• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MAKNA PACARAN YANG SEHAT DAN

F. Pengertian Seksualitas

Menurut Gilarso seks berasal dari akar yang sama seperti kata latin

secare, artinya: memotong atau membelah. Manusia pertama sebagai lelaki-perempuan sekaligus, yang dibelah dua menjadi laki-laki dan lelaki-perempuan yang pertama (Gilarso, 1996: 17-24). Jadi keduanya kurang lengkap tanpa yang lain. Kitab Kejadian 2:18 juga mengemukakan gagasan, bahwa laki-laki dan perempuan saling membutuhkan demi kesempurnaan: tidaklah baik manusia

seorang diri saja. Akan Ku-jadikan baginya seorang yang sejajar dengan dia. Seks adalah alat “kelamin primer”, seks berarti alat atau nama jenis, seks merupakan salah satu dari sekian banyak alat yang terdapat pada tubuh manusia. Seks ikut ambil sebagai salah satu pendukung proses yang menjamin terselenggaranya tubuh yang hidup sehat. Seks atau alat kelamin ini sangat erat hubungannya dengan kejiwaan, sifat-sifat, cara berpikir dari seorang laki-laki atau perempuan.

Seksualitas adalah keseluruhan ciri yang menunjukkan kepriaan atau kewanitaan antara lain: bentuk badan, gaya, suara, sifat, perasaan, kejiwaan, cara berpikir, bakat, dsb. “Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya, menurut citra Allah, ia diciptakan-Nya. Ia menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej 1:27). Maksudnya supaya pria dan wanita saling melengkapi dan saling membahagiakan satu sama lain dan supaya setiap makluk mempertahankan jenisnya. Pria dan wanita adalah makluk “kontra-relatif”, artinya berbeda tetapi saling melengkapi. Seksualitas mempunyai pengertian yang lebih luas dari pada seks. Seksualitas merupakan salah satu segi dari sekian banyak segi hidup manusia, baik cara kerjanya, tempatnya atau saatnya maupun fungsinya. Dengan cara demikian terselenggara kehidupan yang wajar dan normal (Witdarmono, 1984: 6-9).

Maka baik seks maupun seksualitas harus diletakkan dalam keseimbangan berarti adanya keselarasan atau harmoni. Untuk mendapatkan keselarasan tersebut dibutuhkan kesadaran tentang seks dengan organ-organ yang lain, atau seksualitas dengan segi-segi hidup yang lain. Hal-hal tersebut merupakan faktor yang dinamis, artinya dari saat ke saat dapat berubah dan berkembang. Seksualitas adalah saya kodrat untuk memberikan semangat dan

desakan jasmani rohani pada dorongan seluruh hidup, yaitu mencari kesempurnaan dengan cara: dalam persatuan dan hubungan dengan orang lain (Magnis Suseno, 1984: 10-21).

2. Seksualitas Kaum Muda

Sejak semula Tuhan meletakkan perlengkapan yang berbeda pada kodrat pria dan wanita, baik perlengkapan jasmaniah/biologis maupun rohaniah/psikologis. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan anugerah Tuhan, dengan maksud agar pria dan wanita dapat saling melengkapi dalam hidup berkeluarga. Namun perbedaan-perbedaan itu dapat menjadi sumber permasalahan, oleh karena itu, perlu adanya proses penyesuaian diri.

Perbedaan-perbedaan tersebut dapat ditinjau dari berbagai segi: segi biologis dan segi psikologis (Budyapranata, 1981: 30-31).

a. Secara Biologis 1) Pria

Tubuh pria menonjolkan garis-garis lurus, tegak, kuat dan kekar, yang melambangkan keperkasaan dan kekuatan. Dada lapang, bahu lebar, untuk bekerja dan untuk melindungi yang lemah. Pinggul agak kecil dibandingkan dengan bahu, kaki kokoh, kuat, tegak lurus, tampak otot-ototnya. Lengan dan tangan penuh otot, kekar, kuat dan keras. Ada jakun pada leher. Alat kelamin terletak di luar rongga tubuh. Bulu rambut pada muka (kumis), pada kulit kaki, lengan dan dada (Budyapranata, 1981: 30).

2) Wanita

Tubuh wanita lebih menonjolkan garis-garis melingkar, bulat, lambang kelembutan dan kasih sayang. Bahu relatif kecil dan melengkung, buah dada berkembang dan mengembung. Pinggang kecil tapi tulang pinggul menonjol bulat. Karena tulang pinggulnya lebih besar, paha besar dan kaki meruncing kebawah lengan dan tangan lembut dan lemas, leher rata. Alat kelamin tersembunyi di dalam rongga tubuh. Tidak ada rambut di dada dan kulit.

Secara biologis hubungan seks dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan (disebut segi reproduksi atau pro kreatif). Dengan cara demikian suami-istri terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan sendiri. Maka hubungan baik seks dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh bahwa itu merupakan pelaksanaan dari sabda Tuhan (Budyapranata, 1981: 30).

b. Secara Psikologis 1) Pria

Pola dasar pandangan keluar, terarah pada dunia/obyek. Suka menjelajah dan menyelidiki alam sekitar. Suka “membongkar dan membangun”. Pria membangun dunia menjadi rumah tempat tinggal. Suka bekerja di luar, mencari nafkah dan menguasai dunia. Suka mencoba, mencari dan melihat-lihat. Aktif, mengambil inisiatif, suka mengkritik dan memprotes. Intelek dan rasio lebih utama, dapat mengendalikan perasaan dengan akalnya. Lebih melihat kenyataan obyektif, terarah pada garis-garis besar, lebih teguh dalam keputusan. Gelombang perasaan mendaftar dan stabil, gairah seksual lebih berkobar, lebih bersifat jasmani biologis (Budyapranata, 1981: 30).

2) Wanita

Pola dasar pandangan ke dalam, terarah pada subyek/manusia, lebih gemar tinggal di rumah, memelihara dan merawat. Suka menyayangi dan memelihara. Wanita pandai menciptakan suasana di rumah menjadi tempat tinggal yang membuat orang kerasan. Perhatian lebih untuk pribadi sesama manusia. Butuh diperhatikan, senang dilihat dan dicari, reaktif, menanggapi, lebih tabah dan mudah menerima. Emosi dan perasaan lebih menonjol dan hal itu mempengaruhi pikirannya. Perhatian sampai detil-detil (hal-hal kecil), cenderung intuitif, mudah mengubah keputusannya. Perasaan pasang-surut terpengaruh oleh siklus bulanan. Gairah seksual lebih rohani, lebih mementingkan cinta dan kemesraan (Budyapranata, 1981: 31).

3. Moral Seksualitas

Moral adalah pedoman atau ajaran tentang “baik-buruknya,” yang mengatur sikap batin dan perilaku kita, atau pedoman bagaimana kita harus mengatur hidup kita supaya menjadi “baik”= sesuai dengan maksud Tuhan Pencipta Yang Maha Baik.

Sumber moral Kristiani ada dua (yang saling melengkapi), yaitu pertama, Kitab Suci dan Ajaran Gereja; pedoman/prinsip umum yang diberikan kepada kita “dari atas”. Pedoman dasar moral menurut Kitab Suci dan Ajaran Gereja adalah Hukum Kasih. Untuk mewujudkan hukum dasar tersebut, kita diberi sejumlah besar pedoman, baik berupa perintah, nasihat maupun larangan. Yang kedua, penalaran akal budi manusia, dilengkapi dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang “dari bawah” (Gilarso, 1996: 30-33).

Seks dilindungi tidak karena seks itu jorok dan porno, melainkan karena menyangkut hal yang pribadi dan suci, keintiman hubungan dua orang kekasih. Yang jorok dan salah adalah penyalahgunaan, yaitu di luar perkawinan. Sebagai prinsip umum dikatakan bahwa masa pacaran adalah masa untuk belajar saling mencintai, dengan harapan kelak akan menjadi suami-istri yang berbahagia. Kasih sayang antara muda-mudi yang sedang berpacaran memuat cinta yang sejati dari hawa nafsu. Kaum muda yang sedang berpacaran perlu memahami, fungsi hubungan seks yang dilindungi, diakui, dijamin, dan sah yaitu hubungan seks setelah menikah. Dalam perkawinan Katolik hubungan seks mengarah pada prokreasi (untuk menurunkan anak). Prokreasi bukan tujuan tunggal atau utama dalam perkawinan, namun tetap merupakan suatu tugas luhur. Hubungan seks dalam perkawinan adalah baik, halal, mulia dan suci. Seks bukanlah hal yang tabu, kotor, atau memalukan, melainkan ikut disucikan oleh sakramen perkawinan, sebagai sarana pemersatu suami-istri (Purwa Hardiwardoyo, 1990: 46-48).

G. Pacaran dalam Perspektif Membangun Keluarga Kristiani yang Ideal

Dokumen terkait