C. Kohesivitas dalam Komunitas Jali-Jali
3. Solidaritas di dalam Komunitas Jali-Jali
4.3 Close Minded (Ketertutupan Pikiran)
Menurut Janis (1982) bahwa kurangnya perbedaan dalam latar belakang sosial dan ideologi di antara para anggota kelompok kohesif akan memudahkan bagi mereka untuk setuju pada apa pun pendapat yang diajukan oleh pemimpin. Hal ini serupa dengan pembahasan sebelumnya, bahwa Komunitas Jali-Jali biasanya akan mengikuti apa yang menjadi keputusan ketuanya.
Hal ini akan menyebabkan suatu kelompok tersebut terisolasi dari opini-opini dunia luar. Kelompok akan jauh dari pengaruh kelompok lain atau dapat juga dengan sengaja menjauhkan diri dari kelompok luar. Isolasi dalam kelompok mengacu pada kemampuan kelompok untuk tidak terpengaruh oleh dunia luar. Anggota-anggota dalam sebuah kelompok berkomunikasi begitu sering sehingga mereka menjadi kebal dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar kelompok mereka.
Menurut Richard West dan Lynn H. Turner (2008: 284) Istilah seperti ini biasa disebut dengan close minded, close minded juga
commit to user
merupakan salah satu gejala suatu kelompok terkena sindrom
groupthink. Ketika suatu kelompok memiliki close minded,
kelompok ini tidak mengindahkan pengaruh-pengaruh dari luar kelompok.
Seringkali Komunitas Jali-Jali mengabaikan opini dari luar kelompok, alasan mereka rata-rata serupa yaitu mereka tidak memerlukan opini dari kelompok luar karena merekalah yang menjalankan Komunitas Jali-Jali, bukan kelompok luar. Berikut hasil wawancara dengan pengurus maupun anggota Jali-Jali.
Tidak perlu pendapat dari kelompok luar
Menurut para pengurus maupun anggota Komunitas Jali-Jali, mereka sepakat bahwa mereka tidak perlu pendapat dari kelompok luar karena mereka merasa bahwa merekalah yang menjalankan komunitas ini buka kelompok luar.
“Soal pendapat dari luar ya hmmm….kalo aku sih engga. Soalnya ngapain gitu, cukup pendapat di dalem Jali-Jali aja lah.
Kita selama ini tetep eksis juga gitu walaupun gak denger opini atau pendapat-pendapat dari luar kan.” (Wawancara dengan Lytha Haryani, Bendahara Komunitas Jali-Jali. Pada tanggal 07 Mei 2014)
“Gimana ya kalo aku sih sama ya, gak lah. Namanya komunitas yang jalanin kita-kita, pendapat dari luar sih gak perlu.”
(Wawancara dengan Mutiara, Koordinator Fakultas Teknik. Pada tanggal 28 Mei 2014)
“Sebagai anggota, aku pastinya lebih dengerin pendapat Jali-Jali lah.” (Wawancara dengan Miranti Putri anggota Jali-Jali-Jali-Jali. Pada
commit to user
“Gak sih, aku biasanya sih ya setujunya sama yang diusulin Jali-Jali lah. Misalnya ada omongan-omongan atau opini dari luar, gak pernah aku gubris juga.” (Wawancara dengan Dwi
Hera, anggota Jali-Jali. Pada tanggal 22 Mei 2014)
“Aku itungannya masih baru sih di Jali-Jali, tapi selama ini aku ya ikutin aja pendapatnya Jali-Jali lah.” (Wawancara dengan
Diva Primananda, anggota Jali-Jali. Pada tanggal 24 Mei 2014)
Peneliti menemukan bahwa memang baik pengurus maupun anggota Komunitas Jali-Jali merasa tidak memerlukan pendapat dari kelompok luar dan mereka menutup kemungkinan untuk menerima pendapat dari kelompok luar. Salah satu pengurus Jali-Jali juga merasa mereka tetap eksis walaupun tidak mendengarkan pendapat atau opini dari luar kelompok.
Selain menolak untuk menerima pendapat dari luar kelompok. Ketua Komunitas Jali juga menuturkan bahwa suatu hari Jali-Jali pernah ditawari untuk ikut serta dalam kegiatan Forum Daerah Surakarta. Namun, ditolak oleh para anggota yang lain. Berikut penuturan ketua Jali-Jali.
Menolak mengikuti Forum Daerah Surakarta
Penolakkan juga terjadi ketika Jali-Jali disuruh untuk mengikuti Forum Daerah Surakarta. Ketua Jali-Jali mengaku sulit mengorganisasikan anggotanya untuk ikut serta dalam forum tersebut.
pada susah disuruh ikutan.” (Wawancara dengan Irfan
Faturahman, Ketua Jali-Jali periode 2014-2015. Pada tanggal 28 Mei 2014)
Dari hasil wawancara ini, peneliti menemukan bahwa selain Komunitas Jali-Jali tidak menerima pendapat dari luar, mereka juga enggan mengikuti kegiatan Forum Daerah Surakarta. Padahal di dalam Forda Surakarta ini, Jali-Jali mungkin dapat menjalin komunikasi dengan forum-forum daerah lainnya.
D Groupthink dalam Komunitas Jali-Jali
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, fenomena di dalam Komunitas Jali-Jali ini termasuk dalam fenomena groupthink. Selain karena Komunitas Jali-Jali merupakan komunitas yang terbentuk atas dasar kesamaan lokalitas (homogenitas). Terdapat alasan lain yaitu peneliti menemukan bahwa di dalam Komunitas Jali-Jali tumbuh kohesivitas yang tinggi. Peneliti menemukan beberapa pembuktian bahwa Komunitas Jali-Jali dikatakan sebagai komunitas yang memiliki kohesivitas yang tinggi yang dapat menimbulkan groupthink, yaitu
a. Tingkat keakraban yang tinggi satu sama lain
b. Sense of belonging (rasa kepemilikan) yang terjalin di dalam Komunitas Jali-Jali
d. Solidaritas di dalam kelompok
e. Cara mengambil keputusan yang pada akhirnya mengikuti ketua komunitas (komunikator).
Kurt Lewin (1930) dalam Antoni (2004: 48) menyatakan bahwa konsep
Groupthink merupakan hasil dari kohesivitas kelompok yang pertama kali
dibahas. Sejak itu groupthink dilihat sebagai variable penting untuk mencapai efektivitas kelompok.
Dalam teori groupthink ini, terdapat asumsi penting yang menuntunnya, yakni:
1. Terdapat adanya kondisi-kondisi di dalam kelompok yang sangat menginginkansuatu kohesivitas yang tinggi. Kohesivitas sendiri merupakan batas anggota-anggota suatu kelompok yang bersedia untuk bekerja bersama. Ini merupakan rasa kebersamaan dari kelompok tersebut (West dan Turner, 2009:276). Asumsi ini sama halnya dengan Komunitas Jali-Jali, di dalam Komunitas Jali-Jali terdapat kohesivitas yang tinggi terlihat dari sense of belonging, loyalitas, solidaritas, dan cara pengambilan keputusannya. 2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses
yang menyatu. Dennis Gouran dalam West dan Turner (2009:277-278) mengamati bahwa kelompok-kelompok lebih rentan terhadap batasan afiliatif (affiliative constraints). Batasan afiliatif merujuk
pada saat para anggota memilih untuk menahan masukan mereka daripada menghadapi penolakan dari kelompok. Hal ini membuat anggota kelompok lebih tertarik untuk mengikuti pemimpin ketika pengambilan keputusan tiba. Pernyataan ini serupa dengan cara pengambilan keputusan di dalam Komunitas Jali-Jali, jika pada akhirnya keputusan belum juga diambil. Maka, seluruh peserta rapat akan mengikuti keputusan ketua komunitas karena mereka menganggap keputusan ketua adalah yang terbaik.
Janis dalam Lumsden (2010:283) mengemukakan kondisi yang dapat mendorong terjadinya groupthink, yaitu
1. Kohesivitas
Kohesivitas merujuk pada suatu batasan dari para anggota kelompok yang bersedia untuk bekerja sama dan memiliki semangat kebersamaan yang tinggi. Suatu kelompok dikatakan kohesif apabila para anggotanya saling tertarik satu sama lainnya dalam hal sikap, nilai maupun perilaku dalam kelompok (West dan Turner, 2009: 277). Kekompakan atau kohesivitas merupakan lem atau alat perekat dari suatu kelompok yang tidak hanya berkontribusi terhadap produktivitas, tetapi juga dapat memberikan gambaran terhadap efektivitas anggota kelompok. Namun seringkali ketika masalah muncul, tak seorang pun dari anggota kelompok yang ingin mengorbankan kekompakan kelompok demi suatu hal atau
pemikiran kontra yang mungkin dapat melarutkan alat perekat tersebut, sehingga masalah menjadi tenggelam dan tidak dibahas. Inilah yang kemudian menunjukkan bahwa kekompakan kelompok justru dapat menjadi masalah yang menyebabkan groupthink (Lumsden, 2010:283).
2. Kondisi Struktural Kelompok
Sebuah kondisi struktural juga dengan mudah dapat mengembangkan adanya groupthink dalam sebuah kelompok. Faktor struktural yang dimaksud meliputi homogenitas kelompok, proses kelompok yang tidak memadai dan isolasi dari luar. Dengan homogenitas, anggota kelompok yang saling memiliki daya tarik sosial yang tinggi sering berpikiran sama namun hasil yang didapat menjadi sempit. Anggota cenderung menyetujui segala hal yang diputuskan oleh pemimpin.
Kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas yang tinggi kemudian akan menunjukkan sikap close minded (Ketertutupan pikiran). Kohesivitas yang tinggi dan close minded ini yang kemudian akan memunculkan sikap
stereotype. Di dalam kelompok yang terkena sindrom groupthink akan
menunjukkan gejala-gejala, salah satunya adalah stereotype terhadap kelompok luar.
Dalam kasus groupthink, anggota kelompok menghindari untuk megutarakan sudut pandang pribadi di luar zona konsensus berpikir kelompoknya. Pandangan-pandangan in-group dalam komunikasi
commit to user
seringkali dijadikan acuan untuk menilai out-group. Sehingga seringkali terjadi stereotype terhadap out-group.
Menurut Jurnal Academic and Business Ethics: Guarding against
groupthink in the professional work environment: a checklist, salah satu
gejala groupthink adalah stereotype. Kelompok yang terkena sindrom
groupthink akan menilai buruk kelompok luar dan memandang
kelompoknya sebagai kelompok yang paling baik, selain itu mereka akan menolak opini yang diberikan kelompok luar kepada kelompoknya.
Menurut Journal of Mass Communication, When News Reporters
Deceive: The Production of Stereotype, stereotype muncul dari sebuah
kebutuhan identitas sosial yang positif pada sebuah ingroup yang dimana mengidentifikasi out group (kelompok luar) dengan kurang menghargai perbedaan. Stereotype juga muncul karena individu terlibat dalam kelompok yang sudah diberi label sebelumnya. Stereotype juga timbul ketika kanak-kanak, kita melihat atau mendengar orang tua, teman, atau media masa melabeli kelompok tertentu. Dalam kondisi yang mendukung dan melalui praktek yang ekstensif, pengolahan informasi dapat dilakukan secara otomatis. Setelah pertama kali aktivasi otomatisasi tersebut, orang-orang yang mudah berprasangka kemudian membuat respon yang selaras dengan standar ketidakbiasan mereka.
Berdasarkan jurnal tersebut, perasaan stereotype seseorang terhadap seseorang memang di awali dengan keterlibatan individu tersebut dalam kelompok yang sudah diberi label. Para anggota Komunitas Jali-Jali secara
commit to user
label yaitu mahasiswa lokal yang diketahui sebagai mahasiswa bersuku Jawa yang dilabeli sebagai orang-orang yang betutur kata halus, bertindak secara lamban sehingga pada praktiknya di dalam aktivitas kampus, mereka akan secara otomatis men-stereotype semua orang Jawa itu lamban.
Selain itu, biasanya stereotype juga muncul akibat ketika kanak-kanak, kita melihat atau mendengar orang tua, teman, atau media masa melabeli kelompok tertentu. Misalnya, ketika media massa melakukan stereotype terhadap kelompok tertentu maka otomatis opini kita sebagai penonton adalah bahwa kelompok tersebut memang benar seperti yang dikatakan oleh media
Di dalam komunitas kedaerah, seperti Komunitas Jali-Jali bukan tidak mungkin terkena sindrom groupthink. Komunikasi intercultural antara Komunitas Jali-Jali dengan kelompok luar (mahasiswa lokal bukan berasal dari Jakarta) cepat atau lambat akan menimbulkan gesekan sosial sebagai akibat dari masing-masing dari mereka ingin menunjukkan eksistensi dan jati dirinya.
Komunitas kedaerahan, seperti Komunitas Jali-Jali tak jarang mengunggulkan daerah asalnya dan memandang rendah orang-orang yang bukan berasal dari daerahnya. Mereka akan merasa bahwa komunitas daerahnya yang paling unggul sehingga akan terjadi stereotype dalam memandang kelompok luar (mahasiswa lokal).
Peneliti telah mewawancarai pengurus maupun anggota Komunitas Jali-Jali seperti di sub bab sebelumnya tentang komunikasi antara Komunitas
stereotype di dalam Komunitas Jali-Jali dalam memandang kelompok luar,
dalam kasus ini adalah mahasiswa lokal yang bukan berasal dari Jakarta.
Groupthink dalam sebuah kelompok dapat dikatakan sebagai suatu
kecerobohan yang dapat dialami oleh kelompok terbaik sekalipun (Lumsden, 2010:282). Di dalam kelompok yang mengalami sindrom
groupthink akan menimbulkan hal-hal negative di dalam kelompoknya,
seperti yang dialami oleh Komunitas Jali-Jali. Selain melakukan stereotype terhadap mahasiswa lokal (etnis Jawa) itu lemot/lamban, Komunitas Jali-Jali juga merasa bahwa kendala Bahasa dan perbedaan cara bicara juga berpakaian menjadi halangan mereka untuk berbaur dengan kelompok luar. Hal-hal seperti ini yang menyebabkan Komunitas Jali-Jali, menutup diri dari pergaulan sehari-hari di kampus.