“FUNDAMENTALIS”, DAN “ISLAMIS”
Di muka, lantaran tak ada istilah yang lebih baik dan kurang kontroversial, dengan syak saya memakai istilah “liberal”, tetapi saya mafhum istilah ini mengandung pengertian yang akan ditolak oleh banyak pemikir yang ditunjuk istilah itu. Para pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) mengadopsi namanya dari sebuah antologi teks berpengaruh tulisan para pemikir Muslim modern dengan
beragam posisi intelektual (Kurzman 1998). Mereka juga telah mempertahankan liberalisme politik dan ekonomi, yang beberapa bagiannya tidak dapat dipisahkan dari liberalisme agama. Yang lain, yang mungkin punya kesamaan pandangan agama dengan JIL, akan keberatan dengan istilah “Islam liberal” justru karena asosiasinya dengan neoliberalisme. Kaum konservatif cenderung memanfaatkan istilah “liberal” untuk memberi label negatif terhadap pelbagai pemikiran agama, menyamaratakannya dengan rasionalisme dan ireligiusitas (ketidakberagamaan).
Istilah “neo-modernis”—yang digunakan oleh sarjana Australia Greg Barton untuk menggambarkan pemikiran Nurcholish Madjid dan teman-temannya (Barton 1995, 1997)— tidak mengandung kesamaan makna ihwal kebijakan ekonomi dan politik, dan memang cocok untuk mereka yang, seperti Nurcholish, terpengaruh oleh Fazlur Rahman, tetapi tidak cocok untuk pemikir seperti Abdurrahman Wahid, yang akar intelektualnya lebih jauh tertanam di sisi tradisionalis ketimbang di sisi reformis pada spektrum yang sama. Beberapa yang menolak label “liberal” lebih suka menyebut pandangan mereka “progresif” atau “Islam emansipatoris”, karena penekanan mereka pada hak asasi manusia (terutama hak perempuan dan kaum minoritas) serta pada pemberdayaan kaum lemah dan tertindas. Sejumlah istilah lain telah diajukan tetapi tak satu pun yang diterima secara luas. Saya menyebut “liberal dan progresif” untuk mengacu kepada semua pemikir dan aktivis yang mengemukakan penafsiran nonliteral atas konsep-konsep Islam.
Istilah “konservatif” mengacu kepada beragam aliran yang menampik semua penafsiran yang modern, liberal, atau progresif atas ajaran Islam, dan berpegang teguh pada doktrin dan doktrin sosial yang sudah mapan. Konservatif cenderung terkenal akan keberatannya terhadap gagasan kesamaan gender dan penentangan terhadap kekuasaan, dan pendekatan hermeneutika modern atas teks-teks agama. Ada unsur konservatif di kubu tradisionalis dan
reformis (misalnya di Nahdlatul Ulama dan di Muhammadiyah), sebagaimana ada unsur liberal dan progresif di kedua kubu.
Yang saya maksud dengan “fundamentalis” adalah aliran yang memusatkan diri pada sumber-sumber tertulis utama Islam, seperti Al-Quran dan hadis, dan berpegang teguh pada pembacaan yang literal dan ketat. Mereka tampak punya beberapa kesamaan pandangan dengan sebagian besar kubu konservatif, seperti penolakan pada hermeneutika dan wacana berbasis hak, tetapi mereka bisa bentrok dengan kubu konservatif mengenai praktik-praktik yang tidak punya dasar rujukan teks yang kuat. Akhirnya, istilah “Islamis” merujuk kepada gerakan-gerakan yang memandang Islam sebagai sebuah sistem politik dan berjuang mendirikan negara Islam.
KEPUSTAKAAN
Barton, Greg. “Indonesia’s Nurcholish Madjid and Abdurrahman Wahid as Intellectual `Ulamâ: The Meeting of Islamic Traditionalism and Modernism in Neo-Modernist Thought”. Studia Islamika 4, no. 1 (1997): 29–81.
Barton, Gregory James. “The Emergence of Neo-Modernism: A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought in Indonesia. A Textual Study Examining the Writings of Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib and Abdurrahman Wahid, 1968–1980”. Tesis doktor. Clayton: Monash University, 1995.
Bruinessen, Martin van. “Islamic State or State Islam? Fifty Years of State-Islam Relations in Indonesia”. In Indonesien am Ende des 20. Jahrhunderts, disunting oleh Ingrid Wessel. Hamburg: Abera-Verlag, 1996. Tersedia daring di <http://www.hum.uu.nl/medewerkers/m. vanbruinessen/publications/Bruinessen_State_Islam_or_Islamic_State.pdf>.
———. “Post-Soeharto Muslim Engagements with Civil Society and Democratization”. Dalam Indonesia in Transition: Rethinking “Civil Society”, “Region” and “Crisis”, disunting oleh Hanneman Samuel and Henk Schulte Nordholt. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. ———. “Arabisering van de Indonesische Islam?” ZemZem, Tijdschrift over het Midden-Oosten,
Noord-Afrika en Islam 2, no. 1 (2006): 73–84.
———. “New Leadership, New Policies? The Nahdlatul Ulama Congress in Makassar”. Inside Indonesia 101, July–September 2010. Daring di <www.insideindonesia.org/>.
———. “What Happened to the Smiling Face of Indonesian Islam? Muslim Intellectualism and the Conservative Turn in Post-Suharto Indonesia”. Kertas kerja. Singapura: S. Rajaratnam School of International Studies, 2011.
———. “Ghazwul Fikri or Arabization? Indonesian Muslim Responses to Globalisation”. Dalam Muslim Responses to Globalization in Southeast Asia, disunting oleh Ken Miichi dan Omar Farouk Bajunid. Akan terbit.
Bush, Robin. “Regional Sharia Regulations in Indonesia: Anomaly or Symptom?” Dalam Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, disunting oleh Greg Fealy dan Sally White. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2008.
Cribb, Robert, ed. The Indonesian Killings 1965–1966: Studies from Java and Bali. Clayton: Centre of Southeast Asian Studies Monash University, 1990.
Crouch, Melissa. “Indonesia, Militant Islam and Ahmadiyah: Origins and Implications”. Islam, Syari’ah and Governance Background Paper Series. Melbourne: Centre for Islamic Law and Society, University of Melbourne, 2009.
Gillespie, Piers. “Current Issues in Indonesian Islam: Analysing the 2005 Council of Indonesian Ulama Fatwa No. 7 Opposing Pluralism, Liberalism and Secularism”. Journal of Islamic Studies 18, no. 2 (2007): 202–40.
Hasan, Noorhaidi. Laskar Jihad: Islam, Militancy and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. Ithaca, NY: Cornell Southeast Asia Program, 2006.
Klinken, Gerry van. “New Actors, New Identities: Post-Suharto Ethnic Violence in Indonesia”. Dalam Violent Internal Conflicts in Asia Pacific: Histories, Political Economies, and Policies, Disunting oleh Dewi Fortuna Anwar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
———.Communal Violence and Democratization in Indonesia: Small Town Wars. London: Routledge, 2007.
Kurzman, Charles, ed. Liberal Islam: A Source Book. New York: Oxford University Press, 1998. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Wacana Islam Liberal. Jakarta: Paramadina, 2001.
Moosa, Ebrahim. Islam Progresif: Refleksi Dilematis tentang HAM, Modernitas dan Hak-hak Perempuan di dalam Hukum Islam. Jakarta: International Center for Islam and Pluralism (ICIP), 2004.
Mujani, Saiful dan R. William Liddle. “Indonesia’s Approaching Elections: Politics, Islam, and Public Opinion”. Journal of Democracy 15, no. 1 (2004): 109–23.
Mujiburrahman. Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order. Amsterdam: Amsterdam University Press, 2006. Tersedia daring di <http://igitur-archive. library.uu.nl/dissertations/2006-0915-201013/index.htm>.
39