BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Penerimaan dan Biaya HTI
Penerimaan HTI PT Nityasa Idola berasal dari penjualan kayu sengon hasil penjarangan komersil dan pemanenan. Hasil penjualan dihitung dengan mengkalikan volume kayu yang dihasilkan dengan tarif harga jual kayu sengon di wilayah sekitar HTI. Karena PT Nityasa Idola belum melaksanakan kegiatan penjarangan komersil dan pemanenan, maka untuk volume hasil panen kayu per hektar diasumsikan sebesar 25 m3 untuk penjarangan komersial dan 125 m3 untuk pemanenan. Asumsi tersebut didasarkan pada target perusahaan yang tercantum dalam buku Rencana Karya Umum PT Nityasa Idola. Untuk harga kayu sengon didasarkan pada harga beli kayu sengon yang ditetapkan Industri Veneer PT Nityasa Idola di Ngabang yaitu Rp 350.000/m3 .
Tabel 11 menyajikan data dugaan volume kayu dan penerimaan yang didapatkan dari hasil kegiatan penjarangan dan pemanenan setiap tahunnya.
Tabel 11 Tabel dugaan volume kayu dan penerimaan dari hasil kegiatan penjarangan dan pemanenan
Tahun
Volume Volume Volume Penerimaan Penerimaan Penerimaan
Penjarangan (m3) Pemanenan (m3) Total (m3) Penjarangan (Rp) Pemanenan (Rp) Total (Rp) 2008 0 0 0 0 0 0 2009 0 0 0 0 0 0 2010 0 0 0 0 0 0 2011 0 0 0 0 0 0 2012 7.100 0 7.100 2.485.000.000 0 2.485.000.000 2013 36.675 0 36.675 12.836.250.000 0 12.836.250.000 2014 30.000 0 30.000 10.500.000.000 0 10.500.000.000 2015 30.000 35.500 65.500 10.500.000.000 12.425.000.000 22.925.000.000 2016 30.000 183.375 213.375 10.500.000.000 64.181.250.000 74.681.250.000 2017 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2018 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2019 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2020 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2021 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2022 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2023 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2024 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2025 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2026 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2027 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2028 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2029 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2030 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000 2031 30.000 150.000 180.000 10.500.000.000 52.500.000.000 63.000.000.000
Pada tahun – tahun awal kegiatan pengelolaan HTI Sengon, PT Nityasa Idola belum mendapatkan penerimaan. Penerimaan pertama didapatkan pada tahun 2012 yang berasal dari hasil penjarangan komersial tanaman tahun 2008. Besarnya penerimaan adalah sebesar Rp 8.750.000/ha sehingga total penerimaan untuk tahun 2012 adalah sebesar Rp 2.485.000.000 dari hasil penjarangan komersil lahan seluas 284 ha. Sedangkan penerimaan dari kegiatan pemanenan baru didapatkan pada akhir daur pertama yaitu pada tahun 2016 dengan nilai sebesar Rp 43.750.000/ha
Penerimaan terbesar diperoleh pada tahun 2016 yang merupakan hasil penjarangan tanaman tahun 2013 dan pemanenan tanaman tahun 2009. Nilai
penerimaan penjarangan pada tahun tersebut diperkirakan sebesar Rp 10.500.000.000 sedangkan untuk penerimaan pemanenan diperkirakan sebesar Rp 64.181.250.000. Total penerimaan pada tahun 2017 diperkirakan sebesar Rp 74.681.250.000.
5.3.2 Biaya
Biaya pengelolaan HTI Sengon PT Nityasa Idola terdiri dari pembangunan sarana dan prasarana, administrasi dan umum, perencanaan, pengadaan bibit, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, perlindungan dan pengamanan hutan, kewajiban kepada negara, kewajiban kepada lingkungan dan pemanenan.
Tabel 12 Biaya pengelolaan hutan tanaman sengon PT Nityasa Idola
No Kegiatan Biaya(Rp/Ha)
1 Pembangunan Sarana dan Prasarana 2.645.157
2 Administrasi Dan Umum 1.224.610
3 Perencanaan 319.407
4 Pengadaan Bibit 722.000
5 Penyiapan Lahan 2.421.950
6 Penanaman 1.186.548
7 Pemeliharaan 3.934.120
8 Perlindungan Dan Pengamanan Hutan 493.050
9 Kewajiban Kepada Negara 10.700
10 Kewajiban Kepada Lingkungan 220.430
11 Pemanenan 22.500.000
Total Biaya 35.677.971
Biaya pembangunan sarana dan prasarana ini meliputi investasi bangunan, peralatan dan jalan, biaya pemeliharaan sarana dan prasarana serta depresiasi sarana dan prasarana. Masa pakai sarana dan prasarana diasumsikan selama 15 tahun, sehingga saat masa pakainya telah mencapai masa tersebut harus dilakukan kembali kegiatan reinvestasi. Nilai investasi bangunan, peralatan dan jalan adalah sebesar Rp 2.449.219/ha sedangkan biaya pemeliharaan sarana dan prasarana adalah sebesar Rp 32.657/ha. Kedua nilai tersebut didapatkan dari rataan biaya terendah dan tertinggi dari standar biaya pembangunan HTI
Departemen Kehutanan, sedangkan untuk nilai depresiasi per tahun didapatkan dari pembagian antara jumlah investasi dengan masa pakainya (15 tahun).
Biaya administrasi dan umum terdiri dari biaya pendidikan dan latihan, penelitian dan pengembangan, biaya umum dan biaya penilaian. Biaya pendidikan dan latihan nilainya sebesar Rp 48.985/ha. Biaya penelitian dan pengembangan nilainya sebesar Rp 97.969/ha. Biaya umum nilainya adalah sebesar Rp 976.688/ha dan biaya penilaian sebesar Rp 97.969/ha.
Komponen biaya perencanaan terdiri dari biaya penyusunan FS dan AMDAL, penyusunan RKU, penyusunan RKT, pelaksanaan Inventarisasi, pelaksanaan tata batas dan penataan areal. Biaya dari setiap sub kegiatan perencanaan berturut-turut adalah Rp 32.657/ha, Rp 24.492/ha, Rp 12.500/ha, Rp 13.000/ha, Rp 40.821/ha dan Rp 195.938/ha.
Komponen biaya dalam pengadaan bibit/persemaian terdiri dari biaya pengadaan logistik (media tanam, benih, pupuk, air dan lain lain), upah pekerja di persemaian, serta pengangkutan bibit. Biaya pengadaan bibit diperoleh dari pembagian antara jumlah biaya yang dikeluarkan di persemaian selama sebulan dengan jumlah bibit yang dihasilkan pada bulan tersebut. Nilainya didapatkan sebesar Rp 500/bibit. Dengan demikian untuk satu hektar lahan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dengan tingkat penyulaman sebesar 30% dibutuhkan biaya untuk pengadaan bibit sebesar Rp 722.000.
Lahan di PT Nityasa Idola sebagian besar diklaim milik masyarakat sehingga saat ingin membangun HTI di suatu lahan, perusahaan harus membuat suatu program kerjasama dengan masyarakat. Perjanjian tersebut tertuang dalam sebuah dokumen yang bernama Mata beliung. Salah satu poin dalam perjanjian tersebut adalah perusahaan harus membayar uang kompensasi lahan sebesar Rp 60.000/ha serta memberikan 21 buah bibit karet unggul/ha lahan dengan harga Rp 3.500/bibit kepada masyarakat. Biaya tersebut merupakan komponen dari kegiatan penyiapan lahan.
Kegiatan penyiapan lahan di PT Nityasa Idola terdiri dari dua macam yaitu penyiapan lahan manual dan mekanis. Penyiapan lahan manual dilaksanakan dengan sistem borongan oleh pemilik lahan maupun masyarakat sekitar. Upah borongan penyiapan lahan terbagi menjadi empat kelas sesuai dengan kondisi
tegakan/vegetasi pada lahan. Tarif upah borongan penyiapan lahan manual di PT Nityasa Idola disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Klasifikasi upah borongan kegiatan penyiapan lahan manual berdasarkan kelas lahan
No Kelas Lahan Upah Borongan (Rp/Ha)
1 Ex Ladang 800.000
2 Ringan 1.150.000
3 Sedang 1.250.000
4 Berat 1.350.000
Untuk penyiapan lahan mekanis, biaya yang dikeluarkan antara lain untuk menyewa alat berat, bahan bakar alat berat serta upah operator alat berat. Adapun standar biaya penyiapan lahan mekanis PT Nityasa Idola adalah sebesar Rp 2.830.073/ha.
Unsur biaya dalam kegiatan penanaman adalah untuk pembayaran upah penanaman dan pengadaan pupuk. Kegiatan penanaman di PT Nityasa Idola dilakukan dengan sistem borongan oleh pemilik lahan atau masyarakat sekitar dengan upah sebesar Rp 300/lubang tanam, sehingga untuk lahan dengan luas satu ha dibutuhkan biaya sebesar Rp 333.300. Selain untuk pembayaran upah borongan, komponen biaya lain adalah untuk pupuk. Untuk setiap lubang tanam dibutuhkan pupuk TSP sebanyak 160 gram. Dengan harga pupuk TSP Rp 4.800/kg, maka biaya untuk pemupukan adalah sebesar Rp 768/lubang tanam atau sebesar Rp 853.248/ha.
Kegiatan pemeliharaan terdiri dari tujuh sub kegiatan yaitu penyulaman, pemupukan, total weeding, chemical, pruning, singling dan penjarangan. Untuk kegiatan penyulaman biayanya adalah sebesar Rp 99.990/ha dengan asumsi tingkat penyulamannya adalah sebesar 30%. Biaya tersebut adalah untuk pembayaran upah borongan penyulaman sebesar Rp 300/lubang tanam. Kegiatan pemupukan dilakukan pada saat usia tanaman 3-4 bulan. Pemupukan dilakukan secara borongan dengan upah sebesar Rp 60/tanaman, sehingga untuk 1 hektar lahan biaya upah pemupukan adalah Rp 66.660. Selain untuk upah borongan, kebutuhan biaya lainnya adalah untuk pengadaan pupuk urea. Untuk setiap
tanaman diberikan pupuk urea sebanyak 40 gr. Dengan harga pupuk urea Rp 2.500/kg, maka untuk pengadaan pupuk dibutuhkan biaya Rp 166.650/ha.
Kegiatan pemeliharaan selanjutnya adalah total weeding dan chemical. Kedua kegiatan tersebut dilakukan secara berurutan. Setelah kegiatan total weeding harus dilakukan kegiatan chemical. Kedua kegiatan tersebut dilakukan sebanyak enam kali, yaitu empat kali di tahun pertama tanam dan dua kali di tahun kedua tanam. Untuk total weeding, upah borongannya adalah sebesar Rp 105.000/ha sedangkan chemical upah borongannya adalah Rp 75.000/ha. Untuk kegiatan chemical dibutuhkan biaya lain yaitu untuk pengadaan herbisida dan pengadaan air dengan nilai masing masing sebesar Rp 40.000/ha dan Rp 10.000/ha.
Singling dan pruning dilakukan satu kali selama satu daur tanaman. Kedua kegiatan tersebut memiliki upah borongan sebesar Rp 60/tanaman. Sehingga untuk lahan seluas satu ha dibutuhkan biaya sebesar Rp 66.660.
Kegiatan penjarangan terbagi atas dua macam yaitu penjarangan non komersial yang dilakukan pada tanaman berumur dua tahun dan penjarangan komersial pada tanaman umur empat tahun. Untuk penjarangan non komersial, tarif yang ditentukan perusahaan adalah Rp 150.000/ha. Sedangkan untuk penjarangan komersil, upah borongannya adalah Rp 75.000/m3. Untuk penjarangan komersil, perusahaan harus memberikan bagi hasil kepada pemilik lahan sebesar Rp 2.500/m3.
Perlindungan dan pengamanan hutan merupakan salah satu kegiatan penting dalam sebuah HTI. Secara umum kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan dapat dibagi menjadi tiga sub kegiatan yaitu pengendalian hama dan penyakit, pengendalian kebakaran dan pengamanan hutan. Karena PT Nityasa Idola belum melaksanakan kegiatan ini, maka untuk biayanya diperoleh dari standar biaya pembangunan HTI Departemen Kehutanan. Untuk pengendalian hama dan penyakit biayanya adalah sebesar Rp 260.300/ha, pengendalian kebakaran sebesar Rp 110.438/ha dan pengamanan hutan sebesar Rp 122.313.
Selain untuk kegiatan operasional, perusahaan juga harus menyediakan dana untuk memenuhi kewajiban antara lain kewajiban kepada negara dan kewajiban kepada lingkungan. Kewajiban kepada negara antara lain untuk
pembayaran iuran IUPHHK sebesar Rp 7.200/ha dan PBB sebesar Rp 3.500/ha. Sedangkan untuk kewajiban kepada lingkungan terbagi menjadi dua yaitu kewajiban lingkungan fisik kimia biologi dan kewajiban lingkungan sosial. Untuk kewajiban lingkungan fisik kimia biologi nilainya adalah sebesar Rp 97.969/ha sedangkan untuk kewajiban kepada lingkungan sosial nilainya adalah sebesar Rp 122.461/ha.
Untuk biaya penebangan terdiri dari tiga macam yaitu untuk upah penebangan dan penyaradan, mata beliung dan pengangkutan. Kegiatan penebangan dan penyaradan dilakukan secara borongan oleh kontraktor. Besarnya pendapatan yang diperoleh seorang kontraktor adalah sebesar Rp 75.000/m3. Dalam perjanjian mata beliung antara perusahaan dan masyarakat pemilik lahan, terdapat salah satu poin yang mengharuskan perusahaan memberikan bagi hasil saat pemanenan yaitu sebesar Rp 5.000/m3. Log yang telah ditebang dan disarad harus diangkut ke industri veneer untuk diolah. Log diangkut menggunakan truk yang telah dimodifikasi bagian bak-nya sehingga memiliki kapasitas angkut sebesar 10 m3/truk. Biaya untuk menyewa dan bahan bakar truk adalah sebesar Rp 1.000.000/truk, sehingga biaya pengangkutan adalah sebesar Rp 100.000/m3.