T
EMA Muktamar ke-47 Muhammadiyah, 3-7 Agustus 2015, di Makassar adalah “Gerakan Pencerahan untuk Indonesia Berkemajuan”. Tema ini menunjukkan adanya kesadaran bersama bagi warga Muhammadiyah untuk semakin berperan serta dalam menyelesaikan problem-problem kebangsaan. Berbagai persoalan sosial yang terus mengemuka di Tanah Air membutuhkan campur tangan semua elemen civil society seperti Muhammadiyah, khususnya dengan cara-cara yang modern dan men cerahkan.Tema besar Muktamar dengan mengambil tajuk “Indonesia Ber- kemajuan” sebagai gagasan agung bukanlah tanpa pendiskusian yang men dalam. Tema ini sengaja dipakai karena memiliki maksud untuk meneguhkan visi keislaman dan kebangsaan, di mana fakta sosial saat ini menunjukkan bahwa kemiskinan, ketidakadilan, dan lemahnya penegakan hukum di Indonesia masih menggurita.
Sebagai gerakan Islam yang menjadikan dakwah dan tajdid sebagai peran dan fungsi utamanya, Muhammadiyah sejak awal berdirinya merupakan gerakan Islam yang berkemajuan. Jadi, ideologi Muhammadiyah itu adalah ideologi gerakan yang berkemajuan. Memasuki abad kedua dari pendiriannya, Muhammadiyah tidak hanya perlu merevitalisasi konsep “Islam Berkemajuan” (Islam Progresif) dalam formulasi dan
aktualisasinya yang lebih mapan dan holistik, melainkan juga perlu mentransformasikannya ke dalam kehidupan “Indonesia Berkemajuan”.
Kita meyakini bahwa Islam yang kita anut ini adalah agama yang unggul atau berkemajuan dan tidak tertandingi keunggulannya (al- Islamu ya’lu walaa yu’la alaih), namun perilaku umatnya tidak selalu mencerminkan keunggulan dan kemajuan Islam. Islam itu agama rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin), namun tidak semua pengikutnya memahami dimensi dan aktualisasinya dalam kehidupan nyata. Islam ideal clan Islam faktual tidak selalu berbanding lurus karena Islam itu memang “terhalangi/terhambat” oleh orang Islam itu sendiri (al-Islamu mahjubun bil muslimin).
Karena itu, dalam kaca mata Muhammadiyah, tema Muktamar ini menegaskan supaya visi Islam Berkemajuan bisa terejawantahkan dan menjelma sebagai faktor pendorong bagi terwujudnya Islam Berkemajuan.
Meski tak dapat dipungkiri bahwa dalam satu abad perjalanan Muhammadiyah telah banyak kontribusinya bagi bangsa, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial, namun era kekinian menuntut organisasi masyarakat Islam ini ambil bagian dalam penyelesaian berbagai masalah sosial yang lebih besar, bahkan yang menjadi urusan masyarakat global.
Penanganan kasus HAM, pemanasan global, korupsi, diskriminasi, perdamaian dunia, hingga ancaman terhadap ekstrimis keagamaan adalah beberapa isu yang perlu mendapat tanggapan serius dari Muhammadiyah. Selain itu, yang tak kalah penting adalah memberi perhatian pada berbagai permasalahan hukum di Indonesia yang semakin pelik. Kondisi penegakan hukum yang terjadi sekarang ini sudah lumpuh, cacat, dan tak punya ketegasan apa-apa. Hukum kita sekarang hanya tegas untuk masyarakat berekonomi bawah, sementara tak punya nyali jika menghadapi borjuasi- borjuasi bisnis dan politik. Jika tidak ada respons dari elemen civil society
seperti Muhammadiyah, maka tunggulah kehancurannya!
Bagi Muhammadiyah, perhatian terhadap penegakan hukum ini sangat penting sebagai model gerakan Muhammadiyah di abad kontemporer. Model gerakan ini juga sebagai kontribusi riil Persyarikatan untuk me-
mandu perjalanan bangsa ini agar menuju Indonesia yang berkemajuan sebagaimana yang menjadi payung tema Muktamar.
Untuk menghadirkan Indonesia yang berkemajuan, Muhammadiyah penting merumuskan solusi terhadap lemahnya penegakan supremasi hukum dan perilaku koruptif sebagian pejabat. Penegakan hukum kita mengalami situasi yang kritis, karena dari birokrat, politisi, hingga pengacara tersandung korupsi.
Karena itu dengan tema ini, gelaran Muktamar Muhammadiyah memiliki ketertarikan sendiri. Muhammadiyah akan melahirkan rumusan- rumusan baru dalam menanggapi berbagai tantangan nasional dan global di era kekinian seperti saat ini. Dengan begitu, cita-cita untuk mewujudkan Indonesia yang berkemajuan akan mudah dicapai.
Pada konteks kekinian tak perlu diragukan lagi bahwa semangat berkemajuan dengan memberikan perhatian cukup besar terhadap problem-problem kebangsaan adalah sangat relevan. Sebab, sudah waktu- nya bagi Muhammadiyah dalam satu abad perjalanannya ini untuk memperluas agenda gerakan dan pemikirannya. Sehingga, Persyarikatan ini tidak melulu berpijak pada tiga lahan garapan saja, di antaranya: pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial.
Apalagi, selama satu abad perjalanannya, telah banyak kontribusi Persyarikatan bagi kesejahteraan dan pencerdasan bangsa. Ribuan amal usaha yang meliputi ketiga sektor tersebut telah kokoh berdiri. Jangan sampai karena besarnya jumlah amal usaha malah warga Persyarikatan disibukkan pada persoalan-persoalan teknis, serta melupakan aspek pengembangan pemikiran dan gerakan untuk berperan serta dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan. Jika Muhammadiyah tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap isu-isu nasional, maka bukan hal yang tidak mungkin bila dalam beberapa tahun ke depan organisasi Islam mainstream ini akan mengalami kejumudan. Stagnasi gerakan akan terlihat pada aktivitas Muhammadiyah beserta seluruh organisasi otonomnya.
Penulis adalah Aktivis Jaringan Intelektual Muhammadiyah (JIMM) dan Penulis Buku “Funda mentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus
Muhammadiyah
BIYANTO
D
ALAM perspektif Islam, jihad berarti berusaha dengan sungguh- sungguh untuk melaksanakan segala sesuatu. Jihad memiliki akar kata yang sama dengan ijtihad, yakni jahd. Hanya, istilah ijtihad berasal dari hadis, sedangkan jihad dari Al-Quran. Meski demikian, substansi jihad dan ijtihad adalah mengerahkan seluruh tenaga, daya, dana, dan pikiran (total endeavor) sehingga terwujud nilai-nilai yang diridai Allah SWT.Dalam sejumlah referensi dapat dipahami, jihad tidak harus dimaknai perjuangan fisik. Contohnya, pandangan Buya A.R. Sutan Mansur, ulama besar Sumatera Barat yang menjadi nakhoda Muhammadiyah periode 1952–1957. Beliau memaknai jihad dengan pengertian bekerja sepenuh hati. Makna itu sangat menarik karena jihad tidak dijelaskan dengan kata berperang, melainkan bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas.
Perspektif Buya Sutan Mansur ternyata begitu menginspirasi Muham- madiyah. Ajaran jihad diejawantahkan dalam bentuk berkarya untuk memperbaiki kondisi bangsa. Ibarat jarum jam, Muhammadiyah terus bergerak guna melahirkan amal-amal sosial yang bermanfaat bagi umat. Dengan memahami ajaran agama sebagai praksis sosial (a faith with action), Muhammadiyah terus berkarya dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, serta lembaga perekonomian.
Menariknya, saat memasuki abad kedua dari perjalanan sejarah orga nisasi ini, sangat tampak keinginan kuat untuk mengembangkan
bidang dakwah dalam konteks kekinian. Salah satu yang patut dicatat adalah keberhasilan Muhammadiyah melakukan jihad konstitusi. Melalui jihad konstitusi, Muhammadiyah berjuang untuk meluruskan sejumlah perundang-undangan yang dianggap kurang berpihak kepada rakyat.
Sejak November 2012 hingga akhir Februari 2015, Muhammadiyah telah empat kali melakukan judicial review terhadap perundang-undangan yang terus memicu kontroversi. Empat UU yang di-judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK) adalah UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas, serta UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Hebatnya, seluruh jihad konstitusi Muhammadiyah melalui judicial review tersebut dikabulkan MK. Kini Muhammadiyah pun bersiap mengajukan judicial review terhadap UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing. Prestasi Muhammadiyah saat melakukan judicial review terhadap sejumlah UU jelas sangat membanggakan.
Melalui tim pakar dan ahli hukumnya, Muhammadiyah telah mengkaji beberapa UU yang dianggap tidak prorakyat. Usaha itu kemudian ditindaklanjuti dengan mengajak beberapa tokoh nasional serta ormas untuk mengajukan judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2001 ten- tang Migas. Meski kedudukan hukum (legal standing) dan kompetensinya sebagai pemohon judicial review UU Migas sempat dipertanyakan, Muhammadiyah ternyata sukses memenangi gugatan di MK.
Harus diakui, sejauh ini, hampir tidak ada ormas apalagi ormas keagamaan yang berani mengambil peran dalam advokasi kebijakan. Biasanya, advokasi kebijakan hanya diperankan lembaga bantuan hukum atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), baik dalam maupun luar negeri. Muhammadiyah memahami, pengajuan judicial review terhadap UU yang kurang berpihak kepada kepentingan rakyat merupakan bagian dari komitmen untuk meluruskan kiblat bangsa.
Bagi Muhammadiyah, pengelolaan sumber daya alam harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan, langkah menggugat beberapa UU yang
kurang berpihak kepada rakyat itu merupakan bagian dari dakwah politik
amar ma’ruf nahi mungkar. Pertanyaannya, apa yang mesti dilakukan agar putusan MK efektif? Inilah pekerjaan rumah Muhammadiyah. Bersama pilar civil society lainnya, Muhammadiyah harus mengawal putusan MK.
Publik tentu masih ingat tatkala MK memerintah pemerintah membubarkan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sebagai konsekuensi pembatalan UU Migas. Saat itu, pemerintah hanya mengganti nama BP Migas dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas). Padahal, dalam amar putusannya, MK memutus bahwa BP Migas yang diatur dalam UU Migas tidak memiliki kekuatan hukum sehingga harus dibubarkan. UU Migas juga berpotensi memicu liberalisasi pengelolaan migas karena intervensi perusahaan asing.
Perubahan casing BP Migas menjadi SKK Migas oleh pemerintah jelas tidak menyelesaikan masalah. Sebab, kenyataannya, SKK Migas tetap berpotensi menjadi sarang koruptor. Karena itu, tidak mengherankan jika di kemudian hari kepala SKK Migas ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan dengan tuduhan menerima suap dari perusahaan asing.
Karena itu, kemenangan Muhammadiyah dalam jihad konstitusi harus benar-benar ditindaklanjuti. Jangan sampai amar putusan MK yang memenangkan gugatan Muhammadiyah atas sejumlah UU tersebut tidak dijalankan pemerintah dan DPR. Harus dipastikan bahwa pemerintah dan DPR benar-benar menaati putusan MK sehingga UU yang dibuat tidak lagi bertentangan dengan semangat nasionalisme.
Semoga jihad konstitusi ala Muhammadiyah menjadi penyemangat bagi organisasi tersebut untuk terus berkiprah. Itu berarti jihad konstitusi juga bisa menjadi salah satu topik yang menarik dibicarakan dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, 3–7 Agustus 2015. (*)
Jawa Pos, 18 Maret 2015. Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel, ketua Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jawa Timur