• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. Aktualisasi Diri

2. Ciri-ciri orang yang mengaktualisasikan diri

Rogers mengemukakan ciri-ciri orang yang mengaktualisasikan diri sebagai berikut (Schultz,1991:51):

a. Terbuka dan fleksibel pada setiap pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Menerima setiap pengalaman yang terjadi dalam hidupnya baik suka maupun duka. Mampu mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang terjadi.

b. Tidak bersikap defensif c. Memiliki emosi yang positif

d. Memiliki kepribadian yang fleksibel dalam bertindak maupun terhadap keputusan

e. Merasakan kegembiraan di setiap pengalaman yang dialami

f. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan yang baru dan perubahan-perubahannya

g. Memiliki keterbukaan pada setiap moment yang ada

h. Berani mengambil keputusan dan menerima resikonya dengan pertimbangan yang dilihat dari berbagai segi pada setiap situasi i. Memilih dan mengambil tindakan secara bebas tanpa mengalami

j. Percaya diri tidak tergantung pada orang lain dan tidak dikendalikan oleh pengalaman masa lampau

k. Spontan dan kreatif dalam melakukan tindakan sesuai respon yang ada tidak dibuat-buat.

3. Aspek-aspek Aktualisasi Diri

Rogers (Schultz, 1991:51-55) mengemukakan beberapa aspek atau sifat orang yang mengaktualisasikan diri sebagai berikut:

a. Keterbukaan pada Pengalaman

Orang yang mengaktualisasikan diri menerima pengalaman dengan fleksibel sehingga memimbulkan persepsi yang baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosional positif maupun negatif sehingga akan terhindar dari sifat defensif. Orang yang mampu terbuka pada pengalaman memiliki persepsi yang positif dan akurat tentang pengalaman yang dialaminya serta perasaannya sendiri (Boeree;2004:328). Keterbukaan merupakan hal yang penting dalam mengaktualisasikan diri. Seseorang yang terbuka pada pengalamannya tidak terhambat oleh syarat-syarat apapun serta mengalami kebebasan terhadap semua perasaannya.

b. Kehidupan Eksistensial

Kehidupan eksistensial yaitu kehidupan di sini dan sekarang. Rogers menegaskan bahwa kita tidak hidup di masa lalu atau masa yang akan datang – yang pertama telah berlalu, sementara yang

kedua belum terjadi. Masa sekarang adalah satu-satunya realitas yang kita miliki. Ini bukan berarti kita tidak seharusnya mengenang atau belajar dari masa lalu. Bukan pula berarti kita tidak bisa merencanakan atau bahkan berangan-angan tentang masa yang akan datang. Rogers mengartikan bahwa kita seharusnya memandang sesuatu sebagai mana adanya, kenangan dan angan-angan adalah sesuatu yang kita alami disini dan sekarang (Boeree;2004:328). Orang yang mengaktualisasikan diri mengalami keterbukaan terhadap pengalaman hidup yang dialami. Menemukan sesuatu yang baru dan bermakna dari setiap peristiwa yang terjadi serta adanya kecenderunagan untuk berubah. Hidup yang eksistensial yaitu adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

c. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri

Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri berarti kepercayaan yang diberikan pada diri sendiri untuk bertindak sesuai dengan keputusan sendiri yang dirasakan oleh dirinya benar, sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik. Percaya dan yakin pada diri sendiri, melakukan apa yang menurut diri baik menurut Rogers merupakan hal yang harus dipercayai (Boeree;2004:328).

Perasaan bebas berarti mengalami kebebasan tanpa adanya paksaan, tekanan, dan ancaman yang datang dari pihak manapun. Individu yang merasa bebas memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri bahwa masa depannnya tidak tergantung pada peristiwa masa lampau sehingga ia dapat melihat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. Kita akan merasa bebas kalau ada pilihan yang ditawarkan. Rogers mengatakan orang yang mengaktualisasikan diri dapat merasakan kebebasan dan bertanggung jawab atas apa yang jadi pilihannya.

e. Kreatifitas, Spontanitas dan Humor

Kreatifitas, spontanitas dan humor merupakan faktor juga untuk membantu individu berfungsi sepenuhnya. Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan pada diri sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreatifitas dengan ciri-ciri bertingkah laku spontan dan apa adanya. Kreatifitas merupakan suatu sikap atau ungkapan cara bagaimana kita mengamati dan bereaksi terhadap hasil-hasil karya dunia (Schultz, 1991:110). Spontanitas merupakan sikap yang tidak dibuat-buat atau bersikap wajar. Sedangkan humor merupakan sikap seseorang yang mampu melihat sisi yang membuat dirinya maupun orang lain tersenyum atau tertawa.

Aspek-aspek pengaktualisasian diri pada Rogers merupakan juga sifat-sifat yang diharapkan untuk dimiliki oleh seorang yang sehat. Orang yang mengaktualisasikan diri akan tampak pada perkembangan hidup yang penuh seperti memahami diri, menerima diri sendiri maupun orang lain. Selain itu orang yang mengaktualisasikan diri mampu untuk melawan pengaruh-pengaruh sosial yang akan menimbulkan dampak negatif bagi mereka.

4. Tiga hal yang mempengaruhi aktualisasi diri

Menurut Rogers (Boeree,1997;321) ada 3 hal yang mempengaruhi seseorang sulit mengaktualisasikan diri:

a. Perhatian Positif Kondisional

Kecenderungan individu untuk menilai diri sendiri sesuai standar yang diberikan oleh orang lain dan bukan karena usaha diri sendiri untuk menilai dirinya sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya. Individu akan memperoleh perhatian positif terhadap diri sendiri setelah mendapatkan perhatian positif dari orang lain tanpa memandang rasa berharga pada dirinya sendiri (Boeree,1997:321). Syarat-syarat yang diberikan masyarakat inilah yang menghambat individu untuk sulit mengaktualisasikan dirinya. Misalnya individu akan memperoleh perhatian dan pujian kalau individu tersebut mampu menunjukkan rasa “patuh” dan “baik”. Maka syarat-syarat tersebut akan sangat penting bagi individu yang memerlukan

perhatian positif dan mereka cenderung akan mengikuti masyarakat dan bukan dari dirinya sendiri. Jadi, hal tersebut yang membuat individu tidak mampu menegaskan rasa berharga pada diri sendiri secara pribadi.

b. Ketidaksebidangan

Menurut Rogers dalam diri individu terdapat 2 pertimbangan diri yaitu: diri riil dan diri ideal. Diri riil yaitu individu sebagaimana adanya jika segala sesuatu berjalan dengan baik. Sedangakan diri idela yaitu sesuatu yang tidak riil sesuatu yang tidak akan pernah dicapai dan tidak akan pernah dipenuhi (Boeree,1997;323). Adanya pemisahan antara diri riil dengan diri ideal inilah yang menyebabkan ketidaksebidangan dan terjadi hambatan dengan mengaktualisasikan diri. Ketidaksebidangan inilah yang disebut Rogers sebagai neurosis yaitu ketidakselarasan dengan diri sendiri antara “saya sebagai adanya” dengan “saya sebagaimana seharusnya”.

c. Pertahanan

Dalam situasi ketidaksebidangan membawa individu berada dalam situasi teramcam. Situasi yang mengancam akan menimbulkan kecemasan. Kecemasan adalah tanda yang memberitahukan bahwa adanya kesulitan yang akan dihadapi. Kecenderungan remaja mudah untuk menghindari masalah dengan membuat pertahanan diri. Pertahanan diri tersebut digunakan agar mereka terbebas dari

situasi yang mengancam. Mekanisme pertahanan diri yang digunakan remaja yaitu pengingkaran dan penafsiran (Boeree,1997;325). Pengingkaran merupakan sebuah situasi yang mengancam secara bersamaan. Pengingkaran misalnya, remaja akan berusaha menyingkirkan kenangan atau pengalaman buruk yang memancing mereka menyadarinya ataupun mengingatnya. Situasi yang demikian inilah yang membuat mereka menolak akan pengalaman pahitnya. Sedangakan penafsiran merupakan sebuah situasi yang tidak rasional. Penafsiran misalnya, remaja yang lebih menyalahkan kondiri/keadaan bahkan orang lain tanpa melihat realita keadaan dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan.

B. Remaja

Dokumen terkait