• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

9. Cash flow gabungan HTI & industri daur 3

No Biaya (Outflow) Tahun

2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

1 Biaya HTI 44.733.100.259 44.079.158.786 44.079.158.786 44.079.158.786 44.079.158.786 44.079.158.786 44.079.158.786 41.140.095.986

2 Biaya Industri Veneer 72.687.862.542 72.687.862.542 74.091.591.708 78.535.086.500 72.687.862.542 72.687.862.542 78.386.805.250 101.923.982.333

Total Biaya 117.420.962.801 116.767.021.328 118.170.750.494 122.614.245.286 116.767.021.328 116.767.021.328 122.465.964.036 143.064.078.319

No Biaya (Outflow) Tahun

2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

OOP (80%) 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000 131.040.000.000

Random (20%) 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000 19.890.000.000

Total Penerimaan 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000 150.930.000.000

Pendapatan Sebelum Pajak 33.509.037.199 34.162.978.672 32.759.249.506 28.315.754.714 34.162.978.672 34.162.978.672 28.464.035.964 7.865.921.681

Pajak (30%) 10.052.711.160 10.248.893.602 9.827.774.852 8.494.726.414 10.248.893.602 10.248.893.602 8.539.210.789 2.359.776.504

Pendapatan Setelah Pajak (EAT) 23.456.326.040 23.914.085.071 22.931.474.654 19.821.028.300 23.914.085.071 23.914.085.071 19.924.825.175 5.506.145.177

PV EAT (i=12%) 4.799.629.039 4.369.013.934 3.740.620.254 2.886.820.603 3.109.777.821 2.776.587.340 2.065.542.171 509.646.659

Kriteria Kelayakan

Suku Bunga NPV BCR IRR

12% (173.221.397.004) 0,56 0,87

1.1 Latar Belakang

Tidak ada catatan yang pasti untuk membuktikan sejak kapan hutan mulai memiliki manfaat dan peran dalam kehidupan manusia. Manfaat dan peran hutan dapat dirasakan secara langsung dan tidak langsung dalam kehidupan manusia. Misalnya peran hutan sebagai sumber kayu, pangan, obat-obatan, plasma nutfah, pemelihara tingkat kesuburan tanah dan kualitas air, serta pengendalian laju erosi.

Salah satu peranan penting hutan bagi kehidupan manusia adalah sebagai penghasil kayu. Tidak dapat dipungkiri, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan manusia akan kayu dan produk olahannya semakin meningkat pula. Kebutuhan industri kayu baik yang berskala kecil hingga industri berskala besar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut berdampak pada kegiatan eksploitasi hutan alam yang berlebihan. Eksploitasi hutan yang berlebihan menyebabkan besarnya laju deforestasi dan degradasi hutan alam di Indonesia, yang akan berimplikasi pada terjadinya penurunan luas hutan alam Indonesia dari tahun ke tahun.

Sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan kayu industri, maka dibangunlah Hutan Tanaman Industri (HTI). HTI mengalami peningkatan baik dari jumlah maupun luasannya dari tahun ke tahun. Jumlah HTI terus mengalami peningkatan dari 1 unit pada tahun 1989 menjadi 206 unit pada tahun 2009. Sementara dari sisi luasan total luas HTI juga mengalami peningkatan dari 30.000 ha pada tahun 1989 menjadi 8.673.016 ha pada tahun 2009 (Dephut 2009)

Perkembangan tersebut memperlihatkan peranan HTI yang besar dalam pemenuhan kebutuhan kayu industri Nasional. Bahkan HTI menggeser peran hutan alam dalam hal memenuhi kebutuhan kayu di Indonesia. Pada tahun 2005 produksi kayu bulat yang bersumber dari hutan alam adalah 20.496.041,7 m3 sedangkan yang bersumber dari hutan tanaman adalah 9.918.618,98 m3. Pada tahun 2009 produksi kayu bulat yang bersumber dari hutan alam menurun

menjadi 11.476.397,2 m3 dan untuk yang bersumber dari hutan tanaman meningkat menjadi 19.041.758,14 m3 (Dephut 2009).

HTI merupakan kegiatan usaha yang memiliki waktu investasi yang cukup lama. Masa investasi lama akan berdampak pada meningkatnya resiko kegiatan investasi dan resiko tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan investor saat ingin menginvestasikan modal yang dimilikinya. Selain itu, kegiatan usaha HTI juga membutuhkan investasi yang cukup besar dan baru dapat menghasilkan penerimaan untuk investor saat kegiatan pemanenan sudah dilakukan. Oleh karena itu, sebelum kegiatan pembangunan HTI dilaksanakan, perlu dilakukan kegiatan perencanaan yang matang. Salah satu bagian dari kegiatan perencanaan adalah analisis finansial.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

1. Menganalisis kelayakan aspek finansial dari HTI sengon PT Nityasa Idola. 2. Menganalisis kelayakan aspek finansial dari industri veneer PT Nityasa Idola 3. Menganalisis kelayakan aspek finansial gabungan HTI sengon dan industri

veneer PT Nityasa Idola

1.3Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang dilakukan yaitu dapat memberikan informasi kelayakan finansial HTI Sengon serta Industri Veneer PT Nityasa Idola.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hutan Tanaman

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dalam Hutan Tanaman adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dalam Hutan Tanaman pada hutan produksi melalui kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pemasaran. HTI yang selanjutnya disingkat HTI adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan (Departemen Kehutanan 2010).

Sejak awal tahun 1990-an pembangunan HTI dilaksanakan secara besar- besaran melalui pelibatan investor swasta dengan sebagian besar pendanaannya didukung oleh Dana Reboisasi (DR). Pengembangan HTI dilatarbelakangi oleh kondisi kesenjangan antara kapasitas industri perkayuan dengan pasokan bahan baku kayu yang pada waktu itu hanya mengandalkan dari kayu hutan alam. Jenis tanaman HTI yang dibudidayakan pada umumnya jenis kayu cepat tumbuh (mangium, sengon, eucaliptus, dan gmelina). Pada saat itu pembangunan HTI ditargetkan seluas 6 juta hektar, dengan perkiraan pada waktu panen akan mampu mendukung kebutuhan industri bersama-sama kayu dari hutan alam.

Usaha hutan tanaman bertujuan untuk menghasilkan produk utama berupa hasil hutan kayu guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan bahan baku industri perkayuan, meningkatkan kualitas lingkungan melalui kegiatan reboisasi, untuk memperluas kesempatan bekerja dan berusaha bagi masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan.

Kriteria areal usaha hutan tanaman (Departemen Kehutanan 2009):

1. Areal kosong di dalam kawasan hutan produksi dan/atau areal yang akan dialihfungsikan menjadi kawasan hutan produksi, serta tidak dibebani hak-hak lain.

2. Topografi dengan kelerengan maksimal 25%. Pada kelerengan antara 8% - 25% harus diikuti dengan upaya konservasi tanah.

3. Penutupan vegetasi calon lokasi usaha hutan tanaman berupa non hutan (semak belukar, padang alang-alang dan tanah kosong) atau areal bekas tebangan yang kondisinya rusak.

4. Terdapat masyarakat di sekitarnya sebagai sumber tenaga kerja.

5. Tidak dibenarkan melakukan penebangan hutan alam yang ada di areal usaha hutan tanaman, kecuali untuk pembangunan sarana dan prasarana dengan luas maksimum 1% dari seluruh luas areal usaha.

6. Bagian-bagian yang masih bervegetasi hutan alam, di-”enclave” sebagai blok konservasi.

HTI mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam hal jumlah dan luasan total. Peningkatan jumlah HTI dari tahun ke tahun ditampilkan dalam Gambar 1, sedangkan peningkatan luasan total HTI dari tahun ke tahun ditampilkan pada Gambar 2.

Sumber: Statistik Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan 2009 Gambar 1 Grafik perkembangan jumlah HTI.

Sumber: Statistik Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan 2009 Gambar 2 Grafik perkembangan luas HTI.

Berdasarkan data sampai dengan Bulan Desember 2009, jumlah IUPHHK-HTI sebanyak 206 unit (SK definitif) dengan areal seluas 8.702.030 hektar yang tersebar pada 20 provinsi dan SK Sementara sebanyak 25 unit dengan areal seluas 484.860 hektar (Departemen Kehutanan 2009). HTI menggeser peran hutan alam dalam hal produksi kayu bulat seperti pada Gambar 3:

Sumber: Statistik Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan 2009 Gambar 3 Grafik produksi kayu bulat berdasarkan sumbernya

2.2 Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)

Sengon dalam bahasa latin disebut Paraserianthes falcataria (L) Nielsen termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai-petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut (Atmosuseno 1998):

1. Jawa: jeunjing, albasia (Jawa Barat); sengon laut, mbesiah (Jawa Tengah) dan sengon sabrang (Jawa Tengah dan Jawa timur); jing laut (Madura)

2. Sulawesi: tedehu pute

3. Maluku: rawe, selawoku merah, seka, sika, sika bot, bai wagohon, wai atau wikie

Meskipun memiliki banyak nama, tetapi dalam bahasa Indonesia yang paling sering digunakan untuk nama pohon ini adalah sengon.

Hidayat (2002) menambahkan bahwa pohon sengon yang berukuran sedang sampai besar, tingginya dapat mencapai 40 m dan tinggi batang bebas cabang 20 m. Pohon sengon tidak berbanir, kulit licin, berwarna kelabu muda dan bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau. Daun majemuk, panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8-15 pasang anak tangkai daun yang berisi 15-25 helai daun.

Sengon termasuk jenis yang cepat tumbuh tanpa memerlukan tindakan silvikultur yang rumit dan berkembang dengan baik pada tanah yang relatif kering, agak lembab, bahkan di daerah tandus. Di daerah tropis seperti di Indonesia dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah yang lembab dengan tipe iklim A, B dan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson (Griffoen 1954 dalam Alrasjid 1973). Kecepatan pertumbuhan jenis ini ditunjukkan dengan produksi kayunya yang dapat mencapai 156 m3 per hektar pada saat berumur enam tahun (Alrasjid 1973)

Dalam skala industri pemilihan sengon sebagai salah satu jenis pohon yang diprioritaskan untuk pengusahaan HTI merupakan suatu pilihan yang tepat. Sengon dapat dipanen pada umur yang relatif singkat yaitu 5-8 tahun setelah tanam sehingga sangat menguntungkan untuk diusahakan dalam skala besar seperti pengusahaan HTI (Atmosuseno 1998).

Pembangunan HTI dimaksudkan untuk menyediakan bahan baku bagi industri perkayuan di Indonesia. Salah satu jenis tanaman yang banyak ditanam di

HTI adalah sengon. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menanam sengon antara lain sebagai berikut:

1. Masa masak tebang relatif pendek 2. Pengelolaan relatif mudah

3. Persyaratan tempat tumbuh tidak rumit 4. Kayunya serbaguna

5. Permintaan pasar terus meningkat

6. Membantu menyuburkan tanah dan memperbaiki kualitas lahan (Atmosuseno 1998).

Biaya pembangunan akan lebih ringan pada jenis pohon yang tumbuh cepat atau berotasi pendek seperti sengon ini. Hal ini disebabkan adanya Cash Flow masuk dari hasil penebangan yang segera dapat mengurangi biaya yang telah dikeluarkan (Atmosuseno 1998).

Pohon sengon merupakan pohon yang sebaguna. Mulai dari daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Bagian yang memberikan manfaat ekonomi paling besar adalah batang kayunya. Tidak mengherankan jika saat ini banyak kalangan pengusaha yang bergerak dalam bidang perkayuan beramai-ramai mengusahakan sengon sebagai bahan baku industrinya (Atmosuseno 1998).

2.3 Kelayakan Finansial

Menurut Kadariah et al. (1999), analisis finansial adalah analisis dimana suatu proyek dilihat dari sudut badan-badan atau orang-orang yang menanam modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam proyek. Dalam analisis finansial yang diperhatikan ialah hasil untuk modal saham (equality capital) yang ditanam dalam proyek, ialah hasil yang harus diterima oleh para petani, pengusaha, perusahaan swasta, suatu badan pemerintah, atau siapa saja yang berkepentingan dalam pembangunan proyek. Hasil finansial sering juga

disebut “private returns”.

Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam aspek keuangan yaitu: (1) aktiva tetap, (2) modal kerja dan (3) sumber dana untuk modal kerja dan investasi aktiva tetap. Aktiva tetap

dibagi ke dalam dua bagian yaitu: aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud. Aktiva tetap berwujud terdiri dari tanah dan pembangunan lokasi, bangunan dan perlengkapan, pabrik dan mesin serta aktiva lainnya. Sedangkan aktiva tetap tidak berwujud terdiri dari biaya pendahuluan dan biaya sebelum operasi.

Istilah modal kerja bisa diartikan sebagai modal kerja bruto atau modal kerja netto. Modal kerja bruto menunjukkan semua investasi yang diperlukan untuk aktiva lancar yang terdiri dari kas, surat-surat berharga (kalau ada), piutang, persediaan dan lainnya. Modal kerja netto merupakan selisih antara aktiva lancar dan utang jangka pendek. Aktiva lancar adalah aktiva yang hanya memerlukan waktu pendek untuk berubah menjadi kas, yaitu kurang dari satu tahun atau satu siklus produksi (Husnan dan Suwarsono 2000).

Sumber dana yang dibutuhkan untuk membiayai aktiva tetap dan modal kerja dapat berasal dari milik sendiri, saham, obligasi, kredit bank, leasing dan project finance. Pihak perusahaan harus mencari kombinasi sumber dana yang mempunyai biaya terendah dan tidak menimbulkan kesulitan likuiditas bagi proyek atau perusahaan yang mensponsori proyek tersebut selama jangka waktu pengembalian dan penggunaan dana.

Cara menilai suatu proyek yang paling banyak diterima untuk penilaian proyek jangka panjang adalah dengan menggunakan Discounted Cash Flow Analysis (DCF) atau analisis aliran kas yang didiskonto (Darusman 1981). Tujuan menganalisis aspek keuangan dari suatu studi kelayakan proyek bisnis adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus (Umar 2002).

Dalam analisis finansial terdapat kriteria kelayakan investasi. Menurut Gittinger (1986) menyebutkan bahwa dana yang diinvestasikan itu layak atau tidak akan diukur melalui kriteria investasi itu Net Present Value, Net Benefit Cost Ratio, dan Internal Rate of Return.

NPV merupakan selisih antara present value dari benefit dan present value dari biaya (Kadariah et al. 1999). Kriteria yang digunakan dalam menilai suatu proyek adalah bila NPV positif berarti menguntungkan dan NPV negatif menunjukkan kerugian (Soekartawi 1996). Jika NPV > 0 maka proyek tersebut dapat diterima. Jika NPV = 0 maka proyek tersebut mengembalikan persis sebesar social opportunity cost of capital. Jika NPV < 0, proyek ditolak artinya ada penggunaan lain yang lebih menguntungkan untuk sumber-sumber yang diperlukan proyek (Kadariah et al. 1999).

IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Besarnya tingkat bunga yang menjadikan NPV = 0 itulah yang disebut IRR dari suatu proyek. Kriteria untuk menetapkan kelayakan suatu proyek ialah bila IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku (IRR > i) (Soekartawi 1996). Jika nilai IRR dari suatu proyek sama dengan nilai i yang berlaku sebagai social discount rate, maka NPV dari proyek itu adalah sebesar 0 artinya proyek dapat dilaksanakan. jika IRR < social discount rate, berarti NPV < 0 maka proyek sebaiknya tidak dilaksanakan (Kadariah et al. 1999)

BCR adalah rasio manfaat terhadap biaya. Rasio ini diperoleh bila nilai sekarang arus manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya. Suatu proyek dapat dikatakan bermanfaat apabila nilai manfaat (B) lebih besar dari biaya (C) yang dikeluarkan. Kriteria yang dipakai untuk menyatakan suatu usaha tani memberikan manfaat kalau memiliki nilai BCR > 1 (Soekartawi 2002). Menurut Kadariah et al. (1999), jika nilai BCR > 1 berarti NPV > 0 suatu proyek layak untuk dijalankan. Sedangkan jika BCR < 1 maka suatu proyek tidak layak untuk dijalankan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di IUPHHK HT PT Nityasa Idola, Kabupaten Bengkayang dan Landak serta di Industri Veneer PT Nityasa Idola Ngabang, Kabupaten Landak. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai dengan Oktober 2010.

3.2Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu: 1. Buku Rencana Karya Umum IUPHHK HT PT Nityasa Idola

2. Buku Rencana Kerja Tahunan IUPHHK HT PT Nityasa Idola tahun 2010 3. Data tarif upah IUPHHK HT PT Nityasa Idola tahun 2010

4. Data Performance Cost Industri Veneer PT Nityasa Idola 5. Data produksi Industri Veneer PT Nityasa Idola

3.3Analisis Data

Analisis dilakukan untuk menentukan kelayakan pengelolaan HTI sengon dan industri veneer PT. Nityasa Idola. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis aliran kas dari biaya dan pendapatan yang telah didiskonto atau Discounted Cash Flow (DCF) yang menggunakan tiga kriteria yaitu NPV, BCR dan IRR berdasarkan kegiatan pengelolaan HTI sengon dan industri veneer di PT. Nityasa Idola

Adapun penjelasan mengenai tiga kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Net Present Value (NPV)

Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih. Formulanya adalah sebagai berikut:

Dimana: NPV = Net Present Value

Bt = Keuntungan pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t

n = Umur ekonomis dari suatu proyek i = Suku bunga yang berlaku

Apabila NPV ≥ 0, maka proyek dinilai menguntungkan untuk dijalankan. Namun bila NPV ≤ 0, maka proyek dinilai tidak menguntungkan untuk

dijalankan.

b. Internal Rate of Return (IRR)

Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai investasi sekarang investasi dengan nilai penerimaan-penerimaan kas bersih di masa- masa mendatang. Menurut Kadariah et al (1999), IRR adalah nilai faktor diskonto (i) yang membuat NPV sama dengan nol. Pendekatan untuk menghitung IRR yaitu:

Dimana: IRR = Internal Rate of Return NPV(+) = NPV bernilai positif NPV(-) = NPV bernilai negatif

i(+) = suku bunga yang membuat NPV positif i(-) = suku bunga yang membuat NPV negatif

Jika IRR dari suatu proyek sama dengan tingkat suku bunga, maka NPV dari proyek tersebut sama dengan nol. Jika IRR ≥ tingkat suku bunga, maka proyek layak untuk dijalankan, begitu pula sebaliknya.

c. Benefit Cost Ratio (BCR)

Metode ini menghitung rasio antara nilai sekarang pendapatan kotor dengan nilai sekarang biaya. Formulanya adalah sebagai berikut:

Dimana: BCR = Benefit Cost Ratio

Bt = Pendapatan kotor pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t

n = Umur ekonomis dari suatu proyek i = Suku bunga yang berlaku

Suatu proyek dapat dilaksanakan apabila memiliki nilai BCR ≥ 1. Namun bila

BCR ≤ 1, maka proyek dinilai tidak menguntungkan untuk dijalankan.

3.4Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas adalah suatu teknik analisis yang menguji secara sistematis apa yang terjadi pada kapasitas penerimaan suatu proyek apabila terjadi kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang dibuat dalam perencanaan.

Skenario yang digunakan pada analisis sensitivitas hutan tanaman sengon PT Nityasa Idola adalah:

1. Apabila terjadi penurunan biaya total pengusahaan hutan tanaman sengon sebesar 10%

2. Apabila terjadi kenaikan harga pasar log sengon sebesar 10%

Skenario yang digunakan pada analisis sensitivitas industri veneer PT Nityasa Idola adalah:

1. Apabila terjadi kenaikan harga pasar log sengon sebesar 10% 2. Apabila terjadi penurunan harga jual veneer sebesar 10%

3.5Asumsi-Asumsi Dasar yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:

a. Analisis finansial dihitung dalam jangka waktu pengelolaan 24 tahun mulai tahun 2008 sampai 2031.

b. Data biaya untuk kegiatan yang telah dilaksanalan di hutan tanaman sengon PT Nityasa Idola bersumber dari biaya yang berlaku di perusahaan pada tahun 2010.

c. Biaya kegiatan-kegiatan yang belum dilaksanakan di hutan tanaman sengon PT Nityasa Idola menggunakan Standar Biaya Pembangunan HTI dalam Permenhut 26 tahun 2009.

d. Log hasil penjarangan adalah 25 m3/ha dan log hasil pemanenan adalah 125 m3/ha.

e. Harga jual log sengon berasal dari harga pasar di wilayah Kalimantan Barat yaitu Rp 350.000/m3 (harga log sampai di pabrik). Dan dianggap konstan sepanjang daur

f. Suku bunga yang digunakan dalam analisis kelayakan investasi adalah 12% (suku bunga kredit bank BRI bulan November 2010).

g. Industri veneer baru menjalankan kegiatan operasinya saat hutan tanaman sengon PT Nityasa Idola telah melakukan kegiatan penjarangan komersial h. Seluruh log hasil penjarangan dan pemanenan hutan tanaman sengon PT

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah Perusahaan

Pemerintah melalui keputusan Menteri Kehutanan No 329/Kpts-II/1998 tanggal 27 Februari 1998 memberikan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Nityasa Idola seluas 113.196 Ha. Pada tahun 1997 PT Nityasa Idola melakukan pengulangan kegiatan uji tanaman areal seluas 200 hektar yang terletak di Desa Malosa dan Sukamulya, Kecamatan Bengkayang yang sudah mencapai tahap penanaman.

Penanaman berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT), dilakukan untuk RKT 1998/1999 mencapai sekitar 600 hektar ditambah percobaan penanaman seluas 200 hektar. Selain penanaman, selama pelaksanaan RKT tersebut dibangun persemaian permanen yang mampu memproduksi bibit 2 juta bibit/tahun. Sedangkan bibit yang sudah diproduksi 1.686.315 bibit yang terdiri dari jenis Acacia mangium, Gmelina arborea dan Eucalyptus spp.

Bina desa hutan yang telah dilakukan oleh PT Nityasa Idola sampai dengan tahun 1999 adalah pembangunan sarana dan prasarana peribadatan 1 buah seluas 60 m2, bangunan serba guna 1 buah seluas 60 m2, pengembangan karet rakyat seluas 10 hektar, demplot pertanian tumpangsari seluas 1,6 hektar serta mengadakan sarasehan/penyuluhan sebualan sekali. Kegiatan ini terus berlangsung hingga pecahnya kerusuhan besar di Kalimantan Barat pada tahun 1997 yang terulang dengan skala yang lebih luas pada tahun 1999. Kondisi keamanan dan perkembangan sosial kemasyarakatan di provinsi Kalimantan Barat pasca kerusuhan 1997 dan 1999 membuat situasi menjadi sangat tidak kondusif untuk pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan hutan tanaman.

Mempertimbangkan perubahan yang terjadi, PT Nityasa Idola pada akhir tahun 2006 memohon persetujuan untuk perubahan (revisi) Rencana Karya Umum Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT). Berdasarkan revisi rencana kerja inilah mulai tahun 2007 PT Nityasa Idola melakukan kegiatan pembuatan tanaman dan sampai akhir tanam 2008 telah

menyelesaikan penanaman seluas 284 hektar dengan jenis tanaman sengon. Pada tahun 2009, PT Nityasa Idola berhasil melakukan penanaman seluas 1467 hektar.

Pada tahun 2009, PT Nityasa Idola melakukan pembangunan pabrik veneer di wilayah Ngabang, Kabupaten Landak. Bahan baku industri veneer PT Nityasa Idola adalah kayu sengon yang berasal dari lahan milik masyarakat sekitar pabrik terutama di wilayah Sanggau Ledo.

4.2 Lokasi HTI PT. Nityasa Idola

Areal kerja HTI PT. Nityasa Idola secara geografis terletak pada garis

lintang 0°22’48” – 01°04’18” LU dan garis bujur 109°22’ – 109°54’ BT. Secara administratif areal IUPHHK-HT (HTI) yang dikelola oleh PT Nityasa Idola terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Peta kawasan HTI PT Nityasa Idola ditampilkan pada Gambar 4.

Sumber: Buku Rencana Karya Umum IUPHHK HT PT Nityasa Idola, 2008 Gambar 4 Peta kawasan HTI PT Nityasa Idola

Di Kabupaten Bengkayang wilayah mencakup Kecamatan Samalantan, Bengkayang, Ledo, Sanggau Ledo, Seluas, Sungai Raya, Capkala, Monterado, Teriak, Sungai Betung, Suti Semarang, Lumar, Jagoi Babang dan Siding. Sedangkan untuk di Kabupaten Landak, terletak di wilayah kecamatan yaitu kecamatan Kuala Behe, Air Besar, Sebangki, Ngabang, Meranti, Menyuke, Mempawah Hulu, Menjalin, Mandor dan Sengah Temila. HTI PT. Nityasa Idola memiliki luas total areal konsesi sebesar 113.196 ha

4.3 Topografi Lahan, Jenis Tanah dan Jenis batuan

Wilayah konsesi HTI PT Nityasa Idola memiliki ketinggian antara 65- 687 m dengan rata-rata ketinggian 165 m di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan dari kelerengannya, sebagian besar wilayah konsesi HTI PT. Nityasa Idola bertopografi datar disusul bergelombang, landai, dan agak curam. Berikut adalah klasifikasi topografi berdasarkan kelas kelerengan dari wilayah HTI PT Nityasa Idola:

Tabel 1 Klasifikasi topografi lahan konsesi HTI PT. Nityasa Idola

Topografi Luas (Ha) Persentase (%)

Datar (kelerengan 0-8%) 55.918 49,4

Landai ( 8-15%) 24.222 21,4

Bergelombang (15-25%) 28.634 25,3

Agak Curam (25-40%) 4.422 3,9

Curam (> 40%) 0 0

Sumber: Buku Rencana Karya Umum IUPHHK HT PT Nityasa Idola, 2008

Jenis tanah yang ada di lahan konsesi HTI PT Nityasa Idola secara umum

Dokumen terkait