Vol 7 No 1, Januari 2014: 101-
2. Paradigma Islam: Peradaban Manusia di Muka Bum
Manusia dalam pandangan agama diposisikan sebagai makhluk yang istimewa, karena di samping ia merupakan makhluk yang dikaruniai bentuk yang sempurna, ia juga satu-satunya makhluk yang dibekali dengan akal pikiran. Tuhan menegaskan dalam Al Quran surat At- Tin ayat 4 : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Dalam ilmu mantik disebutkan bahwa “al insan hayawanun
natiq” (manusia adalah hewan yang
berpikir). Hal ini relevan dengan ungkapan seorang fi lsuf Yunani, “man is the animal
that reason” (Saefullah, 2007).
Dengan potensi akal yang dimilikinya, manusia diberikan amanah oleh Tuhan, setelah amanah itu tidak diterima oleh langit, bumi, dan gunung. Sebagaimana difi rmankan Allah dalam Al Quran surat
Al-Ahzab ayat 72 :
“Sesungguhnya Kami telah me- nawar kan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amant itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia”.
Dari ayat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kata amanah menurut ahli tafsir dimaknai dengan tugas-tugas keagamaan. Tugas-tugas keagamaan dapat direalisasikan dengan tugas-tugas seperti berikut ini (Miskawaih, 1994) :
1. Tugas beribadah atau ritual.
Ritual dalam pandangan Islam tidak hanya beribadah kepada Allah SWT, seperti : salat, puasa, zakat, dan menunaikan haji; akan tetapi juga ibadah-ibadah yang bersifat sosial, yaitu ibadah yang menyangkut
hubungan secara horizontal antar sesama manusia, antara lain : saling menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa, membantu korban bencana alam, menengok orang sakit, melayat kerabat yang meninggal dunia, dan lain-lain. 2. Tugas memimpin bumi.
Tugas ini sengaja dibebankan Allah kepada manusia karena manusia menurut pandangan-Nya, mampu memimpin bumi ini, walaupun suka berbuat zalim dan kerusakan.
Dalam konteks ini Allah SWT berfi rman :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfi rman
kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di muka bumi. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (QS. Al Baqarah : 30).
Tugas kepemimpinan ini bertujuan agar manusia mampu memimpin bumi dengan penuh keadilan, kejujuran, dan kedamaian. Semuanya ini untuk kemaslahatan seluruh makhluk Tuhan di muka bumi, sebab kalau manusia melakukan ketidakadilan akan menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia itu sendiri.
3. Tugas penyeru pada jalan kebenaran dan kebajikan.
Tugas ini bertujuan supaya manusia yang satu dengan manusia lainnya saling mengajak pada jalan kebaikan, dan saling menasihati ketika berbuat salah. Allah berfi rman :
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf (kebajikan) dan mencegah yang munkar (kejelekan), dan beriman kepada Allah” (QS. Al Imran : 110).
Ketiga tugas tersebut diemban manusia agar hidupnya lebih bermakna dan beradab. Hidup manusia bisa bermakna apabila memberikan manfaat bagi manusia yang lainnya. Dengan demikian, kemanfaatan bagi kehidupan umat manusia, baik yang bersifat moral maupun material, telah membawa umat manusia menuju umat yang beradab dan maju. Kemajuan itu ditandai dengan perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi, sebagai hakikat dari produk akal-budi manusia. Dengan kemampuan akalnya manusia dapat mengembangkan sains dan teknologi, dan dengan kemahiran akal-pikiran manusiapulalah ia sanggup membangun peradaban di muka bumi ini. Namun, untuk membangun peradaban yang mulia dan bernuansa humanis, manusia memerlukan tuntunan moral dan spiritualitas agama. Spiritualitas agama itu terdapat dalam wahyu Tuhan (Islam : Al Quran) (Mufi d, 2001).
Dengan kekuatan akal manusia dan tuntunan wahyu Tuhan, manusia mampu melahirkan peradaban yang bernilai dan menjadi rahmat bagi seluruh umat (rahmatan lil ‘alamin). Dengan demikian, manusia menjadi makhluk yang beradab. Manusia yang beradab memiliki beberapa indikator, diantaranya yaitu :
1. Memiliki bahasa keagamaan sebagai alat untuk berinteraksi dengan umat manusia yang lain.
2. Sebuah komunitas atau masyarakat yang religius.
3. Membangun entitas budaya yang beragama.
Dari ketiga komponen inilah akan terlahir komunikasi peradaban – yang dilandasi kekuatan akal manusia dan nilai-nilai spiritualitas agama (Saefullah, 2007).
Dalam perjalanan sejarah, manusia merupakan aktor peradaban, sejak peradaban Romawi, peradaban Yunani,
dan peradaban Islam sampai lahirnya peradaban modern sekarang ini. Manusia yang maju pada zamannya ini, telah membawa peradaban dunia berada pada puncak kejayaannya. Misalnya, peradaban pertama yang menjadi sumber peradaban manusia adalah Mesir. Mesir mengalami kemajuan peradabannya ketika dipimpin oleh Raja Firaun. Firaun sebagai raja Mesir telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pertanian, perdagangan, peperangan, arsitektur bangunan, dan sebagainya. Peradaban Romawi selama dipimpin Julius Caesar, benderanya telah berkibar dari Eropa sampai ke Kelt di Inggris, dan berjaya selama bertahun-tahun menjadi kebanggaan dunia hingga saat ini. Begitupun peradaban Yunani, masa kejayaannya berada pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta Alexander Yang Agung (Syam, 2014).
Puncak peradaban Islam setelah masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yaitu pada zaman Khalifah Bani Abbasyiah, Khalifah Harun Al- Rasyid, dan Khalifah Al Ma’mun pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah. Sewaktu menjadi pusat peradaban dunia Islam, Baghdad melahirkan beberapa orang pakar dalam berbagai bidang keilmuan, antara lain : Al Kindi dan Al Farabi dalam ilmu Fisafat; Ar Razi, Ibnu Sina, dan Jabir bin Hayyan dalam bidang kedokteran; Umar Al Farukhan dan Al Khawarizmi dalam ilmu Matematika; Al Fazari dan Al Bathani dalam bidang Astronomi; Badr dan Tarief dalam ilmu Seni Ukir. Di kota Baghdad, Irak ini pulalah terdapat Darul Hikmah sebagai pusat perpustakaan dunia Arab pada waktu itu. Daulah Abbasyiah membangun peradaban Islam pada masa itu dengan kekuatan akal dan bimbingan wahyu Allah yang termuat dalam Al Quran dan Al Hadits (Sunnah Rasul). Banyak dari ayat-ayat Al Quran dan Sunnah Rasul yang mendorong umat manusia untuk
mengembangkan akal-pikirnya demi kesejahteraan umat manusia itu sendiri menuju tingkatan manusia yang beradab dengan kemuliaan akhlak yang terpuji. Salah satu ayat Allah SWT tersebut adalah Al Quran surat Ar-Rahmaan ayat 33, yaitu : “Wahai jin dan manusia, andaikan kalian mampu (dengan akalmu) tembuslah langit dan bumi ini” (Syam, 2014).
Dengan mengandalkan kekuatan akalnya, manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dengan ilmu, cakrawala dunia akan terungkap, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW :
“Barangsiapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmunya, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat juga harus dengan ilmunya, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya juga harus dengan ilmunya”.
Betapa pentingnya ilmu dalam pandangan agama Islam, sehingga posisi ilmu pengetahuan sama halnya dengan salat fardlu lima waktu, yaitu hukumnya wajib. Hadits lain menjelaskan, “Mencari ilmu itu wajib bagi pemeluk Islam laki- laki maupun Islam perempuan”; “Carilah ilmu mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat”; bahkan dipertegas lagi dalam Hadits lainnya, yaitu : “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina” (Tafsir, 2006). Dari beberapa kutipan Hadits tersebut nyatalah betapa pentingnya ilmu untuk membangun peradaban dunia, sehingga pantas Allah SWT begitu apresiatif terhadap orang-orang yang berilmu pengetahuan, sebagaimana fi rman-Nya :
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang berilmu pengetahuan”.
Melalui kekuatan ilmunya, manusia dituntut untuk melakukan inovasi- inovasi atau perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, dan diperuntukkan
bagi kemaslahatan umat manusia. Lebih jelasnya, Allah SWT berfi rman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah dirinya sendiri” (QS. Ar-Rad : 11).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang mampu melakukan perubahan. Perubahan itu dapat pula diidentikkan dengan peradaban, sehingga Islam bisa disebut sebagai agama peradaban. Menurut Tariq Ramdan (Saefullah, 2007), Islam adalah sebuah peradaban yang maih dibakar oleh perasaan untuk mensakralkan dunia, ia menarik secara moral, dan pada esensinya bersifat ekologis (peka terhadap lingkungan), memiliki wahyu yang humanis, dan hadir serta bermakna dalam hati lebih dari satu miliar manusia. Islam merupakan peradaban yang siap untuk berpartisipasi dalam perubahan dunia di masa depan, sebuah masa depan yang damai, jika kecenderungan untuk menguasai dunia dapat dikontrol, dan mungkin akan menjadi konfl ik jika arogansi,
sewenang-wenang, dan ketidakadilan masih merajalela di muka bumi ini.
Kesimpulan
Peradaban manusia dilahirkan oleh adanya akal pikiran manusia. Mereka menggunakan akal budinya untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, kesusasteraan, system perekonoman, system pemerintahan, dan politik. Dengan logika dan pemikiran pula manusia dapat melakukan perubahan- perubahan. Mereka dapat melakukan pengkajian, penelitian, eksperimen, uji coba, dan akhirkan mampu menemukan inovasi- inovasi yang bermanfaat bagi kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia, bahkan lebih luas lagi sebagai rahmatan lil ‘alamin
(rahmat bagi seluruh alam semesta).
dengan adanya perubahan-perubahan dan berbagai penemuan inovatif. Dengan logikanya, manusia dapat berhitung dan menganalisis. Dia dapat berpikir secara deduktif dan induktif, serta menentukan generalisasi terhadap suatu fenomena alam. Jika manusia hidup tanpa aturan, norma-norma, nilai-nilai, dan budaya, akan menimbulkan kemudaratan, malapetaka, kerusakan, kehancuran, dan kesemena-menaan di muka bumi ini. Hal yang paling mengkhawatirkan dari penemuan suatu teknologi baru, adalah penyalahgunaan teknologi tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompok atau komunitasnya, bahkan seringkali digunakan untuk menindas sesamanya. Untuk mencegahnya, maka agama berperan sebagai pengatur kehidupan manusia, dalam hal ini agama Islam telah memberikan tuntunan wahyu Allah berupa Al Quran dan As-Sunnah (Hadits Rasul) untuk menyeimbangkan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan menangkal terjadinya kerusakan akhlak, yang berdampak pada kemunduran peradaban manusia.
Seorang ahli Fisika yang sangat genius, Albert Einstein berpendapat bahwa agama tanpa ilmu pengetahuan akan lumpuh, sebaliknya ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta. Jelaslah perlu adanya keseimbangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi tingkat keilmuannya, manusia semakin sadar akan kekurangan dirinya, semakin sadar akan kebodohannya. Oleh sebab itu, ada sesuatu yang Maha Pintar, yang memberi pengetahuan pada diri manusia. Semakin dalam pengetahuan tentang fi lsafat,
ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, dan ilmu pengetahuan alam, manusia semakin menyadari bahwa kesemuanya tidak memiliki kebenaran mutlak. Kebenaran yang ada hanya mendekati pada kebenaran agama (Tuhan), sedangkan kebenaran
yang sebenar-benarnya itu hanya ada pada kebenaran agama (Tuhan-Allah). Dengan demikian, sumber dan pertumbuhan semua peradaban itu selalu berasal dari agama (Haikal,1992 :2). Jadi agama dalam peradaban manusia berfungsi sebagai alat penyeimbang dan penyadaran akan diri manusia agar tidak tinggi hati, tidak sombong, dan tidak berbuat semena-mena di muka bumi ini.
Daftar Pustaka
Haikal, Muhammad Husain. (1992). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Intermasa. Huntington, Samuel P. (2000). Benturan
Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Qalam.
Husaini, Adian. (2005). Wajah Peradaban Barat (Dari Hegemoni Kristen ke
Dominasi Sekular-Liberal). Jakarta:
Gema Insani.
Kahmad, Dadang. (2000). Sosiologi Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Iqbal, Afzal. (2000). Diplomasi Islam.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Miskawaih, Ibnu. (1994). Menuju
Kesempurnaan Akhlak. Bandung:
Mizan Pustaka.
Mufi d, Ahmad Syafi ’i. (2001). Dialog Agama
dan Kebangsaan. Jakarta: Zikrul Hakim. Saefullah, Ujang. (2007). Kapita Selekta
Komunikasi: Pendekatan Budaya dan
Agama. Bandung: Simbiosa Rekatama
Media.
Syam, Nina Winangsih. (2006). Komunikasi
Spiritual. Makalah. Universitas
Padjajaran Bandung.
________________. (2014). Komunikasi
Peradaban. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Tafsir, Ahmad. (2006). Filsafat Ilmu, Mengurai Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Pengetahuan. Bandung: PT.
1. Artikel merupakan hasil refl eksi, penelitian, atau kajian analitis terhadap berbagai
fenomena komunikasi, khususnya komunikasi massa, yang belum pernah dipublikasikan di media lain.
2. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan panjang tulisan antara 6.000-8.000 kata, diketik di halaman A4, spasi tunggal, margin atas dan kiri 4 cm, margin bawah dan kanan 3 cm, menggunakan font Times New Roman 11 point. Artikel dilengkapi dengan abstrak sepanjang 100-150 kata dan 3-5 kata kunci.
3. Artikel memuat: Judul, Nama Penulis, Instansi asal Penulis, Alamat Kontak Penulis (termasuk telepon dan email), Abstrak, Kata-kata kunci, Pendahuluan (tanpa anak judul), Sub-sub Judul (sesuai kebutuhan), Penutup atau Simpulan, Catatan-catatan dan Daftar Kepustakaan.
4. Kata atau istilah asing yang belum diubah menjadi kata/istilah Indonesia atau belum menjadi istilah teknis, diketik dengan huruf miring.
5. Catatan-catatan berupa referensi ditulis secara lengkap sebagai endnotes.
6. Kutipan langsung 5 baris atau lebih diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Kutipan langsung kurang dari 5 baris dituliskan sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks di antara dua tanda petik. Kutipan tidak langsung (parafrase) ditulis tanpa tanda petik.
7. Daftar Kepustakaan diurutkan secara alfabetis, dan hanya memuat literatur yang dirujuk dalam artikel. Penulisan referensi menggunakan sistem American Pschycological Association (APA)
Contoh:
Fakih, M. (1997). .Analisis gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Holmer-Nadesan, M. (1986). “Organizational Identity and Space ofAction”, 17 (1), 1986, hal. 49-81.
8. Penulis diminta menyertakan biodata singkat.
9. Artikel dikirimkan kepada Tim Penyunting dalam bentuk fi le MicrosoftWord (.doc
atau .rtf) disimpan dalam disket, CD, USB fl ashdisk, ataupun sebagai attachment dalam
e-mail.
10. Kepastian pemuatan atau penolakan naskah diberitahukan kepada penulis melalui surat atau email. Artikel yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan kepada penulis, kecuali atas permintaan penulis.
11. Penulis yang artikelnya dimuat akan menerima ucapan terima kasih berupa nomor bukti 3 eksemplar.
12. Artikel dikirimkan ke alamat di bawah ini: