• Tidak ada hasil yang ditemukan

(APPP) GMPP Kecamatan GMPP Kabupaten PEMERINTAH DAERAH (DINAS PENDIDIKAN) GMPP Desa/Kelurahan

146 2. Rules (Aturan-aturan)

Aturan tentang keikutsertaan masyarakat dan dunia usaha tertuang dalam Perda Kabupaten Deli Serdang No. 5 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Kabupaten Deli Serdang. Berdasarkan data yang diperoleh masyarakat dan dunia usaha wajib untuk memberikan kontribusi terhadap pendidikan. Dalam kolaborasi program CERDAS masyarakat dan dunia usaha dipersilahkan untuk berpartisipasi sesuai dengan kapasitasnya. Selanjutnya Bapak Yusnaldi selaku Kabid Ketenagaan dan Pembinaan menambahkan masyarakat dan pengusaha harus merasa terpanggil dan ikhlas dalam memberikan dukungan, dan GMPP di setiap level harus mengetahui bagaimana tugasnya. Baik itu GMPP kabupaten, kecmatan, dan desa/kelurahan harus mengetahui bagaimana mereka bertindak sesuai dengan aturan yang telah disepakati.

Namun, gerakan dalam program CERDAS tidak terorganisir, hal ini bisa indikasi daripada tidak adanya GMPP yang merata sampai pada level desa. Struktur yang tidak terorganisir, hal ini dapat dibenarkan karena peraturan bupati terkait bagaimana struktur dan mekanisme kerja GMPP tidak ada sehingga aparatur pemerintahan baik di kecamatan dan desa/kelurahan tidak mengetahui bagaimana aturan yang jelas tentang program CERDAS.

Melalui analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa sudah ada langkah yang baik ketika CERDAS diperdakan dalam sistem pendidikan Kabupaten Deli Serdang, namun masih perlu dukungan regulasi yang mengatur struktur dan mekanisme program CERDAS sehingga gerakan-gerakan yang memiliki nilai positif dapat dijalankan dan disebarluaskan.

3. Self Determination (Kebebasan dalam menentukan jaringan)

Kolaborasi yang dijalankan oleh ketiga sektor bersifat terbuka bagi siapa saja yang tergerak hatinya untuk memberikan bantuan. Pelaku usaha dan masyarakat bisa memberikan bantuan secara berkelompok atau sendiri dan tanpa harus melapor kepada pemerintah setempat. Model kolaborasi program CERDAS adalah terbuka, dan mandiri. Di lain sisi masyarakat dan dunia usaha diwajibkan dalam memberikan bantuan dalam menigkatkan mutu fisik sekolah dan mutu

147

pendidikan. Bantuan yang dimaksud adalah berupa bantuan dana, alat penunjang dalam pembelajaran, tenaga, dan juga pikiran. Setiap stakeholder diwajibkan memberikan bantuan sesuai dengan kapasitasnya. Namun kenyataan dilapangan adalah gerakan seperti ini jarang ditemukan, karena tidak adanya rasa kepemilikan sekolah pada masyarakat disamping tidak adanya tokoh penggerak.

4. Network Management

Ada empat aspek yang dilihat dalam manajemen jaringan, yaitu: resolusi penolakan, alokasi sumberdaya, kontrol kualitas, dan pemeliharaan organisasi. Dalam kolaborasi tentu terjadi konflik karena beberapa organisasi yang memiliki budaya berbeda memutuskan untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan yang sama pula.

Penolakan dalam kolaborasi CERDAS adalah adanya pihak yang ingin merasa lebih unggul dari pada pihak lainnya, seperti data yang peneliti peroleh yaitu adanya rencana pembuatan buku CERDAS namun tidak terbit karena ada yang ingin mendominasi. Alokasi sumber daya menurut informan bisa berupa sumbangan dana, alat penunjang pendidikan, dan ide/gagasan. Alokasi sumberdaya terbesar sampai saat ini dapat dipastikan berasal dari pemrintah daerah hal ini dapat dilihat dari semakin membaiknya regulasi finansial pada sektor pendidikan, sedangkan alokasi dari masyarakat masih sangat dibutuhkan terlebih dalam meningkatkan mutu anak di rumah. Selain sumber daya finansial sumber daya manusia dalam program CERDAS masih sangat dibutuhkan, sebab hasil data yang peneliti dapatkan masih ada aparatur pemerintahan desa/kelurahan serta pihak sekolah yang tidak mengetahui bagaimana sistem penyelenggaraan pendidikan dengan program CERDAS. Kenyataan selanjutnya adalah ketika aparatur desa/kelurahan dan pihak sekolah tidak mengetahui bagaimana program CERDAS, bagaimana masyarakat yang berada dilingkungan sekolah dapat mengetahui program tersebut.

Menurut informan, gerakan CERDAS tidak terorganisir, masyarakat bisa langsung memberikan bantuan kepada sekolah atau melaporkan dahulu kepada pihak pemerintahan desa/kelurahan. Struktur kolaborasi pada CERDAS

148

mengharuskan adanya komunikasi yang intens dari setiap pihak, hal ini untuk menghindari keputusan yang desentralisasi. Selama ini yang mengontrol tentang bagaimana mutu fisik sekolah dan mutu pendidikan hanya dari pemerintah daerah (Dinas Pendidikan).

E. Access to authority (Akses terhadap kekuasaan)

Dalam berkolaborasi harus ada ketentuan-ketentuan prosedur yang jelas dan diterima oleh setiap pihak. Pada saat program CERDAS pertama kali dilaksanakan ada strategi yang di rancang oleh pemerintah dan tokoh masyarakat (Bapak Sulaiman), yaitu: menghadirkan Bupati dan pejabat daerah dalam pencanangan program CERDAS dan saat pengumpulan dana, mengubah paradigma berpikir masyarakat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, ajak masyarakat untuk berpsartisipasi, tumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya arti skolah, berikan dana pancingan saat pengumpulan dana berlangsung, berdayakan GMPP dan APPP, bentuk panitia CERDAS di tingkat desa.

Pada kolaborasi program CERDAS pemerintah memberikan otoritas kepada masyarakat dan dunia usaha untuk ikut serta dalam meningkatkan mutu fisik sekolah dan mutu pendidikan. Otoritas tersebut haruslah jelas sehingga pihak yang berkolaborasi mengerti apa yang harus dilakukannya. Dalam hal ini APPP (dunia usaha) memiliki otoritas membantu sekolah secara langsung ataupun melalui pemerintah dalam bentuk CSR. Selanjutnya GMPP (masyarakat) memiliki otoritas dalam membantu pemerintah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Ketika program CERDAS dicanangkan, tokoh masyarakat berhasil menarik perhatian masyarakat untuk ikut ambil peran dalam membangun sekolah. Lain hal nya dengan peningkatan mutu yang sampai saat ini masih menjadi fokus utama. Dalam aspek apresiasi terhadap sekolah menurut informan masih kurang, seperti ketertarikan masyarakat pada pendidikan hanya pada menyekolahkan anak nya saya. Perhatian masyarakat pada keadaan sekolah masih kurang. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Miska selaku Kabid Pendidikan PAUD dan Pendidikan Keluarga bahwa orang tua beranggapan pendidikan utama seorang anak adalah di sekolah, padahal orang tua murid merupakan guru dalam meningkatkan mutu

149

pendidikan anak-anak nya dirumah. Kondisi yang seperti ini berbeda dengan pencanangan program CERDAS pertama kali. Pemerintah sudah memberikan otoritas kepada masyarakat dan pengusaha namun rasa kebersamaan, kepedulian, dan rasa saling memiliki masih kurang. Tidak hanya peran masyarakat dan dunia usaha yang sudah mulai berkurang, tetapi peran pemerintahan di level kecamatan dan desa/kelurahan masih kurang.

Maka dapat disimpulkan bahwa otoritas yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dan dunia usaha belum dimanfaatkan secara maksimal karena beberapa faktor seperti paradigma berpikir orang tua yang beranggapan pendidikan seorang anak adalah di sekolah. Padahal jika orang tua menyadari perannya tentu akan mengontrol anak-anaknya di lingkungan rumah. Pentingnya pendidikan dirumah merupakan kesempatan orang tua dalam menanamkan etika dan norma. Kapasitas setiap pihak dalam kolaborasi merupakan potensi penting dalam mengatasi masalah yang ada.

F. Distributive accountability / responsibility (Pembagian akuntabilitas / responsibilitas)

Dalam kolaborasi program CERDAS dulunya pemerintah, masyarakat (tokoh masyarakat), dan pihak swasta sering mengunjungi daerah-daerah yang memiliki kondisi sekolah kurang layak. Ketiga pihak memiliki rasa tanggung jawab yang sama karena memiliki tujuan yang sama yaitu memperbaiki kondisi fisik sekolah dan meningkatkan mutu sekolah. Pada saat pertama kali dilaksanakan pemerintah memang tidak memiliki anggaran yang cukup untuk merehabilitasi sekolah yang ada, terkecuali harus mengikutsertakan masyarakat dan swata.

Karena partisipasi masyarakat yang sangat besar keadaan sekolah yang hampir seluruhnya rusak dapat diperbaiki dalam waktu 2 tahun. Tugas selanjutnya adalah meningkatkan mutu pendidikan, memperbaiki mutu pendidikan tidaklah semudah membangun sekolah yang rusak. Meningkatkan mutu pendidikan seperti tenaga pendidik, sarana prasarana, dan murid tetap harus dilakukan secara bersama-sama oleh ketiga pihak yang berkolaborasi.

150

Sekarang keadaan sumber daya finansial pemerintah daerah sudah semakin membaik, sehingga pemerintah memiliki sumber daya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sehingga kini pemenuhan sarana dan prasarana belajar dan peningkatan tenaga pendidik secara umum dipenuhi oleh APBD, kendati demikin bantuan dari masyarakat dan dunia usaha tetap ada walau tidak disemua daerah.

Dalam program CERDAS sistem pertanggunjawaban keuangannya berbeda. Pertanggungjawaban yang berasal dari APBD berbeda dengan pertanggungjawaban hasil swadaya masyarakat. Sekolah yang direhabilitasi ataupun pembangunan ruang kelas baru dengan menggunakan APBD memiliki pelaporan dan tanggung jawab yang jelas dan harus mengikuti peraturan perundang-undangan. Perencanaan tersebut melalui musrenbang desa, selanjutnya desa mengusulkan ke kecamatan, dan kecamatan mengusulkan kepada kabupaten, semua perencanaan teersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam aplikasi e- planning. Pertanggungjawabannya juga harus sesuai peraturan perundang- undangan. Kalau rehabilitasi gedung sekolah yang melalui program CERDAS tidak masuk dalam dokumen perencanaan. CERDAS dilakukan dengan gerakan swadaya masyarakat dan dunia usaha. Pertanggungjawabannya kepada panitia CERDAS yang selanjutnya dilaporkan kepada GMPP desa, kecamatan, dan selanjutnya ke kabupaten.

Selanjutnya pengelolaan informasi program CERDAS seperti daftar bantuan yang diperoleh dari masyarakat dan dunia usaha tercatat di Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang. Data bantuan masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan mutu fisik sekolah dan mutu pendidikan hanya sampai tahun 2009. Melalui data tersebut tentu keberlanjutan program CERDAS sampai sekarang dipertanyakan.

Dalam pembagian tanggung jawab, panting bagi setiap stakeholder untuk membawa sumber daya organisasinya untuk mencapai satu tujuan bersama. Ketika organisasi tersebut tidak dapat mengkondisikan sumberdaya yang dimilikinya untuk pencapaian tujuan maka dapat dipastikan kolaborasi tersebut tidak efektif. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pihak sekolah yang mana partisipasi masyarakat masih kurang, sehingga sebagian besar bantuan yang

151

ada di sekolah adalah bantuan dari pemerintah kabupaten. Bantuan dari masyarakat sangat minim karena paradigma masyarakat yang masih menganggap pendidikan adalah otoritas tunggal pemerintah. Sehingga bisa dipastikan tidak ada pencatatan bantuan yang ada selain dari APBD.

Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan yang seharusnya merupakan wadah bagi masyarakat seakan tidak segencar pertama kali program CERDAS dicanangkan. Fakta dilapangan adalah tidak adanya GMPP di desa/kelurahan. Untuk kecamatan Deli Tua dari sembilan SDN ada lima SDN yang pernah mendapat bantuan dari program CERDAS.

Tabel 6.1.1

Data SDN yang Mendapatkan Bantuan Melalui Program CERDAS di Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang

No. Nama Sekolah

Jenis Bantuan Besar Bantuan (Rp) Sumber Tahun 1 SDN 101798 Pemasangan Pavingblok 3.000.000 GMPP 2006 2 SDN 101801 Rahabilitasi Dinding Kelas 12.000.000 GMPP 2006 3 SDN 104213 Meubilier Kelas 7.000.000 GMPP/Masyarakat 2007 4 SDN 104214 Rehabilitasi Dinding Kelas 12.000.000 GMPP 2007 5 SDN 108075 Rehabilitasi Asbes Ruangan 11.000.000 GMPP 2007 6 SDN 105300 - - - -

152 7 SDN 101797 - - - - 8 SDN 101799 - - - - 9 SDN 108001 - - - -

Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang G. Information Sharing (Berbagi informasi)

Penyebaran informasi terkait bagaimana mekanisme program CERDAS merupakan salah satu poin yang tidak kalah penting, karena dengan adanya kegiatan transfer pengetahuan tentang CERDAS maka kolaborasi akan semakin efektif. Setiap stakeholder harus diberikan akses informasi tentang program CERDAS.

Dulu sosialisasi program CERDAS dilakukan oleh ketiga pihak yaitu pemerintaha daerah (dalam hal ini Dinas Pendidikan), masyarakat, dan dunia usaha. Sosialisasi dilakukan dengan mandatangi daerah-daerah yang memiliki kondisi sekolah yang menghkawatirkan. Pertemuan dari setiap pihak hanya terjadi pada saat pencanangan saja. Tidak ada pertemuan yang rutin atau terjadwal.

Semua bantuan yang terkumpul saat pencanangan harus dilaporkan secara priodik kepada Dinas Pendidikan, hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Dinas Pendidikan kepada bupati. Setelah tahun 2008, tidak ada lagi pergerakan sosialisasi ke lapangan sehingga informasi tentang CERDAS tidak berlanjut. Kendati demikian pemerintah daerah (Dinas Pendidikan) melakukan penyebaran informasi CERDAS melalui spanduk yang dipasang pada sekolah.

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa banyak pihak baik itu pihak sekolah, pihak pemerintahan desa/kelurahan, dan masyarakat tidak mengetahui program CERDAS. Maka dapat disimpulkan bahwa sosialisasi penyebaran informasi tentang CERDAS sangat kurang. Pertemuan pihak sekolah dengan orang tua siswa juga dinilai tidak efektif karena hanya dilakukan satu sampai dua kali dalam setahun, yaitu pada sosialisasi dana BOS, penyambutan siswa baru, dan ketika

153

menjelang Ujina Nasional. Sedangkan pemerintahan desa/kelurahan hanya datang ketika ada undangan. Tidak ada pertemuan khusus untuk program CERDAS.

Kurangnya sosialisasi program CERDAS juga dirasakan oleh pihak sekolah, dimana orang tua murid tidak paham dengan konsep CERDAS. Masyarakat yang berada pada lingkungansekolah beranggapan sekolah sudah bagus dan memiliki banyak bantuan dari pemerintah seperti adanya dana BOS, DAK, wajib belajar 9 tahun, dan lain sebagainya, sehingga tidak ada lagi kutipan-kutipan untuk sekolah. Melalui fakta-fakta diatas, penyebaran informasi tentang program CERDAS masih kurang maksimal. Tidak ada lagi kegiatan bersama diantara ketiga pihak yang berkolaborasi. Sosialisasi merupakan salah satu cara untuk mentransfer nilai- nilai yang sudah ada agar terus dapat dipegang teguh dan dijalankan. Tidak ada trasnfer pengetahuan maka tidak heran bila sumber daya manusia yang ada tidak mengetahui bagaimana program itu sendiri.

H. Access to resources (Akses pada sumber daya)

Sumber daya dalam program CERDAS adalah berasal dari ketiga pilar yaitu pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, baik itu sumber daya finansial, manusia, dan sumber daya pendukung lainnya. Sejauh ini dalam penyelenggaraan pendidikan sebagian besar masih dipenuhi oleh APBD, untuk tahun 2016 Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang mendapatkan bantuan DAK sebesar 27 miliar dengan pembagian SD 12 miliar dan SMP 15 miliar.

Masyarakat merupakan pihak yang dekat dengan sekolah dan mengetahui bagaimana kondisi sekolah masih sebagai mitra pemerintah yang pasif. Rendahnya partisipasi masyarakat atau katakanlah orang tua murid dalam pendidikan disebabkan faktor pendidikan yang rendah sehingga masyarakat memiliki keterbatasan dalam memberikan ide atau gagasan ketika ada pertemuan. Pendidikan orang tua siswa secara umum hanya sampai pada tahap Sekolah Menengah Atas.

Faktor selanjutnya adalah latar belakang ekonomi masyarakat yang rendah. Profesi orang tua murid kebanyakan adalah sebagai kuli bangunan, pedagana, dan

154

asisten rumah tangga yang berkerja di Kota Medan. Tempat kerja yang jauh mengharuskan orang tua siswa harus pergi pada pagi hari dan pulang di sore hari menjelang malam. Dengan kondisi yang demikian maka tidak heran orang tua siswa beranggapan bahwa pendidikan utama seorang anak adalah di sekolah.

Disisi lain pihak sekolah takut melaksanakan program CERDAS, karena dikhawatirkan ada salah penafsiran sumbangan yang berasal dari masyarakat adalah kutipan liar. Sehingga pihak sekolah hanya memanfaatkan bantuan yang berasal dari pemerintah. Selanjutnya pola pikir pengusaha yang beranggapan bahwa sekolah sudah bagus dan pemerintah daerah sudah mampu, sehingga tidak memberikan bantuan. Aparatur pemerintahan di desa juga sudah merasa pekerjaan yang mereka kerjakan sudah sangat banyak, dan apabila harus ikut serta dalam program CERDAS maka mereka kekurangan tenaga administrasi dalam menjalankan fungsi utama merekan di desa/kelurahan.

Melalui fakta-fakta diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya yang ada pada setiap stakeholder belum memberi manfaat yang maksimal. Karena setiap stakeholder masih memilih menjalankan profesi utamanya dari pada ikut serta dalam program CERDAS. Ketika tidak ada tokoh ataupun sosok pemimpin yang dapat mengakomodir sumberdaya organisasinya dalam program CERDAS maka sudah dapat dipastikan program tersebut tidak akan berkelanjutan.

155 BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan

Kesimpulan merupakan inti pokok yang ditarik oleh peneliti dari hasil interpretasi dan analisis yang telah disajikan dalam bab sebelumnya. Bagian kesimpulan dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang terdapat dalam perumusan masalah, bagian kesimpulan juga harus selaras dan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah :

A. Kesimpulan umum

Setelah dilakukannya analisis yang mendalam terhadap bagaimana kolaborasi pada program CERDAS, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kolaborasi pemerintah daerah (Dinas Pendidikan), masyarakat, dan dunia usaha masih memiliki kekurangan. Kelemahan dari pada kolaborasi ini adalah setiap stakeholder masih memiliki komitmen yang rendah sehingga tujuan dari program CERDAS belum tercapai dengan maksimal. Penyelenggaraan pendidikan dengan program CERDAS tertuang dalam Peraturan Daerah No. 5 tahun 2012 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Kabupaten Deli Serdang. Dimana tujuan dari program CERDAS adalah sebagai berikut:

(1) Menggerakkan masyarakat dan pengusaha bersama-sama dengan pemerintah bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu fisik gedung sekolah dan mutu pendidikan,

(2) Menumbuhkembangkan kedekatan / kecintaan masyarakat kepada pendidikan, sehingga masyarakat menjadikan pendidikan sebagian dari kebutuhan hidupnya,

(3) Menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kekeluargaan,

156

(4) Menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat betapa pentingnya arti sekolah dan betapa pentingnya arti pendidikan.

Dalam kolaborasi program CERDAS ketiga pihak hanya bertemu saat pencanangan saja. sehingga komunikasi tidak terjalin dengan baik.

B. Kesimpulan Khusus

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi Collaborative Governance dalam Program CERDAS (Percepatan Rehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Kabupaten Deli Serdang, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Network Structure (Struktur jaringan)

Dalam struktur jaringan sangat penting untuk diperhatikan, karena dengan adanya struktur jaringan yang jelas akan terlihat bagaiama kedudukan setiap stakeholder. Penting dalam penelitian yang mengambil tema kolaborasi untuk melihat apakah dalam kolaborasi tersebut terjadi dominasi atau tidak.

Dalam kolaborasi program CERDAS struktur kolaborasi kurang maksimal sehingga adanya dominasi dari satu pihak. Tidak adanya diskusi yang berkelanjutan diantara pihak yang bermitra. Model struktur kolaborasi bintang atau self-governance mengharuskan adanya pertemuan yang diselenggarakan dengan baik kepada setiap pihak.

2. Commitment to common purpose (Komitmen terhadap tujuan)

Pihak yang sudah memutuskan untuk bermitra dalam suatu kolaborasi harus memiliki komitmen yang kuat. Peran pemimpin sangat penting dalam kolaborasi ini, karena kehadiran sosok pemimpin katakanlah pemerintah daerah akan menstimulan masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Perbedaan pencanagan CERDAS dulu dan sekarang adalah dulu sangat gencar melakukan gerakan turun kelapangan, sedangkan pemerintahan sekarang hanya malanjutkan. Pada saat sekarang ini dalam kolaborasi program CERDAS tidak memiliki tokoh penggerak karena tokoh penggeraknya sudah dalamkondisilanjut usia, sudah

157

pindah domisili, dan sudah meninggal dunia selanjutnya tidak adanya wadah masyarakat peduli pendidikan di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan.

3. Trust Among the Participanst (Kepercayaan diantara partisipan)

Dalam kolaborasi program CERDAS sudah ada trust yang terjalin. Pemerintah beranggapan siapa lagi yang dapat dipercaya kalau bukan masyarakat yang ada di lingkungan sekolah itu sendiri. Hal ini membuktikan dengan adanya gerakan swadaya ataupun gotong-royong pemerintah dan pihak swasta mengakui integritas kebersamaan pada masyarakat.

4. Governance (Kepastian dalam tatakelola)

Dalam tata kelola program CERDAS masih banya stakeholder yang paham akan mekanisme CERDS. Gerakan dalam program CERDAS juga tidak terorgnisir. Masyarakat bisa langsung memberikan bantuan kepada sekolah atau melaporkan dahulu kepada pihak pemerintahan desa/kelurahan. Struktur kolaborasi pada CERDAS mengharuskan adanya komunikasi yang intens dari setiap pihak, hal ini untuk menghindari keputusan yang desentralisasi. Selama ini yang mengontrol tentang bagaimana mutu fisik sekolah dan mutu pendidikan hanya dari pemerintah daerah (Dinas Pendidikan).

5. Access to authority (Akses terhadap kekuasaan)

Otoritas yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dan dunia usaha belum dimanfaatkan secara maksimal karena beberapa faktor seperti paradigma berpikir orang tua yang beranggapan pendidikan seorang anak adalah di sekolah. Padahal jika orang tua menyadari perannya tentu akan mengontrol anak-anaknya di lingkungan rumah. Pentingnya pendidikan dirumah merupakan kesempatan orang tua dalam menanamkan etika dan norma. Kapasitas setiap pihak dalam kolaborasi merupakan potensi penting dalam mengatasi masalah yang ada.

6. Distributive accountability / responsibility (Pembagian akuntabilitas / responsibilitas)

158

Partisipasi masyarakat masih kurang, sehingga sebagian besar bantuan yang ada di sekolah adalah bantuan dari pemerintah kabupaten. Bantuan dari masyarakat sangat minim karena paradigma masyarakat yang masih menganggap pendidikan adalah otoritas tunggal pemerintah. Sehingga bisa dipastikan tidak ada pencatatan bantuan yang ada selain dari APBD.

Pengelolaan sumber daya CERDAS dikelola langsung oleh masyarakat dan pertanggungjawabannya kepada GMPP desa/kelurahan, selanjutnya kecamatan, dan tingkat kabupaten.

7. Information Sharing (Berbagi informasi)

Sosialisasi penyebaran informasi tentang CERDAS sangat kurang. Pertemuan pihak sekolah dengan orang tua siswa juga dinilai tidak efektif karena hanya dilakukan satu sampai dua kali dalam setahun, yaitu pada sosialisasi dana BOS, penyambutan siswa baru, dan ketika menjelang Ujina Nasional. Sedangkan pemerintahan desa/kelurahan hanya datang ketika ada undangan. Tidak ada pertemuan khusus untuk program CERDAS.

8. Access to resources (Akses pada sumber daya)

Sekolah takut melaksanakan program CERDAS, karena dikhawatirkan ada salah penafsiran sumbangan yang berasal dari masyarakat adalah kutipan liar. Sehingga pihak sekolah hanya memanfaatkan bantuan yang berasal dari pemerintah. Sumber daya yang ada pada setiap stakeholder belum memberi manfaat yang maksimal. Karena setiap stakeholder masih memilih menjalankan profesi utamanya dari pada ikut serta dalam program CERDAS. Ketika tidak ada tokoh ataupun sosok pemimpin yang dapat mengakomodir sumberdaya organisasinya dalam program CERDAS maka sudah dapat dipastikan program tersebut tidak akan berkelanjutan.

7.2 Saran

Adapun saran dari peneliti mengenai Collaborative Governance dalam program CERDAS (Percepatan Rrehabilitasi dan Apresiasi Sekolah) di Kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut:

159

a. Dalam kolaborasi program CERDAS pemerintah, swasta, dan masyarakat saling memberikan sumbangsih terhadap peningkatan dunia pendidikan. Pihak yang berkolaborasi harus memiliki komunikasi yang intens.