• Tidak ada hasil yang ditemukan

Commitment to Common Purpose (Komitmen terhadap Tujuan) Menurut data skunder yang peneliti dapatkan saat penelitian ada beberapa

PENYAJIAN HASIL PENELITIAN

B. Commitment to Common Purpose (Komitmen terhadap Tujuan) Menurut data skunder yang peneliti dapatkan saat penelitian ada beberapa

poin penting yang menjadi tujuan dicanangakannya program CERDAS, yaitu:

1. Menggerakkan masyarakat dan pengusaha bersama-sama dengan pemerintah bertanggungjawab dalam meningkatkan kualitas pendidikan, 2. Mengembangkan kedekatan/kecintaan kepada pendidikan, sehingga

masyarakat menjadikan pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan hidupnya,

3. Menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kekeluargaan yang sekaran semakin ditinggalkan masyarakat.

4. Menumbuhkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya arti sekolah dan arti pendidikan.

Untuk mencapai setiap tujuan program CERDAS, tentu akan mengacu kepada komitmen setiap stekholder yang berkolaborsi. Dari hasil wawancara dengan beberapa informan dan hasil pengamatan peneliti tekait bagaimana komitmen dari setiap pihak yang berkolaborasi adalah cukup baik, hal tersebut dapat dilihat ketika Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mengeluarkan Perda No. 5 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Kabupaten Deli Serdang. Dalam perda tersebut juga memasukkan poin CERDAS serta kewajiban masyarakat dan pengusaha dalam membantu dunia pendidikan.

Namun, kenyataan dilapangan terdapat beberapa kendala dalam program CERDAS yaitu seperti sudah tidak adanya aktor penggerak masyarakat yang bisa menagajak masyarakat ikut perbartisipasi dalam meningktkan kualitas pendidikan, hal ini dikarenakan tokoh masyarakat yang menggerakkan masyarakat pada saat program CERDAS pertama kali dilaksanakan sudah lanjut usia, sudah pindah tempat tinggal, dan ada yang sudah meninggal sehingga sekarang tidak ada yang

94

meneruskannya. Selain tidak adanya tokoh penggerak masyarakat, kendala selanjutnya adalah tidak adanya wadah GMPP di level desa/kelurahan.

Pentingnya tokoh penggerak seperti yang di utarakan oleh Bapa Sulaiman Nasution selaku Ketua GMPP Kabupaten Deli Serdang:

“Dalam masalah cerdas, ini tergantung kepada siapa yang membawakannya, siapa tokohnya, siapa yang mengkondisikannya, dan masyarakat harus tahu siapa yang mengkondisikan itu. Saya ajak tokoh2 yang bisa diperaya oleh masayrakat. Jadi waktu gotong royong semua pemuda dan tokoh masyarakat yang ada di kampung saya penggil. Jadi ketertarikan mereka adalah kalaupun kita dididik, kalau tidak ada sekolah mau gimana nanti imam di mesjid. Apabila tidak ada diantara kita yang sekolah maka siapa lagi yang memiliki pendidikan? Maka dari itu tokoh masyarakat tertarik untung bergabung dalam gotong royong. Jadisaya bentuk panitia pada malam jumat tanggal 1 dan besok sabtu langsung dilaksanakan. Pada pagi hari masyarakat sudah berkumpul. Jadi tokoh yang membawakannya harus yang dpercayakan oleh masyarakat. selanjutnya saya memberikan pidato setelah itu ada dibikin lelang dimana ada masyarakat yang menyumbang bahan2 bangunan dan pada hari itu terkumpul dana 72 juta rupiah, cerdas membutuhkan dukungan pemerintah, apabila pemerintah tidak mau menggerakkannya mau bilang apa? Kahadiran bupati dalam pencanangan cerdas sangat berarti bagi masyarakat” (Wawancara tanggal 7 Maret 2017)

Selanjutnya Bapak Sulaiman Nasution juga menyampaikan bahwa ada sebuah uti-utian ataupun perumpamaan dalam budaya mandailing yaitu seorang pemimpin jangan hanya mampu memandikan kerbau, tetapi harus tahu bagaimana cara memandikan kuda. Maksdunya adalah jika seseorang memandikan kerbau, kerbau tersebut cukup dengan ditarik maka selanjutnya kerbau itu akan turun

95

dengan sendirinya ke kubangan dan mandi. Lain hal nya dengan cara memandikan kuda, dimana seseorang harus menarik dan menuntun kuda tersebut sampai ke sungai sekaligus memandikan kuda tersebut. Pesan dari uti-utian tersebut adalah seorang pemimpin dalam memimpin rakyat harus turun langusng ke lapangan dan berbaur dengan masyarakatnya.

Tokoh yang bisa menggerakkan masyarakat sudah pindah alamat dan ada yang sudah meninggal dunia, seperti yang diutarakan Bapak A. Syailani selaku Kepala Lurah Kelurahan Deli Tua Barat:

“GMPP berhenti di tempat tidak ada kegiatan selama saya disini, vakum karena tokoh penggerak yang juga mengkoordinir sudah meninggal dunia dan pindah tempat tinggal” (Wawancara tanggal 31 Maret 2017)

Peran seorang pemimpin sangat penting karena pemimpin merupakan contoh bagi masyarakat. Sosok pemimpin merupakan contoh bagi msyarakat, seorang pemimpin harus dekat dengan masyarakatnya, dengan cara turun ke lapangan dan bertegur sapa dengan masyarakat. Hal ini juga disampaikan oleh Ibu Lisma selaku tokoh masyarakat, sebagai berikut:

“Kalau dikami bupati kurang lah turun dilapangan, tapi tidak tahu kalau didaerah lain. Karena pondasi yang dibentuk dulu sudah kuat maka bupati yang sekarang hanya melanjutkan saja. Dengan adanya sosok pemimpin yang turun lapangan itu adalah kegembiraan masyarakat.” (Wawancara pada tanggal 14 Maret 2017 )

Disamping itu memang pada saat ini kondisi sekolah dasar di Kabupaten Deli Serdang sudah baik jika dibandingkan dengan tahun 2005, dan sekarang berbagai bantuan pendidikan dari pemerintah sudah semakin banyak, sehingga pelaksanaan CERDAS yang sekarang tidak seperti awal dicanangkan. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Datuk Selamat Ferry selaku ketua Asosiasi Pengusaha Peduli Pendidikan (APPP) Kabupaten Deli Serdang, sebagai berikut:

“Pencanangan pertama tahun 2005 dan selesai tahun 2007. Cerdas memang sekarang berlanjut tapi tidak menggebu seperti

96

dulu, sudah ada dana BOS, DAK ada.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2017)

Ada perbedaan pelaksanaan program CERDAS saat diawal dan setelah kondisi sekolah sudah banyak yang layak untuk proses belajar mengajar, terlebih lagi diawal pergerakan peran pemimpin daerah dan tokoh masyarakat bisa mengkondisikan dan meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama serta kemampuan keuangan daerah yang sangat sedikit untuk merehab seluruh sekolah di Kabupaten Deli Serdang.

GMPP (yang tergabung: Kepala Desa/Lurah, BPD, Pihak Sekolah, dan masyarakat) Desa/Kelurahan sangat berperan dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan, karena masyarakat desa/kelurahan yang paling dekat dengan lingkungan sekolah. Kurangnya komitmen perangkat desa juga di sampaikan oleh Ibu Suharni, M.Pd selaku Kepala SDN 10800, sebagai berikut:

“Pemdes tidak pernah mengajak masyarakat dan guru untuk duduk bersama dalam membicarakan pendidikan. Pernah saya adukan kepada pemdes ttg pendidikan namun jawabannya itu bukan urusan kami” (Wawancara tanggal 27 Maret 2017)

Pendapat tersebut juga didukung oleh Bapak Sekretaris Desa Kedai Durian, sebagai berikut:

“Bantuan dari masyarakat tidak ada, kalau yang mampu adalah yang membantu. Sejauh ini kita tidak tahu lagi apa keperluan sekolah yang mungkin kepala sekolah yang lebih mengerti dan keterlibatan kita di situ sudah tidak ada. Pemdes hadir kesekolah ketika ada undangan, pemerintah desa yang mengajak masyarakat untuk berdiskusi tentang pendidikan itu tidak ada. Kami hanya 6 orang dengan pekerjaan yang banyak, kalau kami yang mengambil inisiatif bisa dibayangkan pekerjaan kemi yang di desa. bukannya kami tidak mau. Cuma kami tidak pernah tau lagi tentang itu. Kalau pantauan secara jauh tidak ada masalah. Pendidikan

97

yang masih menajadi ranah desa hanya sampai PAUD. Kalau SD dan SMP itu di kebupaten. Keterlibatan kita sudah tidak ada lagi. GMPP kita tau hanya diawal-awal saja sekarang tidak ada lagi. Partisipasi masyarakat kalau ada pertemuan dengan pemdes: masyarakat partisipasinya biasa-biasa saja.” (Wawancara tanggal 27 Maret 2017)

C. Trust Among the Participants (Kepercayaan diantara partisipan)