• Tidak ada hasil yang ditemukan

LKBUN KPPN Kanwil DJPBN

ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN Kas bersih dari

C. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA

C.3. CATATAN PENTING LAINNYA

7. Kewajiban Diestimasi

1989), serta pejabat negara.

Sejak 1 April 1989, pembayaran pensiun TNI dan Polri dikelola oleh PT Asabri (Persero). Berdasarkan hasil perhitungan aktuaria yang dilakukan oleh konsultan PT Binaputera Jaga Hikmah per 25 April 2007 menunjukkan bahwa past service liabilities (gabungan program pensiun dan beras) pada PT Asabri (Persero) per 31 Desember 2010 adalah sebesar Rp70,22 triliun.

Berdasarkan penjelasan di atas, total saldo past service liabilities untuk seluruh pensiun PNS, Veteran, TNI dan Polri adalah sebesar Rp1.879,64 triliun. Saldo past service liabilities ini belum disajikan sebagai kewajiban dalam LK-TK Tahun 2011.

Sesuai dengan data dalam Laporan Keuangan PT Taspen (Persero) Tahun 2010 diketahui bahwa jumlah dana titipan atas iuran program pensiun sampai dengan 31 Desember 2010 adalah sebesar Rp28,76 triliun. Rincian Dana Program pensiun per 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

A. Saldo per 31 Desember 2009 19.592.869.430.343

B. Penerimaan:

Penerimaan Iuran Peserta 5.752.886.773.308

Penerimaan Dana dari Pemerintah 44.290.528.851.896

Hasil Investasi 2.331.840.697.387

Kenaikan Nilai Investasi 1.577.850.220.993

Pendapatan Lain-lain 2.421.605.068

Total Penerimaan 53.955.528.148.652

C. Pengeluaran:

Pembayaran Manfaat Pensiun 44.072.261.214.225

Beban Operasional 554.750.108.128

Total Pengeluaran 44.627.011.322.353

D. Perubahan Dana (B-C) 9.328.516.826.299

E. Koreksi Dana Bersih (158.344.359.085)

F. Saldo per 31 Desember 2010 (A+D+E) 28.763.041.897.557

Tabel C94. Rincian Dana Program pensiun per 31 Desember 2010

7. Kewajiban Diestimasi

Pada LK BUN 2011, belum melaporkan kewajiban di estimasi atas risk sharing kredit program Kredit Program Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan 1998/1999 pola chanelling sebesar Rp1,91 triliun dengan pertimbangan sebagai berikut:

a. Risk sharing yang dituangkan dalam surat Menkeu tanggal 24 November 1998 Nomor S-607/MK.017/1998 tersebut belum didukung dengan “perjanjian risk sharing” yang mengatur Term and Condition Risk Sharing antara Pemerintah, Perum PKK dan Bank Indonesia.

b. Hasil audit BPK terhadap Tunggakan KUT TP 1998/1999 yang disampaikan kepada Pemerintah tanggal 14 Januari 2011 belum merupakan dokumen final sebagai dokumen pengakuan kewajiban Risk Sharing Pemerintah kepada BI. Hasil Audit tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan verifikasi lapangan oleh Kementerian Koperasi yang hasilnya akan dipergunakan pada rapat konsultasi antara Pemerintah bersama-sama Bank Indonesia dan Jamkrindo (Perum PKK) dengan DPR sebagaimana amanat kesimpulan rapat dengan DPR tahun 2004.

Dalam hal koordinasi penyelesaian KUT TP 1998/1999, pemerintah telah dan masih melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Sejak awal kredit macet yaitu tahun 2001 dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Perekonomian tanggal 15 Februari 2001 tentang Kebijakan Restrukturisasi dan Reformasi Koperasi dalam rangka pemulihan ekonomi terkait dengan upaya peningkatan produktifitas dan kesejahteraan petani.

2. Kebijakan restrukturisasi KUT tersebut disampaikan oleh Menko Kesra kepada DPR dengan surat tanggal 31 Januari 2003 yang ditidaklanjuti dengan pertemuan konsultasi antara Pemerintah (Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Keuangan), Bank Indonesia dan DPR (Komisi V dan Komisi IX) pada tanggal 19 Mei 2004. Dengan kesimpulan rapat sebagai berikut :

a. Utang KUT kepada petani setuju dihapus dan akan dibahas oleh Komisi IX dan Menteri Keuangan.

b. Utang yang jatuh kepada bukan petani harus diselesaikan secara hukum.

c. Pemerintah menetapkan Keppres untuk menugaskan Menko Kesra dan Menteri Koperasi dan UKM untuk melakukan verifikasi dan pemilahan; yang hasilnya akan digunakan sebagai dasar pembahasan antara Komisi IX dan Menteri Keuangan.

3. Sebagai tindak lanjut hasil rapat dengan DPR sebagaimana butir 2 di atas, Menteri Keuangan meminta BPK untuk melakukan audit atas tunggakan KUT (surat tanggal 3 April 2008 Nomor S-152/MK.05/2008. BPK menyelesaikan auditnya dan menyampaikan Laporan Hasil Audit kepada Menteri Keuangan, Gubernur BI dan Dirrektur Jamkrindo pada tanggal 14 Januari 2011.

4. Kementerian Keuangan secara aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian terkait baik melalui surat maupun melalui rapat dan menyampaikan laporan kepada Presiden langkah-langkah yang perlu diambil Pemerintah.

5. Saat ini Kementerian Koperasi sedang menyusun langkah-langkah verifikasi lapangan berdasarkan data laporan hasil pemeriksaan BPK. 6. Selain itu Menkeu membentuk Tim untuk pendampingan Kementerian

Koperasi dalam rangka percepatan penyelesaian Tunggakan KUT TP 1998/1999.

7. Penyelesaian tunggakan KUT TP 1998/1999 tersebut termasuk prioritas Pemerintah.

8. Bapertarum

Bapertarum PNS didirikan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, sebagaiman telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1994. Tabungan Perumahan diwajibkan kepada setiap PNS yang dipotong dari gaji masing-masing PNS. Untuk mengelola tabungan tersebut dibentuk Badan pertimbangan Tabungan Perumahan PNS dengan tujuan membantu

membiayai usaha peningkatan kesejahteraan PNS dalam bidang perumahan. Pemotongan gaji untuk tabungan perumahan tersebut efektif pada pemotongan gaji bulan Februari 1993 untuk pemotongan gaji bulan Januari dan Februari 1993 dan berakhir bulan yang bersangkutan berhenti menjadi PNS.

Dana yang terkumpul dari pemotongan tabungan tersebut disetor ke rekening Menteri Keuangan untuk dan atas nama Bapertarum PNS pada Bank Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Dana tabungan tersebut setinggi-tingginya sebesar 60% dari jumlah dana tabungan dipergunakan untuk membantu seluruh PNS untuk:

a. Membantu uang muka pembelian rumah dengan fasilitas Kredit Pemilik Rumah bagai pegawai yang belum memiliki rumah;

b. Membantu sebagian biaya membangun rumah bagi PNS yang sudah memiliki tanah di daerah tempat bekerja.

Sekurang-kurangnya 40% dari jumlah tabungan disimpan dalam bentuk deposito atau jenis lain yang aman untuk pemupukan dana jangka panjang pada Bank Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

Dasar Hukum Pembukaan Rekening Bapertarum-PNS QQ Menteri Keuangan adalah:

a. Surat Menteri Keuangan nomor S-449/MK.03/1993 tanggal 27 Februari 1993 perihal Penunjukan PT. Bank Tabungan Negara (PERSERO) sebagai Bank Pengelola Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil.

b. Surat Menteri Keuangan Nomor S-311/Mk.03/2000 tanggal 27 Juni 2000 tentang penempatan sebagian dana Taperum-PNS pada Bank Pemerintah selain Bank BTN.

Penjelasan:

1. Dalam melakukan penempatan dana Taperum-PNS, Kementerian Keuangan merujuk kepada:

a. Keppres Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, dalam Pasal 6 ayat (2) dinyatakan "Sekurang-kurangnya 40% dari jumlah dana tabungan disimpan dalam bentuk deposito atau jenis investasi lain yang aman untuk pemupukan dana jangka panjang pada bank pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

b. Surat Menteri Keuangan nomor S-449/MK.03/1993 tanggal 27 Februari 1993 perihal Penunjukan PT. Bank Tabungan Negara (PERSERO) sebagai Bank Pengelola Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, menunjuk BTN sebagai Bank Pengelola Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil.

c. Surat Menteri Keuangan Nomor S-311/Mk.03/2000 tanggal 27 Juni 2000 tentang penempatan sebagian dana Taperum-PNS pada Bank Pemerintah selain Bank BTN, menunjuk Bank BNI, BRI dan Bank Mandiri sebagai bank penyimpan dana Taperum-PNS dalam bentuk deposito.

2. Alur perolehan dan penempatan dana Taperum-PNS secara singkat sebagai berikut:

a. Untuk PNS Pusat, dana Taperum-PNS dipotong dari gaji yang bersangkutan setiap bulan, dan oleh KPPN dibukukan di rekening kas negara sebagai dana PFK Taperum-PNS Pusat.

b. Untuk PNS Daerah, dana Taperum-PNS dipotong dari gaji yang bersangkutan setiap bulan dan oleh Bendahara Umum Daerah disetor ke rekening kas negara melalui bank/pos persepsi sebagai penerimaan PFK Taperum-PNS Daerah.

c. Setiap bulan dana PFK Taperum-PNS Pusat dan daerah tersebut, berdasarkan permintaan Kepala Pelaksana Sekretariat

Bapertarum-PNS, ditransfer dari rekening kas negara ke rekening “Bapertarum qq Menteri Keuangan” nomor 0001401-30-000151-5 pada bank BTN. Selanjutnya pada saat yang sama berdasarkan perintah Direktur Jenderal Perbendaharaan dana Taperum-PNS bagian 60% ditransfer ke rekening Ketua Harian Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS dengan nomor rekening 014.G.00000439.N pada bank BTN. d. Untuk memperoleh hasil yang optimal sesuai amanat Pasal 6 ayat (2)

Keppres Nomor 14 Tahun 1993, Dana Taperum-PNS bagian 40% dilakukan penempatan dalam bentuk deposito pada Bank BTN dan pada Bank Umum lainnya yang ditunjuk Menteri Keuangan.

3. Sejak tahun 1993, rekening giro “Bapertarum qq Menteri Keuangan” nomor 0001401-30-000151-5 pada bank BTN, dibuka untuk menampung dana PFK Taperum-PNS akun 811211 dan 811912.

- SPM ditandatangani Direktur Pengelolaan Kas Negara. - SP2D diterbitkan KPPN Jakarta II.

4. Sejak 1 Juli 2011 rekening giro Bapertarum-PNS qq Menteri Keuangan hanya terdapat pada Bank BTN.

5. Berdasarkan surat Direktur Jenderal Perbendaharaan, 40% dana Taperum-PNS yang ditempatkan dalam bentuk deposito pada bank yang ditunjuk Menteri Keuangan.

Adapun rincian rekening bapertarum berdasarkan jenis bank adalah sebagai berikut: DEPOSITO GIRO 1 BTN 2.996.738.696.730 97.788.845 2.996.836.485.576 2 BRI Veteran 138.081.569.803 - 138.081.569.803 3 BRI Senen 238.150.219.935 - 238.150.219.935 4 BRI KCK 37.020.747.870 - 37.020.747.870 5 BRI Warung Buncit 90.342.319.711 - 90.342.319.711 6 BRI Kramat 625.433.589.366 - 625.433.589.366 7 BNI Kramat 107.112.550.793 - 107.112.550.793 8 BNI Tangerang 143.460.501.536 - 143.460.501.536 9 BNI Pecenongan 111.339.942.138 - 111.339.942.138 10 BNI Cab. UT Jakpus 26.557.636.924 - 26.557.636.924 11 Mandiri 67.692.003.898 - 67.692.003.898 4.581.929.778.704 97.788.845 4.582.027.567.550 JUMLAH RUPIAH NO BANK JUMLAH

Tabel C95. Rincian Rekening Bapetarum berdasarkan jenis Bank Tahun 2011

Catatan:

Pokok pinjaman KORPRI telah lunas bayar, namun terdapat bunga dan denda yang masih harus dibayar.

Berdasarkan Laporan Keuangan Bapertarum-PNS 2011, total aset sebesar Rp6.807.063.950.338,73, kewajiban sebesar Rp2.860.286.664.356,29, dan total ekuitas bersih sebesar Rp3.946.777.285.982,44.