Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh pada tahun 1995 menandai dimulainya pertikaian antara kubu “Islam progresif” dan “Islam murni” di Muhammadiyah. Awalnya, kelompok liberal berada di atas angin. Muhammad Amien Rais—seorang doktor di bidang ilmu politik dari Universitas Chicago sekaligus seorang profesor di Universitas Gadjah Mada—terpilih menjadi ketua umum. Di masa kepemimpinannya, wajah-wajah baru, khususnya para guru besar universitas, masuk menjadi pimpinan Muhammadiyah tingkat pusat. Sejumlah pembaruan keagamaan juga diperkenalkan selama masa kepemimpinannya ini. Perubahan Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (MTPPI), penerbitan buku Tafsir tematik al-Qur’an tentang hubungan sosial antarumat beragama, dan keputusan untuk menetapkan bahwa seni itu mubah (dibolehkan), meralat keputusan sebelumnya yang menilai bahwa seni adalah haram adalah beberapa contoh bagaimana organisasi ini menampung ide-ide progresif.
Perubahan di Muhammadiyah bahkan lebih besar lagi setelah Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000.
Muktamar itu menetapkan Ahmad Syafii Maarif sebagai ketua umum.
Maarif adalah seorang cendekiawan progresif pemegang gelar Ph.D. di bidang pemikiran Islam dari Universitas Chicago, di mana dia belajar di bawah bimbingan intelektual Islam terkemuka yang juga seorang neomodernis, Fazlur Rahman. Muktamar juga memilih dan mengangkat sejumlah pemikir progresif, seperti Amin Abdullah, Abdul Munir Mulkhan, dan Dawan Rahardjo, ke dalam jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah.7 Perkembangan ini bisa menjelaskan
7 Abdullah adalah guru besar filsafat Islam dan mantan rektor Universitas Islam Negeri Y -
gyakarta. Mulkhan juga guru besar pendidikan Islam di UIN Yogyakarta. Rahardjo adalah
mengapa Muhammadiyah mengalami gejolak intelektual yang besar pada masa kepemimpinan Maarif. Pada masa kepemimpinannya, ide progresif mendominasi gerakan itu dan perlahan mulai menjadi program Muhammadiyah. Termasuk di antaranya adalah program untuk pembaruan pemikiran keagamaan, seperti penafsiran kembali sikap teologis mengenai hubungan lintas agama dan dakwah kultural atau upaya pribumisasi Islam sebagai ganti dari upaya mengislamkan budaya lokal. Program dakwah kultural in sering berbenturan dengan paradigma puritanisasi yang menentang semua unsur agama yang datang dari luar Islam.
Meningkatnya kelompok “Islam progresif” memancing perla- wanan dari mereka yang memiliki pandangan keagamaan yang berbeda. Pada mulanya, perbedaan ini hanya pada level perbedaan penafsiran atas perkara-perkara cabang (furu‘iyyah) dalam hukum
fikih, seperti bagaimana Muhammadiyah menilai tari tradisional,
yang kadang menampilkan gerak tubuh yang “erotis”, atau budaya tradisional lainnya yang tidak sejalan dengan semangat modernisme. Namun, perbedaan itu lantas beranjak dari persoalan perbedaan penafsiran menuju persoalan yang serius. Beragam cara dilakukan untuk meredam pembaruan keagamaan yang diajukan kelompok “Islam progresif” yang, dalam pandangan kelompok “Islam murni”, menyimpang terlalu jauh dari misi Muhammadiyah.
Contoh paling kentara dari perebutan pengaruh antara
“Islam progresif” dan “Islam murni” ini terlihat dalam konflik
antara penghuni lantai tiga dan empat Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (GPDM), kantor pusat Muhammadiyah di Menteng, Jakarta. Lantai tiga GPDM didiami oleh Majelis Tabligh, sedangkan lantai empat dihuni oleh IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, dan Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP).8 Kedua kelompok ini
8 Tidak seperti kantor pusat Muhammadiyah, di beberapa daerah, termasuk di Jawa Timur dan Sulawesi, pelajar dan beberapa anggota Pemuda Muhammadiyah banyak yang con- dong ke kubu “Islam murni”. Pada saat kemunculan gerakan Tarbiyah, mereka juga lebih
bersaing di beragam arena, seperti seminar, diskusi, penerbitan, dan acara lain. Mereka biasanya mempunyai program yang saling berlawanan. Contohnya, saat PSAP mengangkat tema pluralisme dan multikulturalisme di dalam jurnalnya, Jurnal Tanwir, Majelis Tabligh menanggapi dengan tulisan-tulisan yang berseberangan di majalah mereka, Majalah Tabligh.9 Selama Muktamar Muhammadiyah ke-45 di
Malang, kubu konservatif mendirikan stan yang dinamai Pojok Anti Liberal, yang menjual buku, DVD, kaos, majalah, dan pernak-pernik lain yang antiliberal. Dengan mencolok, beberapa kaos yang dijual menampilkan tulisan “Muhammadiyah Anti-Liberal”.
Seperti tecermin di beberapa kepala berita Majalah Tabligh, topik diskusi, dan bahan lain yang dihasilkan oleh dua kelompok yang bersaing ini, masing-masing kelompok mengklaim bahwa merekalah yang mewakili kebenaran, seraya mendiskreditkan dan merendahkan lawan-lawan mereka. Pluralisme dan liberalisme merupakan isu yang digunakan oleh kelompok “Islam progresif” untuk membongkar dan membangun kembali gerakan Muhammadiyah. Dengan cara ini, kelompok “Islam progresif” berusaha meyakinkan warga Muhammadiyah dan khalayak di luar organisasi tentang perlunya perubahan di Muhammadiyah. Di pihak yang berlawanan, kubu “Islam murni” meyakinkan bahwa apa yang diajukan oleh kelompok “Islam progresif”, yang di mata mereka amat berbahaya, hanya akan membawa Muhammadiyah ke dalam kehancuran dan kebinasaan.
Kelompok “Islam murni” mengutuk pluralisme, liberalisme, dan penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan Al-Qur’an sebagai
terpengaruh oleh gerakan yang ideologinya berasal dari Ikhwanul Muslimin Mesir ini ketim- bang oleh ajaran-ajaran Muhammadiyah.
9 Beberapa edisi dari majalah Tabligh, media utama yang digunakan kelompok “Islam murni”
untuk melawan kelompok progresif, berisi artikel-artikel yang dengan agresif mengecam
pandangan progresif. Tabligh 02/07/Februari 2004, Tabligh 02/08/Maret 2004, dan Tabligh 02/09/April 2004 adalah contoh edisi khusus yang dipakai untuk menyerang arus progresif. Beberapa kepala berita di majalah Tabligh adalah: “Laisa Minna: Liberalisme, Pluralisme, Inklusivisme”, “Virus Liberal di Muhammadiyah”, Liberal Meracuni Kalangan Muda” dan “Talbis Iblis Fiqih Pluralis”. Talbis Iblis awalnya adalah judul buku karangan al-Ghazali. Judul
yang sama kemudian dipakai oleh Ibn al-Jawzi untuk melawan al-Ghazali dan untuk menya- takan permusuhan Ibn al-Jawzi pada tasawuf.
metode yang bertujuan tidak lain dari upaya untuk melumpuhkan Islam. Akademisi Barat mungkin merasa aneh dengan fenomena ini; mengapa hermeneutika—sebuah metode untuk memahami kitab suci—dikecam oleh kelompok “Islam murni”. Namun, kelompok “Islam murni” ini percaya bahwa hermeneutika bukanlah metode yang netral. Hermeneutika adalah pendekatan Barat (tepatnya, Kristen) yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan karena itu harus ditolak (Pasha 2004). Pluralisme dan liberalisme juga dianggap berlawanan dengan doktrin Islam. Bagi “Islam murni”, pluralisme sering dimaknai sebagai menyamakan semua agama. Dan bagi mereka, kepercayaan bahwa semua agama sama-sama sah adalah melanggar keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Sementara itu, penolakan mereka kepada liberalisme didasarkan pada keyakinan bahwa paham ini berbenturan dengan prinsip dasar Islam bahwa semua Muslim harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam menanggapi hermeneutika, pluralisme, dan liberalisme, kelompok ini berjuang untuk menjaga kelangsungan metode klasik dalam menafsirkan Al-Quran, seperti menggunakan tafsir klasik, mempertahankan keyakinan tentang superioritas Islam, dan berpegang teguh pada keyakinan tentang peran sentral wahyu dalam kegiatan manusia.
Untuk melemahkan kelompok “Islam progresif” dan program mereka, kelompok “Islam murni” tidak ragu-ragu untuk meng- gambarkan lawannya sebagai “virus” atau “racun”. Mereka kerap menggambarkan kaum liberal sebagai “perusak”, dan kadang-kadang menuduh mereka sebagai agen Yahudi atau Amerika yang semata- mata bermotifkan keserakahan (Pasha 2004; Tabligh 2004 b 2004 c; Hidayatullah 2005). Sebutan-sebutan itu sering digunakan untuk meyakinkan orang tentang potensi bahaya yang ditimbulkan oleh pemikiran yang diusung oleh “Islam progresif”: bahwa pikiran seperti itu akan bertindak laksana racun atau virus, dan itu akan menghan- curkan Muhammadiyah dan Islam.
Sebagai contoh, salah satu responden dari penelitian ini, yakni pemimpin Muhammadiyah wilayah Yogyakarta, mengisyaratkan bahwa liberalisme agama lebih berbahaya daripada gerakan Tarbiyah radikal yang menyusupi Muhammadiyah. Ia mengklaim bahwa liberalisme merusak sendi-sendi Islam:
Dalam konteks teologi, liberalisme jauh lebih berbahaya [daripada gerakan Tarbiyah]. Ideologi ini menusuk tepat ke jantung Islam. Ideologi ini percaya pada kenisbian kebenaran dan konsekuensinya; ia juga memercayai bahwa semua agama sama-sama benar. Gerakan Tarbiyah tidak seberbahaya itu. Dalam soal keyakinan dan praktik, Tarbiyah tidak berbeda jauh dari Muhammadiyah. Bahkan dalam pengajaran agama, Tarbiyah memiliki semangat yang sama dengan Muhammadiyah, yaitu semua dikembalikan ke Al-Quran dan Sunnah.
Konflik antara Muhammadiyah dan Tarbiyah lebih terkait masalah
organisasi dan etika beragama.10
Kubu “Islam progresif” juga menggunakan cara yang sama untuk mencemooh lawannya. Selain menyebut kubu “Islam murni” dengan nama-nama yang merendahkan, kelompok liberal juga menggambarkan tindakan kubu konservatif sebagai jahat dan berbahaya. Dalam beberapa kesempatan, mereka menunjukkan potensi merusak dan ancaman yang dikeluarkan oleh kubu konservatif. Dalam pandangan mereka, perspektif keberagamaan kelompok konservatif itu merupakan akar dari kemunduran, kekakuan, ketidakkreatifan, dan kemandekan (Qodir 2003; Baidhawy 2006). Kubu liberal ingin meyakinkan warga Muhammadiyah akan perlunya mengadopsi perspektif baru dan menghindari pola pikir konservatif.
Dalam beberapa kesempatan, mereka meninggalkan cara-cara diskursif dan beralih menggunakan kekerasan. Tanggapan kelompok konservatif atas buku berjudul Tafsir tematik al-Qur’an yang diterbitkan
oleh MTPPI (atas prakarsa dan disunting oleh ketuanya, Amin Abdullah) bisa dijadikan sebagai contoh. Setelah diluncurkan, buku itu menjadi kontroversial di Muhammadiyah. Buku ini menampilkan metode hermeneutika baru untuk menafsir Al-Quran, perspektif baru tentang pluralisme, dan metode baru untuk memahami agama—yang semuanya dikutuk sebagai “pemikiran liberal” oleh kelompok “Islam murni”. Buku ini mengemukakan bahwa seorang Muslim laki-laki diizinkan untuk menikahi tidak hanya orang Kristen, tetapi juga orang Yahudi, Buddha, Hindu, dan lainnya. Buku ini bahkan menyatakan bahwa secara teori, Muslimah bisa menikah dengan pria beda agama, asal yang bukan penganut politeisme (al-musyrikun). Buku ini juga berpendapat bahwa keselamatan bukan hanya milik umat Islam, tetapi ada juga keselamatan di agama lain (MTPPI 2000).
Atas pandangan-pandangannya itu, buku ini menuai tanggapan yang heboh. Sekelompok anggota Muhammadiyah yang menamakan diri mereka Warga Muhammadiyah Pembela Syariat (WMPS) menyerang buku itu melalui pelbagai media termasuk khotbah Jumat (Latief 2003). Mereka menuntut agar Muhammadiyah menarik buku itu dari peredaran dan mencegah anggotanya untuk membacanya.