P
ERUBAHAN politik 1998 berdampak terhadap organisasi massa besar di Indonesia, termasuk Muhammadiyah. Dalam usia ke-104 dan Muktamar ke-47, bagaimana peran Muhammadiyah dalam partisipasi politik di era demokratisasi? Dalam berbagai kesempatan, antropolog Hajriyanto Y. Thohari, aktivis Muhammadiyah, menyebutkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang lebih cair.Dengan kata lain, secara budaya, Muhammadiyah kurang memiliki kohesi kuat seperti NU dengan tradisi istigasah, tahlilan, dan yasinan. Tradisi budaya dalam Muhammadiyah untuk membangun kohesi secara antropologis yang masih kuat ialah lewat pengajian. Pandangan tersebut bisa jadi benar. Hal itu dapat dimengerti bahwa organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu memang bercita-cita membangun gerakan yang dapat dikategorikan modern.
Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan telah memberikan warisan penting dari perkembangan berbangsa dan bernegara dalam rangka mengimplementasikan cita-cita bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.Pertama, telah memelopori kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat. Gerakan organisasi itu didirikan pada 1912, atau saat
terjadi perubahan politik di Eropa Barat lewat politik etik yang membuka ruang bagi negara-negara terjajah untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Kedua, adanya tekad dalam beragama agar dalam mengamalkan ajaran Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni. Ajaran Islam yang menurut KH Ahmad Dahlan itu ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat serta umat dengan dasar iman dan Islam. Dengan kata lain, Islam yang berkemajuan. Ketiga, melalui Muhammadiyah, KH Dahlan telah memelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa dengan jiwa ajaran Islam. Tidak hanya pendidikan, tapi juga kesehatan sebagai unsur penting sebagai peran Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, yang sangat signifikan dalam perkembangan demokrasi ialah peran perempuan Muhammadiyah.
Melalui women wing, Muhammadiyah telah memelopori kebangkitan perempuan Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial setingkat dengan kaum pria. Saat ini, Aisyiyah telah memiliki 16 perguruan tinggi dan salah satunya akan menjadi Universitas Aisyiyah. Belum lagi, lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak dan rumah sakit bersalin ibu dan anak serta rumah anak yatim piatu yang sesuai dengan UUD 1945 diurus oleh negara.
Di satu sisi, pandangan tradisi untuk kohesi organisasi dianggap cair. Namun, sebagai organisasi modern perkotaan, gerakan Muhammadiyah memiliki kekuatan sebagai organisasi profesional. Kohesi dari anggota persyarikatan dibangun melalui amal usaha. Dengan demikian, arah organisasi ke depan masih menjadi organisasi yang bersifat perkotaan/ urban. Bagaimana dengan ancaman bahwa Muhammadiyah bisa kehi- langan tradisi komunitas ala masyarakat perdesaan? Hal itu menjadi kenyataan bagi Muhammadiyah yang memilih gerakan dakwahnya melalui amal usaha. Itulah arah dari tradisi masyarakat perkotaan, bahkan masyarakat kosmopolitan di era globalisasi dan teknologi. Muhammadiyah dan demokrasi Perdebatan di kalangan pengurus Muhammadiyah, baik yang berada di Yogyakarta maupun Jakarta, ialah menyikapi kepentingan
Muhammadiyah sebagai lembaga dan para aktor/aktivis di ranah politik. Sejak era Reformasi 1998, gerakan Muhammadiyah sering dianggap menjadi ancaman atau oposisi rezim yang berkuasa. Akibatnya, Muhammadiyah sering dilihat sebagai kekuatan politik yang harus disingkirkan.
Menurut penulis, anggapan tersebut tidaklah benar. Muhammadiyah memiliki cukup resources untuk menghidupi organisasi melalui amal usaha di dunia pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, Muhammadiyah bisa lebih independen dalam berhubungan dengan masalah bangsa dan negara. Akibatnya, Muhammadiyah tidak bergantung pada donor asing. Muhammadiyah dapat menjadi organisasi yang merdeka dan berdaulat serta bermartabat.
Itulah yang membedakan dengan perkembangan gerakan civil society
di Indonesia yang sebagian besar bergantung pada donor asing. Secara kelembagaan, posisi Muhammadiyah dalam kepengurusan 5 tahun terakhir masih didominasi pandangan bahwa Muhammadiyah tidak terlibat secara langsung dalam kelembagaan politik negara.
Hal itu menyebabkan perdebatan internal, terutama dari para aktivis atau pengurus Muhammadiyah yang ingin terjun langsung dalam kehidupan politik. Muhammadiyah membutuhkan kode etik yang kuat demi mengatur para aktivis/aktor Muhammadiyah untuk mengimplementasikan cita-cita Ahmad Dahlan dalam bernegara dan berbangsa. Bukankah peran politik Ketua PP Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo (1942-1953) sebagai Anggota BPUPKI dan PPKI sangat besar dalam perumusan Pembukaan UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan?
Di era reformasi, posisi Muhammadiyah sejak Pilpres 2004, 2009, dan 2014, dalam rekrutmen jabatan politik baik di legislatif maupun eksekutif, menurun. Itu mungkin disebabkan Muhammadiyah terlalu kritis dan tak bisa sami’na waatho’na berhadapan dengan penguasa, atau mungkin pula disebabkan ketidakmengertian penguasa terhadap peran Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa. Oleh karena itu, rezim penguasa harus dapat membangun komunikasi politik yang lebih baik agar dapat mengoptimalkan kontribusi lembaga dan para aktor Muhammadiyah
di ranah politik. Jihad konstitusi Terminologi jihad konstitusi sering dikemukakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Hal itu merujuk kepada sikap kritis Muhammadiyah dalam menyikapi berbagai UU yang dianggap melanggar konstitusi negara. Salah satu yang telah dapat dimenangi Muhammadiyah ialah UU tentang Air.
Muhammadiyah sedang berjihad dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa. Jihad konstitusi juga dapat diartikan secara luas seperti mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dalam rangka menyejahterakan rakyat melalui berbagai kegiatan amal usaha dan ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan berpartisipasi secara aktif dalam menyelesaikan konflik-konflik di berbagai belahan dunia, seperti kasus Moro di Filipina.
Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah kali ini di Makassar menjadi sangat penting dalam pandangan ilmuwan politik, yaitu untuk kembali memilih Ketua PP Muhammadiyah periode 2015-2020, tidak ada petahana.
Muhammadiyah perlu mengubah model pemilihannya, dari 39 calon kemudian dipilih 13 orang, yang masuk di tim formatur untuk memilih ketua, sepertinya perlu diubah. Pertama, organisasi Muhammadiyah sangatlah besar, tim 39 dapat masuk semua dalam formatur tersebut. Kedua, memerhatikan kuota 30% para aktivis Aisyiyah dalam keanggotaan 39 orang tersebut. Dengan demikian, pesan KH Ahmad Dahlan dalam praktik pemilihan ketua PP Muhammadiyah secara demokratis tersebut menjadi kontekstual. Wallahua’lam.
Media Indonesia, 4 Agustus 2015. Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan