BAB II HUKUM YANG HIDUP MENGENAI PEMBAGIAN HARTA
B. Pelaksanaan Hukum Kewarisan Terhadap Harta Pusaka Rendah
5. Cara Pewarisan Dalam Masyarakat Adat Minangkabau
Cara-cara pewarisan yang dimaksud disini adalah proses peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris. Dalam pengertian adat Minagkabau lebih banyak berarti proses peralihan peranan dari pewaris kepada ahli waris dalam hal penguasaan harta pusaka. Cara-cara peralihan itu bergantung pada macam harta yang akan dilanjutkan dan macam ahli waris yang akan melanjutkan.54
1) Pewarisan Harta Pusaka
Dalam pewarisan harta pusaka, oleh karena harta yang diwariskan dikuasai oleh kaum secara kolektif, sedangkan ahli waris adalah anggota secara kolektif pula, maka kematian seseorang dalam kaum tidak banyak menimbulkan masalah. Harta tetap tinggal pada rumah yang ditempati kaum dimanfaatkan bersama oleh seluruh anggota kaum itu.
2) Pewarisan Harta Bawaan
Harta bawaan ialah harta yang dibawa oleh seseorang suami kerumah istrinya pada waktu perkawinan. Harta bawaan dapat berbentuk hasil pencaharian sendiri yang didapat menjelang berlangsungnya perkawinan atau hibah yang diterimanya dalam masa perkawinan, dan harta kaum adalam bentuk hak pakai ganggam beruntuk yang telah berada di tangan suami menjelang perkawinan atau didapatnya hak tersebut dakam masa perkawinan. Kedua macam harta bawaan itu, karena timbul di luar usaha bersama suami istri, adalah hak penuh si suami, maka yang menyangkut harta bawaan berlakulah ucapan adat “ bawaan kembali , tepatan tinggal “.
54
Pengertian harta bawaan kembali ialah pulangnya harta itu kemabali keasalnya yaitu kaum dari suami. Tentang kembalinya harta yang berasal dari harta pusaka adalah jelas karena hubungan suami dengan harta pusaka itu hanya dalam bentuk hak pakai atau pinjaman dari kaum. Sebagaimana layaknya, harta pinjaman kembali ke asalnya. Sedangkan harta bawaan yang berasal dari hasil pencaharian sisuami sebelum kawin juga kembali pada kaum sebagaimana harta pencaharian seseorang sebelum kawin.
3) Pewarisan Harta Tepatan
Yang dimaksud harta tepatan ialah harta yang telah ada pada istri waktu suami kawin dengan istri itu. Harta itu dari asal usulnya ada dua kemungkinan yaitu harta pusaka yang ada pada rumah itu dan harta hasil usahanya sendiri.
Pengertian harta tepatan jelas dalam hal yang meninggal istri. Harta itu jika harta hasil usahanya sendiri diwariskan pada anak-anaknya, tetapi dalam hal harta pusaka selain pada anak-anaknya harta itu diwariskan pada saudara-saudaranya karena harta itu diterima bersama saudara-saudaranya.
Suami tidak berhak atas harta itu baik harta usaha istri atau harta pusaka. Ada pepatah “harta tepatan tinggal” yang berarti harta tersebut tidak dapat dibawa oleh suami waktu ia meninggalkan rumah.
4) Pewarisan Harta Pencaharian
Harta pencaharian yang didapat oleh seseorang melalui tembilang besi atau tembilang emas, menurut adat lama dipergunakan untuk menambah harta pusaka yang telah ada. Dengan demikian harta pencaharian menggabung dengan harta
pusaka bila yang mendapatkannya sudah tidak ada. Dengan demikian pewarisannya oleh generasi kemenakan.
Perubahan berlaku setelah kuatnya pengaruh hukum Islam yang menuntut tanggung jawab seorang ayah terhadap anaknya. Dengan adanya perubahan ini, maka harta pencaharian ayah turun pada anaknya.
Dalam penentuan harta pencaharian yang akan diturunkan kepada anak itu, diperlukan pemikiran, terutama tentang kemurnian harta pencaharian itu. Harta pencaharian dalam bentuk tembilang besi dari milik kaum, atau tembilang emas dari hasil usaha yang modalnya berasal dari harta kaum, tidak dapat dikatakan bahwa semuanya adalah harta pencaharian secara murni. Dalam keadaan begitu tidak mungkin seluruh harta pencaharian itu diwarisi oleh anak. Disamping itu kemenakan juga tidak dapat menuntut secara pasti sebagaimana berlaku cara pembagian menurut alur dan patut. Tidaklah adil bila semua harta diambil oleh anakssebagaimana tidak adil bila kemenakan menuntut lebih banyak55
Terpisahnya harta pencaharian seseorang dari harta pusaka berlaku secara berangsur-angsur dan baru sampai pada tahap akhir dengan adanya pengesahan formal dari putusan dan kesepakatan bersama ninik-mamak, alim ulama dan cerdik pandai dalam pertemuan yang diadakan di Bukittinggi pada tahun 1952. dalam pertemuan itu ditetapkan bahwa harta pusaka diturunkan secara adat dan harta
55 Prof. Nasrun
, Hukum waris dan Hukum tanah, Mukhtar Naim (ed), center for
pencaharian dibagi menurut hokum faraid. Kesepakatan tahun 1952 itu dikuatkan lagi dalam seminar Hukum Adat Minangkabau yang diadakan di Padang pada tuhun 1968.56
Kebanyakan orang Minangkabau memahami pewarisan harta pencaharian pada anak-anak sebagai suatu adat yang baru, dan pada umumnya mereka menyatakan bahwa harta pencaharian hendaknya harus diwariskan sesuai dengan hukum faraid. Kebanyakan orang yang membuat pernyataan demikian ada yang sangat menyadari dan ada yang tidak menyadari fakta bahwa hukum faraid mengandung pengaturan pembagian porsi-porsi warisan yang jauh lebih rumit, dan rujukan mereka ke hukum Islam hanya bersifat parsial. Jika dalam perselisihan muncul argument bahwa anak-anak harus mewaris menurut hukum Islam, rujukan terhadap hukum Islam selalu dibuat hanya untuk melegitimasi tuntutan anak-anak dan tidak untuk legitimasi orang-orang lain yang termasuk calon ahli waris menurut hukum islam, seperti misalnya ayah dan ibu.57
Seperti diketahui bahwa dalam hukum waris Islam, ayah meruapakan salah satu ahli waris yang tidak pernah terdinding, sedangkan ibu adalah ahli waris yang tidak terdinding secara penuh hanya mungkin akan berkurang pendapatannya jika mewaris bersama-sama dengan anak, cucu, dan dua atau lebih saudara.58. Dengan demikian baik ayah maupun ibu harus selalu turut serta sebagai ahli waris.
56
Amir syarifuddin,buku II, Op Cit, hal 265
57 Wawancara dengan H. Edwarman, SH, ketua Pengadilan Negeri, tanggal 22 Januari 2009,
di Pengadilan Negeri Padang
58. Pahing sembiring,
Hukum Islam II, Hukum Waris Islam (Faraidh), Fakultas Hukum
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa harta pencaharian sesudah mati pemiliknya diserahkan kepada anak dan istrinya sebagai ahli waris menurut hukum syara’ atau Faraid. Pewarisan yang menggunakan hukum faraid banyak sekali dilakukan masyarakat adat Minangkabau jika dibandingkan dengan pewarisan yang diberikan kepada anak dan kemenakan, ahli waris anak bersama kemenakan adalah diketahui bahwa harta peninggalan tersebut didapat dengan modal dari harta pusaka tinggi kaumnya (harta pencaharian yang didapat dengan tembilang besi) sehingga hak kemenakan masih melekat padanya, dan yang memberikan kepada ibu atau hanya memberikan kepada kemenakan saja itu berlaku dalam keadaan tertentu yaitu pewaris tidak meninggalkan istri dan anak.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa harta pencaharian seseorang yang tidak tersangkut padanya harta pusaka tinggi diwarisi oleh anak-anak dan istrinya, tanpa pernah menyebutkan ahli waris lainnya (ayah dan ibu).
Sedangkan sisanya Mengenai peralihan harta warisan tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak ada melakukan pembahagian harta warisan, dengan arti bahwa harta warisan itu adalah hak bersama anak-anak dan istri, harta itu mereka miliki bersama dalam bentuk yang tidak terpecah-pecah.
Hal ini disebabkan pada umumnya msayarakat Minangkabau beranggapan bahwa kalau harta itu dibagi-bagi maka fungsi sosial dari harta tersebut tidak ada lagi
dan akan menghilangkan rasa kebersamaan dalama keluarga mereka.59 Selama pemilikan bersama itu harta diurus oleh anggota tertua (pada umumnya anak perempuan tertua) dalam rumah itu. Dengan harta warisan itu dibiayai kehidupan setiap anggota, sehingga setiap anggota menerima haknya sesuai dengan keperluannya.
Namun apabila mereka akan membagi harta warisan maka mereka sebagian menjawab akan membaginya sama rata di antara anak-anak mereka, sesuai dengan alur dan patut. Bahkan ada yang menjawab bahwa anak perempuan mendapat bagian lebih banyak dari anak laki-laki. Sedangkan warisan bagi anak-anak secara umum, dalam praktek maupun tuntutan normative, diharuskan menurut hukum Islam, pembagian warisan yang aktual di antara anak-anak sesuai dengan aturan-aturan di dalam Al-Qur’an, ahli waris lelaki menerima dua kali lebih banyak dari perempuan.
Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan tentang harta pencaharian di Minangkabau, kejadiannya, kaitannya dengan harta pusaka, perkembangannya dan pemisahannya dari pengertian harta pusaka. Dengan tidak mengulangi penjelasan
tersebut, dibawah ini akan dijelaskan kedudukan harta pencaharian yang ada ditangan seseorang pada waktu ini dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:60
59 Wawancara dengan Martias, Ketua KAN Kuranji tanggal 24 Januari 2009, Di padang 60
1. Harta pencaharian yang mcdalnya sepenuhnya terdiri dari harta pusaka
Bentuk ini dapat dijelaskan dalam beberapa kemungkinan sebagai dibawah ini: a) Usahanya bergerak dalam bidang pertanian dan tanah yang diusahakannya itu
seluruhnya harta pusaka.
Hubungan antara yang berusaha dengan pemilik modal dalam hal ini adalah kaum atau kemenakan dapat disamakan dengan kerjasama. Perbedaannya ialah bahwa secara nyata disini tidak ada suatu perjanjian formal antara pihak yang berusaha dengan pemegang modal, hingga bagian masing-masing atas usaha yang diperoleh tidak dapat ditentukan secara pasti.
Dalam hubungannya dengan harta pencaharian untuk dijadikan harta warisan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tidak dapat ditempuh suatu cara yang pasti karena tidak jelas hak sebenarnya. Tetapi yang pasti modal dalam bentuk tanah dipisahkan dari harta pencaharian, sisanya yang merupakan hasilnya ini yang merupakan harta pencaharian yang dapat diwariskan pada istri dan anak.
b) Usahanya bergerak dalam bidang perdagangan atau industri sedangkan modalnya sepenuhnya dari hasil gadaian tanah pusaka.
Dalam hubungannya dengan usaha pemurnian harta untuk dijadikan harta warisan, kewajiban pertama adalah mengembalikan modal dalam bentuk mengganti menebus harta pusaka yang tergadai. Dalam sebagian kelebihannya terdapat hak Yang berusaha dan terdapat pula hak yang mempunyai modal. Hak yang berusaha inilah yang disebut harta pencaharian yang akan diwariskan pada anak dan istri.
c) Usaha bergerak dalam bidang jasa atau hasil ilmu pengetahuan, Yang didapatnya sebagai investasi sepenuhnya dari harta pusaka.
Contoh dalam hal ini adalah seseorang disekolahkan dengan menggadai harta pusaka sampai selesai dan setelah tamat la berusaha dengan ilmu yang diperolehnya.
Dari segi pekerjaaan yang dihadapinya, memang tidak terlihat adanya modal dari harta pusaka. Tetapi pengetahuannya yang menjadi modal bagi usahanya itu adalah berkat harta pusaka. Walaupun tidak disadarinya.
Kemungkinan ketiga ini lebih sulit dalam pemisahan harta. pencahariannya. Tetapi yang pasti harta pusaka yang terjual atau tergadai harus diperhitungkan. Dalam kemungkinan-kemungkinan tersebut diatas, pemurnian harta pencaharian seseorang dari tersangkutnya hak pihak kaum atau kemenakan akan sukar sekali dilaksanakan. Pada waktu dulu hal tersebut menjadi salah satu pendorong bagi yang berusaha untuk menggabungkan harta pencahariannya dengan harta pusaka. Seandainya harta seperti itu ada di tangan anak, kemenakan mempunyai alasan untuk menggugat anak-anak di pengadilan. Tetapi pada waktu ini jarang terjadi tuntutan pihak kemenakan atas bagiannya dalam harta pencaharian mamaknya. Asalkan harta pusaka yang dijadikan modal usaha harta pencahariannya itu kembali.
2. Modal dari harta pencaharian sebagian berasal dari harta pusaka. Bagian ini dapat dipisahkan secara nyata ada perbedaan antara harta pencaharian dengan harta pusaka
Dibandingkan dengan bagian ke 1 diatas, maka porsi harta warisan dalam harta pencaharian dalam bentuk ini, lebih besar dan lebih nyata. Namun demikian,
masih tercampur didalamnya hak orang lain walaulpun sedikit, yang perlu dimurnikan sebelum diserahkan kepada ahli waris yang berhak. Masih melekatnya unsur harta pusaka dalam harta pencaharian seseorang diatas adalah salah satu faktor yang menyebabkan seorang mamak masih memperhatikan kehidupan ekonomi kemenakannya dan tidak berlepas tangan sama sekali, walau jumlah dan pelaksanaannya sudah berkurang.
3. Harta pencaharian yang modalnya bebas sama sekali dari harta pusaka
Kemungkinan yang besar terjadi terhadap harta bentuk ini ialah bila seseorang diam dan berusaha di luar lingkungan kaumnya. Hasil dari harta pencaharian ini sepenuhnya hak milik dari yang berusaha dan secara pasti tidak termasuk didalamnya harta kaum. Pewarisannya lebih mudah karena terlepas dari harta kaum.
Harta pencaharian yang bebas sama sekali dari modal harta pusaka, sudah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai harta warisan. Begitu pula harta pencaharian yang modalnya harta pusaka memenuhi syarat sebagai harta warisan menurut ketentuan syara' setelah dikeluarkan hak kemenakan dari padanya. Dengan demikian dapat ditegaskan lagi bahwa terhadap harta pencaharian yang sama sekali tidak tersangkut padanya harta pusaka, harus sepenuhnya diperlakukan hukum faraid. Terhadap harta pencaharian yang terdapat di dalamnya harta pusaka, juga harus diperlakukan hukum faraidh dengan memberikan kelonggaran untuk memberikannya kepada ahli waris diluar faraid dalam batas yang diizinkan hukum baik melalui wasiat mamak sebelum meninggal atau pemberian ahli waris yang berhak sebelum pembagian warisan.
5) Pewarisan Harta Bersama atau Harta Suarang
Harta suarang adalah segala harta yang diperoleh suami istri secara bersama
selama berlangsungnya perkawinan. Unsur kerja sama yang dimaksud bukanlah berarti untuk memperoleh harta suarang si istri harus pula mengerjakan suatu perkerjaan yang serupa dengan si suami. Cukuplah si suami berusaha di luar rumah sedangkan si istri sebagai ibu rumah tangga membina keluarga yang harmonis dan mendorong si suami untuk meningkatkan prestasi kerjanya untuk mengumpulkan harta suarang sebanyak-banyaknya.61
Harta Suarang ini dipisahkan dari harta pambawaan yaitu harta yang dibawa suami ke dalam hidup perkawinan dan harta dapatan yang didapati suami pada waktu ia datang ke rumah istrinya.
Dengan demikian maka harta suarang itu mengandung beberapa unsur:
a. Deperoleh selama rumah tangga berlangsung
b. Dengan cara usaha masing-masing suami dan istri atau suami saja
c. Umumnya harta tersebut disatukan, baik suami dan istri sama-sama bekerja maupun hanya suami saja yang bekerja.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa apabila orang tua meninggal maka anak yang akan menjadi ahli waris harta suarang orang tuanya sesuai dengan ketentuan hukum Islam, namum dalam hal pembagian harta tersebut mereka masih menganut system pewarisan kolektif. Dengan kata lain di antara anak-anak yang menjadi ahli
61 Jahja
, Hukum Waris dan Tanah dan Praktek-praktek Peradilan, dalam Mochtar Naim (ed)
waris tidak pernah membagi harta suarang mengacu pada hukum waris Islam, tapi kedudukan istri dan anak terhadap peninggalan suami/ayah, dalam hal porsi dan pembagian, hukum waris Islam tidak dijalankan secara murni, karena para ahli waris memiliki harta tersebut secara bersama-sama. Tampaknya masih kuatnya pengruh hukum waris adat dalam masyarakat merupakan faktor penyebab tidak terbaginya harta suarang secara individual. Hal yang sama juga terjaditerhadap harta pencarian seperti telah diuraikan di atas.
Jadi apabila suami meninggal maka harta suarang akan diwarisi oleh anak
dan istrinya dan hara tersebut tetap tinggal di rumah di mana suami tiu berusaha. Dan ibu/janda akan bertindak sebagai kepala keluarga di rumahnya menggantikan kedudukan suaminya dengan harta suarang yang selama ini mereka usahakan.
Apabila yang meninggal istri maka harta suarang akan diwarisi oleh anak-
anaknya, dan selama duda tidak menikah lagi maka duda tersebut dapat mengusahakan harta suarang bersama-sama dengan anak-anaknya. Namun jika duda itu menikah lagi, biasanya dia akan meninggalkan harta suarang di rumah jika duda tanpa membawa harta suarang istrinya yang meninggal ke rumah istrinya yang kedua. Si suami akan tercela oleh adat dan masyarakat jika dia membawa harta yang telah ada dirumahnya bersama istri pertama ke rumah istri keduanya.62
Karena hal ini akan menyebabkan ketidak jelasan harta, mana harta suarang yang diperoleh dari perkawinan pertama dan yang mana diperoleh dari perkawinan
62 Wawancara dengan Alidir Datuk Mudo, Ketua Karapatan Adat Nagari Koto Tangah
kedua (kecuali terjadi pembagian harta suarang yang diperoleh pada perkawinan pertama). Apabila tidak terjadi pemagian harta suarang pada perkawinan pertama
maka tindakan ini akan merugikan hak anak-anak dari istri pertama.
e) Hibah
Hibahadalah pemberian sewaktu hidup yang dapat dinikmati oleh si penerima sewaktu hidup, tetapi haknya timbul setelah si penghibah meninggal dunia. Yang dapat dihibahkan harta yang telah menjadi hak si pemberi hibah.63
Lembaga hibah diterima dilingkungan adat sebagai suatu jalan keluar terhadap sesuatu norma yang berlaku tanpa keinginan untuk mengubah norma tersebut. Hasil dari pelaksanaan hibah itu kelihatan seperti mengoreksi suatu hukum yang berlaku.64
Untuk mengoreksi ataupun mencarikan jalan lain untuk para yang bukan ahli waris menurut hukum adat yang berlaku di masyarakat Minangkabau adalah melalui hibah, hibah wasiat atau wasiat. Namun seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa hibah wasiat dan wasiat sangat jarang dilakukan untuk pariwisata harta. Mereka pada umumnya memakai lembaga hibah dalam hal peralihan hartanya.
Pada umumnya penghibahan harta pusaka tinggi dibagi atas 3 macam yaitu : 1. Hibah Laleh
2. Hibah Bakeh 3. Hibah Pampeh
63 Herman Sihombing dan Mahjuddin Salim,
Hukum Adat Minangkabau Dalam Keputusan
Pengadilan Negeri di Sumatera Barat, Alumni, Bandung, 1975, hal 24.
64 Ter Haar,
Asas-asas dan susunan Hukum Adat, Terjemahan Subakti Pusponoto, Jakarta :
Hibah Laleh adalah pemberian dari seseorang kepada orang lain untuk selama-lamanya. Pemberian atau hibah seperti ini akan menjadi milik penerima hibah untuk selama-lamanya. tidak dapat diganggu gugat lagi, baik pemberian ini dari bapak kepada anak, atau dari mamak kepada kemenakan dan sebagainya. Hibah laleh ini biasanya juga terjadi pada seorang penghulu yang tidak mempunyai lagi ahli waris bertali darah. Hibah dalam bentuk seperti ini dilakukan harus sepakat ahli waris bertali adat dan ahli waris lainnya.
Hibah Bakeh adalah pemberian yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya, yang waktunya terbatas (diberikan selama anak tersebut hidup, jika anak penerima hibah tersebut meninggal maka harta yang dihibahkan tadi kembali kepada kaum penghibah/kaum ayah).
Hibah pampeh adalah pemberian dari ayah kepada anaknya dengan cara si anak memberi uang kepada ayahnya, akan tetapi uang yang diberikan biasanya jauh di bawah harga harta yang diberikan tersebut. Harta yang diberikan tersebut akan kembali kepada ayah atau kaum ayah tadi apabila ayah atau kaumnya telah mengembalikan uang yang diberikan tersebut. Hibah seperti ini biasanya dilakukan hanya untuk membantu anak itu.
Menurut ketentuan yang dahulu tentang cara pemindahan harta pusaka tinggi melalui hibah ini adalah dengan memakai ketentuan dan syarat-syarat tertentu. Hal ini adalah oleh karena harta pusaka tinggi itu adalah harta bersama dari suatu kaum, dan oleh karena adanya hibah tadi maka harta yang bersangkutan pindah pada kaum yang lain.
Ketentuan yang harus dipenuhi tadi adalah antara lain : 1. Hibah dilakukan semasa hidup si penghibah.
2. Kerabat dari si penghibah harus hadir semuanya, baik laki-laki maupun wanita. 3. yang akan menerima hibah harus hadir pula.
4. Ninik Mamak baik dari kaum penghibah maupun dari kaum yang akan menerima hibah juga harus hadir.
5. Orang-orang yang memiliki tanah yang berbatasan dengan tanah yang akan dihibahkan tadi juga harus hadir
6. Penghibahan oleh penghibah harus dilakukan di rumah orang yang penghibah dan tidak boleh di rumah istri ataupun tempat lainnya.
7. Pekerjaan ini harus dilakukan disiang hari
8. Kalau dari salah satu kerabat itu tidak setuju maka hibah tadi tidak dapat dilaksanakan
9. Setelah di setujui oleh semua kerabat penghibah bahwa mereka setuju dengan penghibahan tadi, biasanya hal itu dinyatakan dalam suatu surat di atas meterai / segel yang ditandatangani penghibah dan warisan-warisannya, dan disaksikan oleh ninik mamak kedua belah pihak serta orang-orang yang memiliki tanah yang berbatasan dengan tanah yang akan dihibahkan untuk ini biasanya para saksi tadi dalam menanda tangani surat itu diberikan uang yang jumlahnya tidak tertentu bagi masing-masing nagari, dan uang tersebut disebut dengan uang saksi.65
65 Tasyrif Aliumar dan Faisal Hamdan,
Hukum Adat dan Lembaga-lembaga Hukum Adat di
Sumatera Barat, Proyek Kerja Sama Badan Pembinaan hukum Nasional, Fakultas Hukum Universitas
Kalau melihat syarat dan ketentuan di atas maka tampaklah bahwa banyak tahap-tahap yang harus dilalui untuk melaksanakan hibah tadi. Namum ketentuan umum ataupun syarat yang disebut dalam penghibahan tadi masih dianut oleh masyarakat adat Minangkabau sampai saat ini, dan dapat saja dengan berbagai variasi tertentu dari ketentuan tadi di tiap-tiap Nagari (adanya fatwa adat yang mengatakan bahwa “adat salingka nagari” yang maksudnya bahwa masing-masing nagari memiliki tata cara adapt yang berbeda dalam upacara-upacara adat dan kebiasaan- kebiasaan adat), akan tetapi tidak melupakan hal-hal yang dianggap penting dari