• Tidak ada hasil yang ditemukan

Citra Kepemimpinan Jawa

Dalam dokumen Warisan Budaya Politik Komunikasi dan Ta (Halaman 48-51)

Vol 7 No 1, Januari 2014: 41-

1. Citra Kepemimpinan Jawa

Citra yang dilekatkan pada sosok Jokowi sebagai upaya mengusung wacana pemimpin ideal seperti tersebut di atas, adalah citra tentang pemimpin ideal dalam pandangan masyarakat Jawa. Hal itu dapat dilihat dari simbol-simbol, ungkapan, istilah yang lazim digunakan orang Jawa khususnya berkaitan masalah politik atau kekuasaan. Citra Jokowi sebagai sosok yang mampu menghargai pluralisme karena telah terbiasa hidup di tengah banyak perbedaan, misalnya, mewacanakan sosok Jokowi yang bakal mampu menjaga kerukunan di tengah-tengah banyaknya perbedaan di masyarakat. Dengan demikian, ketertiban,

15 Ibid. 16 Ibid.

keselarasan hidup dalam masyarakat dicapai. Citra ini penting diajukan ke publik untuk mengukur tingkat kemampuan seorang pemimpin. Bahwa seorang pemimpin memang sudah seharusnya mampu mewujudkan ketentraman dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat. Ini berkaitan pula dengan persoalan wibawa. Pemimpin yang tak mampu menciptakan kebutuhan itu otomatis akan dianggap tak mampu menjalankan tugas sehingga bakal kehilangan wibawa akibat kepercayaan yang hilang di mata masyarakat. Pemerintahan Jawa tempo dulu mencatat, tugas menjaga ketertiban, kerukunan, ketentraman di masyarakat merupakan kewajiban pertama seorang raja. Untuk itu dikenalkan istilah anjaga

tentreming praja (menjaga supaya hidup

teratur sementara rakyat dapat hidup tentram).17, atau tata tentrem kerta-raharja18.

a. Wayang sebagai Simbol Tokoh

Konstruksi citra tersebut bisa dikaitkan dengan cara komunikator memilih wayang sebagai simbol tokoh. Wayang lekat dengan orang Jawa. Wayang didefi nisikan sebagai gambaran atau tiruan

orang yang mempertunjukkan lakon.19 Tokoh wayang yang digunakan dalam fi m

ini adalah Semar, Janoko (scene 00.17.00- 00.18.22, 21.39-22.33) dan Werkudara.

Dalam cerita pewayangan, ketiganya adalah sosok pemimpin dan kesatria hebat berkat kepribadian dimiliki. Semar adalah Sang Pengayom serta tokoh paling dicintai. Kemunculannya di layar selalu disambut gelombang simpati para penonton seakan akan penonton merasa

17 Hans Antlov, Sven Cederroth, Kepemimpinan Jawa : Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001, hal.xi.

18 Frans Magnis Suseno, Etika Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hal 35-36.

19 Dharmawan Budi Suseno, Wayang Kebatinan Islam, Kreasi Kencana, Bantul, 2009, hal 6

dibawah pengayomannya. Ia sosok bijaksana, merakyat, baik hati, lucu tak terkalahkan.20 Semar selalu memberi tuntunan kebenaran. Meskipun ia berlaku sebagai rakyat kecil (abdi) sebenarnya ia adalah dewa, karenanya, para kesatria raja seperti Janoko pun tunduk dan patuh pada ucapannya. Semar dalam fi lm ini

hanyalah simbol. Secara retoris, Semar digunakan sebagai kiasan mengenai sosok Jokowi yang diharapkan mampu seperti Semar. Kata-katakakek terhadap Jokowi dalam scene, secara semantik menguatkan maksud komunikator yang memang telah menempatkan sebagai sosok yang nantinya menjadi seorang pemimpin. “

Jadi le, kalau mau jadi orang hebat tidak usah mentereng tak perlu mewah, yang penting hati (kata kakek Jokowi sambil menunjuk dadanya dan dada Jokowi kecil). Secara leksikon, maksud itu dapat dilihat dari penggunaan kata “ orang hebat” yang memiliki arti orang besar. Orang besar di sini merujuk pada kata pemimpin.

b. Paribasan

Penekanan makna ini lihat scene

01.07.07-01.09.07, lewat penggunaan ungkapan ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake. Meskipun beda

scenekeduanya menunjukkan adanya

penekanan makna bahwa Jokowi adalah pemimpin ideal. Wejangan kakek Jokowi (kalau mau jadi orang hebat tidak usah mentereng tak perlu mewah, yang penting hati) ada dalam ungkapan Jawa, yang menunjuk pada arti bahwa orang tidak dilihat dari wujud lahiriah namun batin, yangmana direpresentasikan lewat sosok Semar.21 Ungkapan ini sebenarnya satu bagian dengan istilah menang tanpa bala, kalah tanpa ngasorake. Ungkapan Jawa itu adalah sugih tanpa banda, digdaya tanpa

20 Frans Magnis, Op.Cit., hal 188.

aji, unggultanpa bala, menang tanpa ngasorake (kaya tanpa harta benda, tak terkalahkan tanpa senjata, unggul tanpa tentara, menang tanpa merendahkan). Menurut Frans Magnis Suseno, ungkapan itu merupakan cermin pandangan ideal orang Jawa terhadap kekuasaan.22 Keberhasilan seorang raja salah satunya dilihat dari budi luhur penguasa yakni bagaimana ia menjalankan kekuasaannya. Ia diharapkan mampu mencapai keadaan sejahtera, adil, tentram di masyarakat tanpa memakai cara-cara kasar. Cita- cita itu terungkap dalam semboyan terkenal Jawa yakni sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, unggul tanpa bala, menang

tanpa ngasorake (kaya tanpa benda, tak

terkalahkan tanpa senjata, unggul tanpa tentara, menang tanpa merendahkan)23. Untuk mampu mewujudkan cita-cita itu, seorang raja harus mampu plih sih (adil, tak pilih kasih), berbudi (luber budi, murah hati), dan wicaksana (bijaksana).24

Citra Jokowi yang sayang, peduli terhadap keluarga, berbakti terhadap orang tua dapat pula kita ketemukan dalam konsep kepemimpinan Jawa, dikenal dengan istilah ing ngarso sang tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karso (di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (di belakang membantu

bertanggung jawab). Gambaran Jokowi

sebagai sosok yang mampu menjadi pemimpin digambarkan melalui patron kehidupan sebuah organisasi sosial yang lebih kecil yakni keluarga. Dalam kosmologi Jawa, keluarga melebihi dunia moral yang diberi ciri saling memiliki kewajiban. Kewajiban tiap anggota tidak sama namun inilah yang memberi landasan moral tentang kenyataan adanya hierarki dan kewajiban seseorang untuk

22 Frans Magnis Suseno, Op.Cit, hal 30-42. 23 Ibid, hal 37.

24 Ibid.

membimbing dan memimpin yang lain.25 Sebagai anak tertua di dalam keluarganya, bentuk perlindungan dan perhatiannya terhadap adik, ibu maupun nama keluarga mencitrakan Jokowi yang mampu mengambil peran sebagai pelindung dan bertanggung jawab. Sebagai anak, citra nurut dan berbakti yangmana semua itu merupakan turunan arti dari ing ngarso sang tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Selain kemampuan menciptakan kedamaian, peduli dan tanggung jawab terhadap keluarga, citra lain seperti pintar dan cerdas yang dilekatkan dalam fi lm,

juga ada dalam konsep kepemimpinan Jawa. Sebelum menjadi seorang raja, para pangeran (pewaris tahta raja) umumnya diasuh lebih dari satu orang. Satu mengajarkan keprajuritan, keprajan

(tata pemerintahan), olah beksa (tari)

dan tembang (swara, nyanyi), sementara

lainnya mengajarkan kerohanian, etika dan perilaku satria (gentlemen).26 Semua kepandaian itu diperlukan sebagai bekal keunggulan menjadi seorang raja nantinya. Apa yang diajarkan kepada para pangeran pada masa pemerintahan tempo dulu itu menurut komunikator menjadi keunggulan pula yang dimiliki Jokowi. Jokowi punya atau menguasai semua itu. Untuk mampu menguasai semua bekal diajarkan para pengasuh itu, seorang pangeran tentu harus pandai atau memiliki kemampuan otak/pikir memadai. Jokowi, punya itu ditunjukkan lewat prestasi sekolah dari SD hingga lulus kuliah serta sosoknya yang lebih menonjol dibanding teman-temannya. Dalam bidang tata pemerintahan, ia telah berpengalaman menjadi Wali Kota Surakarta dan Gubernur

25 Hans Antlov, Op.Cit, hal.83.

26 G Moedjanto, “Konsep Kepemimpinan dan Kekuasaan Jawa Tempo Dulu”, dalam Hans Antlov, Ibid., hal xi.

DKI Jakarta, dalam bidang seni, ia rupanya pecinta musik rock namun juga penikmat musik-musik tradisional. Kemudian untuk bekal kerohaniahan, etika dan perilaku satria, dicitrakan dengan sosoknya sebagai penganut agama yang baik, jujur, pemberani.

2. Kampanye Merek Kepemimpinan Ideal

Dalam dokumen Warisan Budaya Politik Komunikasi dan Ta (Halaman 48-51)