BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
4.6. Cara Kerja Penelitian
4.6. Cara Kerja Penelitian
Setelah melalui penjaringan responden RISKESDAS, akan diperiksa oleh enumerator P dengan menggunakan tumbling E. Responden yang memenuhi kriteria inklusi akan menjalani studi validasi dan penilaian kualitas hidup dengan cara kerja sebagai berikut:
1. Pemeriksaan tajam penglihatan lanjutan
a. Petugas pemeriksaan tajam penglihatan lanjutan adalah seorang refraksionis. Pemeriksaan tajam penglihatan lanjutan meliputi pemeriksaan tajam penglihatan tanpa koreksi dan dengan koreksi,
menggunakan snellen chart, trial frame dan trial lens. Dilakukan pengukuran jarak pupil dengan menggunakan penggaris dan senter pada jarak 30 cm dengan mengarahkan cahaya ke glabela dan responden melihat ke arah cahaya senter. Hasil jarak pupil yang didapat dicantumkan pada kolom PD, dinyatakan dalam millimeter (mm). Pemeriksaan dilakukan pada jarak 6 meter dengan pencahayaan yang cukup (cahaya matahari) dengan posisi responden membelakangi cahaya.
b. Tajam penglihatan dicatat dengan notasi 6 meter yakni: 6/6, 6/7.5, 6/9, 6/12, 6/15, 6/20, 6/30, 6/60, 3/60. Bila responden memiliki tajam penglihatan kurang dari 6/60, maka tajam penglihatan akan dilakukan dengan ‘hitung jari’ pada jarak 5, 4, 3, 2, dan 1 meter, sehingga notasi akan ditulis berturut-turut sebagai berikut: 5/60, 4/60, 3/60, 2/60, dan 1/60. Hitung jari pada jarak kurang dari satu meter atau hanya bisa melihat lambaian tangan akan dicatat sebagai ‘hand movement’ atau 1/300. Apabila responden hanya bisa melihat cahaya maka akan dicatat sebagai light perception (LP), lalu ditentukan apakah proyeksinya baik (good projection) atau tidak (wrong projection). Bila responden tidak dapat melihat cahaya, maka akan dicatat sebagai ‘no
light perception (NLP)’ atau tajam penglihatan ‘nol’.
c. Tajam penglihatan tanpa koreksi mata kanan dan mata kiri yang diperoleh dicatat pada kolom AV sc. Apabila terdapat koreksi lensa maka dicatat sesuai jenis lensa yang digunakan. Apabila digunakan lensa sferis positif maupun negatif, maka ditulis di baris S, dengan didahului tanda + atau – sesuai dengan lensa yang digunakan. Apabila digunakan lensa silinder, maka ditulis di kolom C didahului tanda – didepan disertai axis yang didapat.
d. Setelah pemeriksaan tajam penglihatan selesai, refraksionis memberikan tanda check pada lembar check list untuk baris pemeriksaan tajam penglihatan lanjutan. Kemudian responden
diarahkan menuju ke meja pemeriksaan segmen anterior dan posterior yang akan dilakukan oleh dokter spesialis mata.
2. Pemeriksaan tekanan intraokular, segmen anterior dan posterior mata
a. Petugas pemeriksaan tekanan intraokular, segmen anterior dan posterior mata adalah perawat mahir mata.
b. Responden diperiksa tekanan intraokular dengan menggunakan tonometri Schiotz pada kedua mata dan/atau aplanasi Goldmann. Responden sebelumnya diberi obat tetes Pantocain 0,5% sebagai anestesi topical. Responden diminta berbaring dengan posisi kedua mata terbuka dan melihat lurus ke depan. Mata kanan terlebih dahulu diperiksa. Tonometri schiotz yang sudah dikalibrasi diletakkan di atas kornea responden. Hasil yang ditemukan di cantumkan didalam blok F1 dalam satuan mmHg. Setelah itu pasien akan dilakukan pengukuran ulang dengan tonometri aplanasi Goldmann. Setelah dilakukan pemeriksaan tekanan intraokular, pemeriksa memberi tanda check pada lembar check list untuk baris pemeriksaan tekanan intraokular. c. Responden diarahkan menuju ke meja pemeriksaan biomikroskopi
menggunakan slit lamp untuk pemeriksaan segmen anterior. Pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp dapat menyebabkan silau karena penyinaran oleh lampu slitlamp apabila responden melihat langsung ke cahaya slit lamp. Setelah pemeriksaan segmen anterior, pemeriksa memberi tanda check pada lembar check list baris pemeriksaan segmen anterior.
d. Responden kemudian diberi obat tetes mydriasil 1% pada kedua mata, kecuali pada responden yang memiliki tekanan intraokular lebih dari 21 mmHg dan terdapat kekeruhan kornea yang tidak memungkinkan pemeriksaan segmen posterior. Setelah dilakukan penetesan mydriasil 1%, pemeriksa memberi tanda check pada lembar check list baris penetesan mydriasil 1%.
e. Pemeriksaan segmen posterior dilakukan dengan menggunakan funduskopi direk, di ruangan dengan pencahayaan redup atau gelap. Setelah melakukan pemeriksaan segmen posterior, pemeriksa memberi tanda check pada lembar check list baris pemeriksaan segmen posterior.
f. Untuk blok E, kolom penyebab penurunan visus pada satu mata, jika ditemukan lebih dari satu kelainan mata pada 1 mata yang sama, maka penentuan penyebab utama penurunan penglihatan meliputi aturan sebagai berikut :
i. Pilih kelainan mata yang dipercaya menyebabkan penurunan tajam penglihatan. Contohnya, katarak grade 1 dengan PDR, maka yang dituliskan sebagai penyebab adalah PDR. Contoh lain, bila terdapat kekeruhan kornea sentral berat dan katarak grade 2, maka penyebab penurunan tajam penglihatannya adalah kekeruhan kornea sentral berat.
ii. Pilih penyebab utama/penyebab primer. Sebagai contoh bila terdapat band keratopathy dan katarak sekunder karena uveitis, maka penyebab utamanya adalah inflamasi (uveitis). Contoh lain, mata anoftalmia karena riwayat tumor, maka yang disebutkan adalah tumor.
iii. Jika 2 atau lebih kelainan mata yang dinilai sama sama menyebabkan penurunan tajam penglihatan maka dipilih penyebab yang paling bisa diobati.
iv. Jika tidak ada yang memenuhi kriteria diatas, pilih penyebab yang terjadi paling terakhir.
Penyebab kedua penurunan tajam penglihatan dicantumkan pada baris kedua kolom penyebab utama penurunan visus pada 1 mata. g. Untuk penentuan penyebab utama penurunan visus pada individu, jika
terdapat perbedaan penyebab penurunan tajam penglihatan antara mata kanan dan kiri, maka menggunakan kriteria sebagai berikut :
i. Dipilih yang paling mudah diobati. Misalnya mata kanan katarak, mata kiri ablasio retina lama, maka dipilih katarak. ii. Jika tidak ada yang memenuhi kriteria di atas, pilih penyebab
yang terjadi paling terakhir.
iii. Jika tidak diketahui kapan terjadinya, maka dipilih kelainan pada mata yang paling baik visusnya.
h. Untuk kolom G, apabila ditemukan efek samping perlakuan yang terjadi pada responden, maka dicantumkan pada kolom Ya dan disebutkan apa efek sampingnya. Efek samping yang dapat terjadi misalnya reaksi anafilaktik atau glaucoma akut setelah pemberian obat tetes mydriasil 1%.
i. Pemeriksa (dokter spesialis mata) mencantumkan namanya, tanggal pemeriksaan serta tanda tangannya pada kolom H.
j. Apabila menurut pemeriksa (dokter spesialis mata) perlu dirujuk maka responden diberikan surat rujukan. Apabila di rujuk, pemeriksa memberi tanda check pada lembar check list pada baris rujuk.
k. Responden diarahkan ke meja pengisian kuesioner. 3. Pengisian kuesioner Quality of Life (QoL)
a. Petugas : 1 orang petugas kuesioner yang telah mendapatkan training untuk mengisi formulir QoL, yaitu kuesioner QoL VF-25. Kuesioner sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah dan sudah melalui uji validasi.
b. Responden yang telah diperiksa kemudian akan dibacakan kuesioner oleh petugas kuesioner dan diisi sesuai jawaban responden
c. Petugas member tanda check pada lembar check list baris kuesioner d. Setelah kuesioner terisi, responden diarahkan menuju ke meja
persetujuan tindakan. 4. Pemeriksaan akhir
a. Petugas persetujuan tindakan (residen A) memeriksa kelengkapan berkas dan disesuaikan dengan lembar check list.
b. Petugas persetujuan tindakan (residen A) memberikan bahan kontak (Rp.50.000,-) dan responden menandatangani tanda terima bahan kontak
Pengisian skor dilakukan melalui tiga langkah:
Langkah pertama: responden menjawab pertanyaan dengan melingkari jawaban yang tertera pada kuesioner. Dalam penelitian ini peneliti membacakan dan melakukan wawancara untuk menjelaskan maksud dari masing-masing pertanyaan. Metode wawancara dipilih karena sebagian besar responden memiliki latar belakang pendidikan yang rendah (<9 tahun pendidikan dasar), sehingga persepsi yang sama dari tiap pertanyaan didapatkan oleh masing-masing responden.
Langkah kedua adalah pemberian skor dari masing-masing jawaban. Untuk pertanyaan nomor 1, 3, 4, maka jawaban 1 = skor 100, jawaban 2 = skor 75, jawaban 3 = skor 50, jawaban 4 = skor 25, dan jawaban 5 = skor 0. Sedangkan untuk pertanyaan nomor 2, jawaban 1 = skor 100, jawaban 2 = skor 80, jawaban 3 = skor 60, jawaban 4 = skor 40, jawaban 5 = skor 20, jawaban 6 = skor 0. Untuk pertanyaan nomor 5 – 14, maka jawaban 1 = skor 100, jawaban 2 = skoor 75, jawaban 3 = skor 50, jawaban 4 = skor 25, dan jawaban 5 = skor 0, jawaban 6 sebagai missing value. Untuk pertanyaan nomor 17 – 25, maka jawaban 1 = skor 0, jawaban 2 = skoor 25, jawaban 3 = skor 50, jawaban 4 = skor 75, dan jawaban 5 = skor 100.
Langkah ketiga adalah menjumlahkan dan menghitung nilai rerata hasil scoring yaitu skor dari tiap-tiap pertanyaan dalam 1 subskala yang tidak berupa missing value dijumlahkan kemudian dibagi jumlah pertanyaannya. Sebagai contoh, skala near activities: pertanyaan 5 mendapat skor 25, pertanyaan 6 mendapat skor 100, pertanyaan 7 mendapat skor 25, maka rata-rata skor menjadi (25+100+25)/3 = 50. Kemudian seluruh skor tiap-tiap subskala masing-masing responden dijumlahkan untuk menjadi skor total.