A.1. DASAR HUKUM
1. UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Lampiran II (Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual).
7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
8. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar.
9. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011.
10. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 08/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian Bendahara Umum Negara.
A.2. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
UU Nomor 17 Tahun 2003 mengamanatkan bahwa kewenangan Presiden dalam pengelolaan fiskal dikuasakan kepada Menteri Keuangan. Salah satu tugas Menteri Keuangan dalam menjalankan kewenangan pengelolaan fiskal (Chief Financial Officer/CFO) tersebut adalah melaksanakan fungsi Bendahara Umum Negara (BUN). Bendahara Umum Negara (BUN) adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum negara. Tugas ini dilaksanakan oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan fungsi BUN.
Dalam UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku BUN berwenang untuk:
1. menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara; 2. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
3. melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran negara; 4. menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara;
5. menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran negara;
6. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara;
7. menyimpan uang negara;
8. menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi;
9. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum negara;
10. melakukan pinjaman dan memberikan jaminan atas nama pemerintah; 11. memberikan pinjaman atas nama pemerintah;
12. melakukan pengelolaan utang dan piutang negara;
13. mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan;
14. melakukan penagihan piutang negara;
15. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan negara; 16. menyajikan informasi keuangan negara;
17. menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik negara;
18. menentukan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam rangka pembayaran pajak;
19. menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara.
Dalam menjalankan fungsi dan kewenangan BUN tersebut di atas, Menteri Keuangan mendapat alokasi dana APBN dan hanya dikelola oleh BUN dan tidak dikelola oleh Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yaitu Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan atau lebih dikenal dengan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA-BUN). Dengan demikian BA-BUN adalah dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dialokasikan kepada Menteri Keuangan selaku BUN sebagai Pengguna Anggaran (PA) selain yang dialokasikan untuk Kementerian Negara/Lembaga, meskipun demikian Menteri Keuangan dapat menunjuk Unit Kementerian/Lembaga sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).
Anggaran dan transaksi yang dikelola Menteri Keuangan selaku BUN adalah transaksi atas BA BUN dan transaksi penerimaan dan pengeluaran kas yang meliputi :
1. Utang Pemerintah dan Hibah terdiri dari : a. Penerimaan utang luar negeri;
b. Penerimaan utang dalam negeri;
c. Pembayaran bunga utang dalam dan luar negeri; d. Pembayaran cicilan utang luar negeri;
e. Pembayaran cicilan utang dalam negeri; f. Penerimaan hibah dalam dan luar negeri.
2. Investasi Pemerintah terdiri dari penerimaan dan pengeluaran pembiayaan terkait Investasi Pemerintah termasuk Divestasi;
3. Penerusan Pinjaman yaitu transaksi penerusan pinjaman;
4. Transfer ke Daerah adalah transaksi dalam rangka perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah dalam bentuk Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian ;
5. Belanja Subsidi yaitu transaksi Belanja Subsidi; 6. Belanja Lain-Lain yaitu transaksi Belanja Lain-Lain; 7. Transaksi Khusus antara lain :
a. Pengeluaran untuk Keperluan Hubungan Internasional yang tidak menimbulkan hak suara;
b. PNBP yang dikelola oleh DJA, kecuali Bagian Laba BUMN; c. Aset Pemerintah yang berada dalam penguasaan Pengelola Barang; d. Pembayaran dan penerimaan setoran/potongan PFK; dan
Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara
e. Pembayaran Belanja Pensiun.
8. Badan Lainnya yaitu transaksi pada Badan Lainnya baik yang melalui APBN maupun yang tidak melalui mekanisme APBN.
9. Transaksi Penerimaan dan Pengeluaran Kas melalui Rekening Kas Umum Negara.
Pelaksanaan anggaran yang dilaksanakan Menteri Keuangan selaku BUN di atas dari sisi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan anggaran dan pertanggungjawabannya telah ditetapkan Kode Bagian Anggaran BUN (BA BUN) yaitu BA 999. Sedangkan kode Unit Organisasi Eselon I sebagai berikut:
Kode Es. 1 Uraian
999.01 BA BUN Pengelola Utang Pemerintah 999.02 BA BUN Pengelola Hibah
999.03 BA BUN Pengelola Investasi Pemerintah 999.04 BA BUN Pengelola Penerusan Pinjaman 999.05 BA BUN Pengelola Transfer Ke Daerah 999.07 BA BUN Pengelola Belanja Subsidi 999.08 BA BUN Pengelola Belanja Lain-lain 999.99 BA BUN Pengelola Transaksi Khusus
- Badan Lainnya
Tabel A1. Kode Unit Organisasi Eselon I BA BUN
Berdasarkan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menyusun Laporan Arus Kas (LAK). Selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah bahwa dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD, setiap Entitas Pelaporan wajib menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja. Entitas Pelaporan terdiri dari:
a. Pemerintah Pusat; b. Pemerintah Daerah;
c. Kementerian Negara/Lembaga; dan d. Bendahara Umum Negara.
Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dan tugas BUN dan sesuai ketentuan sebagaimana tersebut di atas, Menteri Keuangan selaku BUN merupakan entitas pelaporan yang wajib menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (LKBUN). Laporan Keuangan BUN setidak-tidaknya terdiri dari Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Laporan Keuangan BUN disusun dan disajikan sesuai SAP dan dihasilkan dari Sistem Akuntansi BUN (SABUN). LKBUN merupakan gabungan LK BABUN yang menghasilkan LRA dan Neraca ditambah LAK beserta Catatan atas Laporan Keuangan. LAK merupakan Laporan Keuangan yang menginformasikan penerimaan/pengeluaran kas ke/dari Kas Negara. LAK tidak terkait dengan BA tertentu tetapi mencakup seluruh Bagian Anggaran. Berdasarkan PMK Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011, Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) menyelenggarakan Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN) untuk menghasilkan Laporan Keuangan BUN. SA-BUN terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu Sistem Akuntansi Pusat (SiAP), Sistem Akuntansi Utang Pemerintah (SA-UP), Sistem Akuntansi Hibah (SIKUBAH), Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah (SA-IP), Sistem Akuntansi Penerusan Pinjaman (SA-PP), Sistem Akuntansi Transfer ke Daerah (SA-TD), Sistem Akuntansi
Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (SA-BSBL), Sistem Akuntansi Transaksi Khusus (SA-TK), dan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Lainnya (SA-PBL). SiAP terdiri dari 2 (dua) subsistem, yaitu Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). SAKUN diselenggarakan untuk menghasilkan Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat, sedangkan SAU diselenggarakan untuk membukukan data yang akan direkonsiliasi dengan data yang dibukukan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Pada tahun 2011 telah ditetapkan Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2011, Sistem Akuntansi Hibah dengan Menteri Keuangan Nomor 230/PMK.05/2011, Sistem Akuntansi Transaksi Khusus dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 234/PMK.05/2011, dan Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Lainnya dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 235/PMK.05/2011.
Rincian transaksi yang tercakup dalam Transaksi Khusus antara lain :
A. Pengeluaran untuk keperluan Hubungan Internasional terdiri atas :
1. Pengeluaran Kerja Sama Internasional yang mencakup pembayaran iuran keikutsertaan pemerintah Indonesia dalam organisasi internasional dan tidak menimbulkan hak suara.
2. Pengeluaran Perjanjian Hukum Internasional mencakup :
a. transaksi untuk melakukan penyelesaian permasalahan hukum yang melibatkan pemerintah Indonesia di dunia internasional,
b. transaksi yang timbul sebagai akibat dari perjanjian-perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan pihak lain di dunia internasional.
B. Pendapatan PNBP yang dikelola oleh Direktorat PNBP Ditjen Anggaran
mencakup Pendapatan Migas dan Pendapatan Panas Bumi.
C. Aset Pemerintah yang dalam pengelolaan Pengelola Barang yang terdiri-dari :
1. Aset Bekas Milik Asing/Cina; 2. Aset KKKS;
3. Aset Kontraktor PKP2B; 4. Aset Eks Pertamina;
5. Aset Yang Timbul dari Pemberian BLBI terdiri dari: a. Piutang BDL;
b. Aset Eks BPPN yang dikuasai Tim Koordinasi/Tim Pemberesan; c. Aset Yang Dikelola PT PPA;
d. Piutang PT PPA;
6. Aset Menganggur (Idle Asset) yang sudah diserahkan ke DJKN selaku Pengelola Barang.
D. Pembayaran dan penerimaan setoran/potongan PFK mencakup PFK yang dipungut melalui potongan SPM untuk PNS Pemerintah Pusat dan berasal dari setoran Pemerintah Daerah untuk PNS Daerah serta pembayarannya kepada Pihak Ketiga.
E. Pembayaran Belanja Pensiun