Sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, masyarakat Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan cita-cita keadilan sosial segera terwujud tanpa pilih kasih. Sudah sejak merdeka, sila ke-5 Pancasila itu jadi yatim piatu. Kegelisahan Buya Syafii ini mendeterminasi dirinya sangat keras menentang praktik-praktik korupsi, mafia pengadilan, mafia pangan, dan realitas kesenjangan pendapatan yang kian dalam. Faktanya, kemiskinan terus mencengkeram sebagian besar anak bangsa. Ketidakadilan ekonomi makin menggurita.
Namun, Buya Syafii tak lelah melakukan jihad kebangsaan, meski harus berhadapan dengan tembok kepentingan-kepentingan elite politik, oligarki partai, bahkan para pemburu rente. Ia pun tak jenuh mengingatkan masyarakat Muslim agar terus berbenah meningkatkan kualitasnya
ketimbang terobsesi dengan penambahan kuantitas karena bisa seperti buih di lautan.
Pembelaannya terhadap agenda pemberantasan korupsi sangat terang-benderang. Korupsi hulu dari kemiskinan. Saat mencuat pro- kontra pelantikan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri, Buya Syafii salah satu tokoh yang paling vokal menolak. Banyak pihak mempertanyakan bahkan mencibir sikapnya yang cenderung membela Presiden Joko Widodo ketika bersikukuh bahwa Budi Gunawan tidak akan dilantik sesuai pembicaraannya dengan Jokowi via telepon. Suara-suara yang tidak setuju menyayangkan posisi Buya Syafii yang seolah-olah bertindak sebagai “bemper” pemerintah.
Kekecewaan sebagian besar warga Muhammadiyah terhadap Jokowi- JK yang tidak mengakomodasi kader Muhammadiyah dalam Kabinet Kerja tidak memengaruhi kejernihan seorang Buya Syafii di tengah gejolak polemik Polri-KPK. Dalam satu kesempatan, penulis menanyakan persoalan ini kepada Buya. “Ini semata-mata demi KPK, satu-satunya lembaga yang masih dipercaya publik untuk memberantas korupsi”, ujarnya.
Figur Buya Syafii sudah tak terpisahkan lagi dari arus gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan keadaban publik dan pelembagaan prinsip-prinsip keadilan dalam tata pemerintahan. Mungkin agak berle- bihan, beragam kalangan mendaulatnya sebagai simbol dari jangkar mo- ralitas publik. Oleh karena itu, guru besar etika Universitas Katolik Atma- jaya Jakarta, Alois A Nugroho, menyebut sosok Buya Syafii sebagai seorang “muazin moralitas bangsa” (Juni, 2015). Mengapa? Itu karena Buya Syafii tak lelah berseru-seru kepada politisi dan birokrat negara agar menjauhi mentalitas “thugocracy”(maling/pancilok dalam bahasa Minang).
Secara harfiah, muazin adalah sang pengingat. Ia berseru-seru tiada lelah mengingatkan orang-orang untuk menunaikan shalat dan menggapai kebahagiaan. Jika diterapkan dalam konteks kehidupan berbangsa, muazin dapat dimaknai sebagai seseorang yang konsisten menyuarakan nilai-nilai moralitas dan keadaban publik serta mengingatkan penguasa dan segenap warga negara untuk terhindar dari perilaku-perilaku mungkar (buruk) yang destruktif, yang jauh dari rasa keadilan.
Menurut hemat penulis, ada titik temu-bahkan saling bersenyawa- antara spirit seorang muazin dan pesan historis dari “Makkah Darat”, julukan kampung kelahiran Buya Syafii di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Frasa “Makkah Darat” sendiri berasal dari sejarah Minangkabau era Islam yang sudah tertimbun debu sejarah selama ratusan tahun. Makkah Darat, ungkap Buya dalam otobiografinya, merepresentasikan simbol pusat Islam di pedalaman Minang yang memiliki sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur Hindu-Buddhis.
Istilah ini melambangkan gerak perlawanan terhadap budaya hitam yang dikuasai para parewa (preman), yang masih berlangsung hingga era Islam, bahkan sampai sekarang. Spirit Makkah Darat adalah budaya perlawanan terhadap pelbagai budaya yang mendegradasikan martabat manusia dan mengorupsi rasa keadilan.
Saat bertemu Gubernur DKI Jokowi pada 1 Agustus 2013 di Maarif Institute, secara khusus Buya menanyakan pandangan sang tamu terkait budaya mafia di kalangan birokrasi yang berkroni dengan politisi busuk dan pengusaha-pengusaha hitam. Seingat penulis, jawaban Jokowi cukup standar. Praktik kotor semacam itu harus diberantas. Dan kini kita semua tahu, Presiden Jokowi berulang-ulang mendeklarasikan komitmennya perang melawan mafia bisnis, tetapi masih belum terlihat kebijakan- kebijakan radikal yang terukur. Lazimnya seorang muazin yang tak peduli siapa pun imamnya, Buya Syafii akan selalu tetap menyuarakan hal- hal yang diyakininya benar. Tidak akan pernah berkompromi terhadap kemungkaran politik dan praktik-praktik kumuh bernegara yang sudah terbukti memunggungi nilai-nilai luhur Pancasila. Menyaksikan Tanah Air-nya disinari keadilan dan dinaungi kesejahteraan akan menjadi kado terindah Buya Syafii di usia magribnya. Semoga.
Muhammadiyah
BENNI SETIAWAN
A
BAD kedua Muhammadiyah telah membentang. Tantangan dakwah abad ini tentu akan semakin kompleks jika dibandingkan abad pertama. Abad pertama, Kiai Dahlan menghadapi kejahilan masyarakat. Yaitu, kebodohon dan kemiskinan serta jauhnya umat dari nilai-nilai Islam. Pendidikan masih menjadi barang langka, sehingga banyak tindakan yang dilakukan jauh dari spirit kemanusiaan. Ketimpangan pun mengakibatkan kemiskinan yang cukup akut.Berbekal tafsiran Surat al-Maun, Kiai Dahlan mendirikan Roemah Miskin, Penolong Kesengsaraan Oemoem (kini PKU), dan Balai Pendidikan. Tafsir nyata Kiai Dahlan tersebut semata-mata diperuntukkan bagi terciptanya tatanan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Namun, setelah lebih dari seabad, ternyata kondisi keumatan tidak jauh berbeda. Bangsa ini masih buta politik. Meminjam istilah Buya Syafii, politik rabun ayam. Masyarakat sering kali dibutakan oleh realitas semu yang sering kali dipertontonkan oleh media. Masyarakat pun menjadi semakin tidak kritis.
Proses bersolek ini terkadang menimbulkan kegaduhan yang mengarah pada kebangkrutan bangsa. Pasalnya, para pemimpin kurang memiliki visi
kebangsaan. Mereka seakan tersekat oleh belenggu primordial partai dan juga orang-orang yang telah mendukung kesuksesannya selama ini.
Kebangkrutan bangsa menjadi ancaman yang kian nyata. Saat semua seakan tiarap menyelamatkan diri sendiri dan golongan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan dan pembaruan (tajdid) berperan dalam masalah ini?