• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MAKNA PACARAN YANG SEHAT DAN

E. Cinta dan Seksualitas Kaum Muda

Cinta merupakan suatu hal yang pelik dan halus, ibarat jaring laba-laba. Cinta semacam itu sudah lama ada. Dalam kitab Perjanjian Lama dikisahkan

Yakub yang mencintai Rahel sehingga waktu tujuh tahun harus bertandang dan bekerja di rumah Laban calon mertuanya “dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel” (Kej 29:20). Cinta sudah setua umat manusia, dan sejak semula membuat dunia ini berputar. Cinta sekekal rumput dan merupakan sumber inspirasi yang telah menghasilkan banyak keindahan, telah menciptakan berbagai nyanyian, patung, bangunan yang indah-indah. Nyanyian sukma yang erotis telah terpancar dari cinta itu:

Betapa cantik, betapa jelita engkau, Hai tercinta...

Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan dua dadamu gugusannya

Aku ingin memanjat pohon kurma Dan memegang gugusan-gugusannya Kiranya...(Kid 7:6-9).

Cinta pada dasarnya murni. Tanda-tanda lahiriah atau efek-efek fisik, seperti indahnya saling beradu pandang, atau bahkan hanya pandangan sekilas, desiran ulu hati, yang menimbulkan kesenangan murni adalah fenomena naluri cinta kodrati, yang merupakan benih-benih cinta yang masih netral dan wajar. Netral karena belum bisa diberi penilain apapun. Wajar, karena setiap orang yang normal pasti mengalaminya. Baru menjadi tidak netral, kalau benih-benih itu tumbuh dalam lingkup eros atau agape. Di sini cinta menjadi sesuatu yang sudah memiliki warna dan tingkatan mutunya.

2. Cinta Agape, Philia, Storge, Eros dan Ephitymia

Cinta memiliki beberapa jenis, jenis cinta yang pertama adalah cinta

agape. Cinta agape diterjemahkan “kasih”. Kasih Allah kepada umat-Nya. Inilah cinta tanpa syarat (Pristio, 2003: 17). Jenis cinta yang kedua adalah philia, philia

merupakan ikatan persahabatan. Cinta persahabatan tidak menuntut unsur sentuhan seksual sebagai elemen utama dalam membangun relasi. Jenis cinta yang ketiga adalah storge. Cinta dalam lingkup keluarga inilah yang disebut sebagai

storge. Rasa cinta yang ditumbuhkan oleh orang tua membangun sikap, sifat anak untuk kemudian mencintai orang lain, termasuk mencintai orang tuanya. Meskipun begitu, unsur cinta seperti ini bisa juga diterapkan dalam relasi dengan orang lain di luar ikatan keluarga misalnya: teman akrab, dan persahabatan. Jenis cinta yang keempat adalah eros. Cinta eros merupakan cinta antara laki-laki dan perempuan. Eros dipahami sebagai dorongan untuk bersatu dengan orang lain yang dicintainya. Jadi, eros bukan sekedar rangsangan seksual atau dorongan seksual. Jenis cinta yang kelima adalah ephitymia. Ephitymia dimiliki setiap orang normal. Dalam bahasa latin dikenal istilah libido sebagai padanan ephitymia. Dalam bahasa Inggris ephitymia dikategorikan sebagai “sensual love” yaitu cinta sensual. Daya tarik itu muncul melalui indera, dan nafas seksual pun bangkit. Itulah yang dimaksud dengan libido (Setyawan, 2004: 60-70). Kelima jenis cinta tersebut tidak bisa dipisahkan, karena merupakan satu kesatuan. Misalnya saja cinta eros, dalam cinta eros juga melibatkan cinta ephitymia (ingin mencium, memeluk, dan seterusnya) tetapi itu semua dalam rangka untuk mengalami kesatuan dengan orang yang dicintainya.

3. Cinta Yang Dewasa

Cinta yang sungguh-sungguh dewasa mengatasi sikap tak peduli, tidak senang dan berpura-pura. Cinta selalu mencakup penderitaan dan perjuangan. Cinta adalah kisah yang berputar, sejarah yang berlangsung terus. Jika kita

mencintai, kita akan bersedia menderita. Cinta yang dewasa adalah pada waktu kita mencintai seseorang, sungguh-sungguh mencintainya, bukan mencintai diri sendiri dan bukan menjadikan orang yang dicintai sebagai cerminan dari dirinya sendiri, tetapi menerima keunikan pribadi yang dicintai. Cinta yang tahan kesulitan dan kekurangan, cinta yang bersedia menerima penderitaan. Cinta ini menurut semua sumber serta kekuatan dalam diri kita. Inilah cinta yang membuat kita dewasa. Menurut Evely ciri-ciri yang dewasa adalah: menerima secara utuh, cinta memperlakukan yang lain sebagai pribadi, saling membagi rasa, menaruh percaya, senang bersama-sama, cinta memberi hidup, serta wajar dan kreatif (Evely, 1974: 7-19).

a. Menerima secara utuh

Seorang pria atau gadis, menerima pasangannya secara utuh. Artinya, penerimaan itu bukan setengah-setengah. Cintanya tidak didasarkan atas kepentingan lahiriah atau biologis melulu saja. Jika ia menikah hanya untuk kepentingan seks melulu, maka pernikahan itu tidak akan lama bertahan (Evely, 1974: 7).

b. Cinta memperlakukan yang lain sebagai seorang pribadi

Hubungan cinta yang dewasa antara dua orang digambarkan sebagai hubungan (aku-kamu) di mana keduanya saling memandang sebagai pribadi. Memperlakukan orang lain sebagai (kamu), sebagai seorang pribadi, berarti menghormati dan menerima seperti apa adanya, bersedia menghargainya sebagai pribadi, yang tidak ada kembarannya sesuai dengan rencana Allah. Allah

mengundang kita masing-masing untuk mengadakan hubungan pribadi dengan-Nya dalam suasana “kemerdekaan mulia anak-anak Allah” ([Rm 8,21] [Evely, 1974: 9]).

c. Saling membagi rasa

Jika dua insan memadu janji akan sehidup semati, maka perasaan merekapun akan saling bersentuhan. Mereka dapat saling membagi rasa senang maupun tidak senang. Mereka memiliki waktu bersama untuk membahas kesulitan dan kegembiraan mereka. Di dalam situasi seperti ini, rasa hormat-menghormati merupakan fondasi yang utama (Evely, 1974: 11).

d. Menaruh percaya

Cinta mengantar orang kepada suasana saling percaya. Dua insan yang membisik-bisikkan suara dan gaung cintanya, akan membawa suasana rasa percaya. Suasana rasa percaya ini kemudian diikuti rasa bertanggung jawab untuk melindungi kerahasiaan cinta mereka itu. Ini mengajarkan suatu sisi lain dari cinta, yaitu rasa bertanggung jawab kepada orang lain (Evely, 1974: 13).

e. Senang bersama-sama

Salah satu unsur ciri-cinta yang dewasa ialah, kedua insan itu senang bersama-sama dan senang tinggal bersama berlama-lama, bukan dorongan seks semata-mata. Kebersamaan inilah yang memperkuat relasi sebagai pasangan pacar. Seandainya pasangan pacar terpisah karena jarak, hal ini tidak menjadi hambatan bagi mereka. Rasa rindu membawa mereka kepada pemeliharaan jasmani dan rohani yang lebih baik dan dewasa (Evely, 1974: 15).

f. Cinta memberi hidup

Bayi yang dilahirkan adalah anak cinta yaitu buah hubungan cinta sejati antara ibu dan bapak. Berkat cinta Ilahi lahirlah manusia baru. Bayi menjadi sakit, bahkan mati kehabisan tenaga hidup, jika tiada kasih sayang dan perhatian atas kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena dicintai, orang memperoleh perasaan aman yang sangat perlu sebagai dasar hidup. Pengalaman dicintai memberikan rasa aman dan rasa harga diri yang diperlukan manusia agar berani keluar dari lingkaran kepentingan sendiri (Evely, 1974: 17).

g. Wajar dan kreatif

Cinta yang dewasa akan tumbuh secara wajar, tidak dipaksakan. Ia tumbuh dengan sewajarnya, tidak kaku dan tidak membeku karena emosi yang berubah-ubah sewaktu-waktu. Kedua insan yang berpacaran mengupayakan pelbagai cara yang kreatif, tidak mengada-ngada, dapat diciptakan untuk menyirami cinta yang sedang bertumbuh (Evely, 1974: 19).

F. Pengertian Seksualitas

Dokumen terkait