasmodium Jumlah Persentase (%)
Plasmodium.vivax 7 50
Plasmodium falciparum 2 14.2
Infeksi campur 5 35.8
Total 14 100
Kelebihan dari pemeriksaan mikroskopik salah satunya dapat mengidentifikasi stadium serta menentukan jenis spesies Plasmodium yang menginfeksi. Pada penelitian ini ditemukan stadium parasit berupa trofozoit, skizon, dan gametosit. Masing-masing spesies memiliki perbedaan morfologi pada berbagai stadium yang dapat diidentifikasi tersebut.24 Berdasarkan Tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa parasit yang paling banyak ditemukan pada sampel darah jari yang positif adalah Plasmodium vivax, yaitu sebanyak 50% (7/14). Hasil yang sama juga dilaporkan oleh penelitian dari Elyara IRF, et al, serta demografi dari WHO bahwa di Indonesia jenis Plasmodium yang paling banyak ditemukan adalah P.falciparum dan P.vivax.5
4.3.1 Kejadian Malaria Berdasarkan Asal Provinsi
Gambar 4.1 Distribusi Kejadian Malaria Berdasarkan Asal Provinsi Sumber: http://www.lahistoriaconmapas.com (telah diolah kembali).57
Berdasarkan gambar 4.1 dapat dilihat bahwa penelitian ini diikuti oleh 28 responden yang berasal dari 10 asal provinsi yang berbeda. Responden yang berasal dari daerah asal dengan status endemisitas malaria ringan atau Low Case Incidence (LCI) yang ditemukan positif malaria pada penelitian ini sebanyak 92,85% (13/14) dan responden berasal dari daerah asal dengan status endemisitas malaria sedang atau Middle Case Incidence (MCI) yang ditemukan positif malaria pada penelitian ini sebanyak 7,14% (1/14) yaitu responden yang berasal dari Provinsi Bangka Belitung.
Responden yang berasal dari Provinsi Lampung, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Kep. Riau masing-masing ditemukan hasil positif malaria sebanyak 100%
pada penelitian ini.
4.3.2 Kejadian Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.8 Distribusi Kejadian Malaria Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil Pemeriksaan Mikroskopik
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa diantara sampel yang ditemukan dari hasil pemeriksaan mikroskopis responden yang terdeteksi positif malaria paling banyak ditemukan pada perempuan, yaitu sebanyak 12/14 orang (85,71%). Pada subyek penelitian ini, responden terbesar adalah perempuan, oleh sebab itu hasil yang didapatkan terbanyak pada perempuan. Hasil penelitian Atikoh (2015) di Purbalingga pada tahun 2014 dan Saikhu (2011) bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian malaria.36, 37 Berbeda dengan penelitian Riskesdas 2013, ditemukan pada laki-laki lebih banyak dijumpai kasus malaria dengan risiko 2,36 kali lebih besar terkena malaria dibandingkan perempuan. Keadaan ini dapat dikaitkan dengan aktivitas laki-laki yang lebih banyak di luar rumah pada malam hari atau kegiatan laki-laki yang lebih banyak di daerah dengan adanya tempat perindukan nyamuk seperti bertani, beternak, dan mengelola tambak.38
4.2.3 Kejadian Malaria Berdasarkan Riwayat Malaria
Tabel 4.9 Distribusi Kejadian Malaria Berdasarkan Riwayat Malaria
Hasil Pemeriksaan Mikroskopik malaria dan ketiganya masih ditemukan adanya parasit dalam pemeriksan mikroskopik pada penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa responden pernah
terinfeksi malaria sebelumnya dan ditemukannya parasit pada pemeriksaan mikroskopik tersebut dapat dikarenakan pengobatan yang tidak adekuat karena responden mengaku tidak menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dokter, adanya fase hipnozoit pada P.vivax yang memungkinkan terjadinya relaps pada pasien atau adanya reinfeksi pada responden.1, 12, 18
Salah satu responden yang memiliki riwayat malaria mengatakan bahwa pernah menderita malaria 2 kali, yaitu pada tahun 2012 dan 2013. Responden lain memiliki riwayat malaria saat berpindah tempat tinggal ke Papua pada tahun 2009.
Adapula responden yang pernah menderita malaria 3 kali pada saat masa remaja, namun responden tidak ingat tahun spesifiknya. Selain itu, pada tahun 2016 salah satu responden mengatakan pernah melakukan skrining apusan darah dan ditemukan adanya parasit namun tidak merasakan adanya gejala klinis.
4.3.4 Kejadian Malaria Berdasarkan Gejala Klinis Tabel 4.10 Distribusi Gejala Klinis Pada Responden
Pemeriksaan Mikroskopik
Keluhan gejala klinis pada responden didapatkan melalui pengakuan responden yang ditulis pada kuisioner, berupa demam tinggi yang disertai menggigil dan berkeringat. Pada tabel 4.10 diketahui bahwa seluruh responden 100% (14/14) tidak mengalami adanya gejala klinis tersebut, sementara pada pemeriksaan mikroskopiknya ditemukan parasit. Dapat disimpulkan bahwa, 14 orang mengalami malaria asimtomatik.10
Hal ini bisa dikarenakan parasitemia yang belum menyentuh batas pyogenic treshold yang mampu merangsang respon imun dan menimbulkan demam, atau
infeksi yang sifatnya intermiten sehingga gejala yang dirasakan subyek dianggap biasa atau belum cukup parah untuk dikonsultasikan, atau karena infeksi berkepanjangan yang tidak dapat dikontrol oleh respon imun secara adekuat.18 Selain itu adanya fase hipnozoit pada P.vivax mampu membuat penderita asimtomatik, namun sampai saat ini belum ada alat yang mampu mendeteksi fase hipnozoit tersebut.31
4.3.5 Kejadian Malaria Berdasarkan Karakteristik Geografis Tabel 4.11 Distribusi Karakteristik Geografis Asal Daerah Responden
Pemeriksaan
Dilihat dari letak geografis dari daerah asal responden, maka didapatkan data
Dilihat dari letak geografis dari daerah asal responden, maka didapatkan data