Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tahun 1912 dan menjadi perserikatan reformis (modernis) pertama di Indonesia. Aktivitas Muhammadiyah yang paling menonjol selama ini adalah di bidang pendidikan dan kerja sosial. Ia telah mendirikan banyak
sekolah, rumah sakit dan panti asuhan, menyerupai misi Kristen. Sekolah-sekolah Muhammadiyah mengutamakan bidang studi modern; pelajaran agama mendapat porsi yang tidak banyak, dan menggunakan teks bahasa Indonesia, bukan teks berbahasa Arab.
Di kalangan Muhammadiyah, wilayah Yogyakarta dan Sumatra Barat dipandang sebagai dua kutub yang bersaing, mencerminkan dua gaya pembaruan. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, adalah pejabat keagamaan di Keraton Kesultanan Yogyakarta, dan pemimpin pusat organisasi itu telah lama mencari jalan tengah antara merombak ketatnya praktik keagamaan dan menyesuaikan diri dengan praktik budaya Jawa. Sumatra Barat memiliki tradisi pembaruan yang kuat bahkan sebelum Muhammadiyah muncul, dan cabang-cabang Muhammadiyah di Sumatra cenderung lebih puritan (yakni memberikan penekanan yang lebih kuat pada pemurnian Islam dari praktik-praktik yang tidak didukung oleh Al-Quran dan hadis) daripada cabang-cabang di Jawa.3
Di masa kolonial, ada korelasi tertentu antara Muhammadiyah dan kewirausahaan Muslim: pembuat dan pedagang batik di Yogyakarta dan Pekalongan adalah pendukung kuat Muhammadiyah. Setelah kemerdekaan, Muhammadiyah kemudian berubah menjadi perserikatan pegawai negeri sipil (PNS) Muslim, dan kini organisasi ini diliputi dengan etos PNS. Perhatiannya pada dunia pendidikan masih sama: Muhammadiyah masih mengontrol jejaring besar sekolah—mulai SD, SMP, dan SMA, bahkan hingga universitas. Muhammadiyah terwakili dengan kuat di eselon-eselon tinggi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan di periode pasca- Soeharto, Muhammadiyah telah berhasil menguasai kementerian itu dan menanamkan pandangan-pandangannya ke dalam undang- undang.4
3 Tentang reformisme Muhammadiyah, lihat Federspiel (1970), Nakamura (1980), Peacock (1978b); tentang Muhammadiyah dan budaya Jawa: Burhani (2005), Nakamura (1983); ten-
tang pembaruan gaya Sumatra dan Muhammadiyah: Hamka (1974).
4 Namun, pada di masa jabatan kedua Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden, M - hammadiyah kehilangan jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menteri yang men-
Perserikatan reformis lain yang didirikan pada waktu yang hampir bersamaan adalah Al Irsyad dan Persis. Ketiganya merupakan pembaru dalam bidang doktrin keagamaan (dalam hal penolakan mereka terhadap ajaran dan praktik yang tidak ada di ajaran Islam yang asli) sekaligus metode pendidikan. Selain ketiganya, ada sejumlah organisasi reformis lainnya yang penting di tingkat regional, yang selebihnya akan kita bicarakan di bawah ini.
Al Irsyad muncul pada tahun 1913 dari kalangan komunitas
Arab Indonesia, setelah konflik antara para sayyid—yang mengaku
sebagai keturunan Nabi, yang atas dasar karisma yang diturunkan itu menyatakan berhak atas keistimewaan-keistimewaan tertentu— dan pemikir progresif yang menyatakan bahwa semua manusia punya
kedudukan yang setara. Konflik ini membelah organisasi pendidikan
dan kesejahteraan Arab Jamiat Chair (al-Jam`iyya al-Khayriyyah), yang telah dibentuk pada awal tahun 1905. Al Irsyad tetap menjadi perserikatan yang eksklusif bagi etnis Arab non-sayyid, yang amat terpengaruh oleh reformasi Mesir (dan nasionalisme Arab). Ia mendirikan sekolah-sekolah menengah bahasa Arab, dengan menggunakan buku-buku teks dari Mesir. Jamiat Chair, untuk selanjutnya, tetap dalam genggaman kuat kubu sayyid.5 Al Irsyad
pada awalnya mempunyai orientasi yang progresif tetapi kemudian kian menjadi puritan dan konservatif, bergerak mendekati Islam
Salafi versi Saudi.
Persis (singkatan dari Persatuan Islam) didirikan pada tahun 1923 oleh sekelompok orang Sumatra berpikiran reformis yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, yang dimotori oleh seorang lelaki sederhana keturunan India yang belajar agama secara mandiri, A. Hassan, sebagai pemikir keagamaan yang utama. Di antara semua gerakan pembaruan di Indonesia, inilah gerakan yang paling tidak politis dan paling puritan, memusatkan dirinya pada pemurnian ritual
5 Konflik itu membelah komunitas Arab di Indonesia dan imbasnya di Hadramaut sendiri
dan keyakinan, sampai pada penyikapan yang jelas pada masalah- masalah sosial ekonomi. Bandung tetap menjadi pusat organisasi ini, dengan sebuah pesantren modernis sebagai lembaga pendidikan terpenting pertamanya. Pusatnya yang kedua kemudian muncul di Jawa Timur, saat Abdul Qadir, putra A. Hassan, menetap di sana. Dia membangun sekolah agama di sana dan mulai menerbitkan jurnal yang berpengaruh, Al-Muslimun, yang menarik khalayak pembaca hingga ke selain anggota Persis.6
Persis mewakili versi Salafisme yang lahir dan tumbuh di dalam
negeri, menekankan pada kepatuhan yang kuat pada Al-Quran dan hadis, dan tanpa henti melawan keyakinan dan praktik yang kemudian disebut bid’ah. Meski merupakan organisasi yang kecil, ia cukup berpengaruh karena pemikir utamanya dihormati oleh para reformasi yang lain. Anggotanya yang paling terkenal sekaligus yang paling berpengaruh adalah Mohamad Natsir, yang semasa perjuangan kemerdekaan bergabung dengan Partai Masyumi dan menjadi pemimpinnya yang terkemuka.
Sebuah jenis perserikatan yang amat berbeda dari lainnya, yang terang-terangan lebih politis ketimbang yang lain, adalah Sarekat Islam (SI). Didirikan pada tahun 1912 sebagai perserikatan pedagang pribumi untuk melindungi kepentingan-bersama dalam persaingan mereka dengan pedagang Tionghoa, ia segera tumbuh menjadi perserikatan nasionalis Muslim, yang menarik pengikut dari pelbagai wakil penduduk pribumi. Sekitar tahun 1920, beberapa cabang memiliki anggota dari kelas pekerja (Semarang) atau dari petani (Solo) dan terhanyut untuk membentuk komunis Muslim, yang berimbas pada terpecahnya organisasi ini menjadi SI “Merah” dan SI “Putih”—yang disebut terakhir ini dilindungi oleh pemerintah kolonial, sedangkan yang disebut di muka ditekan.7 Sarekat Islam
6 Studi terbaik tentang Persis adalah Federspiel (2001). Pijper (1977) memuat potret yang simpatik mengenai A. Hassan. Lihat juga Anshari dan Mughni (1985).
7 Tentang tahun-tahun Sarekat Islam yang bergolak, lihat Shiraishi (1990) dan Elson (2009); tentang Sarekat Islam “merah” dan pemberontakan komunis Muslim di Banten, lihat Wil-
sebenarnya bukanlah gerakan reformis Muslim, tetapi merupakan gerakan massa modern pertama di Indonesia dan menjadi salah satu partai politik pertama di Indonesia (Partai Sarekat Islam, dan sejak tahun 1929 dan seterusnya, berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia, PSII). PSII punya pengaruh yang bertahan lama terhadap agenda sosial dan politik gerakan-gerakan lain. Ia kehilangan pengaruhnya yang mengesankan itu pada tahun 1930-an tetapi masih bertahan memasuki masa kemerdekaan, hingga akhirnya dilebur secara paksa bersama partai-partai Muslim lainnya ke dalam PPP pada tahun 1973.