Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada tahun 1926, atau satu setengah dekade setelah perserikatan reformis terbentuk. Ia lahir terutama untuk merespons ancaman nyata yang dibawa gerakan reformis terhadap praktik keagamaan tradisional seperti mengunjungi makam wali dan pelbagai praktik pemujaan. Penghapusan kekhalifahan oleh Mustafa Kemal (Ataturk) pada tahun 1924 dan penaklukan Mekah oleh Abd al-Aziz ibn Saud pada tahun yang sama menjadi pemicu penting: para pendiri NU telah bertahun-tahun mengejar pendidikan Islam tradisional di Mekah, dan mereka amat fokus pada perkembangan di Timur Tengah. Menganut Kemalisme, Turki menghapus sekolah
Islam tradisional (madrasah), melarang tarekat sufi, menutup makam-
makam wali; di tanah Arab yang didominasi Dinasti Saudi, makam- makam suci diratakan dengan tanah dan praktik pemujaan tradisional dilarang. Sebab itu, ada kekhawatiran serius bahwa pemberantasan praktik Islam tradisional dan penghapusan kurikulum juga bakal terjadi di Indonesia.
Pembentukan perserikatan formal itu sendiri sebenarnya meru- pakan respons yang modern, yang tidak terjadi dengan sendirinya pada Muslim tradisional, karena hal itu terkait dengan kekuasaan kolonial. Serikat formal memerlukan aturan-aturan yang harus se- suai dengan peraturan Belanda, dan harus ditandatangani di depan notaris. Setelah ulama Jawa yang paling senior di kala itu, Hasyim Asy’ari, sampai pada kesimpulan bahwa dalam keadaan seperti itu, bidah semacam itu dibolehkan, barulah para koleganya berani mengambil langkah yang sama. Nama yang dipilih untuk perserikatan ini—Nahdlatul Ulama adalah frasa Arab yang berarti “kebangkitan ulama”—mengingatkan kita pada gerakan modernisasi kebudayaan di negeri-negeri Arab yang dikenal sebagai al-Nahdah—menandakan adanya kesadaran para pendiri bahwa waktu telah berubah.
Para pendiri NU adalah ulama dan pedagang (banyak yang sekaligus keduanya), dan perserikatan ini telah sejak awal erat dikaitkan dengan pesantren dan kiai-kiai karismatik yang memimpinnya. Yang menjadi konstituen utama NU adalah pesantren-pesantren besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, masyarakat perkotaan yang mereka layani, dan para pebisnis lokal yang punya hubungan timbal balik dengan para kiai. NU menetapkan identitas keagamaannya melalui salah satu unsur inti dalam kurikulum pesantren tradisional: ketetapan
hukum Islam (fikih) yang mengambil satu dari empat mazhab, teologi Asy`ariyah, dan sufisme ortodoks Ghazali—unsur-unsur yang ingin
diganti oleh reformis puritan dengan penyandaran kepada Al-Quran dan hadis saja.8 Namun, hubungan antara NU dan pesantren amat
berbeda dengan hubungan Muhammadiyah dan sekolah-sekolahnya. Bila Muhammadiyah mengendalikan sekolah-sekolah modern mereka, NU tidak punya kewenangan yang setara atas pesantren, 8 Dari empat mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), hanya mazhab Syafii yang
secara tradisional hadir di Indonesia. Secara teoretis, mengenal ketiga mazhab yang lain
akan memungkinkan bertambahnya fleksibilitas. Teologi Ash`ari mencari keseimbangan antara rasionalisme filsafat dan penafsiran literal atas wahyu, yang dua-duanya ia tolak.
Adopsi atas mistisisme Al-Ghazali berarti menolak gerakan mistis yang menyatakan peny- atuan dasar antara Tuhan dengan manusia.
karena pesantren itu milik kiai.9 Kiai punya kekuatan-mengontrol
tertentu yang tidak akan terpikirkan oleh seorang kepala sekolah di Muhammadiyah.
NU awalnya didirikan sebagai perkumpulan kiai, maka ketika kemudian dia berkembang menjadi organisasi yang punya massa pengikut, sang kiai tetap menjadi kaum elite di organisasi itu. Ini bisa kita lihat dari struktur kepemimpinannya, yang menempatkan
semua tingkat eksekutif (Tanfidziyah), paling tidak secara nominal,
ada di bawah dewan keagamaan (Syuriah), yang hanya diisi oleh
para kiai. Maka, tak mengejutkan bila Tanfidziyah cenderung lebih
pragmatis daripada Syuriah dan lebih terlibat dalam perpolitikan dan hubungan dengan para pelaku sosial dan politik, tetapi kiai kerap
dapat menggunakan tekanan besar kepada Tanfidziyah. Keputusan
kebijakan penting diambil dalam musyawarah nasional (munas), di mana kiai memegang pengaruh yang lebih besar ketimbang lainnya, meskipun jumlah mereka kalah besar dengan jumlah anggota.
NU menjadi partai politik setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Pada pemilihan anggota parlemen tahun 1955, NU berhasil menjadi partai terbesar ketiga dengan perolehan suara 18.5 persen. Keluwesan para pemimpinnya membuat organisasi ini bertahan melewati tahun-tahun Demokrasi Terpimpin di bawah Sukarno, dan peralihan era Orde Baru di bawah Soeharto. Tahun 1973, rezim Soeharto memaksa semua partai Islam untuk bergabung menjadi satu ke dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan hilanglah NU sebagai partai politik independen (meski anggotanya tetap menjadi kelompok yang menonjol di PPP). Penggabungan itu, bagaimanapun, berdampak pada keberadaan NU sebagai perkumpulan keagamaan dan pendidikan. Sedekade kemudian, pada tahun 1984, NU memutuskan menarik diri sepenuhnya dari partai politik, memutus hubungan istimewanya dengan PPP, dan melarang anggotanya memegang jabatan ganda di NU dan di partai politik.
Keputusan ini terjadi bersamaan dengan naiknya Abdurrahman
Wahid sebagai ketua Tanfidziyah; ia memegang jabatan ini selama
tiga periode (1984–1999). Selama periode itu, dia tumbuh menjadi salah satu warga sipil paling berpengaruh di Indonesia, seorang lawan bagi otoritarianisme Soeharto dan sekaligus lawan bagi Islam politis. Segera setelah rezim Soeharto runtuh, Abdurrahman Wahid sendiri malah mendirikan partai politik yang ia maksudkan sebagai kendaraan bagi NU dan ambisi pribadinya, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Namun, tetap ada pemisahan formal antara NU dan partai- partai politik.
NU merupakan organisasi nasional sejati. Cabang-cabang aktifnya ada di semua provinsi (bahkan termasuk Papua) meski provinsi satu
dengan lainnya punya perbedaan kekuatan yang signifikan. Pusatnya
tetap di Jawa Timur, diikuti Jawa Tengah. Di luar Jawa, Sumatra Utara (lebih tepatnya, kelompok etnis Batak Mandailing) dan Kalimantan Selatan (Banjar) menjadi dua daerah terkuat NU.10